


Di ujung timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pulau Lembata dikenal dengan keindahan laut dan budaya pesisir yang masih terjaga. Salah satu wilayah paling terkenal adalah Desa Lamalera, desa pesisir yang sejak ratusan tahun hidup berdampingan dengan laut sebagai bagian dari identitas dan tradisi masyarakatnya.
Lamalera dikenal dengan tradisi perburuan paus yang dilakukan secara turun-temurun menggunakan paledang, perahu kayu tanpa mesin, dan tempuling berupa tombak bambu. Tradisi ini dijalankan berdasarkan kearifan lokal masyarakat adat yang dikenal dengan “Maro”, yaitu aturan adat yang mengatur tata cara, waktu, hingga nilai-nilai penghormatan terhadap laut dan hasil tangkapan.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar mata pencaharian utama, melainkan warisan budaya dan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah menjaga kehidupan masyarakat pesisir sejak dulu.
Namun, meningkatnya kesadaran global terhadap perlindungan lingkungan menjadikan paus sebagai satwa yang dilindungi karena perannya penting bagi ekosistem laut. Kondisi ini menjadi tantangan bagi masyarakat Lamalera untuk menjaga tradisi sekaligus keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan.
Melihat tantangan yang dihadapi masyarakat Lamalera, Pertamina Foundation bersama BenihBaik.com menginisiasi program “Knato Lau Lewa” sebagai upaya menjaga pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, serta penguatan kesejahteraan masyarakat berbasis energi terbarukan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Program dilaksanakan melalui empat inisiatif utama.
Ruang Energi Kolaborasi Pertamina dibangun sebagai pusat aktivitas masyarakat yang berfungsi sebagai museum, perpustakaan, sekaligus ruang belajar bersama.


Kawasan ini juga menjadi pusat pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon kayu keras seperti sengon, merbau, mahoni, dan beringin, serta pohon produktif seperti malapari, sirsak, mete, dan jambu merah. Kegiatan penanaman pohon ini melibatkan siswa SLTP setempat sebagai bagian dari edukasi lingkungan sejak dini.


Selain itu, dilakukan rehabilitasi terumbu karang melalui Pelatihan Pembuatan Bioreeftek Terumbu Karang Buatan yang juga melibatkan siswa SLTP dalam upaya menjaga ekosistem laut.


Kehadiran ruang kolaborasi ini menjadi simbol integrasi antara pelestarian lingkungan darat dan laut sekaligus ruang edukasi bagi masyarakat Lamalera.
Program Sekolah Adat dihadirkan sebagai ruang belajar budaya bagi generasi muda. Para tetua adat berperan sebagai pengajar yang mewariskan nilai-nilai budaya, sejarah desa, lagu rakyat, tarian adat, cerita rakyat, hingga ritual tradisional kepada para remaja dan pemuda desa.
Selain pembelajaran berbasis budaya, sekolah adat juga mengenalkan pemahaman mengenai energi terbarukan yang potensial diterapkan di wilayah Lamalera.


Melalui sekolah adat, proses transfer pengetahuan antar generasi dapat terus berjalan sehingga tradisi dan identitas budaya masyarakat tetap terjaga.
Program pelajaran Muatan Lokal (Mulok) dilaksanakan untuk memperkenalkan konservasi adat laut dan energi terbarukan sejak dini kepada anak-anak sekolah dasar di Lamalera.
Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Energi Kolaborasi Pertamina dengan materi pembelajaran yang mencakup sejarah tradisi penangkapan ikan, ritual budaya setempat, bahasa daerah, kerajinan tangan, kesenian, makanan lokal, hingga pemanfaatan energi terbarukan.
Melalui pembelajaran ini, anak-anak tidak hanya mengenal budaya daerahnya, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Program pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi salah satu upaya menghadirkan sumber pendapatan alternatif sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat Lamalera.
Masyarakat mendapatkan pelatihan pengolahan ikan menggunakan teknologi solar dryer untuk menghasilkan ikan kering berkualitas tinggi tanpa bergantung pada cuaca. Langkah ini membantu masyarakat memanfaatkan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan.


Selain itu, warga juga mendapatkan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos serta pemanfaatan kain perca tenun menjadi produk kreatif seperti tas anyaman, topi, sandal, aksesori, dan kerajinan tangan lainnya. Inisiatif ini turut mendorong masyarakat mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung praktik yang lebih ramah lingkungan. Dampaknya, terdapat peningkatan pendapatan masyarakat yang sebelumnya berkisar Rp1.000.000-Rp2.000.000 menjadi Rp3.000.000-Rp4.000.000.


Melalui program ini, masyarakat Lamalera tidak hanya didorong untuk menjaga tradisi dan lingkungan, tetapi juga diperkuat dari sisi ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi agar kehidupan masyarakat pesisir dapat terus berlanjut secara berkelanjutan.
Pertamina Foundation bersama BenihBaik.com menghadirkan program “Knato Lau Lewa” sebagai upaya membangun harmoni antara pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan penguatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Program ini telah memberikan manfaat kepada 657 penerima manfaat di Lamalera. Di tengah perubahan zaman dan tantangan lingkungan yang terus berkembang, masyarakat Lamalera menunjukkan bahwa tradisi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Tidak hanya menjaga warisan leluhur, inisiatif ini juga membuka peluang masa depan yang lebih berkelanjutan melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pemanfaatan energi terbarukan.
Harapannya, langkah kolaboratif ini dapat terus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Lamalera sekaligus menjadi inspirasi bagi wilayah adat lainnya di Indonesia.

Jl. Green Lake City Boulevard Rukan Cordoba No.A 17, Ketapang, Kec. Cipondoh, Kota Tangerang, Banten 15147
kindness@benihbaik.com
(021) 54345850
+62 821-2355-9523