Panggilan Mendesak

camp
Anak

Sering Menjerit Kesakitan! Anak Petani Alami Kelainan jantung dan Abses di Otak

“Setiap kali nyeri di dada dan kepala menyerang, tangis anakku menggema memenuhi rumah !Aku hanya bisa memeluknya erat, berusaha menenangkan di tengah kepanikan, sambil terburu-buru membawanya ke rumah sakit.”“Derita yang dialami anakku berasal dari kelainan jantung bawaan dan penumpukan nanah di kepalanya akibat infeksi. Bahkan, rambutnya sampai rontok! Seolah itu menjadi pengingat betapa besar rasa sakit tak tertahankan yang harus Ia tanggung.” -Ainin Husna, Orang tua Aisyah-Dibalik segala keterbatasan ini, aku tidak ingin menyerah! Anakku, Aisyah Fadilla (6 thn), harus bisa sembuh dan ceria lagi seperti dulu. Syukurlah, Ia selalu semangat menjalani pengobatannya, membuat hatiku terasa tenang dan hangat. Bahkan, Ia sudah tidak sabar ingin kembali bersekolah dan bertemu teman-temannya. Mungkin karena Ia seringkali bertemu dokter sejak sakit, Ia jadi selalu mengungkapkan keinginannya menjadi dokter. Kalimat polos itu sering membuatku menangis haru. Padahal, sejak lahir Ia tidak ada tanda-tanda sakit hingga usianya 6 tahun. Penyakit ini datang bagai badai, begitu cepat menghantam. Diawali anakku mengalami demam tinggi, sesak napas, badannya mulai membiru dan sakit kepala. Setelah ketahuan sakit jantung dan abses serabi di otak, dokter mengatakan jalan satu-satunya anakku untuk sembuh hanyalah operasi. Kondisi anakku sangat lemah, hingga aku harus membawa anakku berobat ke Jakarta. Kebun dan sawah saya jual demi membawa putriku dari Aceh ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, sedangkan operasinya besar akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun, aku terkendala biaya karena aku tidak bisa mencari nafkah selama di perantauan.Aku merupakan seorang ibu sekaligus single parent yang harus menghidupi 4 orang anakku. Sehari-hari aku bekerja sebagai buruh tani cabai dan mencuci baju. Itupun aku tidak bisa mendapatkan upah kalau hujan deras. Seringkali aku menahan lapar demi anakku, karena uang hasil menjual harta sudah hampir habis. Sementara Aisyah masih harus menjalani dua operasi besar, yaitu operasi jantung dan kepalanya. Belum lagi operasi lanjutan lainnya kelak.Anakku masih membutuhkan biaya untuk ongkos ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aisyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aisyah!
Dana terkumpul Rp 8.421.000
12 hari lagi Dari Rp 15.000.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Belum Memiliki Donatur Tetap, Yayasan Kesulitan Memenuhi Kebutuhan Anak Yatim

“Kami hanya ingin anak-anak ini punya harapan! Sejak pertama kali berdiri, yayasan ini berjalan dengan penuh perjuangan, belum pernah mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun donatur tetap.”“Kami berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, agar mereka bisa belajar, mengaji, dan tumbuh dalam lingkungan yang layak. Sarana belajar tak memadai, fasilitas mengaji pun seadanya. Semoga perjuangan kecil ini bisa membantu mereka kelak di masa depan.” -Sukamto, Pengurus Panti Yayasan Cahaya Mutiara Cinta-Yayasan Cahaya Mutiara Sejahtera lahir dari kepedulian untuk memberi harapan baru bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan kini kebingungan menapaki hidup. Yayasan berfokus pada pendidikan dan bantuan sosial pada yang membutuhkan. Usia yayasan masih seumur jagung, yaitu berdiri tahun 2024 di Taman Tridaya Indah, Tambun Selatan, Bekasi. Namun, saat ini sudah ada 202 anak yang tinggal di bawah naungan yayasan. Mereka belajar dengan penuh semangat baik formal nonformal, sekolah, bimbingan belajar, pelatihan komputer, mengaji olahraga dan tata boga. Meski keterbatasan biaya, yayasan selalu bertekad memberikan yang terbaik agar masa depan anak-anak tidak pupus. Namun, kenyataan di balik perjuangan pengurus yayasan sungguh memilukan. Yayasan kami belum memiliki donatur tetap. Dana operasional masih berasal dari iuran para pengurus, sumbangan keluarga anak-anak, dan sedikit uluran tangan dari orang baik. Itu pun seringkali tak mencukupi.Anak-anak harus rela makan menu yang sama setiap hari, yaitu nasi, sayur, telur, dan tempe. Itupun kami sering kesulitan, tak jarang, pengurus panti harus menahan tangis dan memutar otak, dari mana lagi kami bisa memberi makan anak-anak hari ini?Yayasan ini mungkin masih seumur jagung, tapi bagi anak-anak ini, panti ini adalah segalanya, rumah, harapan, dan satu-satunya tempat mereka bisa merasa aman dan dicintai. Yayasan sangat membutuhkan dana untuk sekedar membeli beras, susu, dan kebutuhan pokok harian pun kami sering kebingungan. #TemanBaik, mari bantu anak-anak Panti Yayasan Cahaya Mutiara Cinta agar terpenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 5.089.000
15 hari lagi Dari Rp 32.970.000
Donasi
camp
Pendidikan

Perjuangan Ibu yang Sakit Demi Stefanus Bisa Sekolah Wicara

“Ketika cita-cita anak-anak lain begitu cemerlang, tapi harapan anakku hanya satu, Ia bisa lancar berbicara dan keterampilan.”“Namun, kondisi keuangan keluarga saat ini berada diambang batas. Biaya untuk sekolah wicara tidak sedikit, sedangkan aku sulit bekerja karena sakit epilepsi. Terkadang, kalau kelelahan aku bisa pingsan kapan saja…” -Florensia Devi, Orang tua Stefanus-“Mama, aku mau sekolah, mau ketemu guru,” begitulah kalimat yang berusaha diucapkan anakku, Stefanus Raditya Wira Kurniawan (8 thn), dengan tersendat-sendat. Saat usianya 4 tahun, aku sudah mulai curiga dengan kondisi anakku yang selalu enggan membuka mulut untuk bicara. Tapi aku tetap berpikiran positif, ‘ah, mungkin belum waktunya anakku bicara.’Hingga usianya memasuki 5 tahun dan sudah harus sekolah, Ia belum juga lancar berbicara. Aku mulai cemas dan ingin membawanya periksa ke psikolog, tapi biayanya sangat besar. Tapi syukurlah, di gereja tempat ibadah ada yang bekerja jadi psikolog dan ingin membantu anakku.Ternyata benar kekhawatiranku selama ini, anakku mengalami terlambat berbicara dan hiperaktif. Aku pun memutuskan untuk mendaftarkannya ke sekolah terapi wicara. BPKB kendaraan saat itu harus aku gadaikan, karena ternyata biaya sekolahnya tidak murah.Puji syukur, anakku sangat semangat sekolah dan belajar berbicara. Bahkan, Ia juara 1 lomba mewarnai dan sangat suka matematika. Semakin antusias lagi anakku ketika aku bilang dia akan menjadi pilot jika rajin belajar.Namun, aku kesulitan biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Suamiku bekerja sebagai karyawan swasta, sedangkan aku kadang mencari uang tambahan dengan menjadi pemusik. #TemanBaik, mati bantu Stefanus untuk melanjutkan sekolah agar Ia bisa berbicara lancar dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 905.000
11 hari lagi Dari Rp 875.000
Donasi

Pilihan Campaign