Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Pendidikan
Saat Biaya Pengobatan Menghimpit, Pendidikan Danish Terancam Putus
Cobaan terus datang pada perjalanan Danish menempuh pendidikannya. Tiga tahun terakhir, Neneknya sering sakit dan harus rutin kontrol ke rumah sakit. Dua tahun terakhir, adiknya pun harus menjalani pengobatan rutin. Meski biaya rumah sakit ditanggung BPJS, ongkos perjalanan tetap menjadi beban berat bagi orang taunya.Titik terendah itu terasa begitu dalam ketika adiknya harus menjalani operasi bersamaan dengan waktu Danish akan masuk SMP. Dalam keadaan tak berdaya, orang tuanya yang berpenghasilan pas-pasan hanya bisa meminjam uang pada saudara. Hati orang tuanya terbelah, memilih antara kesembuhan anak atau pendidikan.Di balik seragam putih biru yang Ia kenakan Danish Dayana Batrisya (14 tahun), tersimpan mimpi yang sangat besar. Danish yang saat ini duduk di bangku kelas VII di SMP Negeri 2 Panggang, Yogyakarta. Namun, jalannya menuju cita-cita itu tidaklah mudah.Jika pagi Ia menuntut ilmu di sekolah, maka ketika sepulang sekolah Ia lebih memilih membantu orang tuanya. Kemudian, Ia menutup Minggu sorenya dengan mengaji di pondok. Hari-harinya sederhana, namun penuh makna dan perjuangan.Di tengah keterbatasan, Danish tak henti-hentinya menorehkan prestasi sebagai bekal menyambut masa depannya. Ia juara lomba drumband, juara cerita Bahasa Jawa, juara sepak takraw, hingga menjadi anggota Pramuka Garuda. Kelak, Danish sangat optimis bahwa Ia bisa menjadi seorang TNI, Ia ingin berdiri gagah membela negeri. Bahkan kini, Ia mulai melatih dirinya dengan baris-berbaris dan latihan fisik, seakan tak ingin mimpinya hanya menjadi angan.Namun, orang tuanya hanyalah seorang petani dan buruh serabutan. Demi Danish, Ayahnya sudah memulai hari dengan bekerja dari sebelum fajar menyingsing, pukul 04.30 pagi sudah berjualan di pasar tradisional. Lalu Ayahnya melanjutkan pekerjaan mengantar galon air hingga siang, dan kembali ke ladang hingga sore hari. “Lelah memang, tapi harapan melihat anakku tetap sekolah membuatku terus bertahan,” ungkap Yuni Iswanto, orang tua Danish.Tak pernah sekalipun ia mengeluh, meski uang sakunya seringkali sangat terbatas. Sepulang sekolah, Ia tetap membantu mengurus rumah dan belajar dengan tekun. Ia sering bercerita tentang cita-citanya, tentang keinginannya mengabdi pada negara saking semangatnya.Usaha dan doa selalu menjadi senjata bagi harapan yang Danish genggam. Saat ini, ekonomi keluarganya sedang sulit dan cobaan terus menghampiri. Sementara Danish masih terus membutuhkan biaya untuk membayar uang sekolah, membeli perlengkapan sekolah, transportasi ke sekolah dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Danish untuk tetap melanjutkan pendidikan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Danish!
Dana terkumpul
Rp 840.000
12 hari lagi
Dari Rp 5.906.000
Donasi
Kesehatan
Derita 9 Tahun Penyakit Prostat, Tangis Bapak Ngatiyo Tak Tertahan Tiap Kencing Darah
“Bapakku sempat pesimis, dengan suara lirih dan putusasa Ia mengatakan ingin mati saja! Ia tidak sanggup menahan sakit yang terus menghantuinya, Ia juga sedih karena menjadi beban bagi anaknya sendiri. Bayangkan saja, 9 tahun lamanya bapakku bertahan dengan penyakit prostat di tubuhnya.”“Setiap kali kambuh, bapakku akan menjerit kesakitan dan menangis pecah menggema di rumah. Saking menderitanya, kencingnya sampai mengeluarkan darah. Sudah 9 kali bapakku harus pasang-copot selang kencing, itulah bukti perjuangannya untuk bertahan setiap harinya.” -Sri Kusnia, anak dari Bapak Ngatiyo-Bapakku, Ngatiyo Muklis (67 thn), kini hanya terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Tubuh yang dulu kuat mencari nafkah, kini tak lagi mampu menahan rasa sakit yang terus menghantui setiap harinya.Semua bermula pada 2017 silam, bapak selalu mengalami nyeri hebat setiap buang air kecil. Bahkan, terkadang kencingnya bercampur darah. Hingga suatu hari, bapak sama sekali tidak bisa buang air kecil. Aku pun membawanya ke puskesmas karena sangat khawatir.Saat itu, petugas kesehatan memasangi bapak selang kencing selama 2 minggu sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar.Dokter mengatakan bapakku terkena prostat, sehingga membuat saluran kencingnya tersumbat. Seiring waktu, penyakit bapakku semakin parah. Hal yang paling mengerikan adalah kencingnya tak hanya keluar darah, tapi juga nanah. Rasa sakit yang Ia rasakan semakin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, dokter memutuskan agar bapakku dioperasi karena sudah di tahap infeksi. Sebenarnya bapak sempat menolak, karena takut operasi tersebut lenyakitkan dari apa yang selama ini Ia rasakan. Namun, demi harapan sembuh, Bapak tetap memberanikan diri. Sayangnya, setelah operasi, kondisi bapak justru semakin menurun.Sepulang ke rumah usai operasi, bapak merasa kesakitan luar biasa. Ia kehilangan nafsu makan dan muntah-muntah. Bahkan, untuk bangun dan duduk pun, bapak sudah tidak sanggup. Bapak harus kontrol rutin lebih lanjut, tapi kondisi ekonomi keluarga kami juga terpuruk.Saat masih sehat, bapak bekerja sebagai tukang parkir. Sejak sakit, bapak tidak bisa bekerja lagi dan ibu juga tidak punya penghasilan. Aku pun berinisiatif membawa bapak dan ibu tinggal bersamaku. Aku tidak tega melihat bapak sampai tidak bisa tidur tenang karena kesakitan.Tapi kondisi ekonomiku juga sangat kurang, suamiku hanya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan, yang harus mencukupi kebutuhan kami dan tiga anak. Dalam keadaan terdesak, aku bahkan menjual kendaraan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, hanya agar bapak bisa tetap berobat. Perjuangan bapak belum berakhir, Ia bapa masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit yang jaraknya jauh, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, vitamin, dan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bapak Ngatiyo tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bapak Ngatiyo!
Dana terkumpul
Rp 2.242.001
12 hari lagi
Dari Rp 18.110.000
Donasi
Anak
Perut Musyaffa Terus Membesar Akibat Digerogoti Tumor!
“Senyum indah itu masih setia menghiasi wajah anakku, Ia seolah berusaha menyembunyikan rasa sakit luar biasa yang bersarang di perutnya. Tubuh kecilnya begitu kuat di tengah perutnya yang kian membesar akibat tumor. Sementara muntah yang tak kunjung berhenti menguras seluruh tenaganya hingga tubuhnya lemah.”“Aku sendiri berjuang mati-matian, siang dan malam tak kenal waktu sebagai kuli angkut pabrik konveksi. Tapi perjuanganku masih jauh dari kata cukup untuk mengumpulkan biaya untuk pengobatan penyakit yang mengintai nyawa anakku. Namun, harapan sekecil apapun itu akan aku upayakan.” -Saiful Bahri, Orang tua Musyaffa-Dimulai saat usianya 1 bulan, Musyaffa Aryan Al Hafiz (13 bln) tiba-tiba sering muntah setiap kali minum susu hingga perutnya perlahan membesar. Aku mencoba menenangkan diri, mungkin hanya kembung biasa. Tapi aku tetap membawa anakku ke rumah sakit karena rasa cemas dalam diriku yang tak mau pergi.Ternyata dokter menduga hal yang sama tentang kondisi anakku, sehingga tidak ada penanganan serius saat itu. Namun, seiring waktu, kekhawatiranku berubah menjadi ketukan ketik melihat perut anakku terus membesar dengan ukuran tak wajar. Akhirnya, aku membawa anakku ke rumah sakit yang lebih besar. Hasil pemeriksaan sungguh mengerikan, ada tumor di perut anakku. Ya Tuhan! Ternyata beberapa waktu lalu ada benda asing di dalam tubuh anakku dan aku tak tahu. Seketika aku menangis merasa bersalah, membayangkan selama ini Ia merasakan sakit yang tak mampu Ia ungkapkan. Organ hati anakku mengalami pembengkakan dan ususnya mengalami penebalan. Dokter memutuskan anakku harus menjalani operasi pengangkatan tumor, sekaligus operasi empedunya yang sobek. Tak bisa ku bayangkan betapa kesakitannya tubuh kecil anakku yang harus merasakan meja operasi berkali-kali.Meski sudah menjalani tindakan, tapi anakku masih sering demam, tubuhnya terus terasa nyeri. Ia juga sering dehidrasi dan pertumbuhannya terhambat. Kini, ia masih harus menjalani operasi lanjutan untuk menutup organ empedunya yang bocor. Jalan panjang itu masih terbentang di depan anakku, sementara kendala biaya terus menghantuiku. Istriku sendiri berusaha mencari pinjaman sana-sini untuk menambah pengobatan anakku yang membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Musyaffa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Musyaffa!
Dana terkumpul
Rp 25.770.000
12 hari lagi
Dari Rp 25.437.000
Donasi