Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
25 Tahun Menjadi Tukang Cuci Baju, Tulang Nenek Rusmiati Jadi Melengkung!
Pinggulnya yang dulu begitu kuat duduk berjam-jam mencuci tumpukan baju orang demi sesuap nasi, kini tak lagi berdaya. Tulang pinggulnya tak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri akibat mengalami bengkok. Bayangkan saja, 25 tahun Nenek Rusmiati bekerja sebagai tukang cuci baju.Hari-harinya sekarang lebih banyak terbaring sambil meringis kesakitan. Ia kesulitan membiayai pengobatannya karena tak lagi bisa mencari nafkah. Kondisi ekonomi keluarga pun sangat memprihatinkan, sang anak hanya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Itupun terbatas untuk kebutuhan sehari-hari.Nenek Rusmiati (66 thn) hanya punya satu harapan sederhana di masa tuanya, Ia ingin bisa duduk menemani cucu pertamanya yang masih balita bermain. Tawa kecil sang cucu adalah satu-satunya obat yang membuatnya tersenyum dan bertahan hingga hari ini.Namum, sejak menjelang hari raya idul fitri 2026, harapan itu mulai pupus. Tiba-tiba Nenek Rusmiati mengalami nyeri pada pinggangnya yang kian waktu semakin tak tertahankan. Saat dibawa ke dokter, Ia hanya diberikan obat. Tapi obat pun tak mampu meredakan rasa sakit itu hingga dibawa ke rumah sakit.Ternyata, sakit tersebut berasal dari tulang belakangnya yang rusak. Tak butuh waktu lama, penyakit itu merenggut kemampuannya untuk berdiri dan berjalan. Kini, untuk sekadar duduk pun, Nenek Rusmiati harus bersandar di kursi.Setiap hari, Nenek Rusmiati bergantung pada bantuan orang untuk beraktivitas, bahkan untuk sekedar berjalan ke kamar mandi. Saat harus kontrol ke rumah sakit, ia hanya bisa digendong, karena kursi roda pun belum ia miliki.Jangankan membeli kursi roda, untuk transportasi ke rumah sakit saja keluarganya sulit membiayai. Sang anak berjuang siang dan malam, mengambil perkerjaan tambahan dengan menjadi pengemudi ojek online. Namun, penghasilannya tetap tak menentu dan bahkan pas-pasan untuk makan.Sementara itu, kebutuhan pengobatan terus berjalan. Obat yang tak ditanggung BPJS, susu untuk menguatkan tulangnya, dan berbagai kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nenek Rusmiati tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nenek Rusmiati!
Dana terkumpul
Rp 1.757.007
7 hari lagi
Dari Rp 8.550.000
Donasi
Kesehatan
Kanker Payudara Stadium 4 Menjalar ke Tulang Selangka dan Tulang Ekor Bu Arwin!
“Kanker payudara stadium 4 yang aku derita kini tak lagi hanya menyerang satu bagian tubuh, penyakit ini sudah menjalar hingga ke tulang selangka dan tulang ekor! Sudah menjalar ke tulang selangka dan tulang ekor!”“Rasa sakit yang tak terbayangkan itu perlahan merenggut kemampuanku untuk sekadar duduk, apalagi berjalan. Tulang kakiku mulai keropos, tubuhku semakin lemah. Hingga kini aku hanya bisa terbaring, menjalani hari dengan penuh harap di tengah ketidakberdayaan.”Perkenalkan, aku Arwin Tri Herawati (48 thn), hidupku berubah sejak penyakit itu datang 4 tahun lalu. Kini, hanya anakku satu-satunya alasan aku ingin bertahan sampai hari ini. Ia yang selalu membantuku untuk beraktivitas ketika tubuhku tak berdaya sama sekali.Awalnya benjolan kecil muncul di payudaraku, tapi aku tak menghiraukan. Namun lama-lama membengkak, menghitam dan mengeluarkan cairan. Kulit di sekitar payudaraku juga mulai berkerut seperti kulit jeruk. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhku, setiap hari tanpa henti.Duniaku terasa berhenti, ketika dokter mengatakan aku mengalami kanker payudara. Penyakit itu dengan cepat mengganas sebelum aku menyadarinya, bahkan sudah kena ke organ hatiku. Akibatnya, perutku terasa begah, tubuhku terasa remuk saking sakitnya. Aku sudah menjalani dua kali operasi. Namun, penyakit ini seperti tidak memberikanku istirahat. Luka bekas operasiku ternyata sempat terinfeksi dan jahitannya terbuka, menambah rasa sakit yang harus aku tanggung.Tak jarang aku menangis karena tak kuat menahan sakit dan sedih dengan keadaanku, rasanya nyaris menyerah. Tapi, pada akhirnya aku tetap ingin terus hidup dan sembuh agar perjuangan anakku yang sudah mengurusku tidak sia-sia. Aku juga ingin bekerja lagi, agar hidupku tak terus diisi dengan meminta-minta bantuan.Biaya pengobatanku sangat berat, sekedar untuk ke rumah sakit aja aku harus menempuh 4 jam perjalanan. Akhirnya, aku sering tidak berangkat ke rumah sakit karena biaya transportasi yang mahal. Bahkan, untuk sekedar membeli obat pereda nyeri saja aku tidak mampu. Dulu, Ibuku masih membantu biaya hidupku. Beliau adalah seorang pensiunan guru, tapi sekarang beliau terkena stroke dan harus pengobatan juga. Sehingga, aku harus berjuang sendiri untuk hidupku. Itu pun aku sering menunggu belas kasihan tetangga yang kadang membantu memberikan makan. Aku sudah menjual rumah dan isinya untuk pengobatan untuk pengobatanku selama ini. Kini, aku dan anakku terpaksa tinggal dengan menumpang di rumah adikku. Pinjaman uang sana-sini juga tidak bisa lagi aku hindarkan.Saat ini, aku masih membutuhkan biaya untuk sewa mobil ke rumah sakit, obat dan vitamin yang tidak ditanggung BPJS, pampers, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Arwin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Arwin!
Dana terkumpul
Rp 3.150.001
14 hari lagi
Dari Rp 5.292.000
Donasi
Kesehatan
8 Tahun Alami Hipertiroid, Pedagang Kue Sempat Alami Kelumpuhan sementara
“8 tahun lamanya aku menderita hipertiroid! Aku tidak punya biaya untuk berobat, karena aku hanyalah seorang pedagang kue keliling yang penghasilannya pas-pasan.”“Akibatnya, tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku mengalami kelumpuhan semantara pada kaki dan kanan. Aku tak lagi bisa mencari nafkah dan juga tidak bisa lagi berobat karena tidak memiliki biaya.”Aku Febi Wahyudi (36 thn), kondisiku sempat memburuk hingga harus dilarikan ke IGD. Saat itu, tubuhku tak mampu digerakkan, jantung berdebar begitu kencang, keringat dingin mengucur, dan saya hanya bisa terbaring lemah. Aku hanya bisa terus berdoa sepanjang waktu, jangan sampai ini menjadi akhir dari hidupku.Dokter memberikan penanganan, termasuk pemberian kalium untuk mengatasi kelumpuhan, serta obat-obatan yang kini harus aku konsumsi secara rutin. Aku juga harus menjalani fisioterapi dan mengkonsumsi vitamin yang tidak semuanya ditanggung BPJS.Syukurlah, kondisiku berangsur membaik meski perjuanganku dengan penyakit ini belum selesai. Aku masih harus minum obat dan masih kesulitan melakukan aktivitas berat. Saat penyakit ini kambuh, aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, menahan pusing akibat vertigo hingga telingaku terasa berdengung.Di tengah kondisi ini, aku tetap berusaha bertahan. Aku mulai berjualan kue kembali meski dalam jumlah kecil. Penghasilanku terbatas, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berupaya meminjam uang pada orang-orang terdekat demi pengobatanku.Aku ingin sembuh, karena tidak ingin melihat ibuku terus menangis karena melihat kondisiku yang memprihatinkan. Namun, aku kesulitan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Febi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Febi!
Dana terkumpul
Rp 1.180.000
14 hari lagi
Dari Rp 4.600.000
Donasi