Panggilan Mendesak

camp
Anak

Nyawa Sarfaraz Bergantung Pada Transplantasi Hati

“Perut anak saya kian membesar hingga Ia tidak bisa duduk, Kondisinya saat ini memprihatinkan, sering diare berulang, demam, muntah darah, keluar darah dari hidung dan BAB darah. Nyawa anak saya bisa diselamatkan dengan  transplantasi hati, tapi saya tidak ada biaya. Apalagi anak saat itu sempat kritis, keuangan sangat menipis selama anak pengobatan di Jakarta.” -Kardina Rafsayani, orang tua Sarfaraz-Awalnya saya tidak tahu jika ciri-ciri yang ditunjukkan anak saya, Sarfaraz Rafsa Utama (1 thn), merupakan sakit serius. Matanya terlihat kuning dan BAB-nya berwarna putih. Seperti anak mengalami dehidrasi.Namun setelah diperiksa, Sarfaraz menderita atresia bilier atau saluran empedunya bermasalah. Perutnya semakin membesar akibat cairan menumpuk di hati. Di dalam perutnya tersebut penuh kandungan racun yang tiap hari bisa bertambah dan membuat perutnya semakin membesar. Akhirnya kondisi tubuhnya semakin lemah membuatnya terpaksa harus terkulai lemah di rumah sakit.Akhirnya Sarfaraz dirujuk pengobatan ke Jakarta. Rasanya sedih, khawatir dan terpukul jadi satu, tapi saya harus kuat karena anak masih membutuhkan saya. Tanpa pikir panjang, saya menguras semua tabungan demi membawa anak pengobatan dari Kalimantan ke Jakarta.Sejauh ini Sarfaraz sudah mendapat tindakan biopsi dan masih harus kontrol rutin menjelang transplantasi hati. Tindakan ini harus dilakukan, sebab nyawa Sarfaraz jadi taruhannya. Saya yakin anak saya semangat sembuh, karena ketika sakitnya tidak kambuh, anak saya selalu ceria dan sering tersenyum kepada orang tuanya. Tapi saat ini saya kesulitan biaya, suami bekerja hanya sebagai karyawan swasta dan biaya pengobatan anak sangat besar.Saat ini saya membutuhkan biaya untuk operasi transplantasi hati anak, jika tak segera mendapatkan tersebut, racun yang ada di perutnya akan menyebar ke organ tubuhnya yang lain dan melemahkan fungsinya.#TemanBaik, mari selamatkan nyawa Sarfaraz agar bisa melakukan transplantasi hati dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 57.347.215
2 hari lagi Dari Rp 150.000.000
Donasi
camp
Kesehatan

Minum Air Hujan Jadi Penopang Hidup Pengurus Gereja yang Mengidap Kanker Prostat

“Ya Tuhan, suamiku yang lemah karena kanker prostat terpaksa minum air hujan! Di tempat kami, air bersih sangat minim dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Aku hanya bisa memandang dompet kosong di tanganku, menangis dalam diam, menyaksikan tubuh suamiku terkulai tak berdaya di atas kasur tipis.”“Kain seadanya terpaksa aku gunakan sebagai pengganti popok yang tak mampu kubelikan untuk suamiku. Tubuhnya kian menyusut, tinggal tulang yang terbungkus kulit. Ia hanya bisa meringkuk, menahan nyeri yang tak ada habisnya. Berobat ke rumah sakit hanyalah mimpi yang terlalu jauh, obat warung murah menjadi satu-satunya harapan pereda nyerinya…” -Modesta Malo, Istri Pak Yohanes-“Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh, selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah yang kupuji.” (Yeremia 17:14). Doa itu tanpa henti dipanjatkan suamiku, Yohanes Bulu Poety (62 thn), Ia menanti keajaiban terjadi di tengah penderitaannya.Dahulu, suamiku adalah sosok yang aktif melayani gereja dan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Namun semua itu harus terhenti ketika nyeri hebat mulai menyerang pinggangnya. Awalnya, suamiku mengira Ia mengalami usus buntu. Tapi kenyataan lebih buruk dari mimpi buruk manapun.Kanker ganas menyerang saluran kencingnya. Risiko kelumpuhan terus mengancam. Dokter menyarankan kemoterapi dan operasi pengangkatan sel kanker, dengan biaya puluhan juta rupiah. Kami mencoba memohon ke pihak rumah sakit agar suamiku bisa berobat tanpa biaya, tapi hasilnya sia-sia.Sudah 4 Tahun suamiku berjuang melawan kanker ganas ini. Berkali-kali ia berteriak histeris menahan nyeri di pinggangnya. Persendian lututnya pun sering terasa seperti diremuk, hingga kakinya tak lagi bisa digerakkan.Lahan hingga peternakan sudah dijual demi pengobatan suamiku. Bolak-balik dari Sumba, NTT ke Denpasar, Bali menguras segalanya. kini, tak ada lagi harta tersisa, bahkan untuk sekedar kontrol rutin jarang dilakukan. Kini, akulah yang menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Setiap subuh aku pergi ke ladang memanen sayuran. Siangnya, aku menyiapkan makanan dan mengganti popok kain suamiku. Setelah itu, aku berkeliling menjual hasil ladang, berharap cukup untuk makan hari ini.Aku harus bertahan menghadapi terik matahari, hujan deras, rasa lapar, dan haus, demi sesuap nasi. Syukurlah, Tuhan masih menghadirkan orang-orang baik. Tetangga kerap mengantarkan makanan dan sesekali membantu merawat suamiku.Saat ini, suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, air mineral, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Yohanes tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Yohanes!
Dana terkumpul Rp 4.559.002
7 hari lagi Dari Rp 13.809.000
Donasi
camp
Kesehatan

Ma, Aku Ingin Bisa Berjalan dan Sekolah Lagi

Kondisi kaki Kiki ( 12 tahun ) sejak lahir memang sudah berbeda, tidak seperti anak normal lainnya. Bisa dibilang itu awal mula ia mengidap Osteogenesis imperfecta. Penyakit genetik langka yang ditandai dengan tulang rapuh dan lemah, sehingga menyebabkan mudah patah.Sempat dilakukan penambahan urat di kedua kakinya di RSUD Arifin Achmad supaya kondisi kaki bisa lurus. Walaupun sempat bisa berjalan sampai usianya 2 tahun, namun kondisinya kembali memburuk setelah ia terjatuh  dan kakinya mengalami patah tulang. Sudah dilakukan belasan operasi di RS Eka Hospital dan RSCM Jakarta, namun belum ada perubahan maksimal untuk Kiki. Ia harus terus menjalani pengobatan untuk menghindari kerapuhan tulang yang nantinya dapat membuatnya tak bisa berjalan.Akibat osteogenesis imperfecta yang dideritanya, Kiki kini tak bisa sekolah, hanya bisa berobat dan minum obat serta susu tulang dengan rutin.Orang tua berharap ada keajaiban untuk Kiki bisa sembuh. Karena dokter mengatakan alat yang dibutuhkan untuk kaki Kiki hanya bisa dipesan dari luar negeri dengan biaya yang sangat mahal.  Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan pas-pasan. Perjalanan Kiki masih panjang. Ia ingin bisa berjalan dan meraih cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur'an.Yang bisa kita bantu saat ini ialah memenuhi kebutuhan obat yang tidak ditanggung BPJS serta kebutuhan lainnya selama masa pengobatan Kiki. TemanBaik, jangan biarkan tulangnya rapuh, bangkitkan semangatnya dengan bantuanmu.Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul Rp 13.404.587
6 hari lagi Dari Rp 70.355.000
Donasi

Pilihan Campaign