Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Hasna Berusaha Tersenyum, Meski Kanker Menggerogoti Tubuhnya Lagi!
“Kanker itu datang lagi menyerang tubuh anakku! Padahal, aku sempat lega karena kondisinya sudah mulai membaik dan sudah selesai menjalani pengobatan akibat kanker darah.”“Dengan suara lirih, anakku yang justru menguatkanku. Ia mengusap air mataku sambil berusaha tersenyum dan mengatakan, ‘Ma, adek kuat kok, adek sehat, nggak sakit lagi.’ Bagaimana anak kecil yang justru paling terluka ini membohongi rasa sakit yang dialaminya hanya demi melihat orang tuanya tersenyum?” -Septriliasih-Perutnya membesar! Anakku, Hasna Saida (4 thn), tiba-tiba tak bisa buang air besar dan hanya bisa meringis kesakitan. Aku terpaksa memasukkan tanganku ke anusnya agar tinjanya bisa segera keluar, karena tak sanggup melihatnya tersiksa.Anakku sampai tak bisa jalan, karena kakinya sangat lemas. Aku menggendongnya dengan was-was ke klinik, tapi hatiku justru remuk saat dokter mengatakan limfa dan organ hatinya membengkak. Hasna harus menerima tiga kantong darah, karena Ia didiagnosa kanker darah atau leukimia.Butuh waktu lama bagiku untuk menerima kenyataan, tapi justru Hasna yang menguatkanku. Dengan semangat luar biasa, Ia menjalani terapi demi terapi, padahal Ia harus menahan sakit luar biasa pada seluruh tubuhnya dan rambutnya rontok. Apalagi Ia harus menjalani tindakan setiap tiga bulan sekali.Sementara itu, suamiku banting tulang mencari belut di malam hari, kadang menjadi kuli serabutan di siang hari, semua demi anak kami bisa tetap hidup. Tapi penghasilannya yang tak menentu sering tak cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Akhirnya tanah milik orang tua dan barang-barang berharga di rumah terpaksa dijual. Syukurlah, anakku menunjukkan perubahan dan harapan baik, perutnya sudah mulai kempes, meski kadang kaki dan pinggangnya masih sakit.Perjuanganku menunjukkan titik terang, anakku berhasil menyelesaikan kemoterapinya. Aku sempat lega dan berpikir Ia sudah sembuh, karena hanya harus melalui tahapan vaksin saja. Namun, setelah 6 bulan selang pengobatannya selesai, kondisi anakku tiba-tiba kembali menurun drastis.Ternyata kanker itu kembali menggerogoti tubuh anakku! Semakin terpukul lagi, ketika dokter mengatakan anakku harus menjalani kemoterapi ulang untuk ketiga kalinya. Apakah anakku kuat harus melalui kemoterapi yang telah membuatnya menderita beberapa bulan belakangan ini?Sampai kapan anakku harus melalui ini? Kini aku hanya mengharapkan keajaiban, baik dari kondisi kesehatannya maupun biaya pengobatannya. Saat ini, aku kesulitan untuk membiayai transportasi anakku dari Lampung ke Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hasna tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hasna!
Dana terkumpul
Rp 12.898.500
15 hari lagi
Dari Rp 12.885.000
Donasi
Anak
7 Tahun Aina Berjuang Sembuh Bertahan dari Kelainan Usus Besar
“4 jam perjalanan ku tempuh sambil menggendong anakku di atas sepeda motor ke rumah sakit. Hujan deras membuat perjalanan semakin terasa berat. Begitulah hari-hari yang penuh kepahitan karena penyakit yang perlahan menggerogoti pencernaannya.”“Sampai hari ini, ia masih menahan perih yang luar biasa dari luka bekas operasinya. Setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan. Ia semakin sulit beraktivitas, bahkan sekolah yang begitu ia rindukan pun harus tertunda.” -Indarsih, Orang tua Aina-Aina Ramadhani (7 thn), merupakan anak pertamaku yang menderita kelainan usus besar (hisprung). Masalah pencernaannya ini sudah terlihat sejak usia 6 bulan, Ia mengalami Buang Air Besar secara terus-menerus tanpa henti. Tentu hal itu membuatku curiga, ada sesuatu yang tak wajar.Saat aku membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan anakku mengalami masalah usus besar. Selain itu, anakku harus menjalani operasi jika tidak mau nyawanya terancam. Aku terdiam seketika dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku takut kehilangan anakku!Di luar ruang operasi, aku menunggu anakku sambil memanjatkan doa untuk keselamatan. Hingga akhirnya dokter menyatakan operasinya berjalan lancar, saat itulah aku bisa lega luar biasa. Namun, hatiku hancur ketika menyaksikan perut anakku harus dilubangi sebagai jalan BAB-nya.Setiap hari, aku harus mengganti kantong stoma yang di tempelkan di perutnya yang berlubang sebagai tempat pembuangan airnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, Aina selalu menunjukkan semangat yang membuatku belajar arti dari sebuah kesabaran dan ketabahan.“Mama, aku pengen cepat sembuh, biar bisa ngaji dan sekolah lagi,” itulah kalimat yang selalu diucapkannya dengan senyum penuh harap. Rasanya aku terpukul sekali, karena aku tidak ada yang bisa ku lakukan agar Ia bisa sembuh saat itu juga. Saat ini, Aina masih harus menjalani operasi tahap kedua, yaitu penutupan stoma. Kondisinya kemungkinan pulih dalam 3-4 bulan ke depan. Sementara biaya pengobatannya yang panjang cukup besar. Suamiku hanya pedagang bakso keliling, penghasilan yang kami dapat terkadang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan, demi pengobatan Aina, kami harus berhutang ke sana kemari. Aina saat ini membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aina tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aina!
Dana terkumpul
Rp 5.620.000
1 hari lagi
Dari Rp 5.394.000
Donasi
Anak
4 Kali Operasi Otak dalam 2 Tahun, TB Meningitis Hingga Hidrosefalus Menyerang Nabila
Sakit sekali ya Nak, kamu harus menjalani 4 kali operasi dalam kurun waktu 2 tahun? Kamu pasti bingung dan tak nyaman dengan semua selang yang menempel di kepalamu. Hati Ibu hancur setiap kali melihat tatapanmu yang sayu, seolah memohon pertolongan.Ibu ingin mencari pekerjaan agar bisa terus membiayai pengobatanmu, tapi siapa yang akan merawatmu? Penghasilan Ayah sebagai kuli bangunan sering kali membuat kami tersendat-sendat, untuk membayar harga kesembuhanmu. -Santi Wulandari, Orang tua Nabila-Anakku koma selama sebulan! Demam tinggi disertai kejang berulang saat usianya 2 tahun itu ternyata menjadi awal penderitaan anakku, Nabila Putri Arisanti (4 thn). Dokter mendiagnosanya mengalami TB Meningitis (Infeksi selaput otak), kejang, penumpukan cairan di otak, cerebral palsy (kerusakan otak). Bertubi-tubi penyakit menyerang otaknya, hingga akhirnya kesadaran anakku perlahan menurun, ia harus mengandalkan selang yang ditancapkan di hidungnya. Ia tak mengerti perintah dan belum bisa bicara, hanya rintihan dan tangisan yang Ia lakukan untuk mengungkapkan segala penderitaannya. Seolah belum cukup, penglihatannya juga perlahan menghilang. Betapa Ibu ingin menghapus semua rasa sakitmu, tapi Ibu hanya bisa memandangmu dan berdoa.Meskipun dokter berkata harapan Nabila untuk sembuh sangat kecil, tapi anakku kuat dan bisa bertahan hingga sekarang. Harapan sekecil apapun itu selalu tertanam di hatiku untuk kesembuhannya, karena awalnya Nabila memang anak yang sehat.Namun, harapanku yang besar untuk kesembuhan anakku bertabrakan dengan kenyataan pahit. Aku kesulitan biaya untuk pengobatannya yang panjang, untuk membawanya ke rumah sakit dari Bogor dan ke Jakarta saja butuh biaya besar. Belum lagi, masih ada obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, mari bantu Nabila untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 18.089.003
5 hari lagi
Dari Rp 18.370.000
Donasi