Panggilan Mendesak

camp
Beasiswa Pendidikan

Harapan Anak Petani untuk Menjadi Guru Terancam Akibat Keterbatasan

Orang tua Daniel hanyalah petani dan pedagang kecil. Hujan yang tak menentu membuat hasil panen sering gagal. Kios kecil ibunya pun semakin sepi pembeli. Penghasilan yang tak menentu sering membuat biaya kuliah tertunda. Ada rasa cemas yang diam-diam menghantui, takut harus berhenti di tengah jalan.Daniel Gerson Baisila (32 thn), menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan dan harapan. Langkahnya mungkin terasa lebih berat dibanding mahasiswa lain, namun semangatnya tak pernah surut sedikit pun.Hari-harinya memang melelahkan. Tugas kuliah menumpuk, pekerjaan rumah tak pernah berhenti, dan sesekali ia harus mencari pekerjaan sampingan. Tapi Daniel tidak pernah mengeluh. Baginya, lelah hari ini adalah harga untuk masa depan yang lebih baik.Ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Terbuka dengan jurusan S1 PGSD, selalu berjuang menjaga agar nilainya tetap baik. Bagi Daniel, pendidikan bukan sekadar gelar, pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan keluarga.Keinginan Daniel untuk menjadi seorang guru sekolah dasar bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk menjadi cahaya bagi anak-anak lain yang hidup dalam keterbatasan, seperti dirinya. Ia ingin hadir di depan kelas, membimbing, menyemangati, dan berkata pada murid-muridnya, bahwa mimpi tidak pernah salah, meski lahir dari keadaan yang sederhana.Kedua orang tua Daniel juga tak pernah berhenti berjuang. Meski tubuh mulai lelah dan usia tak lagi muda, mereka tetap bekerja keras. Sakit pinggang, panas matahari, dan sepinya pembeli tak pernah menjadi alasan untuk menyerah.“Ibu dan bapak mungkin hidup sederhana, tapi mereka tak pernah berhenti berusaha agar aku tetap bisa kuliah,” Itulah kalimat dari orang tuanya yang menjadi penguat langkah Daniel.Namun, pendapatan orang tuanya dari bekerja tak sebanding dengan uang kuliahnya yang besar. Saat ini, Daniel butuh membayar uang kuliah yang nilainya mencapai jutaan. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Daniel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Daniel! 
Dana terkumpul Rp 395.000
7 hari lagi Dari Rp 6.800.000
Donasi
camp
Anak

Keluar Masuk Rumah Sakit Tiap Bulan, Adzriel Didiagnosa Jantung Bocor dan Down Syndrom

“Titik terkelamku adalah ketika melihat tubuh kecil anakku masuk ruang PICU dan dipasangi alat ventilator, aku hanya bisa menangis karena tak tega. Pikiranku bertanya-tanya, seberapa sakit yang Ia rasakan? Apakah Ia bisa menahan semuanya?”“Hatiku semakin hancur ketika sebuah selang NGT dimasukkan melalui hidungnya untuk makan dan minumnya. Tangisnya yang lirih seakan menusuk sampai ke hati. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, ‘seberapa sakit yang sedang anakku rasakan? Apakah tubuh kecilnya sanggup menahan semua ini?” -Haedy, orang tua Adzriel-Kenyataan berat harus aku terima begitu anakku, Muhammad Adzriel Alfarizqy (1 thn), lahir. Saat itu, dokter mengatakan bahwa ada tanda-tanda down syndrom pada anakku. Sambil menangis, aku hanya bisa menatap wajahnya sambil terus berdoa, semoga semua ini hanya kekhawatiran sementara.Namun, ujian itu ternyata baru saja dimulai. Tiga hari setelah membawa anakku pulang ke rumah, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kekuningan sampai harus dirawat di rumah sakit. Di tengah kecemasan itu, lagi-lagi hal buruk lainnya muncul, anakku mendadak mengalami sesak napas.Ternyata dokter lagi-lagi membawa berita yang membuat hatiku hancur, anakku didiagnosa jantung bocor. Sejak itu, hidupku dipenuhi suara alarm IGD, ruang perawatan dan tangis. Siapa sangka, setiap bulan anakku harus keluar masuk rumah sakit karena sesak napas dan infeksi paru-paru berulang.Setiap hari aku selalu memeluk dan mengajak anakku berbicara, ‘Ayo Dek, lawan sakitnya ya. Dedek anak hebat. Dedek pasti kuat dan bisa sembuh.’ Hanya itu yang bisa terus aku tanamkan agar Ia terus bertahan, sambil berharap Allah SWT mengangkat semua penyakit yang dideritanya.Di tengah perjuangan ini, aku juga dihimpit masalah ekonomi. Suamiku hanya bekerja sebagai petugas keamanan, sedangkan aku bekerja sebagai pegawai swasta. Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan tiga anak kami sekaligus biaya pengobatan Adzriel.Sebagai orang tua, aku berharap anakku bisa tumbuh sehat, bisa bernapas lega tanpa alat bantu, bermain dan tertawa seperti anak lainnya. Namun, aku kesulitan memenuhi biaya pengobatan anak yang membutuhkan transportasi ke rumah sakit, membeli obat, alat medis dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Adzriel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Adzriel!  
Dana terkumpul Rp 12.626.000
3 hari lagi Dari Rp 12.516.000
Donasi
camp
Kesehatan

Di Tengah Sakit Hipertiroid, Bu Siska Harus Merawat Suami Stroke dan Anak Disabilitas

“Sejak suamiku terkena stroke, aku mencoba menggantikan perannya mencari nafkah demi menyambung hidup dan biaya pengobatannya. Namun takdir kembali menguji, tubuhku sendiri jatuh sakit karena hipertiroid. Di tengah kondisi yang serba terbatas, aku juga harus merawat anak kami yang mengalami disabilitas.”“Kebingungan, takut, dan putus asa menggerayangi hidupku, entah bagaimana lagi mencari uang untuk pengobatan suamiku. Bahkan, untuk makan sehari-hari saja, terkadang aku harus menunggu bantuan saudara dan teman. Sementara jika pengobatan suamiku terhenti, nyawanya akan terancam.” -Siska, Istri Bapak Iskandar-Penyakit itu datang pada suamiku, Iskandar (47 thn), ketika keluarga kami baru saja mendapatkan rezeki. Saat itu, suamiku baru saja mulai bekerja lagi menjadi supir travel setelah setahun lamanya menganggur. Kami sempat berpikir kehidupan perlahan akan membaik. Namun ternyata, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.Ketika sedang membawa penumpang ke Dumai, suamiku meneleponku dengan suara yang tersendat-sendat. Ia bilang tangan dan kakinya mendadak lemah. Seketika rasa cemas mengahantamku, dan aku langsung memintanya segera ke rumah sakit sambil berdoa semoga tidak ada hal buruk.Namun kenyataan yang ada begitu menghancurkan. Dokter mengatakan ada penyumbatan di otak suamiku, bahkan terdapat di tiga bagian otaknya hingga mencapai batang otak. Seketika tubuhku terasa lemas, rasanya seperti dunia runtuh di depan mata.Hingga hari ini, suamiku sudah menjalani perawatan di rumah sakit, kontrol rutin hingga terapi. Tubuhnya masih sering lemas, sulit berbicara, serta kesemutan dan kebas yang membuat aktivitas sehari-harinya sangat terbatas. Suamiku yang dulu pekerja keras, kini harus berjuang melawan sakit di atas tempat tidur.Semua tabungan sudah terkuras habis demi pengoatan. Bahkan aku terpaksa menjual barang-barang berharga di rumah demi menyelamatkan suamiku. Aku mencoba bertahan dengan berjualan kecil-kecilan di rumah, penghasilanku tak menentu, paling besar dapat Rp20 ribu.Di tengah keterbatasan itu, suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Iskandar tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Iskandar!  
Dana terkumpul Rp 480.004
15 hari lagi Dari Rp 3.510.000
Donasi

Pilihan Campaign