Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kemanusiaan
Mari Berkontribusi Program Beasiswa Ramadhan 1447 H untuk Santri Penghafal Al-Qur’an
Di balik ayat-ayat suci yang mereka hafalkan, ada anak-anak dengan hati yang luar biasa kuat. Di usia yang seharusnya dipenuhi canda dan permainan, mereka memilih duduk bersimpuh, mengulang ayat demi ayat Al-Qur’an dengan penuh kesabaran.Minat pendidikan tahfidz di Indonesia terus meningkat, namun dibalik itu masih banyak santri hafidz yang berjuang dalam senyap. Keterbatasan biaya pendidikan, buku belajar yang seadanya, hingga minimnya pendampingan kerap menjadi tantangan sehari-hari. Oleh karena itu, Central x Vivi Zubedi bersama BenihBaik.com menghadirkan “Program Beasiswa Ramadhan 1447 H” sebagai ikhtiar untuk menemani langkah para penghafal Al-Qur’an dari keluarga prasejahtera. Program ini lahir dari keyakinan, bahwa keterbatasan ekonomi seharusnya tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk menjaga dan mencintai Al-Qur’an.Melalui program ini, 11 anak hafidz terpilih akan menerima beasiswa selama enam bulan. Bukan sekadar bantuan biaya, tetapi juga bentuk penghargaan atas ketekunan dan cinta mereka terhadap Al-Qur’an. Selain itu, mereka juga akan menerima dukungan biaya hidup serta paket Lebaran berupa baju dan perlengkapan ibadah, agar dapat menyambut hari kemenangan dengan rasa layak, bahagia, dan penuh syukur.Program ini dilaksanakan di Sekolah Tahfidz Durrotul Ummah, Karawaci, Kota Tangerang. Lembaga ini berkomitmen mencetak generasi Qur’ani berakhlak mulia melalui pendidikan tahfidz, akademik, dan pembinaan karakter yang seimbang. Di tempat inilah harapan-harapan kecil para santri itu dirawat, agar kelak tumbuh menjadi cahaya bagi sekitarnya.Melalui setiap pembelian satu produk Vivi Zubedi di Central, terselip donasi sebesar Rp25.000 untuk para santri penghafal Al-Qur’an. Melalui satu langkah kebaikan, #TemanBaik bisa ikut menjaga ayat-ayat Allah tetap hidup di dada anak-anak yang kelak akan menjadi penjaganya.
Dana terkumpul
Rp 212.000
13 hari lagi
Dari Rp 50.000.000
Donasi
Anak
Tubuh Kaku dan Tatapan Hilang Arah, Bima Berjuang dari Mikrosefali Hingga Epilepsi
“Suara sirine ambulans memecah kesunyian di jam hampir tengah malam itu, anakku kritis! Jantungku berdegup kencang, aku nyaris saja kehilangan anak pertamaku, buah hati yang telah kunantikan selama lima tahun penuh doa dan harapan.”“Berkali-kali anakku masuk rumah sakit akibat demam tinggi disertai kejang. Namun, berkali-kali pula hasil pemeriksaan menunjukkan anakku baik-baik saja. Hingga akhirnya, kenyataan pahit menghantamku, ternyata anakku mengalami kelainan otak!” -Yurike Nurviani, Orang tua Bima-Saat ini, Bimantara Ramadhan (10 bln) masih harus menghadapi kejang yang datangnya hingga 5 kali dalam sehari. Tangan dan kakinya sampai kaku, matanya menatap kosong seolah kehilangan arah. Semua ini akibat mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil), epilepsi, cerebral palsy (gangguan perkembangan otak), dan terlambat tumbuh kembang. Orang tua Bima setiap hari menahan air mata untuk membiayai pengobatannya. Ayahnya bekerja sebagai kurir catering, dibayar Rp10 ribu per alamat. Dalam sehari, pesanan yang didapat hanya enam alamat, artinya Rp60 ribu untuk menghidupi keluarga. Malam hari, Ayahnya bekerja mengantar pakaian laundry, dengan upah Rp300 ribu seminggu. Tak jarang Ibunya menunduk malu, meminjam uang ke tetangga agar bisa membawa Bima berobat. Mimpi buruk Bima dimulai tak lama setelah Ia lahir. Awalnya, Bima lahir dalam kondisi sehat serta tidak ada kelainan apapun meski ibunya sempat pecah ketuban.Namun, tiba-tiba Bima mengalami demam dan dilanjutkan menolak untuk menyusui memasuki usia 3 hari. Sampai akhirnya, Ia mengalami demam tinggi hingga disertai kejang. Dokter mendiagnosa Bima mengalami dehidrasi dan harus dirawat inap.Di tengah kecemasan itu, tiba-tiba orang tuanya mendapat kabar bahwa Bima mengalami gagal napas, bahkan hingga 2 kali! Ibunya nyaris jatuh pingsan, apalagi Bima masuk NICU selama 10 hari. Pemeriksaan kepala sempat dilakukan, tapi dokter belum ditemukan kelainan. Harapan sempat tumbuh, tetapi sebulan kemudian semuanya berubah. Perkembangan Bima jauh tertinggal. Ia tak mampu tengkurap dan mengangkat kepala seperti anak seusianya. Saat kembali ke rumah sakit, dokter menduga Bima mengalami mikrosefali karena lingkar kepalanya kecil. Setahun menjalani pengobatan, kondisi Bima takmenunjukkan banyak perubahan. Hingga suatu hari, Ia kembali masuk rumah sakit akibat kejang yang datang hingga sepuluh kali dalam sehari. Bima dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, di sanalah satu per satu diagnosis terungkap. Hati Ibunya hancur mendengar kenyataan yang ditanggung Bima.Lagi-lagi, keterbatasan biaya membuat orang tuanya sering berada di persimpangan yang menyakitkan. Terkadang Bima jadi tidak ikut terapi karena tidak biaya transportasi ke rumah sakit. Belum lagi, biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bima tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bima!
Dana terkumpul
Rp 8.702.000
8 hari lagi
Dari Rp 8.644.500
Donasi
Anak
Kelenjar Getah Bening Menggerogoti Leher Anak Tukang Sapu Jalan!
Halo TemanBaik,Nama saya Asgar Rukmana (36 tahun), orang tua dari Arka Fadhil Albaihaki (5 tahun). Dengan hati yang berat, saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan kecil kami yang sedang berjuang melawan penyakit kelenjar.Beberapa waktu lalu, Arka mulai sering mengeluh lemas, demam naik-turun, dan pembengkakan di area lehernya. Awalnya kami pikir itu hanya gejala ringan seperti kurang istirahat atau flu biasa. Namun, setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyampaikan bahwa Arka mengalami gangguan pada kelenjar yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.Mendengar itu, dunia serasa runtuh bagi kami. Melihat anak kecil yang biasanya ceria, kini harus bolak-balik rumah sakit, menjalani tes, suntikan, dan pemeriksaan membuat hati kami remuk. Arka sering bertanya, “Ayah, kapan sembuh? Aku mau main lagi…” dan setiap kali itu terucap, rasanya dada ini sesak karena belum bisa memberi jawaban pasti.Kami sebagai orang tua tentu ingin memberikan pengobatan terbaik. Namun biaya yang terus bertambah—mulai dari rawat jalan, obat-obatan, hingga pemeriksaan laboratorium—sering kali jauh melampaui kemampuan kami. Meski begitu, kami tetap berusaha bertahan demi kesembuhan Arka.Hari ini, dengan segala kerendahan hati, kami memohon bantuan dan doa dari TemanBaik, agar Arka dapat melanjutkan pengobatannya tanpa terhenti. Sekecil apa pun dukungan yang diberikan sangat berarti bagi kami. Bagi Arka, setiap bantuan adalah harapan baru agar ia bisa kembali berlarian, tertawa, dan menikmati masa kecilnya seperti anak-anak lain.Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca cerita kami. Semoga kebaikan Teman baik menjadi jalan kesembuhan bagi Arka.Salam hormat,Asgar Rukmana & keluarga
Dana terkumpul
Rp 2.542.500
2 hari lagi
Dari Rp 2.205.000
Donasi