Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Di Balik Senyum yang Memudar, Alina Alami kelainan Jantung Langka
“Aku dan suami hampir depresi ketika putra pertama kami wafat pada usia 19 hari. Dan kini, duniaku runtuh untuk kedua kalinya. Putriku malah diserang penyakit mematikan, jantungnya bermasalah hingga membuatnya terancam gagal organ!”“Pengobatannya membutuhkan biaya yang tak sedikit. Setiap hari aku dan suami berikhtiar berjualan nasi pecel dan gorengan di depan sekolah. Namun, seringkali dagangan itu hanya kembali tanpa terjual, sepi, seperti harapan yang perlahan meredup. Dalam keputusasaan, aku hanya bisa berdoa, Ya Tuhan, bagaimana kami bisa memberikan harapan untuk anak kami?” -Tusama, Orang tua Alina-Sejak mengandung Alina Zalfa Azzura (1 thn), aku sering mengalami pendarahan hebat dan menjalani rawat inap. Aku hanya bisa berdoa, sampai akhirnya Allah mengizinkan Alina bertahan dan dengan gigih lahir ke dunia. Tangis pertamanya menjadi kebahagiaan tak terhingga bagiku.Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Memasuki usia 4 bulan, pertumbuhannya seperti terhambat, bahkan kaki dan tangannya tampak membiru. Rupanya, putri kecilku yang biasanya tampak riang telah diserang kelainan jantung kompleks.Penyakit itu tergolong langka di Indonesia! Senyum anakku yang dulu menghangatkan hati, kini berubah menjadi tangis menyayat hati. Aku berlari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, berharap ada harapan. Tapi rumah sakit di daerahku tak sanggup menangani penyakit anakku. Akhirnya, anakku dirujuk pengobatan dari Lampung ke Jakarta. Aku tidak punya aset apapun selain rumah dan motor yang biasa digunakan untuk berjualan. Dengan hati berat, motor itu kami gadaikan demi menyelamatkan nyawa anakku.Saat ini, anakku masih menunggu jadwal operasi jantungnya. Tubuh kecilnya sering sesak napas, kulitnya membiru, dan setiap tarikan napasnya terasa seperti perjuangan panjang. Tak ada malam tanpa air mata, aku tak sanggup membayangkan tubuh mungilnya harus terbaring di meja operasi, menghadapi dinginnya ruang bedah.Di tengah perjuangan ini, aku juga dihadapkan pada keterbatasan biaya. Pernah suatu hari, kami kehabisan ongkos dari rumah singgah ke rumah sakit. Aku dan suami hanya bisa berjalan kaki sejauh 1 km, sementara Alina digendong. Selama sebulan, kami bertahan hanya dengan tempe dan terong untuk berhemat.Bahkan, aku pernah berada di titik paling putus asa. Uang yang seharusnya kami gunakan untuk pulang ke Lampung, terpaksa dipakai untuk mengaktifkan kembali BPJS Alina. Saat itu, kami bahkan tak mampu membeli susu dan pampers untuknya. Tapi di saat itulah, Allah kirimkan pertolongan melalui orang-orang baik yang membantu kami pulang.Hari ini, aku masih menggenggam harapan itu. Aku percaya, mukjizat akan datang melalui tangan-tangan baik yang tergerak. Alina hingga kini masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alina tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alina!
Dana terkumpul
Rp 11.713.000
5 hari lagi
Dari Rp 11.613.000
Donasi
Kesehatan
Kanker Payudara Stadium 4 Menjalar ke Tulang Selangka dan Tulang Ekor Bu Arwin!
“Kanker payudara stadium 4 yang aku derita kini tak lagi hanya menyerang satu bagian tubuh, penyakit ini sudah menjalar hingga ke tulang selangka dan tulang ekor! Sudah menjalar ke tulang selangka dan tulang ekor!”“Rasa sakit yang tak terbayangkan itu perlahan merenggut kemampuanku untuk sekadar duduk, apalagi berjalan. Tulang kakiku mulai keropos, tubuhku semakin lemah. Hingga kini aku hanya bisa terbaring, menjalani hari dengan penuh harap di tengah ketidakberdayaan.”Perkenalkan, aku Arwin Tri Herawati (48 thn), hidupku berubah sejak penyakit itu datang 4 tahun lalu. Kini, hanya anakku satu-satunya alasan aku ingin bertahan sampai hari ini. Ia yang selalu membantuku untuk beraktivitas ketika tubuhku tak berdaya sama sekali.Awalnya benjolan kecil muncul di payudaraku, tapi aku tak menghiraukan. Namun lama-lama membengkak, menghitam dan mengeluarkan cairan. Kulit di sekitar payudaraku juga mulai berkerut seperti kulit jeruk. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhku, setiap hari tanpa henti.Duniaku terasa berhenti, ketika dokter mengatakan aku mengalami kanker payudara. Penyakit itu dengan cepat mengganas sebelum aku menyadarinya, bahkan sudah kena ke organ hatiku. Akibatnya, perutku terasa begah, tubuhku terasa remuk saking sakitnya. Aku sudah menjalani dua kali operasi. Namun, penyakit ini seperti tidak memberikanku istirahat. Luka bekas operasiku ternyata sempat terinfeksi dan jahitannya terbuka, menambah rasa sakit yang harus aku tanggung.Tak jarang aku menangis karena tak kuat menahan sakit dan sedih dengan keadaanku, rasanya nyaris menyerah. Tapi, pada akhirnya aku tetap ingin terus hidup dan sembuh agar perjuangan anakku yang sudah mengurusku tidak sia-sia. Aku juga ingin bekerja lagi, agar hidupku tak terus diisi dengan meminta-minta bantuan.Biaya pengobatanku sangat berat, sekedar untuk ke rumah sakit aja aku harus menempuh 4 jam perjalanan. Akhirnya, aku sering tidak berangkat ke rumah sakit karena biaya transportasi yang mahal. Bahkan, untuk sekedar membeli obat pereda nyeri saja aku tidak mampu. Dulu, Ibuku masih membantu biaya hidupku. Beliau adalah seorang pensiunan guru, tapi sekarang beliau terkena stroke dan harus pengobatan juga. Sehingga, aku harus berjuang sendiri untuk hidupku. Itu pun aku sering menunggu belas kasihan tetangga yang kadang membantu memberikan makan. Aku sudah menjual rumah dan isinya untuk pengobatan untuk pengobatanku selama ini. Kini, aku dan anakku terpaksa tinggal dengan menumpang di rumah adikku. Pinjaman uang sana-sini juga tidak bisa lagi aku hindarkan.Saat ini, aku masih membutuhkan biaya untuk sewa mobil ke rumah sakit, obat dan vitamin yang tidak ditanggung BPJS, pampers, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Arwin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Arwin!
Dana terkumpul
Rp 4.150.001
2 hari lagi
Dari Rp 5.292.000
Donasi
Anak
Alami Pembengkakan Hati, Ikhsan Tidak Punya Biaya untuk Operasi Lanjutan
“Selama 4 tahun berjuang dari penyakitnya, anakku sudah 12 kali keluar-masuk rumah sakit dan 2 kali menjalani operasi. Begitu banyak rasa sakit dan air mata yang dilaluinya. Namun, penyakit ini seolah tak memberinya jeda untuk sejenak merasa sembuh, karena sekarang perutnya kembali membuncit.”“Aku terpaksa mengubur semua rasa sedihku dalam-dalam setiap kali berada di depannya. Dokter mengatakan anakku tidak boleh banyak pikiran dan stres, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Di hadapan anakku, aku harus tegar dan menjadi sumber kekuatan, meski sesungguhnya aku juga rapuh.” -Mardiana, orang tua Ikhsan-Meski tubuhnya sangat lemah, tapi anakku, Ikhsan Firdaus NST (10 thn), selalu semangat untuk kembali ke kehidupannya yang sehat seperti sebelumnya. Ia selalu mengatakan, “Mak, nanti kalau aku sembuh, aku mau ikut olahraga di sekolah. Aku rindu lari-larian, Mak, rindu renang di sungai.” Ia memang anak yang sangat aktif sebelum sakit.Namun, kehidupannya menjadi kelam ketika Ia memasuki usia 7 tahun. Mata dan seluruh tubuhnya perlahan berwarna kuning. Perutnya juga membuncit dan mengeras secara tidak normal. Aku kira pengobatan di puskesmas saja sudah cukup, tapi ternyata perjalanannya untuk sembuh penuh dengan air mata. Dokter mengatakan organ hati anakku mengalami pembengkakan sehingga perutnya ikut membesar. Ada cairan menumpuk di perutnya akibat organ hatinya bermasalah. Duniaku rasanya runtuh, anakku yang masih kecil harus menanggung beban yang mengerikan mulai detik itu juga.Ia harus menjalani operasi sedot cairan pada organ hatinya. Hari-harinya kini diisi dengan demam yang tak kunjung reda. Tubuhnya lemas, mudah lelah, sering mencret dan kehilangan tenaga. Aku hanya bisa memandangnya sambil menangis, berharap rasa sakit itu pindah kepadaku. Dokter mengatakan perutnya yang kembali membesar harus segera dioperasi lagi. Namun sampai sekarang aku belum bisa membawa anakku berangkat, karena tak ada biaya. Sekedar kontrol ke rumah sakit saja, aku harus menempuh 9 jam perjalanan naik bus dari rumah di kawasan Mandailing Natal ke Padang.Aku sampai menjual kebun hingga meminjam uang pada keluarga demi kesembuhan anakku selama ini. Sementara pekerjaanku hanyalah buruh cuci dan gosok pakaian panggilan, penghasilanku tak menentu. Terkadang aku juga menjual jasa cuci baju keluarga pasien di rumah sakit tempat anakku dirawat hingga jasa titip membeli sesuatu dibayar seikhlasnya. Aku terus berjuang meski pengobatan anakku seperti beban yang terasa mustahil. Selain ongkos ke rumah sakit, anakku masih membutuhkan biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS, rawat inap, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ikhsan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ikhsan!
Dana terkumpul
Rp 1.285.000
10 hari lagi
Dari Rp 7.940.000
Donasi