Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Alami Pembengkakan Hati, Ikhsan Tidak Punya Biaya untuk Operasi Lanjutan
“Selama 4 tahun berjuang dari penyakitnya, anakku sudah 12 kali keluar-masuk rumah sakit dan 2 kali menjalani operasi. Begitu banyak rasa sakit dan air mata yang dilaluinya. Namun, penyakit ini seolah tak memberinya jeda untuk sejenak merasa sembuh, karena sekarang perutnya kembali membuncit.”“Aku terpaksa mengubur semua rasa sedihku dalam-dalam setiap kali berada di depannya. Dokter mengatakan anakku tidak boleh banyak pikiran dan stres, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Di hadapan anakku, aku harus tegar dan menjadi sumber kekuatan, meski sesungguhnya aku juga rapuh.” -Mardiana, orang tua Ikhsan-Meski tubuhnya sangat lemah, tapi anakku, Ikhsan Firdaus NST (10 thn), selalu semangat untuk kembali ke kehidupannya yang sehat seperti sebelumnya. Ia selalu mengatakan, “Mak, nanti kalau aku sembuh, aku mau ikut olahraga di sekolah. Aku rindu lari-larian, Mak, rindu renang di sungai.” Ia memang anak yang sangat aktif sebelum sakit.Namun, kehidupannya menjadi kelam ketika Ia memasuki usia 7 tahun. Mata dan seluruh tubuhnya perlahan berwarna kuning. Perutnya juga membuncit dan mengeras secara tidak normal. Aku kira pengobatan di puskesmas saja sudah cukup, tapi ternyata perjalanannya untuk sembuh penuh dengan air mata. Dokter mengatakan organ hati anakku mengalami pembengkakan sehingga perutnya ikut membesar. Ada cairan menumpuk di perutnya akibat organ hatinya bermasalah. Duniaku rasanya runtuh, anakku yang masih kecil harus menanggung beban yang mengerikan mulai detik itu juga.Ia harus menjalani operasi sedot cairan pada organ hatinya. Hari-harinya kini diisi dengan demam yang tak kunjung reda. Tubuhnya lemas, mudah lelah, sering mencret dan kehilangan tenaga. Aku hanya bisa memandangnya sambil menangis, berharap rasa sakit itu pindah kepadaku. Dokter mengatakan perutnya yang kembali membesar harus segera dioperasi lagi. Namun sampai sekarang aku belum bisa membawa anakku berangkat, karena tak ada biaya. Sekedar kontrol ke rumah sakit saja, aku harus menempuh 9 jam perjalanan naik bus dari rumah di kawasan Mandailing Natal ke Padang.Aku sampai menjual kebun hingga meminjam uang pada keluarga demi kesembuhan anakku selama ini. Sementara pekerjaanku hanyalah buruh cuci dan gosok pakaian panggilan, penghasilanku tak menentu. Terkadang aku juga menjual jasa cuci baju keluarga pasien di rumah sakit tempat anakku dirawat hingga jasa titip membeli sesuatu dibayar seikhlasnya. Aku terus berjuang meski pengobatan anakku seperti beban yang terasa mustahil. Selain ongkos ke rumah sakit, anakku masih membutuhkan biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS, rawat inap, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ikhsan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ikhsan!
Dana terkumpul
Rp 1.285.000
8 hari lagi
Dari Rp 7.940.000
Donasi
Kesehatan
Berjuang di Sisa Usia, Pak Mugni Berjuang Melawan Kanker Usus Stadium 4
“Saat ini aku sedang bertarung melawan kanker stadium empat! Namun, perjuangan ini bukan hanya milikku seorang, tapi juga ada istriku, wanita yang tak pernah pergi meski setiap hari menyaksikanku menahan sakit. Di usia kami yang tak lagi muda, kami hanya hidup berdua, tanpa anak, dan saling menguatkan.”“Setiap hari perutku melilit hebat, membuatku merintih. Di sisi tempat tidur, istriku hanya bisa menangis, tak berdaya karena sering tak punya biaya untuk membawaku berobat. Ia hanya bisa mengusap perutku berulang kali, berharap sentuhannya bisa meredakan rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.”Aku Mugni (57 thn). Dulu aku seorang petani, pekerjaan yang membuatku merasa hidup, karena membuatku menafkahi diriku dan istriku. Namun, penyakit ini merenggut segalanya, tak hanya tubuhku, tapi juga penghasilanku. Kini, hidupku semakin sulit karena tak bisa bekerja lagi. Perut sebelah kiriku bengkak dan mengeras saat pertama kali penyakit ini datang. Aku sampai tidak bisa BAB, bahkan buang angin pun tidak. Dengan harapan sembuh, aku bergegas ke rumah sakit. Tapi kenyataannya, perutku malah makin membengkak hanya dalam waktu 1 malam.Dokter mengungkapkan kenyataan yang begitu kejam, aku didiagnosa kanker usus. Duniaku runtuh, sejak itu hidupku tak mudah. Aku buang air melalui perutku yang dilubangi, dengan ususku berada diluar perut setelah 2 kali menjalani operasi. Tubuhku semakin kurus dihabisi penyakit, bagai tulang dibalut kulit.Selama ini, kebutuhan sehari-hari dan pengobatan, aku hanya bisa menunggu bantuan dari keluarga dan tetangga. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Pernah kondisi tubuhku memburuk karena pengobatan terputus karena tak ada biaya.Di tengah semua kesulitan itu, istriku setiap hari merawatku, mengantarkanku bolak-balik ke rumah sakit dengan tubuhnya yang juga mulai renta. Kesabarannya menjadi kekuatan yang sering kali membuatku menahan air mata.Aku masih ingin sembuh. Aku ingin bisa bekerja lagi, berdiri di atas kaki sendiri, dan tidak merepotkan siapa pun. Namun jalanku masih panjang. Aku masih harus menjalani kemoterapi dan berbagai pengobatan lainnya.Saat ini aku sangat membutuhkan biaya transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, kantong kolostomi untuk menampung kotoran buang air, alat medis, dan kebutuhan lainnya.
Dana terkumpul
Rp 27.419.026
9 hari lagi
Dari Rp 31.005.000
Donasi
Kemanusiaan
Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak
Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 14.169.446
14 hari lagi
Dari Rp 23.500.000
Donasi