Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kemanusiaan
Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak
Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 12.709.442
12 hari lagi
Dari Rp 23.500.000
Donasi
Anak
Operasi Tertunda Akibat Kejang Tak Berhenti, Asshafa Berjuang dari Jantung Bocor
“Ya Allah, kalau Engkau berkenan, pindahkan saja seluruh rasa sakit anakku itu kepadaku. Biarlah aku yang menanggung, aku tidak tega melihatnya menderita. Jika Engkau masih mengizinkan umurnya panjang, sembuhkanlah ia sepenuhnya. Tapi jika Ia sakit terus, aku akan belajar ikhlas untuk Ia kembali ke sisi-Mu ya Allah.’ Doa itu kupanjatkan dengan tangis yang gemetar.”“Setiap hari aku melatih kesabaran dan menerima dengan lapang dada kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya. Ketika sedang merasa lelah, aku sadar anakku pasti jauh lebih lelah karena kesakitan. Ada kekuatan dalam diriku yang sering muncul ketika melihat perjuangan anakku. Aku tak boleh menyerah untuk harapan hidupnya yang lebih baik.” -Nur Fitriyani, orang tua Asshafa-Duniaku runtuh saat tahu tangisan anakku ada jeritan kesakitan yang tak terucap. Aku beri nama anakku, Asshafa Putri Agnuvina. Ia lahir begitu cantik, mungil dan sehat. Tidak ada firasat buruk apapun, aku memeluknya dengan penuh syukur dan membayangkan hari indah bersamanya.Namun, saat usianya 40 hari, tangisannya berubah menjadi sangat kencang dan berlangsung selama berjam-jam. Aku sangat kebingungan dan panik, apalagi saat itu bibirnya membiru, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdetak sangat kencang dan setiap menyusu sering tersedak hingga henti napas sesaat.Aku tetap terus berusaha menenangkan diri, mungkin itu fase biasa yang dialami bayi. Seiring waktu, kondisinya tak kunjung membaik dan akhirnya aku memutuskan membawanya ke dokter. Saat itulah, duniaku mendadak gelap, dokter mengatakan anakku sakit jantung bocor.Ketakutanku diperparah karena ada dua lubang besar di jantungnya dan Ia harus dioperasi. Aku dan suami menangis sejadi-jadinya, tubuhku sampai lemas dan tak sanggup berdiri. Tak pernah ku sangka, tangisan panjangnya selaka ini berasal dari penyakit mematikan.Aku dan suami juga sempat bingung saat itu, karena kondisi ekonomi keluarga juga serba kekurangan. Namun, aku nekat berangkat dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta meski tidak punya bekal uang sama sekali. Namun, belum selesai anakku menjalani pengobatan, tiba-tiba Ia mengalami kejang saat usia 9 bulan. Tubuhnya kaku, matanya berbalik ke atas, wajahnya pucat seperti orang kehabisan napas. Hatiku perih, tak sanggup menyaksikan kondisi anakku.Dokter mengatakan anakku mengalami epilepsi (gangguan sistem saraf otak). Sejak itu, hidupku berada di antara ruang tunggu dan ruang rawat inap. Saat ini, kondisi anakku seperti bayi yang baru lahir, Ia belum bisa duduk, berdiri dan bahkan belum bisa merespon. Ia juga masih sering kejang.Anakku sudah sempat akan menjalani operasi, tapi saat hari yang seharusnya menjadi harapan kesembuhan itu, Ia justru mengalami kejang hebat. Akhirnya operasi pada anakku terpaksa ditunda dan Ia harus kembali menunggu jadwal tindakan berikutnya.Pengobatan anakku masih panjang. Aku sudah menjual handphone, mesin jahit dan barang berharga lainnya untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku bekerja dari pagi sampai pagi sebagai penjahit, tapi penghasilannya sering tak menentu. Aku juga berupaya menjual jasa dengan mencuci pakaian tetangga.Aku juga berutang karena karena ingin terus membawa anakku berobat. Bahkan pernah diminta pergi dari rumah orang tua karena pinjaman yang belum mampu ku bayar membuat penagih datang ke sana. Sementara anakku saat ini masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Asshafa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Asshafa!
Dana terkumpul
Rp 10.900.000
13 hari lagi
Dari Rp 10.900.000
Donasi
Anak
Senyum Getir Fayzel di Tengah Kerusakan Organ Hatinya yang Terus Memburuk
“Saat dokter mengatakan anakku mengalami gangguan organ hati serius, momen itu menjadi titik yang menghancurkanku. Lututku lemas, dadaku sesak menahan tangis. Di hadapanku terbaring tubuh anakku yang begitu rapuh, membuatku terus bertanya, mampukah Ia bertahan dari penyakit yang mengancam nyawanya setiap detik?”“Sejak itu, suamiku terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena fokus mendampingi anak berobat. Setiap bulan, anakku harus dibawa kontrol rutin dari Lampung ke Jakarta. hanyalah guru honorer dengan penghasilan yang tak seberapa, itupun aku sering cuti demi anak. Kondisi ini membuat keluarga kami kesulitan ekonomi. bahkan kebutuhan sehari-hari kini sering bergantung bantuan keluarga.” -Asri Bunga, Orang tua Fayzel-Fayzel Ghava Kareem (9 bln) mulai menunjukkan gejala sakitnya saat usianya baru 1 minggu. Tubuhnya tiba-tiba tampak berwarna kuning. Awalnya aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin ini hanya kuning biasa pada bayi. Namun, kian hari warna kuning itu tak memudar, justru makin pekat dan mengkhawatirkan. Hingga akhirnya dokter mengatakan ada yang tidak biasa. Aku masih ingat betul bagaimana paniknya aku saat mendengar kenyataan pahit yang terjadi pada anakku. Ternyata, anak yang baru saja ku peluk dengan rasa syukur, harus menghadapi kelainan metabolik-genetik yang menyerang fungsi hatinya.Penyakit itu menyebabkan organ hati anakku membesar dan mengeras hingga membuat perutnya membengkak. Kulit hingga matanya kuning, tubuhnya mengalami anemia, trombositnya rendah, pertumbuhannya terganggu, bahkan beresiko pendarahan. Saat ini, anakku tidak bisa beraktivitas seperti bayi seusianya. Ia mudah lelah, napsu makannya sering menurun dan perkembangan motoriknya terhambat. Dalam kondisi tertentu, anakku bisa beresiko untuk menjalani transplantasi hati jika kerusakannya semakin parah.Namun dibalik tubuhnya yang lemah, Fayzel adalah anak yang luar biasa kuat. Tangisnya tak pernah lama meski Ia sakit setiap waktu. Ia tetap tersenyum setiap kali diperiksa dokter, seolah ingin menguatkanku bahwa ia belum menyerah. Senyum kecil itulah yang menjadi sumber kekuatanku. Aku percaya, Tuhan masih menyimpan harapan untuknya.Kini Fayzel masih dalam pemantauan intensif. Perjuangannya belum selesai. Namun di tengah ikhtiar untuk menyelamatkan anakku, aku dihadapkan pada kenyataan biaya yang tak sedikit. Untuk kontrol saja, kami harus menyeberang pulau dengan biaya transportasi yang besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, serta kebutuhan hariannya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fayzel tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fayzel!
Dana terkumpul
Rp 2.339.000
11 hari lagi
Dari Rp 19.970.000
Donasi