Panggilan Mendesak

camp
Anak

Jantung dan Paru Mengalami Kelainan. Sri Harus Operasi Segera

“Selain jantungnya bocor, anak kami harus bertahan hidup dengan satu paru-paru saja. Hidupnya sempat diprediksi tidak akan panjang. Susah payah kami perjuangkan untuk kesembuhan anak kami, ayahnya berdagang nasi goreng sampai subuh untuk kumpulkan biaya. Saat ini anak kami akan menjalani operasi jantung tahap akhir menuju kesembuhannya.” -Hadiyah, Orang tua Sri-Dokter sudah mencurigai anakku, Sri Haulia (6 thn), mengalami jantung bocor sejak dalam kandungan. Aku begitu gelisah hingga tiba setelah aku melahirkannya, pihak bidan meminta untuk membawa anakku periksa karena jantungnya sangat berisik.Selain itu, kondisi fisik anakku juga tampak berbeda, kedua tangannya tidak memiliki ibu jari dan tulang ekornya memanjang. Tapi yang paling membuat hatiku hancur adalah hasil pemeriksaan menunjukkan kebocoran jantungnya tidak sedikit dan paru-parunya tidak berkembang sebelah.Sejak itu aku harus melihat anakku tumbuh dengan kondisi sakit-sakitan, Ia sering sesak nafas, batuk, flu, bibir dan tubuhnya membiru. Tapi aku tidak menjadikan itu beban, anakku ini istimewa dan aku akan terus semangat untuk mendampinginya mendapatkan kesembuhan. Saat ini anakku sudah menjalani 2 kali operasi perbaikan jantungnya. Sudah 5 kali aku bolak-balik Jakarta untuk pengobatan anakku. Bahkan saat itu aku dalam kondisi mengandung anakku yang lain, pusing, mual, hingga badan terasa remuk akibat bawaan hamil aku tahan jika imbalannya kesembuhan anak.Kondisi anakku saat ini membaik meski kadang masih mengalami sesak dan tubuhnya membiru. Tidurnya juga gelisah karena sering batuk dan sulit bernafas. Tapi perjuangan anakku menuju kesembuhannya tinggal 1 langkah lagi, Ia akan menjalani operasi jantung tahap akhir di 2024 ini.Namun kondisi keuangan keluarga kami sudah sangat menipis. Penghasilan suamiku hanya Rp50 ribu perhari tidak menutupi untuk kembali operasi ke Jakarta. Selama ini aku sudah meminjam dana ke bank dan menjual barang berharga yang aku miliki. Anakku membutuhkan biaya untuk transportasi, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, nutrisi, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Sri agar bisa menjalani operasi jantung tahap akhir di Jakarta dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 18.101.018
12 hari lagi Dari Rp 50.000.000
Donasi
camp
Anak

Sakit Jantung Mengintai Milka, Ia Hanya Ingin Sembuh dan Bisa Berlari

“Pernah suatu malam, Milka menangis memintaku susu. Persediaan benar-benar habis, sementara kami tak memiliki uang sepeser pun. Dengan hati yang remuk dan air mata yang kutahan, aku hanya mampu memberinya segelas teh hangat agar ia bisa terlelap.”“Sejak saat itu, suamiku berangkat bekerja lebih awal setiap hari, menantang lelah dan harapan, demi satu tujuan agar anak kami bisa kembali minum susu. Syukurlah, Tuhan masih begitu sayang pada Milka. Hari itu, suamiku pulang membawa susu. Tangisku pecah karena rasa syukur tak terhingga.” -Siti Nurohmah, Orang tua Milka-Ada satu momen yang tak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Saat itu anakku, Milka Alifa Rahma (5 tahun), terbaring lemas dengan tubuh panas karena demam. Dengan sisa tenaganya, Ia menatapku dengan wajah polos dan mata penuh harap, lalu berkata pelan:‘Ma, nanti kalau dedek sudah sembuh, dedek bisa lari kencang kan, Ma? Dedek bisa main hujan-hujanan juga. Makanya dedek rajin minum obat biar cepat sembuh.’ Kalimat sederhana itu menghancurkan hatiku. Harapannya tak besar, Ia hanya ingin hidup normal seperti teman-teman seusianya. Namun bagi anak sekecil itu, harapan sederhana tersebut terasa begitu berat untuk diwujudkan.sejak usianya baru 5 bulan, Milka sudah akrab dengan sakit. Demam dan batuk datang silih berganti. Penyakit yang terlihat ringan bagi orang lain, namun membuat tubuh kecilnya tak pernah benar-benar sehat. Hingga suatu hari, duniaku hancur saat dokter mengatakan bahwa sakit Milka bukan sakit biasa, melainkan jantung bocor. Bahkan, lebar lubang di jantungnya mencapai 6,5 mm. Angka itu mungkin terdengar kecil, tapi dampaknya sangat besar untuk kehidupan anakku. Keterbatasan alat di rumah sakit daerahku di Lampung, membuat anakku harus dirujuk ke Jakarta. Sebagai orang tua, hatiku benar-benar hancur. Apalagi, aku keterbatasan biaya untuk membawanya berobat ke Jakarta. Suamiku hanyalah buruh tani serabutan. Kadang bekerja di sawah, kadang di kebun orang. Pekerjaan itu pun tak selalu ada, sehingga penghasilannya tidak menentu. Sementara aku tak bisa meninggalkan Milka, fokus merawatnya setiap hari. Hidup kami berjalan dari satu kecemasan ke kecemasan lainnya.Ada kalanya aku benar-benar putus asa, aku membutuhkan biaya untuk membawa anak berobat. Saat itu hujan deras seharian, suamiku tidak bisa bekerja. Di tengah kepasrahan itu, tiba-tiba tetangga datang membutuhkan jasa cuci dan gosok. Syukurlah, aku bisa mendapatkan upah untuk membawa anakku  kontrol rutin.Namun, aku tak tega melihat anakku terus kesakitan. Akhirnya, aku mulai dari menjual barang-barang berharga dan meminjam uang hingga bisa membawa anakku ke Jakarta.  Saat ini kondisi anakku masih sering demam, batuk, dan mudah lelah. Pengobatan selama di Jakarta sangat membuatku kesulitan. Apalagi, suamiku tidak bisa mencari nafkah karena ikut mendampingi anak berobat di Jakarta. Sementara anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Milka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Milka!
Dana terkumpul Rp 10.822.500
2 hari lagi Dari Rp 10.600.000
Donasi
camp
Anak

Terancam Buta! Bantu Syafira Bisa Melihat

“Walau dunianya gelap karena penyakit yang membuat matanya tak bisa melihat, ada cahaya yang menerangi kami, yaitu senyumannya. Kami menjadi kuat karena senyumannya yang hangat setiap Ia mendengar suara kami.” -Siti Mariam, Orang tua Syafira-Sejak membuka matanya di dunia, Syafira Nur Hidayat (3 thn) harus berjuang. Ia seharusnya masuk inkubator karena lahir secara prematur dengan berat badan 1,5 Kg, tapi terpaksa dibawa pulang lebih cepat karena kendala biaya.Orang tuanya sempat lega karena Syafira tumbuh dengan baik dan normal. Namun, memasuki usia 3 bulan, dunianya redup. Pupil matanya tiba-tiba memutih, dokter menyampaikan hal yang mengiris hati, Syafira kehilangan penglihatannya!Ia didiagnosa ROP stage 5, yaitu saraf matanya sudah putus dan hipotiroid kongenital yang membuat tumbuh kembangnya terlambat. Kenyataan ini memukul keras hati orang tuanya, apalagi saat itu tidak ada biaya untuk tes darah Syafira. Kesembuhan Syafira harus dibayar mahal, orang tuanya sampai menggadaikan motor. Secara rutin, Ia harus diberikan terapi hormon melalui obat seumur hidup dan fisioterapi di poli rehab medik seminggu sekali di RSCM. Di tengah keterbatasan keuangan, sebisa mungkin orang tuanya membawa Syafira berobat ke rumah sakit yang jaraknya jauh. Ayahnya bekerja sebagai pelayan toko mebel dengan gaji Rp50 ribu sehari, lalu mencari tambahan sebagai kenek dan membantu jualan sayur di malam hari. Kini, Syafira masih belum bisa berjalan. Orang tuanya masih menanti hari di mana ia bisa melangkah, meski pelan. Tapi biaya pengobatan, transportasi, susu khusus, dan obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya terus bertambah. Di tengah keterbatasan, mereka terus bertahan.#TemanBaik, mari bantu Syafira untuk melanjutkan pengoabtan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 11.774.000
12 hari lagi Dari Rp 11.724.000
Donasi

Pilihan Campaign