Panggilan Mendesak

camp
Anak

Anak Tukang Pijat Alami Sakit Jantung Hingga Gizi Buruk, Harus Segera Operasi

“Anakku didiagnosa penyakit jantung, sementara istriku berjuang melawan tiroid! Rasanya terlalu berat untuk keluarga kecil seperti kami. Terlebih lagi, anakku harus berobat di rumah sakit besar, biaya pengobatannya jauh melampaui kemampuan kami.”“Penghasilanku sebagai tukang pijat terapis tak menentu. Penghasilan yang pas-pasan membuatku tak berdaya, hingga anakku harus menanggung gizi buruk karena kami benar-benar kekurangan. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah selain melihat istri dan anaknya menderita.” -Nur Oktaffianto, Orang tua Hafizah-Sejak lahir, Hafizah Aprilia Nurfianto (2 thn) harus menjalani hidup yang tak mudah. Di usianya yang baru 4 hari, anakku sudah didiagnosa down syndrome (kelainan genetik), jantung bocor, hingga hipotiroid. Kelahiran Hafizah yang selalu kunantikan, berganti jadi rasa terpukul dan duka. Kondisi keuanganku juga tidak siap menghadapi cobaan ini. Aku terlilit utang karena pinjam uang sana-sini, karena pengobatan Hafizah harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Mulai dari rumah sakit Makassar, Surabaya, hingga Jakarta, telah menjadi saksi perjuangan hidup anakku.Selama hampir 2 tahun 6 bulan, Hafizah menjalani berbagai pemeriksaan, diantaranya echo, mantoux, nebulisasi, NGT, hingga bilas lambung. Anakku tidak bisa dioperasi karena mengalami gizi buruk. Berat badannya baru 6 kg, sementara syarat operasi minimal 10 kg. Setiap Hafizah kambuh, tubuhnya melemah, jari dan bibirnya sampai membiru. Hatiku selalu dipenuhi rasa takut melihatnya terus tersiksa. Namun di balik semua itu, Hafizah tetap menjadi anak yang kuat, sabar, dan penuh semangat. Ia seolah mengajarkanku arti perjuangan sebenarnya.Dalam kesulitan ekonomi, aku dan istriku hidup seadanya selama pengobatan anak di Jakarta. Sekedar kontrol rutin saja, kami harus menempuh jaral 40 Km ke rumah sakit. Aku  sering kebingungan mencari biaya.Belum lagi, aku harus memenuhi kebutuhan dasar anakku, seperti susu, pampers, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan. Aku harus meminjam sana-sini, gali lubang tutup lubang, demi anakku tetap bisa bertahan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hafizah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hafizah!“Anakku didiagnosa penyakit jantung, sementara istriku berjuang melawan tiroid! Rasanya terlalu berat untuk keluarga kecil seperti kami. Terlebih lagi, anakku harus berobat di rumah sakit besar, biaya pengobatannya jauh melampaui kemampuan kami.”“Penghasilanku sebagai tukang pijat terapis tak menentu. Penghasilan yang pas-pasan membuatku tak berdaya, hingga anakku harus menanggung gizi buruk karena kami benar-benar kekurangan. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah selain melihat istri dan anaknya menderita.” -Nur Oktaffianto, Orang tua Hafizah-Sejak lahir, Hafizah Aprilia Nurfianto (2 thn) harus menjalani hidup yang tak mudah. Di usianya yang baru 4 hari, anakku sudah didiagnosa down syndrome (kelainan genetik), jantung bocor, hingga hipotiroid. Kelahiran Hafizah yang selalu kunantikan, berganti jadi rasa terpukul dan duka. Kondisi keuanganku juga tidak siap menghadapi cobaan ini. Aku terlilit utang karena pinjam uang sana-sini, karena pengobatan Hafizah harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Mulai dari rumah sakit Makassar, Surabaya, hingga Jakarta, telah menjadi saksi perjuangan hidup anakku.Selama hampir 2 tahun 6 bulan, Hafizah menjalani berbagai pemeriksaan, diantaranya echo, mantoux, nebulisasi, NGT, hingga bilas lambung. Anakku tidak bisa dioperasi karena mengalami gizi buruk. Berat badannya baru 6 kg, sementara syarat operasi minimal 10 kg. Setiap Hafizah kambuh, tubuhnya melemah, jari dan bibirnya sampai membiru. Hatiku selalu dipenuhi rasa takut melihatnya terus tersiksa. Namun di balik semua itu, Hafizah tetap menjadi anak yang kuat, sabar, dan penuh semangat. Ia seolah mengajarkanku arti perjuangan sebenarnya.Dalam kesulitan ekonomi, aku dan istriku hidup seadanya selama pengobatan anak di Jakarta. Sekedar kontrol rutin saja, kami harus menempuh jaral 40 Km ke rumah sakit. Aku  sering kebingungan mencari biaya.Belum lagi, aku harus memenuhi kebutuhan dasar anakku, seperti susu, pampers, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan. Aku harus meminjam sana-sini, gali lubang tutup lubang, demi anakku tetap bisa bertahan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hafizah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hafizah!
Dana terkumpul Rp 776.001
7 hari lagi Dari Rp 4.325.000
Donasi
camp
Anak

Penyakit Kronis Bersarang di Tubuh Ridwan

“Hatiku hancur! Setiap langkah menuju kesembuhan anakku selalu dihantui dengan ujian baru. Setelah berhasil menaklukkan sakit jantung yang hampir merenggut nyawanya, kini Ridwan dinyatakan gagal ginjal stadium akhir!” Muhammad Ridwan (14 thn), bukan hanya anak laki-laki satu-satunya di keluarga yang paling disayangi ibunya, tapi juga satu-satunya yang paling berjuang untuk meraih kata ‘sembuh.’ Awalnya saat usia 10 tahun, Ridwan mengalami sesak nafas.Saat dibawa periksa, dokter mendiagnosa Ridwan mengalami pembengkakan jantung. Tiga tahun Ia berjuang minum obat secara rutin dan bolak-balik rumah sakit, akhirnya Ia dinyatakan sembuh oleh dokter. Bahagia tak terhingga yang dirasakan Ridwan, beban terbesar hidupnya terangkat. Begitupula ibunya, yang sudah hampir merasa lega hingga hal tak diinginkan kembali terjadi.Kondisi kesehatan Ridwan kembali menurun, Ia tiba-tiba sesak nafas disertai muntah darah berwarna pink. Bahkan Ia sampai hilang kesadaran saat dibawa ke rumah sakit. Ternyata gagal ginjal stadium 5 mengintainya! Jantungnya juga sempat dinyatakan bengkak kembali dan paru-parunya terendam. Ia harus mendapat perawatan di ruang PICU. Lantai rumah sakit yang keras dan dingin sering menjadi saksi bisu dari cinta Ibunda Ridwan yang rela menunggu kabar sang anak yang tengah terbaring tak berdaya. Berat sekali hati Ibunya, apalagi Ridwan harus cuci darah tiap 2 kali seminggu! Biaya pengobatan Ridwan semakin berat, Ibunya yang single parent kesulitan finansial. Sementara kondisi Ridwan semakin sering lemas dan pusing. Tidak ada lagi sekolah dan bermain, Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu di kasur rumah sakit dengan selang medis tertancap di tubuhnya. Selama ini Ibunya hanya bisa mengandalkan dua anaknya yang lain dalam membiayai pengobatan Ridwan, itupun tak menutupi.  Kadang terpaksa meminjam uang tetangga, kadang tidak makan, menghemat ongkos Ridwan ke rumah sakit. Mencari pekerjaan juga sudah diupayakan, tapi terkendala usia.  Saat ini Ridwan masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, alat medis dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Ridwan untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 5.389.002
12 hari lagi Dari Rp 15.374.000
Donasi
camp
Kesehatan

Alami Autoimun yang Menyerang Saraf, Iqbal Sampai Tak Bisa Berjalan

“Aku sangat putus asa setiap kali hujan turun dengan deras, karena aku hanya mampu meringkuk di atas kasur sambil menahan sakit. Kakiku tak bisa berdiri lama akibat mengalami autoimun langka yang menyerang saraf dan menyebabkan kelemahan otot.”“Sementara itu, biaya menyewa mobil terasa sangat berat. Namun, tanpa pengobatan, aku bisa terancam lumpuh! Pada akhirnya, aku hanya bisa pasrah menanti  keajaiban dan pertolongan dari situasiku yang tak berdaya ini.”Perkenalkan, aku Muhammad Iqbal (31 thn). Hidupku berubah sejak penyakit yang menggerogoti tubuhku ini muncul saat aku merantau dan bekerja di Malaysia. Awalnya tubuhku terasa lemas, pinggang dan pahaku sering nyeri, kaki sering kesemutan.Sempat aku mengira semua gejala sakit yang aku alami hanya kelelahan biasa. Namun hari demi hari, kondisiku semakin memburuk.Tiba-tiba kaki dan tubuhku kehilangan kekuatan! Sekedar berdiri saja, aku harus berjuang keras. Sedangkan berjalan jauh, sangat mustahil rasanya. Akhirnya aku berobat ke dokter, tapi kemampuan biayaku sangat terbatas di negara orang. Akhirnya, dengan hati yang berat, aku dipulangkan ke kampung halamanku di Aceh oleh Persatuan Anak Aceh di Malaysia,agar bisa melanjutkan pengobatan di tanah air.Sekarang aku sedang fokus menjalani terapi dan pengobatan rutin. Tapi penyakit ini sering kambuh, membuatku sulit untuk beraktivitas. Satu-satunya keinginanku adalah kembali sehat, agar bisa bekerja lagi, tapi biaya pengobatan membuatku kesulitan.Sebelumnya saya bekerja di tempat spa di Malaysia, selama ini pengobatanku dari tabungan hasil bekerja dan sudah habis hanya dengan beberapa bulan pengobatan. Sementara aku masih butuh biaya transportasi ke rumah sakit, membeli obat dan vitamin yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Iqbal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Iqbal!
Dana terkumpul Rp 2.183.001
7 hari lagi Dari Rp 1.400.000
Donasi

Pilihan Campaign