Panggilan Mendesak

camp
Anak

Ashfa Terus Muntah-muntah Akibat Tidak Punya Lubang Anus

“Kesedihan dan putus asa, itulah yang aku rasakan sebagai orang tua ketika mengantarkan anakku ke meja operasi. Tubuhnya masih kecil, rapuh dan tak berdaya, tapi perutnya harus dilubangi sebagai jalan BAB-nya sementara.”“Demi menyelamatkan nyawanya, aku menjual motor dan beberapa aset keluarga. Operasi pertamanya tak ditanggung BPJS, dan sejak itu pengobatan terus berjalan tanpa henti. Kini aku kehabisan biaya, aku bahkan tak mampu membawanya ke rumah sakit ketika Ia menangis kesakitan. Hancur sekali hatiku, rasa bersalah membayangiku karena ketidak mampuan melindungi anakku.” -Rita Marita, Orang tua Ashfa-Sejak detik pertama Ashfa Muhammad Abil Abbas (8 bln) lahir, kecemasan sudah menjadi hal yang selalu kurasakan. I-ku tak keluar, sehingga aku terpaksa memberi anakku susu formula. Namun, ternyata anakku malah muntah-muntah.Awalnya kupikir Ia hanya tidak cocok dengan merek susu tertentu. Namun, ketika sudah ganti merk lain, kondisi anakku tak ada perubahan. Tapi harapan itu perlahan runtuh, muntahnya tak berhenti dan bahkan sampai mengeluarkan lendir hijau.Saat aku bawa ke klinik, anakku disarankan untuk mengganti merek susu lagi. Muntahnya memang sempat reda, tapi aku curiga melihat perutnya yang tiba-tiba membengkak tak wajar. Rasa takut itu mendorongku untuk membawa anakku periksa lagi ke dokter.  Jawaban dari semua kebingungan itu datang dengan begitu kejam. Pihak klinik menemukan bahwa anakku tidak memiliki lubang anus (atresia ani)! Ususnya tersumbat, membuat kotoran menumpuk di dalam tubuh kecilnya dan perutnya membesar. Saat mendengar diagnosis itu, lidahku kelu, dunia seakan berhenti berputar, terlebih ketika tahu biaya operasinya tidak ditanggung BPJS. Demi menyelamatkan nyawa anakku, aku menjual barang-barang berharga, menggadaikan sertifikat rumah, dan berutang ke sana-sini. Operasi pertama telah ia jalani, namun perjuangan belum selesai. Masih ada dua operasi lanjutan yang harus dilewati. Kini, anakku harus BAB melalui lubang di perutnya. Setiap hari aku membutuhkan kantong stoma untuk menampung kotorannya, sebuah kenyataan yang begitu perih untuk diterima seorang ibu.Biaya pengobatan semakin menyesakkan. Pernah aku menahan lapar seharian, hanya demi menyisihkan uang untuk membeli satu botol obat pereda nyeri bagi anakku. Satu kali operasi tak serta-merta menghapus rasa sakit di tubuhnya. Aku hanyalah seorang buruh pabrik. Suamiku melakukan pekerjaan apa pun yang bisa ia kerjakan, berjualan gorengan, lalu menarik ojek online hingga larut malam. Kami lelah, tapi tak pernah menyerah, karena yang kami perjuangkan adalah masa depan anak kami.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, kontrol rutin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ashfa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ashfa!
Dana terkumpul Rp 4.177.500
11 hari lagi Dari Rp 4.175.000
Donasi
camp
Kesehatan

Leher Nida Menonjol Akibat Tumor Ganas, Menoleh pun Tak Bisa!

“Sembilan tahun aku hidup dengan tumor ganas di leherku! Masa remajaku yang seharusnya indah dan penuh keceriaan, harus kulewati dengan rasa sakit. Ada hariku hanya bisa menunduk, cukup minder karena kondisiku berbeda, leherku bengkak sebelah.”“Dokter bilang aku harus kemoterapi dan radioterapi. Namun, Ibuku yang bekerja hanya sebagai penyapu jalan, tampak lemas ketika mendengar pengobatan cukup besar. Sementara itu, nyawaku bisa terancam jika aku tak pengobatan.”Perkenalkan, Aku Nida Alya Nur (24 thn). Penyakit ini mulai menghantui hidupku sejak aku masih 17 tahun. Awalnya hanya nyeri dan pegal di sekujur tubuh yang aku dianggap biasa. Namun lama-kelamaan rasa sakit itu makin menjadi hingga leherku terasa seperti tertusuk.Orang tuaku langsung membawaku ke rumah sakit karena aku terus menangis kesakitan. Setelah pemeriksaan, aku didiagnosa tumor ganas! Ibuku nyaris pingsan mendengar kabar itu. Aku berasal dari keluarga sederhana, untuk memenuhi biaya pengobatanku, rasanya jauh sekali dari kata mungkin. Sejak itu,  hari-hariku dipenuhi obat-obatan dan perjalanan bolak-balik ke rumah sakit.  Selebihnya, aku lebih sering terbaring di kamar karena tubuhku sangat lemah. Seluruh badanku masih terasa sakit, terutama bagian leher. Bahkan berjalan agak jauh saja membuatku sesak napas.Aku harus segera menjalani operasi. Sedangkan untuk ke rumah sakit saja aku butuh biaya besar, karena menempuh perjalanan dari Subang, Jawa Barat, ke Jakarta. Belum lagi, untuk obat-obatan yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Ibuku berusaha sekuat tenaga. Ia mencari pekerjaan tambahan, berdagang kecil-kecilan kebutuhan sehari-hari dari pagi hingga malam. Tapi hasilnya tetap belum mampu menutupi seluruh biaya pengobatanku, hanya cukup untuk kebutuhan harian kami.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nida tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nida!
Dana terkumpul Rp 6.170.005
6 hari lagi Dari Rp 10.950.000
Donasi
camp
Anak

Sering Opname dan Tranfusi Darah, Elbara Berjuang dari Gangguan Hati Kronis

“Aku hampir kehilangan kewarasan melihat perut anakku kian hari kian membuncit, akibat organ hatinya membengkak. Tangisannya setiap hari membuatku ketakutan, apakah Ia bisa bertahan? Rasa bersalah juga menghantuiku, karena tak banyak yang bisa ku lakukan selain mengusap kepalanya sambil menahan air mataku jatuh.”“Harapan hidupnya kini bergantung pada operasi cangkok hati! Namun aku tak berdaya, tidak bisa membantu mencari nafkah tambahan karena harus merawat anak. Sementara suamiku hanya kuli bangunan yang penghasilannya pas-pasan. Jangankan operasi, membawa anakku berobat ke Jakarta terasa bagai mimpi.” -Lingga Purwanti, Orang tua Elbara-Entah sudah berapa kali anakku, Elbara Kenan Arcelo (15 bln), harus terbaring lemah menjalani opname di rumah sakit. Kotoran dari BAB-nya sering ada bercak darahnya, tak terbayangkan seberapa sakit penderitaan yang harus ditanggung tubuh kecilnya.Ujian ini muncul saat anakku berusia 3 bulan, aku curiga tubuhnya kuning. Aku mencoba menjemurnya di bawah sinar matahari, berharap itu membuatnya kembali normal, tapi tak ada perubahan. Hingga usianya 8 bulan, anakku mengalami flu tak kunjung sembuh selama sebulan, BAB-nya tampak dempul, dan perutnya mulai membengkak.Awalnya, anakku didiagnosa mengalami gangguan aliran empedu. Namun, kondisinya terus menurun. Ia dirujuk dari Banyuwangi ke rumah sakit di Bali untuk menjalani opname. Setelah pemeriksaan lanjutan, anakku didiagnosa gangguan hati kronis.Saat itu, duniaku seakan berhenti berputar. Aku tak mampu berkata apa pun. Dalam diam, aku hanya bisa bertanya pada Tuhan, mengapa harus anakku? Ia masih terlalu kecil untuk menanggung rasa sakit sebesar ini. Apalagi pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat besar.Setiap minggu, kami harus bolak-balik ke rumah sakit di Bali. Akhirnya, aku menjual segala harta yang tersisa agar bisa tinggal di Bali dan anakku bisa pengobatan lebih mudah. Aku tak peduli apa pun lagi, aku akan berjuang asal anakku tetap bisa berobat.Kini, kondisi Elbara semakin berat. Ia bisa buang air kecil hingga 15 kali sehari, seluruh tubuhnya terasa gatal tanpa henti, dan Ia sering mengalami anemia hingga harus transfusi darah. Setiap malam aku memeluknya, berharap rasa sakit itu bisa berpindah ke tubuhku saja.Namun cobaan ini belum berakhir. Dokter menyatakan Elbara harus menjalani transplantasi hati, dan pengobatan lanjutan hanya bisa dilakukan di Jakarta. Aku dilanda kebingungan dan ketakutan. Biaya menjadi penghalang terbesar, sementara waktu terus berjalan. Tanpa pengobatan, usia anakku mungkin tak akan lama.Saat ini, anakku membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak Pengobatan anakku membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Elbara tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Elbara!
Dana terkumpul Rp 15.232.500
5 hari lagi Dari Rp 14.880.000
Donasi

Pilihan Campaign