Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Sempat Henti Jantung! Anak Pengemudi Ojol Asal Aceh Berjuang Berobat di Jakarta
“Aku terduduk lemas saat dokter mengatakan jantung anakku sempat berhenti berdetak! Aku hanya bisa berbisik dalam hati, ‘Ya Allah, semua ini atas kehendak-Mu, tolong berikan anakku umur panjang, angkatlah penyakitnya.’ Hari-hari aku lalui dengan ketakutan mendapat kabar buruk yang mungkin bisa datang kapan saja.”“Namun, di tengah keputusasaan itu, Allah menghadirkan mukjizat. Dokter menyampaikan kabar yang tak pernah berhenti aku syukuri, anakku telah siuman dan boleh dibawa pulang. Sungguh, kuasa Allah! Semua perjuanganku membawanya berobat dari Aceh ke Jakarta tak sia-sia. Aku semakin yakin, selalu ada jalan untuk kesembuhan anakku.” -Heni Supita, Orang tua Qaisya-Dokter mendiagnosa anakku, Qaisya Naila Amalina (8 bln), mengalami sakit jantung sejak usianya baru 15 hari. Hatiku semakin hancur lagi ketika dokter mengatakan bahwa kondisi jantung anakku termasuk kasus yang sulit ditangani, dan Ia harus berobat ke Jakarta. Sejak hari itu, hari-hari aku lalui dengan menangisi keadaan. Aku bingung sekali, tidak punya biaya untuk membawa anak berobat ke Jakarta. Sementara suamiku hanyalah pengemudi ojek online, dengan penghasilan sehari-hari hanya cukup untuk makan dan membeli susu anak. Bahkan untuk berharap saja begitu berat. Saking pasrahnya, aku dan suami sempat berpikir untuk menjual satu-satunya motor yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama keluarga kami. Motor yang menjadi penopang hidup keluarga kami. Namun setelah dihitung, motor itu tak menutupi biaya ke Jakarta.Di tengah kebuntuan dan kelelahan batin, Allah menghadirkan keajaiban lewat cara yang tak pernah aku duga. Suatu hari, saat aku termenung sedih di teras rumah, seorang tetangga menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Dengan suara bergetar, aku menceritakan kegelisahanku yang tak mampu membawa anakku berobat ke Jakarta.Siapa sangka, tetanggaku dengan tulus menawarkan tabungan pribadinya agar aku bisa membawa anakku berobat. Ia berkata, “Bawa anakmu, jangan pikirkan masalah lain dulu. Fokuskan untuk kesembuhan anak.” Air mataku jatuh, tak menyangka masih ada orang sebaik itu menolong anakku.Makasih Allah, Engkau bukakan jalan untuk anakku. Entah berapa kali aku mengucapkan rasa syukurku. Kini, anakku sudah menjalani pengobatan di Jakarta. Namun kondisinya masih sangat lemah, kuku, bibir, telapak kaki, dan tangannya masih membiru. Ia masih bergantung pada alat bantu napas oksigen.Di sisi lain, biaya hidup di Jakarta sangat besar dan aku keuanganku sudah sangat menipis. Pernah aku dan suami tidak makan dari malam hingga malam berikutnya, hanya minum air putih demi bertahan.Aku tak memiliki rumah untuk dijual, saat ini pun kami hanya tinggal di kontrakan. Namun aku tetap harus memikirkan biaya transportasi berobat anakku ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan penting lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Qaisya tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Qaisya!
Dana terkumpul
Rp 6.782.501
15 hari lagi
Dari Rp 6.685.000
Donasi
Kemanusiaan
Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan Terus Berlayar
Sebagai bagian dari misi kemanusiaan doctorSHARE, kami dengan bangga menghadirkan program Rumah Sakit Apung untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan di Indonesia). Program ini dirancang khusus untuk memberikan akses medis yang memadai kepada komunitas-komunitas yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional. Dengan isu kesehatan yang beragam dan tingkat kesulitan akses ke fasilitas kesehatan yang tinggi, maka doctorSHARE melalui Program Rumah Sakit Apung membuat alternatif solusi yang inovatif dan terjangkau dalam rangka menghadirkan layanan kesehatan yang merata di wilayah rentan. Beberapa wilayah tersebut yang menjadi tujuan program layanan kesehatan RSA dr Lie Dharmawan II yaitu: 1. Kepulauan Manui, Morowali, Sulawesi Tengah 2. Kepulauan Sinjai, Sulawesi Selatan 3. Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi TenggaraDari beberapa tempat di atas merupakan wilayah kepulauan prioritas kami untuk mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dikarenakan beberapa isu kerentanan yang layak untuk mendapatkan bantuan. Bantuan dan perhatian anda akan sangat berdampak bagi 1.000 pasien wilayah tersebut melalu operasi RSA dr. Lie Darmawan II untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis dan Fasilitas : Pemeliharaan dan perbaharuan peralatan medis, termasuk peralatan diagnostik, alat bedah, dan perlengkapan medis lainnya.2. Tenaga Medis dan Pelatihan : Pelayanan medis 1000 pasien, 10 operasi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional seperti transportasi laut, logistik medis, dan administrasi harian untuk memastikan Rumah Sakit Apung dapat beroperasi dengan efisien dan responsif terhadap kebutuhan mendesak komunitas dilayani#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini
Dana terkumpul
Rp 47.229.086
15 hari lagi
Dari Rp 362.936.000
Donasi
Anak
Aku Sampai Jadi Pengamen Demi Anakku Operasi Jantung di Jakarta
“Tak ada pilihan lagi, aku terpaksa mengamen di Pasar Tanah Abang demi sebuah harapan! Bermodal uang Rp720 ribu, aku nekat membawa anakku berobat ke Jakarta. Namun, 3 minggu berlalu tanpa kepastian, sementara uang yang kupunya semakin menipis, dan rasa takut kian mencekik diriku.”“Seolah ujian tanpa akhir, tiba-tiba dokter membawa kabar pahit. Anakku tidak bisa tindakan dioperasi karena tubuhnya terlalu lemah! Detak jantungnya hanya 14% dan napasnya tinggal 20%. Harapanku hancur, aku hanya mampu menggendong anakku sambil menangis, membawanya pulang dalam kondisi sakit parah.” -Irma Juliani, Orang tua Gamal-Sudah 16 tahun lamanya anakku, Gamal Azka Mudza (16 thn), berjuang melawan jantung bocor. Sejak kecil sampai sekarang, anakku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau duduk diam di kursi. Ia hidup, tapi tidak pernah sekalipun melihat dan mencicipi dunia di luar rumah.Tubuhnya sangat mudah lelah, bahkan tak jarang Ia tiba-tiba jatuh pingsan. Hampir semua hari-hari dilaluinya dengan berdamai dengan rasa sakit dan napas tersengal. Dalam sebulan, mungkin hanya dua atau tiga hari saja ia tampak sedikit lebih baik. Saat kondisinya memburuk, aku hanya bisa memberinya bantuan oksigen dan memijat punggungnya, mendengar rintihannya sambil menahan air mata. Namun di tengah penyakit mematikan yang mengurung hidupnya, anakku justru memiliki hati paling kuat. Saat aku dan suamiku tertekan secara emosi melihat kondisinya, anakku yang menenangkan kami. Suaranya yang lirih sering berkata tegar, “Sabar Pih, Gamal sudah biasa begini.” Kalimat itu menghantam hatiku sangat keras. Bayangkan saja, usianya baru 2 tahun saat vonis jantung bocor itu datang. Tapi keterbatasan biaya membuatku tak mampu membawanya menjalani operasi. Akhirnya, anakku terpaksa bertahan dengan pengobatan alternatif saja. Sayangnya, kondisinya tak kunjung membaik dan justru semakin parah.Setelah anakku memiliki BPJS, barulah aku memberanikan diri untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi kondisinya semakin mengkhawatirkan, aku sampai menjual motor dan harta berharga lainnya untuk membawa anakku dari Bandung ke Jakarta.Aku hanyalah pegawai pabrik, penghasilannya seadanya untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berharap anakku bisa operasi dan sembuh, tapi biaya yang dikeluarkan sangat besar. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gamal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gamal!
Dana terkumpul
Rp 5.002.500
12 hari lagi
Dari Rp 4.950.000
Donasi