Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Terlunta di Jakarta Demi Kesembuhan, Habib Faizal Lawan Diabetes Hingga Sakit Jantung

“Akibat terlalu sering mengkonsumsi minuman manis, aku diduga mengalami kanker di leher jantung. Awalnya aku didiagnosis diabetes, tapi ternyata penyakit itu terus menjalar hingga aku mengalami 3 kali serangan jantung!”“Sudah 9 bulan aku terlunta-lunta demi berjuang berobat di kota Jakarta.ari masjid ke masjid aku mencari tempat berteduh untuk sekadar beristirahat setelah menjalani pengobatan di rumah sakit. Biaya untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan pun kian menipis, namun tekadku untuk sembuh tak pernah pupus.”Perkenalkan #TemanBaik, aku Habib Faizal Al Aydrus (56 thn), seorang ustadz yang mengajar mengaji di Lubuk Linggau, Bengkulu. Sejak usiaku 47 tahun, aku sudah harus menerima kenyataan yang berat. Aku mengalami diabetes kronis dengan kadar gula pernah mencapai angka 400. Aku juga didiagnosis mengalami gangguan paru-paru akibat sering menghirup asap rokok. Padahal, seumur hidup aku tidak pernah merokok. Namun karena lingkungan tempat tinggalku yang tidak sehat, akulah yang harus menanggung semua penderitaan ini.Hari demi hari, tubuhku menjadi mudah lelah dan sangat lemah. Aku sering tiba-tiba pingsan akibat tekanan darah dan kolesterolku naik tanpa peringatan. Dadaku sering sesak, nyerinya sampai menembus punggungku. Jantungku sering berdebar hebat, kepalaku pusing, malam yang panjang selalu ku lalui tanpa tidur nyenyak. Siapa sangka, dokter menyampaikan kabar yang membuat tubuhku gemetar. Aku mengalami Brugada Tipe 1, kondisi jantung yang sangat berbahaya. Dokter merujuk agar aku melanjutkan pengobatan di Jakarta. Kebun dan motor sudah ku jual, sama sekali tidak ada wali yang membantu. Di tengah kesulitanku itu, bantuan dari Allah datang. Murid-murid dan jamaah haji yang dengan tulus menggalang dana agar gurunya bisa sembuh. Aku sangat ingin sembuh, karena aku masih memiliki anak yang berusia 13 tahun yang masih membutuhkan orang tuanya. Aku ingin tetap hidup untuk melihat anakku tumbuh dewasa. Aku masih ingin beribadah, berdakwah, dan mengajar anak-anak majelis.Aku harus menjalani operasi pemasangan ICD, alat bantu untuk mengatur irama detak jantung. Namun, aku sudah kehabisan tabungan selama pengobatan di Jakarta selama ini. Sementara aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Habib Faizal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Habib Faizal !
Dana terkumpul Rp 1.830.001
4 hari lagi Dari Rp 16.842.880
Donasi
camp
Anak

Peradangan Selaput Otak Membuat Zhasqy Tidak Bisa Menangis dan Bicara

“Sejak peradangan selaput otak, anakku jadi sering kejang-kejang hebat hingga kakinya jadi kaku dan bengkok. Dokter mengatakan satu-satunya harapan adalah operasi agar kakinya bisa diselamatkan. Namun bagiku, jangankan biaya operasi, biaya pengobatan rutinnya saja terasa berat.”“Pernah suatu hari, aku benar-benar tak memegang uang sepeser pun, sementara kondisi anakku menurun drastis. Dalam keputusasaan, hanya satu tandan pisang dari kebun samping rumah yang menjadi harapan terakhir. Pisang itu kujual, dan dari hasil itulah aku bisa membawa anakku ke rumah sakit. Aku akan berupaya demi anakku meski harapan hanya setitik.” -Mardia, orang tua Zhasqy-Zhasqy Alluca Ramaprilio (2 thn) kini hanya bisa berbaring tak berdaya. Tidak ada rintihan, tak ada panggilan “Mama” yang keluar dari mulut polosnya, karena Ia tak bisa bicara. Bahkan, suara tangisnya yang seharusnya menjadi tanda kehidupan, justru menjadi harapan bagiku, anakku sama sekali tak pernah menangis. Dokter mendiagnosa anakku mengalami meningitis TB, hidrosefalus dan infeksi paru-paru. Kejang masih sering menyerangnya. Tatapan matanya kosong, karena Ia tak bisa melihat. Demam tinggi dan sesak napas datang silih berganti, hingga aku kembali harus berlari membawanya ke rumah sakit. Semua bermula dari demam tinggi yang menyerang anakku saat usianya 10 bulan. Aku begitu panik dan ketakutan, karena Ia tak kunjung bangun saat aku memanggil namanya berulang kali. Ternyata, dokter mengatakan Ia tak sadarkan diri dan berujung mengalami koma.Hatiku hancur dan hari-hari kulewati dengan gelisah, menanti dokter membawa kabar baik tentang kondisi anakku. Doa tak henti-hentinya kupanjatkan, hingga akhirnya Ia menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Namun, kelegaan itu hanya sekejap, karena sejak saat itulah mimpi buruk anakku benar-benar dimulai.Sudah 2 tahun anakku menghadapi penyakit ini dan Ia sudah menjalani operasi pada kepalanya. Kini, aku harus membawanya dari rumah di Kabupaten Kuantan Singingi ke ke rumah sakit di Pekanbaru, menempuh jarak 5 jam perjalan. Dalam sebulan, Ia harus menghadap dokter sebanyak 5 kali termasuk fisioterapi. Tentunya, biaya transportasinya besar.Demi pengobatan anakku, aku telah menjual sapi peliharaan satu-satunya harta yang kumiliki. Suamiku bekerja membantu tukang bangunan, penghasilannya Rp70 sehari. Terkadang, aku juga membantu mencari tambahan dengan menjadi buruh setrika baju orang. Namun, penghasilan kami sering tak sebanding dengan biaya pengobatan anak. Kini, tak ada lagi yang bisa kujual. Sementara itu, selain biaya perjalanan, anakku masih membutuhkan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, susu, serta kebutuhan medis lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhasqy tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhasqy!
Dana terkumpul Rp 27.839.400
8 hari lagi Dari Rp 27.698.400
Donasi
camp
Anak

Clarissa Bertahan dari Masalah Otak, Jantung Bocor dan Mata Katarak!

“Anakku harus merasakan pahitnya ditolak 3 rumah sakit sekaligus dengan alasan kamar IGD penuh! Padahal, saat itu kondisi tubuh anakku kaku, demamnya sangat tinggi hingga matanya mendelik ke atas. Dalam kepanikan,  rumah sakit keempat mau menerima anakku, itupun hanya di kamar rawat inap biasa.”“Namun, kondisi anakku justru semakin memburuk karena Ia belum juga mendapatkan perawatan yang semestinya. Saat itulah duniaku terasa berhenti, apalagi anakku tiba-tiba mengalami henti napas! Perasaan takut semakin menyergap, melihat selang medis memenuhi hampir seluruh wajah anakku. Dokter mendiagnosa anakku mengalami beberapa masalah pada otaknya!” -Wiwit Suliswati, Orang tua Clarissa-Anakku, Clarissa Salsabila, didiagnosa infeksi otak, epilepsi, hingga hidrosefalus (penumpukan cairan berlebih pada otaknya). Demi bertahan hidup, Ia harus menjalani operasi pemasangan selang dari kepala menuju perutnya untuk mengurangi penumpukan cairan yang menekan otaknya.Namun, belum selesai rasa sakit yang harus ditanggungnya, buah hatiku juga harus menerima diagnosa jantung bocor dan katarak pada kedua matanya. Hatiku hancur berkeping-keping karena berita buruk yang terus-menerus menghantam anakku seolah tak diberi ruang untuk bernapas merasa lega. Akibat terlalu banyak menahan rasa sakit, kini anakku tidak bisa melakukan apapun selain berbaring dengan tubuhnya yang kaku. Clarissa harus menjalani fisioterapi secara rutin agar fungsi gerak tubuhnya perlahan bisa kembali, serta operasi pemasangan lensa agar ia dapat melihat dunia dengan lebih jelas.Terkadang ia mengalami demam, batuk, tremor, bahkan kejang-kejang. Setiap kali sakitnya kambuh, aku hanya bisa menggendongnya, mengelus punggungnya, dan berdoa agar rasa sakit itu segera berlalu. Saat menangis, tubuhnya bisa membiru, dan jika kondisinya semakin parah, aku harus segera membawanya ke rumah sakit.Biaya pengobatan Clarissa sangat besar. Tak jarang aku harus meminjam uang ke sana kemari hanya untuk membawanya berobat. Suamiku hanyalah seorang buruh pabrik, dan setiap malam ia masih menjaga warung kopi demi menambah sedikit biaya untuk pengobatan anak kami.Aku sendiri tak bisa bekerja karena harus sepenuhnya merawat Clarissa. Meski begitu, sesekali aku mencoba mengambil pekerjaan mencuci dan menggosok pakaian. Sekecil apa pun penghasilan itu, akan selalu aku usahakan, demi kesembuhan anakkuSaat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat bantu napas dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Clarissa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Clarissa!
Dana terkumpul Rp 25.508.000
12 hari lagi Dari Rp 24.508.000
Donasi

Pilihan Campaign