Panggilan Mendesak

camp
Anak

Anak Kuli Bangunan Sampai Kejang Akibat Penyakit Jantung

“Sesak napas dan kejang-kejang itu sudah menjadi bagian hidup anakku. Tubuhnya yang kecil itu begitu rapuh akibat menanggung derita. Tatapan matanya penuh harap dan keteguhan, itulah yang menguatkanku, aku belajar artinya sebenarnya bertahan dan berjuang.”“Tak usah ditanya bagaimana perjuanganku. Demi anakku, aku rela melakukan apapun, bahkan sampai meminjam uang pada rentenir, hanya agar bisa membawanya berobat dari Lampung ke Jakarta. Saat Ia dirawat di rumah sakit, aku berjuang bukan hanya karena rasa takut kehilangan, tapi juga karena uangku semakin menipis. Aku tidak tahu harus mencari ke mana lagi.” -Jamala Sari, orang tua Aisyah-Ada yang terasa janggal ketika berat badan anakku, Aisyah Humairah (3 thn), mulai menurun saat usianya baru 6 bulan. Ia sering batuk dan flu yang tak kunjung sembuh, kadang juga napasnya terdengar sesak. Tapi aku berusaha menenangkan diri, mencoba berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.Namun, ketenangan itu hancur ketika Aisyah tiba-tiba demam tinggi dan kejang-kejang. Saat melihat tubuh kecilnya menegang dan wajahnya memucat, aku panik luar biasa. Aku langsung menggendongnya ke rumah sakit dengan air mataku yang terus mengalir. Dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.Dan benar saja. Saat dokter mengatakan anakku mengalami jantung bocor, rasanya hidupku bagai diterjang badai. Anakku yang selama ini kupikir hanya flu biasa, ternyata harus berjuang melawan penyakit mematikan.Anakku harus dirawat inap di rumah sakit. Setiap hari aku hanya bisa menangis, memandangi wajah mungilnya yang lemah sambil berdoa agar Tuhan memberinya kekuatan.  Namun, 9 bulan dirawat, tak ada tindakan berarti karena rumah sakit di daerah kami tidak memiliki peralatan untuk operasi jantung.Akhirnya, dengan sisa tenaga dan keberanian, aku meminjam uang ke sana-sini demi membawa Aisyah berobat ke Jakarta. Aku yang pergi membawa harapan, tapi setelah di Jakarta, aku harus menerima kabar buruk lagi. anakku didiagnosa lambung (gerd berat) dan penyakit THT.Kini, anakku masih dirawat di rumah sakit. Ia sering demam dan sesak napas, hidupnya bergantung pada tabung oksigen. Setiap kali jarum suntik menembus kulitnya, aku hanya bisa membelai kepalanya dan berbisik lembut, “sabar ya, Nak, Ibu di sini.”Anakku sedang menunggu jadwal operasi. Namun, aku terkendala biaya selama di Jakarta. Suamiku hanya bekerja sebagai buruh babat rumput dan kuli bangunan harian, penghasilannya sangat terbatas untuk kebutuhan sehari-hari.Sementara itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat medis, stroller, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aisyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aisyah!
Dana terkumpul Rp 2.369.000
5 hari lagi Dari Rp 20.377.000
Donasi
camp
Anak

Tubuhnya Terancam Kaku Permanen, Anak Pengantar Minuman Berjuang dari Cerebral Palsy

“Tubuh Anakku terancam kaku selamanya akibat penyakit cerebral palsy! Otaknya mengalami kerusakan, membuat Ia sering kejang-kejang. Demi menyelamatkannya, aku rela terlilit utang dari pinjaman online, meski setiap cicilan membuat napasku terasa makin sesak.”“Aku hanya seorang pengantar minuman, sedangkan suamiku bekerja sebagai buruh di pabrik pipa. Penghasilan kami pas-pasan, habis untuk sekedar bertahan hidup. Sementara satu anakku sedang sakit, dan yang lainnya berkebutuhan khusus. Mereka sama-sama membutuhkan biaya besar, tapi kemampuan kami begitu terbatas.” -Lia Aprianti, Orang tua Abid-Ketika hamil Abid Deyyan Alkhalifi (2 thn), aku sempat mengalami sesak napas hingga tak sadarkan diri akibat tensiku sangat tinggi. Dalam keadaan genting itu, dokter mengambil keputusan yang membuat lututku lemas. Abid harus dilahirkan lebih cepat dari seharusnya, dan resikonya kematian. Tapi syukurlah, Abid lahir dengan selamat. Tapi beberapa jam kemudian, kebahagiaan itu runtuh. Tubuh kecilnya mulai kejang berulang kali. Suamiku berlarian dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, mencari ruang NICU yang kosong demi menyelamatkan nyawa anak kami.Abid harus dirawat selama 16 hari. Aku sempat lega karena anakku tak pernah kejang lagi sejak itu. Namun, ketika Ia berusia 3 bulan, kenyataan pahit itu kembali dimulai. Kejangnya muncul berulang-ulang setiap hari, dan hingga kini masih menghantui hidupnya.Sudah tiga kali Abid dilarikan ke ruang PICU. Sampai hari ini, ia belum bisa melakukan aktivitas apa pun selain berbaring. Mengunyah pun Ia tak mampu, makan dan minumnya hanya dibantu dengan selang NGT yang dimasukkan ke hidungnya. Terkadang, Ia tiba-tiba ia melotot, menyilangkan kaki, lalu menangis sekeras-kerasnya. Demam mendadak dan turunnya saturasi oksigen sudah menjadi bagian dari hari-harinya. Penderitaan ini harus Ia jalani sepanjang hidupnya. Setiap hari ia minum obat kejang dan menjalani terapi agar tubuhnya tidak semakin kaku.  Tapi di tengah semua kesakitan itu, aku bisa melihat dengan jelas semangat anakku untuk sembuh, Ia selalu tersenyum setiap menjalani terapi. Itulah yang membuatku terus berjuang demi pengobatannya meski dalam keterbatasan.Demi pengobatannya, kami sudah menggadaikan BPKB motor hingga sertifikat tanah. Kini aku merasa berada di ujung jurang, tak tahu lagi apa yang bisa kujual. Anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT rutin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Abid tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Abid!
Dana terkumpul Rp 860.000
12 hari lagi Dari Rp 6.528.000
Donasi
camp
Anak

4 Kali Operasi Otak dalam 2 Tahun, TB Meningitis Hingga Hidrosefalus Menyerang Nabila

Sakit sekali ya Nak, kamu harus menjalani 4 kali operasi dalam kurun waktu 2 tahun?  Kamu pasti bingung dan tak nyaman dengan semua selang yang menempel di kepalamu. Hati Ibu hancur setiap kali melihat tatapanmu yang sayu, seolah memohon pertolongan.Ibu ingin mencari pekerjaan agar bisa terus membiayai pengobatanmu, tapi siapa yang akan merawatmu? Penghasilan Ayah sebagai kuli bangunan sering kali membuat kami tersendat-sendat, untuk membayar harga kesembuhanmu. -Santi Wulandari, Orang tua Nabila-Anakku koma selama sebulan! Demam tinggi disertai kejang berulang saat usianya 2 tahun itu ternyata menjadi awal penderitaan anakku, Nabila Putri Arisanti (4 thn). Dokter mendiagnosanya mengalami TB Meningitis (Infeksi selaput otak), kejang, penumpukan cairan di otak, cerebral palsy (kerusakan otak). Bertubi-tubi penyakit menyerang otaknya, hingga akhirnya kesadaran anakku perlahan menurun, ia harus mengandalkan selang yang ditancapkan di hidungnya.  Ia tak mengerti perintah dan belum bisa bicara, hanya rintihan dan tangisan yang Ia lakukan untuk mengungkapkan segala penderitaannya. Seolah belum cukup, penglihatannya juga perlahan menghilang. Betapa Ibu ingin menghapus semua rasa sakitmu, tapi Ibu hanya bisa memandangmu dan berdoa.Meskipun dokter berkata harapan Nabila untuk sembuh sangat kecil, tapi anakku kuat dan bisa bertahan hingga sekarang. Harapan sekecil apapun itu selalu tertanam di hatiku untuk kesembuhannya, karena awalnya Nabila memang anak yang sehat.Namun, harapanku yang besar untuk kesembuhan anakku bertabrakan dengan kenyataan pahit. Aku kesulitan biaya untuk pengobatannya yang panjang, untuk membawanya ke rumah sakit dari Bogor dan ke Jakarta saja butuh biaya besar. Belum lagi, masih ada obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, mari bantu Nabila untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 18.039.003
14 hari lagi Dari Rp 18.370.000
Donasi

Pilihan Campaign