Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

8 Tahun Alami Hipertiroid, Pedagang Kue Sempat Alami Kelumpuhan sementara

“8 tahun lamanya aku menderita hipertiroid! Aku tidak punya biaya untuk berobat, karena aku hanyalah seorang pedagang kue keliling yang penghasilannya pas-pasan.”“Akibatnya, tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku mengalami kelumpuhan semantara pada kaki dan kanan. Aku tak lagi bisa mencari nafkah dan juga tidak bisa lagi berobat karena tidak memiliki biaya.”Aku Febi Wahyudi (36 thn), kondisiku sempat memburuk hingga harus dilarikan ke IGD. Saat itu, tubuhku tak mampu digerakkan, jantung berdebar begitu kencang, keringat dingin mengucur, dan saya hanya bisa terbaring lemah. Aku hanya bisa terus berdoa sepanjang waktu, jangan sampai ini menjadi akhir dari hidupku.Dokter memberikan penanganan, termasuk pemberian kalium untuk mengatasi kelumpuhan, serta obat-obatan yang kini harus aku konsumsi secara rutin. Aku juga harus menjalani fisioterapi dan mengkonsumsi vitamin yang tidak semuanya ditanggung BPJS.Syukurlah, kondisiku berangsur membaik meski perjuanganku dengan penyakit ini belum selesai. Aku masih harus minum obat dan masih kesulitan melakukan aktivitas berat. Saat penyakit ini kambuh, aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, menahan pusing akibat vertigo hingga telingaku terasa berdengung.Di tengah kondisi ini, aku tetap berusaha bertahan. Aku mulai berjualan kue kembali meski dalam jumlah kecil. Penghasilanku terbatas, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berupaya meminjam uang pada orang-orang terdekat demi pengobatanku.Aku ingin sembuh, karena tidak ingin melihat ibuku terus menangis karena melihat kondisiku yang memprihatinkan. Namun, aku kesulitan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Febi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Febi!
Dana terkumpul Rp 1.310.000
1 hari lagi Dari Rp 4.600.000
Donasi
camp
Pendidikan

Menjadi Penghafal Al-Qur’an, Wibatsu Ingin Mengubah Masa Depannya

“Wibatsu memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur’an. Baginya, prestasi bukan sekedar kewajiban, tapi juga jalan untuk mengubah masa depannya. Baginya, setiap ayat yang dihafal adalah bekal, agar kelak ia bisa membantunya untuk mandiri dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.”“Sejak kecil, Ia tumbuh dalam keterbatasan. Orang tuanya bekerja tanpa lelah mengantarkan galon isi ulang dan berjualan di sekolah demi menyambung hidup. Penghasilan yang tak menentu membuat langkah Wibatsu untuk mengenyam pendidikan terasa berat…”Wibatsu Hamam Dafauzan (19 thn), saat ini sedang duduk dibangku kelas 3 sekolah MAN 3 Bantul Yogyakarta. Selain itu, Ia juga menjalani hari-harinya di Pondok Pesantren Al-Muna 1, tempat ia menapaki jalan sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. Baginya, ayat demi ayat ia jaga dalam hati, menjadi cahaya yang menuntunnya di tengah gelapnya keterbatasan. Cita-citanya sederhana, Ia ingin menjadi seorang ustadz. Ia ingin membagikan ilmu yang Ia pelajari selama ini, agar menjadi penerang bagi orang lain. Wibatsu sadar, langkahnya untuk menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Bahkan mungkin terasa hampir mustahil. Namun, Ia memilih untuk tidak menyerah. Ia ingin tetap melanjutkan pendidikan, bahkan jika Ia harus sambil bekerja.Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia selalu mengingat nasihat dari orang tuanya, bahwa Tuhan selalu memberikan jalan bagi mereka yang berusaha.  Ia ingin sukses, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengangkat derajat orang tuanya.  Apa yang dijalani Wibatsu adalah tentang keteguhan. Tentang seorang anak yang tetap melangkah meski jalannya terjal. Tentang kerja keras dan doa orang tua yang tak pernah putus dari orang tua yang berharap anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.Kini, di persimpangan antara mimpi dan kenyataan, Wibatsu masih terus berjuang. Ia masih membutuhkan biaya untuk uang sekolah, biaya pesantren, transportasi ke sekolah dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Wibatsu tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Wibatsu!
Dana terkumpul Rp 145.000
3 hari lagi Dari Rp 2.763.760
Donasi
camp
Anak

Plasma Darahnya Sampai Dikirim Keluar Negeri, Anakku Alami Penyakit Langka!

“Penyakitnya yang diderita anakku sangat langka, sehingga sampel darahnya harus dikirim ke India dan Korea untuk diteliti dokter! Biayanya mencapai Rp 9,8 juta, jumlah yang terasa begitu jauh dari jangkauanku. Sementara aku masih dibayangi utang dari pembelian obat-obatan anakku sebelumnya.”“Akhirnya anakku yang lain juga harus ikut berkorban. Ia terpaksa menunda pendaftaran sekolahnya, karena uang yang ada diutamakan untuk pengobatan adiknya yang sakit.  Di tengah semua itu, aku berusaha bertahan dengan mencari penghasilan tambahan sebagai tukang urut, demi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku sampai stres, tak selera makan, bingung menghadapi keadaan.” -Siti Rahayu, Orang tua Zhafir-Kondisi anakku, Zhafir Sakif Abqory (3 bln), sudah mengkhawatirkan sejak dalam kandungan.  Ia harus lahir lebih cepat melalui operasi caesar karena posisi sungsang, dengan berat badan hanya 1,9 Kg. Sejak itu, Ia harus dirawat di NICU selama 3 hari dan di NFSU2 selama 3 minggu. Saat usianya baru menginjak 3 bulan, anakku mulai menunjukkan gejala aneh. Mata kiri dan kanannya sering berkedut berulang kali. Ia juga enggan menyusui dan tubuhnya tampak lemas. Hingga suatu hari, Ia mengalami sesak napas hebat. Dalam kepanikan, aku segera membawanya ke rumah sakit.Duniaku rasanya berubah menjadi kelam, anakku tak sadarkan diri selama 4 hari! Dokter menyampaikan bahwa ia mengalami radang lambung. Ia sampai diberikan susu kaleng karena terus menolak ASI, tapi anakku justru muntah-muntah. Badannya semakin lemah hingga tak sadarkan diri.Namun kenyataan yang lebih pahit harus aku terima ketika dokter mendiagnosa Zhafir dengan kelainan Mitokondria. Sebuah kondisi langka yang menyebabkan gangguan saraf berat, membuat tubuhnya tidak mampu mengubah makanan menjadi energi. Akibatnya, Ia mengalami kelemahan otot, kejang, gangguan pernapasan, hingga penurunan kemampuan gerak.Dalam sehari, anakku bisa mengalami kejang hingga 6 kali, yang berlangsung sekitar 2 menit, dilanjutkan penurunan kesadaran. Hingga kini, Ia lebih sering keluar-masuk PICU rumah sakit dan menjalani rawat inap berulang. kesulitan menegakkan kepala, hanya bisa mengkonsumsi susu medis dan lebih banyak tidur.Hancur sekali hatiku setiap melihatnya tubuhnya harus menerima tindakan medis, ditusuk berulang kali dan makan minumnya harus melalui selang NGT yang ditancapkan ke hidungnya. Setiap malam aku hanya bisa menangis dan kesulitan tidur karena mengkhawatirkan anakku.Meski dalam keterbatasan ekonomi yang begitu berat, aku tak pernah berhenti berjuang.  Bahkan, aku pernah hanya memiliki uang Rp25.000, menggendong anakku naik bus untuk ke rumah sakit. Aku menahan nyeri perut karena lapar berjam-jam, sambil menunggu antrian pengobatan hingga sore.Suamiku bekerja sebagai caddie golf tanpa hari libur. Ia berjalan hingga 8 kilometer setiap hari, hingga kakinya sakit dan kesehatannya ikut menurun. Sering kali ia mengalami migrain karena terpapar panas seharian di lapangan. Namun penghasilan yang didapatkan tetap tidak mencukupi, terlebih biaya pengobatan anak kami Di luar obat yang tidak ditanggung BPJS, masih banyak kebutuhan lain yang harus kami penuhi, mulai dari biaya transportasi ke rumah sakit, vitamin, selang NGT, hingga kebutuhan medis lainnya#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhafir tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhafir!
Dana terkumpul Rp 17.426.000
4 hari lagi Dari Rp 17.265.000
Donasi

Pilihan Campaign