Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Kesakitan Sepanjang Hidup, Alif Infeksi Saluran Kencing Hingga Terancam Lumpuh!

“Sudah 12 tahun lamanya Anak saya menahan laut penderitaan! Ia harus menahan sakit pada kemaluannya tiap buang air kecil. Belum lagi Ia beresiko kehilangan kebebasannya, kakinya terancam lumpuh!” “Impian saya hanya satu Tuhan, Saya ingin lihat Ia tumbuh besar dan bisa berjalan bergandengan tangan dengan adiknya dengan senyuman.” -Yulyanti, orang tua Alif.-Sejak lahir, Alif Apriyadi Irawan (12 thn) sudah menanggung beban yang tak terlihat. Diagnosa infeksi saluran kencing itu menyebabkan kelainan pada perkembangan tulang belakangnya. Akibatnya, setiap buang air kecil dan buang air besar bisa keluar dengan sendirinya tanpa bisa Ia kendalikan, mengalir begitu saja. Selama 24 jam, pampers menjadi penolongnya.Kondisi ginjalnya juga mengecil! Tubuhnya berjuang melawan waktu. Rutin cuci darah menambah deritanya yang tiada akhir. Bahkan langkah kakinya tertahan akibat saraf kakinya bermasalah, jempol kakinya sampai sakit dan Ia kesulitan berjalan.Alif yang seharusnya menikmati masa sekolah dan bermain, tapi harus menjalani harinya dengan pusing, muntah, sakit perut dan sakit tulang belakang. Ibunya terperangkap dalam tekanan emosional tak terbayangkan, hancur perasaannya menyaksikan anaknya kesakitan. Namun, meski beban begitu berat, rasa sakit tak merampas optimis dan senyum ceria Alif dalam menanti keajaiban untuk sembuh. Sayangnya, Ibunya tak punya penghasilan dan tak lagi bisa bekerja karena mengurus Alif. Upaya menjual harta yang dimiliki sudah dilakukan, pinjaman sana-sini juga tak terhindarkan, tapi biaya pengobatan Alif justru tak tertutupi. Sering kali dalam diam tangisan ibunya pecah, takut harapan sembuh sang anak terkubur karena biaya. “Pernah saya menangis karena sedih tak punya uang untuk biaya pengobatan anak saya, saya takut anak saya tidak bisa cuci darah. Bersamaan itu sempat saya tidak bisa membeli beras dan sampai pinjam sana-sini tidak ada yang membantu karena saya tidak punya jaminan,” ungkap Yulyanti. Alif masih harus menjalani operasi dan kontrol rutin ke rumah sakit. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, pampers dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Alif untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 17.896.056
1 hari lagi Dari Rp 17.930.000
Donasi
camp
Anak

Sel Kanker di Tubuhnya Sempat Mencapai 87%! Kenzie Masih Terus Bertahan

“Sel kanker di tubuh anakku sempat mencapai 87%! Tubuhnya sampai lemas tak berdaya, Ia menangis menahan nyeri, hingga harus menerima transfusi 3 kantong darah merah dan 2 kantong trombosit demi bertahan hidup. Di usianya yang harusnya bebas tertawa dan bermain, anakku justru harus bolak-balik menjalani kemoterapi.”“Perjalanan anakku menuju sembuh masih panjang, tapi aku kesulitan biaya untuk pengobatannya membludak dan kemampuanku terbatas. Sementara itu, sel kanker bisa menyebar hingga ke kepalanya jika pengobatan terhenti. Aku takut kehilangan kesempatan menyelamatkan anakku akibat kendala biaya.” -Viyadhita, Orang tua Kenzie-Anakku, Muhammad Kenzie Arsenio (2 thn), sudah menjalani 10 kali kemoterapi. Pengobatan itu membawa dampak yang begitu berat untuk tubuh kecilnya. Seluruh badannya terasa sakit, lemas tak berdaya, wajahnya pucat, disertai batuk dan flu.Padahal tubuhnya harus selalu dalam kondisi stabil agar bisa melanjutkan kemoterapi. Semua bermula dari demam biasa, hingga bibirnya pecah-pecah sampai berdarah. Dokter sempat menduga anakku terkena DBD dan merujuk kami ke rumah sakit yang lebih besar. Namun siapa sangka, gejala yang terlihat sepele itu berubah menjadi kabar paling menghancurkan dalam hidupku, anakku divonis menderita kanker darah.Rasa kecewaku tak terbendung, tubuhku langsung lunglai mendengar anakku diserang penyakit ganas. Tapi aku juga harus kuat, karena harus berjuang mendampingi anakku pengobatan. Saat ini, kondisi anakku sering menurun drastis, demam, hingga tidak bisa jalan karena persendiannya sering linu. Emosinya pun berubah, ia sering marah-marah, mungkin karena tubuh kecilnya terlalu lelah menahan sakit.Demi menjaga kesehatannya, anakku harus minum susu khusus dan mengkonsumsi makanan bergizi. Namun kebutuhan sederhana itu pun sering kali sulit kami penuhi. Suamiku hanya bekerja sebagai pemasang dekorasi pernikahan, dengan penghasilan yang tak menentu karena pekerjaan tidak selalu adaBahkan, aku butuh biaya yang cukup besar untuk sekedar membawa anakku kontrol rutin karena jarak yang jauh, dari Sukabumi, Jawa Barat ke Bandung. Belum lagi,obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kenzie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kenzie! 
Dana terkumpul Rp 1.750.003
10 hari lagi Dari Rp 15.900.000
Donasi
camp
Pendidikan

Menjadi Penghafal Al-Qur’an, Wibatsu Ingin Mengubah Masa Depannya

“Wibatsu memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur’an. Baginya, prestasi bukan sekedar kewajiban, tapi juga jalan untuk mengubah masa depannya. Baginya, setiap ayat yang dihafal adalah bekal, agar kelak ia bisa membantunya untuk mandiri dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.”“Sejak kecil, Ia tumbuh dalam keterbatasan. Orang tuanya bekerja tanpa lelah mengantarkan galon isi ulang dan berjualan di sekolah demi menyambung hidup. Penghasilan yang tak menentu membuat langkah Wibatsu untuk mengenyam pendidikan terasa berat…”Wibatsu Hamam Dafauzan (19 thn), saat ini sedang duduk dibangku kelas 3 sekolah MAN 3 Bantul Yogyakarta. Selain itu, Ia juga menjalani hari-harinya di Pondok Pesantren Al-Muna 1, tempat ia menapaki jalan sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. Baginya, ayat demi ayat ia jaga dalam hati, menjadi cahaya yang menuntunnya di tengah gelapnya keterbatasan. Cita-citanya sederhana, Ia ingin menjadi seorang ustadz. Ia ingin membagikan ilmu yang Ia pelajari selama ini, agar menjadi penerang bagi orang lain. Wibatsu sadar, langkahnya untuk menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Bahkan mungkin terasa hampir mustahil. Namun, Ia memilih untuk tidak menyerah. Ia ingin tetap melanjutkan pendidikan, bahkan jika Ia harus sambil bekerja.Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia selalu mengingat nasihat dari orang tuanya, bahwa Tuhan selalu memberikan jalan bagi mereka yang berusaha.  Ia ingin sukses, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengangkat derajat orang tuanya.  Apa yang dijalani Wibatsu adalah tentang keteguhan. Tentang seorang anak yang tetap melangkah meski jalannya terjal. Tentang kerja keras dan doa orang tua yang tak pernah putus dari orang tua yang berharap anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.Kini, di persimpangan antara mimpi dan kenyataan, Wibatsu masih terus berjuang. Ia masih membutuhkan biaya untuk uang sekolah, biaya pesantren, transportasi ke sekolah dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Wibatsu tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Wibatsu!
Dana terkumpul Rp 145.000
4 hari lagi Dari Rp 2.763.760
Donasi

Pilihan Campaign