Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kemanusiaan
Light Ministry Orchestra Gelar Konser Istimewa Bersama Anak Disabilitas
Dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia, Light Ministry Orchestra menghadirkan sebuah konser istimewa yang tidak hanya menyuguhkan harmoni musik, tetapi juga membawa pesan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Konser ini menjadi ruang ekspresi, apresiasi, dan dukungan nyata bagi anak-anak dan generasi muda untuk terus bermimpi, berkarya, dan berkembang melalui seni musik.Di balik setiap alunan nada, terdapat semangat untuk membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan pengembangan bakat, khususnya bagi anak-anak dari berbagai latar belakang. Melalui kegiatan ini, Light Ministry Orchestra ingin menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang setara untuk tumbuh dan bersinar.Untuk mewujudkan konser dan rangkaian kegiatan pendukung ini, kami mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melalui kegiatan ini. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung kebutuhan anak-anak disabilitas. Partisipasi Anda, sekecil apa pun, memiliki arti besar. Dengan berdonasi, Anda turut menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang aman, inspiratif, dan penuh harapan bagi generasi penerus bangsa.Mari bersama-sama kita rayakan Hari Anak Sedunia dengan aksi nyata. Karena masa depan anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama.#TemanBaik, yuk ikut berkontribusi dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 100.370.000
4 hari lagi
Dari Rp 100.000.000
Donasi
Anak
Menderita Beberapa Kelainan Otak, Adiva Hanya Bisa Terbaring Lemah
“Di usianya yang baru 18 bulan, anak saya sudah menjalani operasi buka ubun-ubun. Sampai sekarang usianya sudah 3 tahun, anak saya belum bisa apa-apa, selain tiduran dan belajar tengkurap.” -Eliana Aprilia Saraswati, Ibunda Adiva-Semua bermula ketika anak saya, Adiva Arsyila Savina (3 thn), sering menangis tidak wajar saat usianya 3 minggu. Tanpa kenal waktu ia terus menangis pagi, siang, malam, seperti kesakitan. Matanya juga mengarah ke atas, badannya kaku, kaki bengkok, dan tangannya mengepal.Setelah diperiksa, dokter bilang anak saya hanya sakit perut kembung. Tapi anehnya anak saya masih menangis tanpa henti meski sudah minum obat. Hingga usianya 3 bulan, tumbuh kembang Adiva terhambat, mata dan pendengarannya juga tidak merespon. Saya yang semakin curiga pun kembali membawanya periksa, ternyata dokter menemukan ubun-ubun Adiva sudah tertutup (craniosynostosis) hingga membuat otaknya tidak berkembang. Selain itu anak saya juga didiagnosa cerebral palsy (lumpuh otak) dan mikrosefali (lingkar kepalanya kecil). Setelah menjalani operasi, saya sempat mengira itu merupakan awal kesembuhan anak saya. Kenyataannya saat usia 2 tahun, Adiva mendadak sering kejang dan dokter mendiagnosa anak saya juga sakit epilepsi.Kondisinya anak saya saat ini suka tantrum kalau sedang menangis, sehingga ia mencakar muka, telinga, menjambak rambutnya, dan memukul kepalanya. Biasanya akan saya bedong supaya anak saya tidak menyakiti dirinya sendiri. Anak saya masih harus kontrol rutin ke rumah sakit.Namun saya terkendala biaya pengobatan anak. Saya hanya ibu rumah tangga dan suami saya merupakan pengemudi ojek online yang penghasilannya tidak menentu. Saya sangat berharap Adiva sembuh dan perjuangan saya demi kesehatan anak berbuah manis.#TemanBaik, mari bantu Adiva agar bisa perlahan sembuh dari penyakitnya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 37.803.004
15 hari lagi
Dari Rp 45.875.000
Donasi
Anak
Berbagai Penyakit dan Gizi Buruk Mengintai Queenzha, Ia Harus Operasi
Di usianya yang masih 2 tahun, Queenzha Elshanum Maizurra menanggung diagnosa:Hisprung, penyempitan antara usus dan anus.Virus Toxoplasma, virus yang bisa menyebabkan infeksi pada tubuh.Mikrosefali, pengecilan otak bawaan dari infeksi virus Toxoplasma.Skoliosis, yaitu pembengkokan tulang belakang 52 derajat.Pergeseran tulang panggul kiri dan kanan.Gangguan pendengaran sebelah kanan 90 dB tidak terdeteksi dengan tes bera.Gangguan penglihatan kedua mata di titik tengah retina, kata dokter menyisakan bekas luka infeksi akibat dari infeksi virus Toxoplasma.Kedua kaki yang belum bisa bergerak aktif.Keterlambatan tumbuh kembang.Aku Liza Pimi (32 thn), Ibu dari Queenzha. Sejak lahir, perut anakku sudah membengkak dan napasnya sesak akibat penyakit hisprung. Ia harus menajalani operasi, ususnya harus dipotong hingga 7 cm dan Ia harus BAB melalui perutnya yang dilubangi sementara. Setiap tangisnya selepas operasi seperti torehan luka di hatiku. Namun siapa sangka, justru tangisan itulah yang akhirnya kurindukan. Setelah operasi, anakku kehilangan suara akibat mengalami kelemahan otot. Rumah menjadi sunyi yang begitu pilu. Anakku sudah melewati banyak tindakan medis, mulai dari biopsi, periksa mata dalam bius, EEG, endoskopi dan lainnya. Rasanya terlalu banyak untuk anak sekecil dia. Namun, yang aku syukuri adalah suara anakku mulai terdengar kembali meski belum bisa berbicara.Hanya berbaring saja yang bisa dilakukan anakku, kakinya belum bisa bergerak. Ia mengalami gizi buruk yang berakibat tidak bisa operasi lanjutan penutupan lubang di perutnya, karena berat badannya tak mencukupi. Rasanya aku gagal dan merasa bersalah, karena tidak bisa memberi nutrisi yang cukup.Sementara itu, aku terlilit hutang karena biaya pengobatan anak sangat besar, apalagi aku harus membawanya berobat dari Bengkulu ke Jakarta. Suamiku hanyalah buruh harian lepas yang penghasilannya tak menentu, bekerja dari pagi hingga malam, bahkan menjadi tukang parkir jika perlu.Ada hari di mana kami hanya bisa menatap alat medis dan susu dari balik etalase, tak mampu membelinya. Aku sudah berupaya menjual kendaraan juga, tapi pengobatan tak bisa berhenti. Anakku juga masih membutuhkan biaya untuk kontrol rutin ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, membeli alat-alat terapi untuk tumbuh kembangnya, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, mari bantu Queenzha untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 4.420.000
15 hari lagi
Dari Rp 34.769.000
Donasi