Panggilan Mendesak

camp
Anak

Keluar Masuk Rumah Sakit Tiap Bulan, Adzriel Didiagnosa Jantung Bocor dan Down Syndrom

“Titik terkelamku adalah ketika melihat tubuh kecil anakku masuk ruang PICU dan dipasangi alat ventilator, aku hanya bisa menangis karena tak tega. Pikiranku bertanya-tanya, seberapa sakit yang Ia rasakan? Apakah Ia bisa menahan semuanya?”“Hatiku semakin hancur ketika sebuah selang NGT dimasukkan melalui hidungnya untuk makan dan minumnya. Tangisnya yang lirih seakan menusuk sampai ke hati. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, ‘seberapa sakit yang sedang anakku rasakan? Apakah tubuh kecilnya sanggup menahan semua ini?” -Haedy, orang tua Adzriel-Kenyataan berat harus aku terima begitu anakku, Muhammad Adzriel Alfarizqy (1 thn), lahir. Saat itu, dokter mengatakan bahwa ada tanda-tanda down syndrom pada anakku. Sambil menangis, aku hanya bisa menatap wajahnya sambil terus berdoa, semoga semua ini hanya kekhawatiran sementara.Namun, ujian itu ternyata baru saja dimulai. Tiga hari setelah membawa anakku pulang ke rumah, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kekuningan sampai harus dirawat di rumah sakit. Di tengah kecemasan itu, lagi-lagi hal buruk lainnya muncul, anakku mendadak mengalami sesak napas.Ternyata dokter lagi-lagi membawa berita yang membuat hatiku hancur, anakku didiagnosa jantung bocor. Sejak itu, hidupku dipenuhi suara alarm IGD, ruang perawatan dan tangis. Siapa sangka, setiap bulan anakku harus keluar masuk rumah sakit karena sesak napas dan infeksi paru-paru berulang.Setiap hari aku selalu memeluk dan mengajak anakku berbicara, ‘Ayo Dek, lawan sakitnya ya. Dedek anak hebat. Dedek pasti kuat dan bisa sembuh.’ Hanya itu yang bisa terus aku tanamkan agar Ia terus bertahan, sambil berharap Allah SWT mengangkat semua penyakit yang dideritanya.Di tengah perjuangan ini, aku juga dihimpit masalah ekonomi. Suamiku hanya bekerja sebagai petugas keamanan, sedangkan aku bekerja sebagai pegawai swasta. Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan tiga anak kami sekaligus biaya pengobatan Adzriel.Sebagai orang tua, aku berharap anakku bisa tumbuh sehat, bisa bernapas lega tanpa alat bantu, bermain dan tertawa seperti anak lainnya. Namun, aku kesulitan memenuhi biaya pengobatan anak yang membutuhkan transportasi ke rumah sakit, membeli obat, alat medis dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Adzriel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Adzriel!  
Dana terkumpul Rp 12.516.000
15 hari lagi Dari Rp 12.516.000
Donasi
camp
Anak

Setahun Lebih Tak Kunjung Operasi, Rianti Bertahan dari Kelainan Jantung

“Dokter telah memasang ring kedua kalinya pada anak saya karena tak kunjung mendapat jadwal operasi. Kami sudah kehabisan biaya, saya hanya penjual seblak di depan rumah, itu pun sambil menggendong anak. Anak saya belum bisa berjalan, tapi semangatnya sangat tinggi untuk belajar berjalan sambil berpegangan. Bahkan Ia sampai kelelahan dan ngos-ngosan, ketika saya suruh berhenti dia akan menangis.” -Refti Ika Purwanti, Orang tua Rianti-Anak ketiga saya, Rianti Anindira Kanza (2 thn), didiagnosa kelainan jantung bawaan. Penyakit ini terlihat saat usianya 6 bulan, yaitu kuku tangan, kaki, hingga bibirnya tampak membiru. Kondisinya semakin parah ketika menangis, Ia akan mengalami sesak nafas. Saya akhirnya membawa anak periksa ke dokter, hasilnya buat saya terkejut. Salah satu katup jantung Rianti tidak terbentuk sempurna dan terjadi penyempitan pembuluh darah. Dokter langsung mengambil tindakan kateterisasi dan pemasangan ring di jantung anak saya agar tidak mengalami sesak.Anak saya dirujuk untuk melanjutkan pengobatan di Jakarta untuk operasi. Saya nekat menjual semua harta yang saya punya demi bisa membawa anak dari Karimun, Riau, menuju Jakarta. Tapi sesampainya di Jakarta, anak saya tidak bisa langsung mendapatkan tindakan karena harus mengantri.Hampir 2 bulan saya menunggu jadwal operasi anak di Jakarta, tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami pun kembali pulang ke kampung tanpa adanya tindakan apapun pada anak saya. Saya sudah kehabisan biaya hidup selama di Jakarta. Kini sudah setahun lebih anak saya masih belum juga mendapatkan kabar mengenai jadwal operasi. Selama ini anak saya hanya melakukan kontrol rutin ke rumah sakit di kota. Tentu saja kondisi anak saya memburuk, Ia semakin membiru dan sulit menelan makanan.Anak saya masih harus terus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit di kota yang tidak ditanggung BPJS, saya sudah tidak ada biaya. Penghasilan suami saya juga terbatas meski saya juga sudah bantu kerja tambahan. Anak saya masih butuh dana untuk operasi, transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan anak lainnya.#TemanBaik, mari bantu Rianti agar bisa melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 22.047.001
3 hari lagi Dari Rp 26.772.000
Donasi
camp
Anak

Alami TB Meningitis Hingga Fungsi Ginjalnya Terganggu, Sultan Terancam Harus Cuci Darah!

“Nak, yang kuat ya, jangan pernah menyerah melawan sakitmu. Ayah selalu di sini, terus mendampingimu, menggenggam harapan untukmu, apa pun keadaanmu.Ayah juga akan terus mendampingimu, bagaimanapun kondisimu.”“Setiap hari Ayah merindukan suaramu yang dulu memanggil ‘ayah’ dengan penuh ceria, yang kini hanya bisa Ayah dengar kembali dalam ingatan Ayah. Tapi Ayah tidak akan berhenti percaya, akan ada mukjizat yang diberikan Tuhan bagi yang berusaha.”Perkenalkan, aku Uden Efendi, hanya tukang ojek pangkalan di Cisarua yang setiap hari menggantungkan harapan dari upah yang tak menentu. Namun, penghasilanku yang tak seberapa itu kini juga harus mencukupi pengobatan anakku, Sultan Aly Shaheer Arrafif (10 bln).Anakku baru berusia 4 tahun, tapi Ia sudah harus menanggung penyakit yang mengerikan akibat TB meningitis yang menyerang otaknya. Awalnya penyakit ini datang dengan gejala demam, Ia juga lebih sering tertidur. Pihak rumah sakit mengatakan anakku baik-baik saja.Hingga akhirnya kesadaran anakku hilang seiring waktu, tubuhnya terus berkeringat tanpa henti dan Ia mulai sering kejang-kejang. Rasanya duniaku seolah berhenti saking terkejutnya. Aku hanya bisa panik, melarikannya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya karena keterbatasan ruang intensif.Sejak itu, tak ada lagi anakku yang aktif, ceria dan pandai bicara. Kini, pemandanganku hanya anakku yang terbaring lemah, tubuhnya kaku karena sering kejang. Bahkan, untuk sekedar bergerak bahkan memanggilku saja, dia sudah tidak mampu. Napasnya sering sesak, harus menggunakan alat bantu napas oksigen. Makan dan minum pun harus mengandalkan selang NGT yang ditancapkan melalui hidungnya, dia tidak mampu mengunyah.Sudah 10 bulan Ia bertahan dari penyakitnya, kondisinya terus memburuk hingga fungsi ginjalnya terganggu. Anakku mengalami dehidrasi berat hingga kembali harus dirawat secara intensif. Anakku dihadapkan dengan kemungkinan terburuk, yaitu cuci darah. Seolah berdiri di ujung harapan, aku begitu ketakutan kehilangannya. Sementara itu, biaya pengobatan anak membuatku terpuruk. Keluarga kami sangat sederhana, penghasilanku dari narik ojek harus dibagi untuk menafkahi empat anak. Sejak anakku sakit, istriku akhirnya ikut serta mencari nafkah sebagai ibu rumah tangga.Bahkan, satu-satunya tanah yang aku miliki, sudah aku relakan untuk dijual demi anakku bisa terus pengobatan. Sementara itu, aku anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, oksigen, selang NGT, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya, Aku yakin, suatu saat anakku bisa kembali seperti dulu, berlari, tertawa dan bisa merasakan kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sultan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sultan! 
Dana terkumpul Rp 2.565.003
12 hari lagi Dari Rp 32.625.000
Donasi

Pilihan Campaign