Panggilan Mendesak

camp
Anak

Plasma Darahnya Sampai Dikirim Keluar Negeri, Anakku Alami Penyakit Langka!

“Penyakitnya yang diderita anakku sangat langka, sehingga sampel darahnya harus dikirim ke India dan Korea untuk diteliti dokter! Biayanya mencapai Rp 9,8 juta, jumlah yang terasa begitu jauh dari jangkauanku. Sementara aku masih dibayangi utang dari pembelian obat-obatan anakku sebelumnya.”“Akhirnya anakku yang lain juga harus ikut berkorban. Ia terpaksa menunda pendaftaran sekolahnya, karena uang yang ada diutamakan untuk pengobatan adiknya yang sakit.  Di tengah semua itu, aku berusaha bertahan dengan mencari penghasilan tambahan sebagai tukang urut, demi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku sampai stres, tak selera makan, bingung menghadapi keadaan.” -Siti Rahayu, Orang tua Zhafir-Kondisi anakku, Zhafir Sakif Abqory (3 bln), sudah mengkhawatirkan sejak dalam kandungan.  Ia harus lahir lebih cepat melalui operasi caesar karena posisi sungsang, dengan berat badan hanya 1,9 Kg. Sejak itu, Ia harus dirawat di NICU selama 3 hari dan di NFSU2 selama 3 minggu. Saat usianya baru menginjak 3 bulan, anakku mulai menunjukkan gejala aneh. Mata kiri dan kanannya sering berkedut berulang kali. Ia juga enggan menyusui dan tubuhnya tampak lemas. Hingga suatu hari, Ia mengalami sesak napas hebat. Dalam kepanikan, aku segera membawanya ke rumah sakit.Duniaku rasanya berubah menjadi kelam, anakku tak sadarkan diri selama 4 hari! Dokter menyampaikan bahwa ia mengalami radang lambung. Ia sampai diberikan susu kaleng karena terus menolak ASI, tapi anakku justru muntah-muntah. Badannya semakin lemah hingga tak sadarkan diri.Namun kenyataan yang lebih pahit harus aku terima ketika dokter mendiagnosa Zhafir dengan kelainan Mitokondria. Sebuah kondisi langka yang menyebabkan gangguan saraf berat, membuat tubuhnya tidak mampu mengubah makanan menjadi energi. Akibatnya, Ia mengalami kelemahan otot, kejang, gangguan pernapasan, hingga penurunan kemampuan gerak.Dalam sehari, anakku bisa mengalami kejang hingga 6 kali, yang berlangsung sekitar 2 menit, dilanjutkan penurunan kesadaran. Hingga kini, Ia lebih sering keluar-masuk PICU rumah sakit dan menjalani rawat inap berulang. kesulitan menegakkan kepala, hanya bisa mengkonsumsi susu medis dan lebih banyak tidur.Hancur sekali hatiku setiap melihatnya tubuhnya harus menerima tindakan medis, ditusuk berulang kali dan makan minumnya harus melalui selang NGT yang ditancapkan ke hidungnya. Setiap malam aku hanya bisa menangis dan kesulitan tidur karena mengkhawatirkan anakku.Meski dalam keterbatasan ekonomi yang begitu berat, aku tak pernah berhenti berjuang.  Bahkan, aku pernah hanya memiliki uang Rp25.000, menggendong anakku naik bus untuk ke rumah sakit. Aku menahan nyeri perut karena lapar berjam-jam, sambil menunggu antrian pengobatan hingga sore.Suamiku bekerja sebagai caddie golf tanpa hari libur. Ia berjalan hingga 8 kilometer setiap hari, hingga kakinya sakit dan kesehatannya ikut menurun. Sering kali ia mengalami migrain karena terpapar panas seharian di lapangan. Namun penghasilan yang didapatkan tetap tidak mencukupi, terlebih biaya pengobatan anak kami Di luar obat yang tidak ditanggung BPJS, masih banyak kebutuhan lain yang harus kami penuhi, mulai dari biaya transportasi ke rumah sakit, vitamin, selang NGT, hingga kebutuhan medis lainnya#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhafir tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhafir!
Dana terkumpul Rp 17.426.000
6 hari lagi Dari Rp 17.265.000
Donasi
camp
Anak

Sel Kanker di Tubuhnya Sempat Mencapai 87%! Kenzie Masih Terus Bertahan

“Sel kanker di tubuh anakku sempat mencapai 87%! Tubuhnya sampai lemas tak berdaya, Ia menangis menahan nyeri, hingga harus menerima transfusi 3 kantong darah merah dan 2 kantong trombosit demi bertahan hidup. Di usianya yang harusnya bebas tertawa dan bermain, anakku justru harus bolak-balik menjalani kemoterapi.”“Perjalanan anakku menuju sembuh masih panjang, tapi aku kesulitan biaya untuk pengobatannya membludak dan kemampuanku terbatas. Sementara itu, sel kanker bisa menyebar hingga ke kepalanya jika pengobatan terhenti. Aku takut kehilangan kesempatan menyelamatkan anakku akibat kendala biaya.” -Viyadhita, Orang tua Kenzie-Anakku, Muhammad Kenzie Arsenio (2 thn), sudah menjalani 10 kali kemoterapi. Pengobatan itu membawa dampak yang begitu berat untuk tubuh kecilnya. Seluruh badannya terasa sakit, lemas tak berdaya, wajahnya pucat, disertai batuk dan flu.Padahal tubuhnya harus selalu dalam kondisi stabil agar bisa melanjutkan kemoterapi. Semua bermula dari demam biasa, hingga bibirnya pecah-pecah sampai berdarah. Dokter sempat menduga anakku terkena DBD dan merujuk kami ke rumah sakit yang lebih besar. Namun siapa sangka, gejala yang terlihat sepele itu berubah menjadi kabar paling menghancurkan dalam hidupku, anakku divonis menderita kanker darah.Rasa kecewaku tak terbendung, tubuhku langsung lunglai mendengar anakku diserang penyakit ganas. Tapi aku juga harus kuat, karena harus berjuang mendampingi anakku pengobatan. Saat ini, kondisi anakku sering menurun drastis, demam, hingga tidak bisa jalan karena persendiannya sering linu. Emosinya pun berubah, ia sering marah-marah, mungkin karena tubuh kecilnya terlalu lelah menahan sakit.Demi menjaga kesehatannya, anakku harus minum susu khusus dan mengkonsumsi makanan bergizi. Namun kebutuhan sederhana itu pun sering kali sulit kami penuhi. Suamiku hanya bekerja sebagai pemasang dekorasi pernikahan, dengan penghasilan yang tak menentu karena pekerjaan tidak selalu adaBahkan, aku butuh biaya yang cukup besar untuk sekedar membawa anakku kontrol rutin karena jarak yang jauh, dari Sukabumi, Jawa Barat ke Bandung. Belum lagi,obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kenzie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kenzie! 
Dana terkumpul Rp 1.750.003
11 hari lagi Dari Rp 15.900.000
Donasi
camp
Anak

Sakit Jantung Hingga Ada Nanah Menumpuk di Kepala! Begini Perjuangan Orang tua Membawa Syaqila ke Jakarta

“Aku menempuh perjalanan dari Sulawesi ke Jakarta demi harapan kesembuhan anakku. Namun, semuanya runtuh ketika dokter mengatakan anakku belum bisa operasi jantung karena ada nanah menumpuk di kepalanya! Akhirnya anakku dirujuk ke rumah sakit lain untuk operasi kepala terlebih dahulu.”“Namun, 33 hari setelah operasi kepala, anakku demam tinggi. Sepanjang malam aku mengompresnya, tapi yang kudapati anakku malah kejang! Seketika aku teriak histeris memanggil dokter karena ketakutan. Anakku dilarikan ke ruang ICU. sementara aku hanya bisa bersujud, memenjatkan doa tanpa henti sepanjang malam, hingga Tuhan tunjukkan kuasanya. Anakku perlahan membaik…” -Jumriah, Orang tua Syakila-Dokter mendiagnosa anakku, Syaqila Aisyah Syarif (10 thn), mengalami penyakit jantung bawaan. Kondisinya terlalu parah, hingga komplikasi naik ke kepalanya. Kekurangan oksigen membuat pembuluh darah di otaknya terganggu, sampai akhirnya muncul penumpukan nanah yang mengancam nyawanya.Usianya masih 6 bulan saat penyakit ini menggerogoti tubuh mungilnya. Bermula dari tubuhnya yang tampak semakin lemah, napasnya sering sesak, kuku tangan, kaki, hingga bibirnya membiru. Selama 10 tahun ini, aku dan suamiku tidak pernah berhenti berjuang demi menyelamatkan nyawa Syaqila. Perjalanan pengobatan dimulai dari Sulawesi Barat, kami menempuh 8 jam perjalanan ke rumah sakit Makassar dengan membawa Syaqila yang dalam keadaan sesak napas.Dalam perjalan itu, tak jarang singgah di masjid untuk sekedar istirahat dan bermalam. Sampai di rumah sakit biasanya pagi hari dan baru selesai periksa menjelang malam. Selama 6 bulan kami jalani itu semua, hingga akhirnya anakku dirujuk pengobatan ke Jakarta.biaya seadanya dan berhemat, aku dan suami nekat membawa anak naik kapal ke Jakarta. Beralaskan karung untuk duduk dan beristirahat di pelabuhan menunggu keberangkatan. Tiga hari tiga malam perjalanan kapal, anakku selalu sesak napas karena banyak orang yang merokok. Sementara kondisiku juga tidak baik-baik saja karena mabuk laut. Sesampainya di Jakarta, kami tinggal di gang sempit. Ketika hujan deras, aku mendorong kursi roda anakku menuju rumah sakit, sambil memegang payung yang sering tersangkut di pagar rumah orang. Tak jarang air mataku sering jatuh, karena lelah dan sedih akan keadaan.Anakku sudah menjalani dua kali operasi pengangkatan nanah di otaknya, dan dua kali operasi bedah saraf. Pada operasi terakhir, Ia harus dirawat di ICU selama 5 hari. Hingga kini, ia masih terbaring di rumah sakit dan masih sering mengalami demam sampai tubuhnya menggigil. Perjalanan untuk pengobatan anakku masih panjang, Ia harus operasi jantung lanjutan. Kendala biaya selalu menjadi masalah utama pengobatan anakku. Suamiku hanya seorang kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Terkadang ia juga berjualan mainan keliling demi menambah penghasilan. Sementara itu, di Jakarta membutuh biaya untuk tempat tinggal, transportasi ke Jakarta dan ke rumah sakit, konsumsi, obat yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Syaqila tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Syaqila!
Dana terkumpul Rp 3.133.000
3 hari lagi Dari Rp 23.180.000
Donasi

Pilihan Campaign