Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Alami Lumpuh Otak dan Mikrosefali, Anak Saya Tidak Bisa Aktivitas Apapun
“Dokter bilang kemungkinan sembuh anak saya kecil, tapi setidaknya pengobatan mengurangi rasa sakit yang Ia derita. Rasa frustasi dan rapuh sudah saya telan dalam perjalanan saya untuk memperjuangkan kesembuhan anak saya selama 5 tahun terakhir. Saya masih menggantungkan harapan saya kepada mukjizat, suatu hari saya ingin melihat anak saya bisa mandiri dan bisa berbicara agar saya tahu apa yang Ia rasakan dan Ia inginkan.” -Desi Lestari, Orang Tua Dafa-Tak pernah saya sangka sebelumnya, ternyata Tuhan menitipkan saya anak spesial ini. Muhammad Dafa Perdana (5 thn), buah hati yang sejak kecil membuat saya dan keluarga heran dengan kondisinya. Ia tampak berbeda, tidak ada perkembangan sama sekali seperti anak pada umumnya.Di usianya yang sudah 3 bulan, Dafa tidak bisa tengkurap dan lehernya belum bisa tegak. Saat dibawa ke dokter, hasilnya menunjukkan anak saya mengalami kelumpuhan otak dan kondisi kepalanya berukuran lebih kecil dari anak normal.Pantas saja tumbuh kembangnya terganggu, ternyata otaknya juga tidak berkembang.Hingga saat ini Ia tidak bisa berjalan, duduk, maupun bicara seperti anak seusianya. Ia hidup hanya untuk berbaring, tanpa bisa melakukan aktivitas apapun. Tanpa ada orang lain di sekelilingnya, Dafa tidak bisa hidup karena semua aktivitasnya membutuhkan bantuan. Makan dan minum harus disuapi, buang air kecil maupun besar dilakukan di atas kasur menggunakan pampers. Ia juga sangat kurus, mungkin tidak selera karena hanya bisa mengkonsumsi makanan yang lunak saja. Bahkan berat badannya hanya 7 Kg, Ia harus minum susu khusus untuk menambah berat badannya. Terkadang Ia juga sering mengalami kejang.Tapi saya sebagai orang tua selalu memperjuangkan kesembuhan anak. Saya selalu rutin membawa anak fisioterapi dengan harapan agar Dafa suatu saat bisa berkembang dan beraktivitas secara mandiri. Namun saya terkendala biaya untuk anak saya terapi wicara, dia juga butuh alat bantu dengar, membeli susu khusus, pampers, serta vitamin.Suami saya hanya bekerja sebagai satpam, tapi kalau lagi libur biasanya menjalani pekerjaan tambahan sebagai pengemudi ojek. Namun, motor juga sudah dijual karena untuk pengobatan anak yang berkebutuhan khusus. Jadi, kadang pinjam motor tetangga yang menganggur untuk berupaya mencari tambahan biaya.#TemanBaik, mari bantu Dafa untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 12.171.000
7 hari lagi
Dari Rp 16.786.000
Donasi
Anak
Tidak Bisa Berlari, Anak Tukang Bawang Keliling Berjuang dari Sakit Jantung
“‘Bapak…kenapa Gendhis enggak bisa lari kencang seperti teman-teman?’ Tanyanya dengan napas tersengal setelah berjalan sedikit beberapa langkah saja. Pertanyaan polos itu terasa seperti menancap langsung di hatiku. Saat itu aku sadar, anak kecilku mulai mengerti bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain seusianya.”“Setiap hari,aku sering memergoki istriku diam-diam menyeka air matanya sambil menatap Gendhis. Namun dibalik semua rasa sakit itu, anakku selalu semangat untuk menjemput jantung sehatnya. Ia senang bertemu dokter, meski tahu jarum suntik akan kembali menusuk tubuhnya. Melihat keberaniannya, aku optimis mendukung kesembuhannya meski harus berhadapan dengan keterbatasan keuangan.” -Hartono, Orang tua Meyka-Meyka Gendhis Ramadhani (5 thn) kini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bukan untuk berlari atau bermain, tapi untuk dengan melawan penyakit jantung. Padahal dulu, ia lahir dan tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Nun ketika usianya menginjak 4 tahun, kehidupan anakku berubah menyakitkan.Tiba-tiba Ia mengalami demam yang tak kunjung sembuh. Perasaan khawatir merasukiku ketika seorang bidan mengatakan detak jantung anakku tidak berirama. Aku benar-bener tak mengerti apa maksudnya? Tapi sebagai orang tua aku tau ada yang tidak beres pada anakku.Anakku dirujuk ke di rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan. Di sanalah duniaku runtuh, anakku didiagnosa kelainan jantung! Lalu, dengan hati yang penuh harap, aku membawanya berpindah rumah sakit dari Blora ke Semarang demi mencari pengobatan terbaik.Setelah menjalani kateterisasi jantung pertamanya, anakku dirujuk ke rumah sakit Jakarta. Harapan itu ada, tapi bersamaan dengan kenyataan pahit tentang kesulitan biaya yang harus aku hadapi. aku hanyalah pedagang bawang merah keliling, penghasilanku tak menentu. Akhirnya, demi kesembuhan anakku, aku menjual motor satu-satunya, menjual perhiasan bahkan meminjam dana ke bank. Selama di Jakarta, kami menumpang di rumah singgah agar bisa menghemat biaya hidup di perantauan.Kini kondisi Gendhis masih membuat hatiku sering terluka. Ia cepat sekali lelah, sering sesak napas, bahkan tubuh kecilnya terkadang membiru. Ada hari-hari di mana aku memilih menahan lapar agar sedikit uang yang tersisa bisa dipakai untuk kebutuhan anakku. Bahkan untuk membeli vitamin yang ia butuhkan pun kadang aku tak mampu.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Meyka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Meyka!
Dana terkumpul
Rp 3.764.002
4 hari lagi
Dari Rp 29.378.861
Donasi
Anak
Setelah Vaksin, Anakku Ketahuan Alami Cerebral Palsy
“Aku pernah berada di titik terendah sebagai seorang Ibu, ku terpaksa menghentikan pengobatan anakku selama 6 bulan! Itu semua karena aku benar-benar tidak ada biaya. Sementara tubuh anakku semakin hari semakin kaku akibat kejang parah.”“Penghasilanku pas-pasan. Aku hanyalah tukang cuci, gosok dan beres-beres rumah orang. Itu pun tidak selalu ada panggilan. Kadang ada, kadang tidak. Meski aku harus mati-matian mencari pekerjaan demi pengobatannya, aku tidak pernah lelah demi kesembuhan anakku.” -Nur Koerunisa, Orang tua Rafaizan-Muhamad Rafaizan Maulana Sidik (5 thn), anakku yang seharusnya tumbuh ceria, kini harus berjuang melawan kerasnya takdir. Padahal, anakku tumbuh sehat dan ceria, setiap hari tawanya menghiasi rumah. Namun, hidupnya berubah saat penyakit gangguan otak itu datang saat usianya 2 tahun. Awalnya anakku menjalani vaksin polio, tapi pulangnya Ia mengalami kejang hebat disertai demam. Aku begitu terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter saat itu mengatakan Rafaizan mengalami cerebral palsy dan epilepsi. Sejak itu, hidup anakku berubah kelam. Sudah lebih dari 2 tahun aku berjuang demi anakku, Bolak-balik rumah sakit menjadi rutinitas. Mulai dari pemeriksaan EEG, MRI, hingga terapi fisioterapi yang harus dijalani 8 kali dalam sebulan.Namun, tak banyak perubahan. Otot-ototnya kaku hebat akibat kejang setiap hari, berat badannya terus menurun. Ia hanya bisa menangis, menahan sakit yang tak mampu diungkapkan. Hatiku hancur melihat anakku tak berdaya. Di sisi lain, aku kesulitan memenuhi pengobatannya. Dalam sebulan, penghasilanku bahkan tak cukup memenuhi semua kebutuhan pengobatan anakku. Banyak obat yang tidak ditanggung BPJS, belum lagi kebutuhan susu khusus dan popok yang harus selalu tersedia.Aku sudah berupaya menjual apa yang kami miliki karena kesembuhan anakku adalah segalanya. Hatiku sering bertanya, apakah suatu saat anakku bisa sembuh dan kembali tertawa? Apakah Ia bisa bermain seperti anak-anak lainnya? Bisa berlari, berjalan, dan merasakan masa bahagianya menjadi anak-anak?Selain obat-obatan, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, vitamin, dan kebutuhan lainnya yang sulit aku penuhi.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafaizan tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafaizan!
Dana terkumpul
Rp 4.745.000
4 hari lagi
Dari Rp 4.635.000
Donasi