Panggilan Mendesak

camp
Anak

Jeritannya Menyayat Hati, Anugerah Berjuang dari Hidrosefalus, Infeksi Paru-paru dan Diare Kronis

“Mati-matian aku berjuang demi pengobatan anakku, tapi di saat itu dokter mengatakan resiko kematian anakku sudah tinggi! Duniaku runtuh! Namun, disaat aku berada di titik terendah hidupku, Allah berkehendak lain. Mukjizat itu datang, anakku kembali ke pelukanku, Ia bertahan dan memilih untuk terus hidup!”“Perjalanan kesembuhan anakku tidak mudah. Aku meninggalkan harga diri, mengemis meminta pertolongan biaya. Alih-alih uluran tangan, aku justru mendapat hinaan. Anak pertamaku pun terpaksa berhenti sekolah sementara, karena biaya pendidikannya harus dialihkan demi menyelamatkan nyawa adiknya.” -Adinda, Ibunda Anugerah-Dokter berkali-kali bertanya padaku dengan cemas, apakah anakku sudah mendapat bantuan biaya untuk pengobatan? Karena jika diare yang terjadi pada anakku terus dibiarkan, nyawa anakku benar-benar terancam. Tapi aku belum pernah mendapatkan pertolongan sekalipun.Anakku, Anugerah Alfarizqy (6 bln), didiagnosa mengalami hidrosefalus (penumpukan cairan di kepala), infeksi paru-paru, hingga diare kronis akibat alergi susu sapi. Hampir setiap malam aku terjaga, dihantui pertanyaan tak terjawab, bagaimana aku bisa membeli susu khusus yang harganya jauh di luar kemampuanku?Sejak dalam kandungan, anakku memang sudah didiagnosa hidrosefalus. Ia lahir dengan ukuran kepala mencapai 50 cm. Seiring waktu, kepalanya semakin lonjong ke belakang dan muncul bentuk benjolan.Usianya masih seumur jagung, tetapi ia sudah harus bertarung dengan maut, menjalani operasi kepala hingga 5 kali. Setiap kali penyakitnya kambuh, tangisannya melengking tajam hingga urat di ubun-ubunnya menonjol. Muntahnya menyembur, dan Ia bisa diare sampai 10 kali dalam sehari. Akibatnya, badannya lemas luar biasa, napasnya sesak dan terkadang kesadarannya sampai hampir hilang.Segala cara telah kulakukan demi kesembuhan anakku. Barang-barang berharga satu per satu terjual, pinjaman kutagih ke sana-sini. Suamiku hanyalah buruh harian, kadang memasang plafon, kadang mengelas, dan sering kali pulang tanpa pekerjaan sama sekali.Aku sendiri tak lagi bisa bekerja karena harus merawat anakku sepanjang waktu. Dulu aku seorang penyanyi, kini jika ada kesempatan, aku tak ragu mencuci dan menyetrika pakaian orang lain atau berjualan sarapan. Hasilnya memang tak seberapa, tapi itulah satu-satunya cara agar dapur kami tetap mengepul.Anak-anakku yang lain pun ikut berkorban. Aku terpaksa mengurangi jatah makan; satu bungkus mi instan harus kubagi berempat. Tas sekolah mereka sudah rusak, sepatu terasa sempit, tak bisa beli demi pengobatan adiknya. Kontrakan terus menunggak sampai berbulan-bulan.Sementara itu, pengobatan anakku masih panjang. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Anugerah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Anugerah!
Dana terkumpul Rp 8.433.000
4 hari lagi Dari Rp 8.433.000
Donasi
camp
Anak

Bola Matanya Nyaris Keluar, Zibran Bertahan Melawan Tumor di Tengah Keterbatasan

walnya, Muhammad Zibran (4 thn) mulai sering mengalami demam tinggi. Ia muntah-muntah, mual, dan mengeluh sakit kepala. Hal yang membuatku semakin khawatir adalah Zibran tak mau membuka matanya sama sekali setiap Ia sakit. Hingga suatu hari, anakku mengalami kejang, demamnya sangat tinggi hingga Ia tak sadarkan diri. Dalam kepanikan dan ketakutan, aku membawanya ke rumah sakit daerah. Empat hari anakku dirawat, aku dipenuhi kegelisahan dan doa terus aku kumandangkan berharap kondisinya membaik.Akhirnya, anakku diperbolehkan pulang. Aku sempat lega, aku kira ini adalah akhir penderitaannya. Tapi tak lama setelah itu, kondisinya kembali menurun dan Ia mengalami kejang lagi dan matanya mulai membengkak. Dokter merujuk agar anakku pengobatan dari Bogor ke Jakarta. Tapi langkah ini terasa sangat berat, karena tidak ada biaya dan rasa takut yang menghantui.Seiring waktu, mata kiri anakku semakin membengkak dan bola matanya nyaris keluar. Tanpa pikir panjang, aku membawanya ke rumah sakit berbeda. Setelah anakku menjalani pemeriksaan lanjutan, saat itulah kenyataan pahit itu terungkap, ada tumor di matanya. Bagai disambar petir di siang bolong, rasanya aku nyaris pingsan mendengarnya. Di usia yang masih kecil, Ia harus bertahan merasakan kepala pusing dan nyeri hebat yang sering datang. Sejak itu, Ia harus menjalani kemoterapi dan radiasi di rumah sakit. Setiap hari aku ketakutan, karena penyakit ini cukup ganas, beresiko menyebar ke matanya yang lain. Namun, di tengah kecemasan itu, justru anakku menjadi sumber kekuatanku. Ia selalu semangat, tak pernah mengeluh setiap pengobatan dan selalu berdoa untuk kesembuhannya sendiri. Jika ini memang takdir, aku berusaha menerimanya dengan ikhlas. Aku rela menjual apa pun yang masih berharga demi biaya pengobatannya.  Namun, semua itu tidak sebanding dengan biaya pengobatannya yang besar.Suamiku hanyalah seorang tukang ojek pangkalan dengan penghasilan sekitar Rp 30 ribu sehari, sementara aku ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi keluarga sangat pas-pasan, bahkan untuk sehari-hari. Bahkan aku dan suami pernah tak makan seharian demi menghemat uang. Aku juga mencoba meminjam sana-sini agar anakku bisa berobat. Anakku saat ini masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zibran tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zibran!
Dana terkumpul Rp 10.956.006
4 hari lagi Dari Rp 10.647.000
Donasi
camp
Anak

Anak Tukang Tambal Ban Itu Berjuang Melawan Penyakit Jantung di Jakarta

“Demi pengobatan anak, aku dan suami pernah tidak makan demi menghemat biaya, berhutang untuk sekedar bertahan hidup, menjual motor, sapi dan barang berharga lain. Bahkan, keluargaku harus menumpang tinggal di rumah orang tua. Namun, di tengah keterbatasan, aku masih percaya pada kebaikan.”“Aku pernah dalam kondisi tak memiliki uang sepeserpun untuk membawa anak ke rumah sakit. Tapi berkat campur tangan Tuhan, tak ada yang mustahil. Tiba-tiba ada orang baik yang bersedia mengantarkan kami ke rumah sakit dan bahkan memberi bekal makanan. Sejak itu, aku percaya bahwa harapan selalu ada, meski di tempat yang paling gelap.” -Nur Aida, Orang tua Sayid-Anakku, Sayid Albian Hidayah (7 thn), lahir prematur dengan berat badan hanya 1,7 kg down syndrom. Ujian yang lebih berat lainnya datang ketika usianya 3 bulan, Ia mendadak demam tinggi, batuk, sesak napas hingga membuat seluruh tubuhnya membiru. Jantungku berdegup kencang melihat kondisi itu, dalam kepanikan aku membawanya ke rumah sakit. Keresahanku di koridor rumah sakit semakin menjadi ketika anakku harus masuk NICU. Hari-hariku sangat berat dan tanpa kepastian. Bayangkan saja, sebulan lamanya anakku tidak keluar dari ruang intensif tersebut. Hingga akhirnya dokter datang memberi kenyataan yang getir, anakku didiagnosa pneumonia berat, jantung bocor, hipertensi paru, hingga gangguan hormon hipertiroid.Sejak itu, anakku harus rutin menjalani kontrol rutin, terapi berjalan, terapi bicara, terapi fokus hingga fisioterapi.  Aku kira cobaan anakku sangat berat, ternyata penderitaannya justru bertambah. Dokter mendapati pendengarannya terganggu, Ia harus menggunakan alat bantu dengar. Selama ini, anakku hanya bisa menyampaikan isi hatinya melalui isyarat dan aku berupaya memahaminya.Meski hatiku hancur melihat Ia tidak bisa hidup seperti anak-anak sehat seusianya, tapi aku tidak mau menyerah untuk kesembuhannya. setiap kali melihat anakku bertahan dan berjuang, rasanya aku kembali dikuatkan. Meski Ia belum bisa bicara, tapi semangatnya cukup menjadi alasanku untuk bersyukur dan berusaha. Saat ini, kondisi anakku masih sering demam, batuk, sesak napas, hingga gizi tak seimbang. Ia masih harus menjalani operasi jantung, tapi aku kesulitan biaya untuk transportasi dari Lombok ke rumah sakit di Jakarta. Suamiku bekerja sebagai buruh tambal ban dengan penghasilan Rp30 ribu per hari, terkadang juga mengambil pekerjaan sebagai buruh angkat pasir. Sementara pengobatan anakku tidak hanya untuk transportasi, tapi juga untuk obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sayid tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sayid!
Dana terkumpul Rp 3.755.004
15 hari lagi Dari Rp 44.176.000
Donasi

Pilihan Campaign