Panggilan Mendesak

camp
Anak

Demi Impian Keliling Dunia, Anak Tukang Ojol Tak Menyerah Lawan Tumor Stadium 4

“Meski diserang penyakit mematikan, tapi anakku tidak banyak mengeluh dan tidak pula menyalahkan keadaan. Aku selalu berkata padanya, ‘kamu anak hebat, kuat dan istimewa. Tuhan percaya kamu bisa lewati ini.’ Dan dia selalu menjawab, ‘aku pengen sembuh biar bisa keliling dunia, Yah.’ Kalimat itulah yang menjadi api semangatnya untuk bertahan.”“Namun, penghasilanku sebagai tukang ojek online sering tak cukup bahkan untuk sekedar makan. Terlebih ketika cuaca buruk, aku tidak bisa mendapatkan nafkah. Tapi, keajaiban selalu datang. Tak jarang aku mendapatkan bantuan tiba-tiba demi pengobatan anak.” -Dewi Susanti, Orang tua Dhavin-Usia anakku, Dhavin Christian Silitonga (15 thn), masih 13 tahun saat itu, ketika Ia seharusnya menikmati masa remajanya dengan bermain dan melakukan hal baru. Awalnya anakku mengalami nyeri dada kiri, aku kira hanya masuk angin biasa dan hanya memberinya obat biasa.Tak lama setelah itu, dada kirinya kembali sakit dan bahkan membengkak. Saat itulah aku merasa ada yang tak beres dan langsung membawanya berobat ke puskesmas. Pihak medis saat itu memberikan anakku obat pereda nyeri, tapi tak ada perubahan sama sekali.  Nyeri dadanya malah semakin parah hingga berpindah ke dada kanannya. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan ada tumor bersarang di paru-parunya. Duniaku rasanya runtuh! Apalagi Anakku tak bisa langsung mendapatkan perawatan karena BPJS-nya tidak aktif. Berbekal hati yang ketakutan, aku terpaksa membawa anakku pulang. Namun, penyakit itu tak kenal ampun. Anakku kembali merasakan nyeri dada yang lebih dahsyat hingga dilarikan ke rumah sakit. Kenyataan pahit yang aku terima malah makin parah, tumor di tubuh anakku ternyata sudah stadium 4 dan disertai kista. Tumor di dadanya menggeser posisi jantung anakku hingga Ia mengalami kesakitan dada, kesulitan bernapas, hingga nyeri pada seluruh tubuhnya. Sejak itu, berat badan anakku menurun drastis dengan cepat. Ia tak sanggup lagi berjalan. Bahkan, buang air kecil saja harus dilakukan di kasur dengan menggunakan ember yang diletakkan di samping ranjang.Ia harus menjalani kemoterapi rutin sebelum menjalani operasi. Proses pengobatannya berjalan dengan penuh derita, Ia mengalami nyeri perut, dada, batuk berdarah, radang usus dan napas tersengal-sengal. Saat kambuh, anakku merasa dadanya seperti diremas. Aku hanya bisa memijat punggungnya, memastikan oksigen tetap terpasang. Sebagai orang tua dengan ekonomi terbatas, hatiku hancur melihat anakku menderita. Aku biasanya narik ojek malam hari, sedangkan siangnya aku tak sanggup meninggalkan anakku karena sakit itu bisa datang kapan saja. Pernah tiba-tiba anakku sesak napas dan kehabisan isi ulang oksigen. Aku tidak punya uang sama sekali, dan sambil menatap langit aku memanjatkan doa kepada Tuhan. Tiba-tiba, saat aku menoleh ke bawah, aku melihat ada uang Rp100 ribu di pinggir jalan. Tuhan menolong di situasi yang sangat terjepit sekalipun. Banyak pertolongan Tuhan tak terduga yang terjadi setiap aku berjuang untuk kesembuhan anakku. Namun, proses pengobatannya masih sangat panjang. Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dhavin tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dhavin!
Dana terkumpul Rp 2.044.005
14 hari lagi Dari Rp 19.584.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Bantu Warga Dusun Pelah, NTB, Dapatkan Akses Air Bersih Setelah 50 Tahun Hidup dalam Kekeringan

Bayangkan berjalan kaki sejauh 6 kilometer setiap hari hanya untuk mendapatkan beberapa jerigen air. Bayangkan harus memilih antara mandi atau memasak karena air yang ada tak cukup untuk keduanya. Inilah kenyataan pahit yang dihadapi oleh 75 keluarga di Dusun Pelah, Kecamatan Mareje Timur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.Selama lebih dari 50 tahun, warga di Dusun Pelah hidup dalam kekeringan. Tak ada sumur, tak ada aliran air bersih, dan tak ada sumber air yang mudah dijangkau. Satu-satunya sumber air terdekat berada sejauh 5–6 km, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama hampir satu jam. Kadang, mereka hanya bisa berharap ada truk tangki datang membawa sumbangan air bersih.Mayoritas warga di sini adalah petani. Tapi bagaimana mungkin bercocok tanam jika air pun tidak ada? Kekeringan ini bukan hanya membuat tanah mereka tandus, tapi juga membuat kehidupan sehari-hari terasa begitu berat. Mandi, mencuci, bahkan hanya sekadar memasak, semuanya harus dipikirkan matang-matang karena air sangat terbatas.Lebih dari setengah abad mereka bertahan dalam kekurangan. Saat musim hujan tiba pun, air tetap sulit didapatkan karena tak ada tempat penyimpanan atau aliran air yang layak. Mereka pernah mencoba menggali sumur sendiri, tapi gagal karena alat dan kemampuan yang terbatas.Kini, mereka butuh bantuan kita. Satu sumur bor bisa menjadi jawaban atas puluhan tahun penderitaan ini. Satu sumur bor bisa membawa harapan baru bagi anak-anak, orang tua, dan seluruh warga Dusun Pelah.Mari bantu wujudkan sumur bor untuk Dusun Pelah.Dengan berdonasi hari ini, kamu ikut mengalirkan kehidupan. Kamu hadir sebagai harapan.Klik tombol donasi sekarang. Karena air adalah hak semua manusia. Karena mereka tidak seharusnya berjalan jauh hanya untuk seteguk kehidupan.
Dana terkumpul Rp 42.503.014
13 hari lagi Dari Rp 212.070.000
Donasi
camp
Anak

Ada 3 Lubang di Jantungnya! Anak Tukang Ojol Harus Operasi Bedah di Jakarta

“Dokter bilang terdapat 3 lubang di jantung anakku! Air mataku tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan di atas motor, sambil menggendong anakku untuk pindah rumah sakit. Sementara suamiku mengendarai motor dengan pandangan kosong, sama linglung dan hancurnya.”“Kepalaku penuh ketakutan, bagaimana jika tubuh kecil anakku tak sanggup bertahan? Aku tak pernah siap kehilangannya. Di tengah kecemasan itu, aku juga dihantam biaya pengobatannya yang besar. Suamiku berbulan-bulan tak dapat upah di tempat kerja sebelumnya, karena mengantar anak berobat. Ia terpaksa banting setir menjadi pengemudi ojek online, yang penghasilannya pun tak menentu.” -Reni Misnawati, Orang tua Reynand-Akibat penyakit, kini tubuh anakku, Reynand Margogo Sinurat (3 thn), semakin hari semakin kurus, hingga tulang rusuknya kelihatan sangat jelas dari balik kulitnya. Ia tidak bisa tidur dengan tenang, karena sesak napasnya akan semakin menyiksa setiap malam hari hingga membuat bagian dadanya cekung.Setiap menangis, wajah anakku akan pucat dan membiru. Tak jarang Ia sampai muntah hebat. Jika kambuh, Ia bisa batuk-batuk sampai tubuhnya lemas dan dilarikan ke IGD rumah sakit. Tak seperti anak-anak seusianya, Ia hanya bisa minum susu untuk makan, itupun susu khusus yang harganya sangat mahal.Aku dan suami sering kewalahan, karena dalam sebulan anakku bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk susunya. Bahkan pernah, untuk sekadar makan sehari-hari, aku harus membongkar celengan kaleng dan membeli beras kiloan dari uang logam yang tersisa.Sejak lahir, Reynand selalu menangis jika tak digendong. Aku tak bisa meninggalkannya, tak bisa keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Meski begitu, aku terus berusaha. Dari rumah, aku mencoba berjualan produk orang lain secara online, berharap ada sedikit tambahan untuk bertahan.Semua emas dan barang berharga yang kami miliki sudah kujual demi pengobatan anakku. Saat benar-benar buntu, aku hanya bisa menelepon orang tua dan rekan-rekan, memohon pinjaman. Aku keliling kota Pekanbaru, mencari bantuan ke sana kemari, demi satu harapan, dan anakku bisa terus hidup.Kini Reynand dirujuk untuk menjalani operasi bedah jantung di Jakarta. Aku semakin tak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Biaya transportasi dari Pekanbaru ke Jakarta saja sudah sangat besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta biaya hidup selama kami harus berjuang di tanah perantauan.Sebagai orang tua, aku hanya ingin satu hal, melihat anakku bernapas tanpa rasa sakit, dan hidup seperti anak-anak lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reynand tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reynand!
Dana terkumpul Rp 23.650.554
12 hari lagi Dari Rp 23.619.555
Donasi

Pilihan Campaign