Panggilan Mendesak

camp
Anak

Bola Matanya Nyaris Keluar, Zibran Bertahan Melawan Tumor di Tengah Keterbatasan

walnya, Muhammad Zibran (4 thn) mulai sering mengalami demam tinggi. Ia muntah-muntah, mual, dan mengeluh sakit kepala. Hal yang membuatku semakin khawatir adalah Zibran tak mau membuka matanya sama sekali setiap Ia sakit. Hingga suatu hari, anakku mengalami kejang, demamnya sangat tinggi hingga Ia tak sadarkan diri. Dalam kepanikan dan ketakutan, aku membawanya ke rumah sakit daerah. Empat hari anakku dirawat, aku dipenuhi kegelisahan dan doa terus aku kumandangkan berharap kondisinya membaik.Akhirnya, anakku diperbolehkan pulang. Aku sempat lega, aku kira ini adalah akhir penderitaannya. Tapi tak lama setelah itu, kondisinya kembali menurun dan Ia mengalami kejang lagi dan matanya mulai membengkak. Dokter merujuk agar anakku pengobatan dari Bogor ke Jakarta. Tapi langkah ini terasa sangat berat, karena tidak ada biaya dan rasa takut yang menghantui.Seiring waktu, mata kiri anakku semakin membengkak dan bola matanya nyaris keluar. Tanpa pikir panjang, aku membawanya ke rumah sakit berbeda. Setelah anakku menjalani pemeriksaan lanjutan, saat itulah kenyataan pahit itu terungkap, ada tumor di matanya. Bagai disambar petir di siang bolong, rasanya aku nyaris pingsan mendengarnya. Di usia yang masih kecil, Ia harus bertahan merasakan kepala pusing dan nyeri hebat yang sering datang. Sejak itu, Ia harus menjalani kemoterapi dan radiasi di rumah sakit. Setiap hari aku ketakutan, karena penyakit ini cukup ganas, beresiko menyebar ke matanya yang lain. Namun, di tengah kecemasan itu, justru anakku menjadi sumber kekuatanku. Ia selalu semangat, tak pernah mengeluh setiap pengobatan dan selalu berdoa untuk kesembuhannya sendiri. Jika ini memang takdir, aku berusaha menerimanya dengan ikhlas. Aku rela menjual apa pun yang masih berharga demi biaya pengobatannya.  Namun, semua itu tidak sebanding dengan biaya pengobatannya yang besar.Suamiku hanyalah seorang tukang ojek pangkalan dengan penghasilan sekitar Rp 30 ribu sehari, sementara aku ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi keluarga sangat pas-pasan, bahkan untuk sehari-hari. Bahkan aku dan suami pernah tak makan seharian demi menghemat uang. Aku juga mencoba meminjam sana-sini agar anakku bisa berobat. Anakku saat ini masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zibran tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zibran!
Dana terkumpul Rp 10.676.006
15 hari lagi Dari Rp 10.647.000
Donasi
camp
Kesehatan

Minum Air Hujan Jadi Penopang Hidup Pengurus Gereja yang Mengidap Kanker Prostat

“Ya Tuhan, suamiku yang lemah karena kanker prostat terpaksa minum air hujan! Di tempat kami, air bersih sangat minim dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Aku hanya bisa memandang dompet kosong di tanganku, menangis dalam diam, menyaksikan tubuh suamiku terkulai tak berdaya di atas kasur tipis.”“Kain seadanya terpaksa aku gunakan sebagai pengganti popok yang tak mampu kubelikan untuk suamiku. Tubuhnya kian menyusut, tinggal tulang yang terbungkus kulit. Ia hanya bisa meringkuk, menahan nyeri yang tak ada habisnya. Berobat ke rumah sakit hanyalah mimpi yang terlalu jauh, obat warung murah menjadi satu-satunya harapan pereda nyerinya…” -Modesta Malo, Istri Pak Yohanes-“Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh, selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah yang kupuji.” (Yeremia 17:14). Doa itu tanpa henti dipanjatkan suamiku, Yohanes Bulu Poety (62 thn), Ia menanti keajaiban terjadi di tengah penderitaannya.Dahulu, suamiku adalah sosok yang aktif melayani gereja dan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Namun semua itu harus terhenti ketika nyeri hebat mulai menyerang pinggangnya. Awalnya, suamiku mengira Ia mengalami usus buntu. Tapi kenyataan lebih buruk dari mimpi buruk manapun.Kanker ganas menyerang saluran kencingnya. Risiko kelumpuhan terus mengancam. Dokter menyarankan kemoterapi dan operasi pengangkatan sel kanker, dengan biaya puluhan juta rupiah. Kami mencoba memohon ke pihak rumah sakit agar suamiku bisa berobat tanpa biaya, tapi hasilnya sia-sia.Sudah 4 Tahun suamiku berjuang melawan kanker ganas ini. Berkali-kali ia berteriak histeris menahan nyeri di pinggangnya. Persendian lututnya pun sering terasa seperti diremuk, hingga kakinya tak lagi bisa digerakkan.Lahan hingga peternakan sudah dijual demi pengobatan suamiku. Bolak-balik dari Sumba, NTT ke Denpasar, Bali menguras segalanya. kini, tak ada lagi harta tersisa, bahkan untuk sekedar kontrol rutin jarang dilakukan. Kini, akulah yang menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Setiap subuh aku pergi ke ladang memanen sayuran. Siangnya, aku menyiapkan makanan dan mengganti popok kain suamiku. Setelah itu, aku berkeliling menjual hasil ladang, berharap cukup untuk makan hari ini.Aku harus bertahan menghadapi terik matahari, hujan deras, rasa lapar, dan haus, demi sesuap nasi. Syukurlah, Tuhan masih menghadirkan orang-orang baik. Tetangga kerap mengantarkan makanan dan sesekali membantu merawat suamiku.Saat ini, suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, air mineral, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Yohanes tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Yohanes!
Dana terkumpul Rp 4.309.002
9 hari lagi Dari Rp 13.809.000
Donasi
camp
Anak

Sakit Jantung Mengintai Milka, Ia Hanya Ingin Sembuh dan Bisa Berlari

“Pernah suatu malam, Milka menangis memintaku susu. Persediaan benar-benar habis, sementara kami tak memiliki uang sepeser pun. Dengan hati yang remuk dan air mata yang kutahan, aku hanya mampu memberinya segelas teh hangat agar ia bisa terlelap.”“Sejak saat itu, suamiku berangkat bekerja lebih awal setiap hari, menantang lelah dan harapan, demi satu tujuan agar anak kami bisa kembali minum susu. Syukurlah, Tuhan masih begitu sayang pada Milka. Hari itu, suamiku pulang membawa susu. Tangisku pecah karena rasa syukur tak terhingga.” -Siti Nurohmah, Orang tua Milka-Ada satu momen yang tak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Saat itu anakku, Milka Alifa Rahma (5 tahun), terbaring lemas dengan tubuh panas karena demam. Dengan sisa tenaganya, Ia menatapku dengan wajah polos dan mata penuh harap, lalu berkata pelan:‘Ma, nanti kalau dedek sudah sembuh, dedek bisa lari kencang kan, Ma? Dedek bisa main hujan-hujanan juga. Makanya dedek rajin minum obat biar cepat sembuh.’ Kalimat sederhana itu menghancurkan hatiku. Harapannya tak besar, Ia hanya ingin hidup normal seperti teman-teman seusianya. Namun bagi anak sekecil itu, harapan sederhana tersebut terasa begitu berat untuk diwujudkan.sejak usianya baru 5 bulan, Milka sudah akrab dengan sakit. Demam dan batuk datang silih berganti. Penyakit yang terlihat ringan bagi orang lain, namun membuat tubuh kecilnya tak pernah benar-benar sehat. Hingga suatu hari, duniaku hancur saat dokter mengatakan bahwa sakit Milka bukan sakit biasa, melainkan jantung bocor. Bahkan, lebar lubang di jantungnya mencapai 6,5 mm. Angka itu mungkin terdengar kecil, tapi dampaknya sangat besar untuk kehidupan anakku. Keterbatasan alat di rumah sakit daerahku di Lampung, membuat anakku harus dirujuk ke Jakarta. Sebagai orang tua, hatiku benar-benar hancur. Apalagi, aku keterbatasan biaya untuk membawanya berobat ke Jakarta. Suamiku hanyalah buruh tani serabutan. Kadang bekerja di sawah, kadang di kebun orang. Pekerjaan itu pun tak selalu ada, sehingga penghasilannya tidak menentu. Sementara aku tak bisa meninggalkan Milka, fokus merawatnya setiap hari. Hidup kami berjalan dari satu kecemasan ke kecemasan lainnya.Ada kalanya aku benar-benar putus asa, aku membutuhkan biaya untuk membawa anak berobat. Saat itu hujan deras seharian, suamiku tidak bisa bekerja. Di tengah kepasrahan itu, tiba-tiba tetangga datang membutuhkan jasa cuci dan gosok. Syukurlah, aku bisa mendapatkan upah untuk membawa anakku  kontrol rutin.Namun, aku tak tega melihat anakku terus kesakitan. Akhirnya, aku mulai dari menjual barang-barang berharga dan meminjam uang hingga bisa membawa anakku ke Jakarta.  Saat ini kondisi anakku masih sering demam, batuk, dan mudah lelah. Pengobatan selama di Jakarta sangat membuatku kesulitan. Apalagi, suamiku tidak bisa mencari nafkah karena ikut mendampingi anak berobat di Jakarta. Sementara anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Milka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Milka!
Dana terkumpul Rp 10.822.500
5 hari lagi Dari Rp 10.600.000
Donasi

Pilihan Campaign