Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Saat Sakit dan Biaya Jadi Beban, Mari Jadi Harapan Mereka!
Di balik dinding rumah sakit, ada banyak pasien yang sedang berjuang melawan sakit sekaligus keterbatasan hidup. Mereka datang dengan harapan untuk sembuh, namun tak sedikit yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa biaya pengobatan yang dijalani tidak sepenuhnya ditanggung oleh BPJS.Bagi mereka, sakit bukan satu-satunya ujian. Ujian terberat justru datang saat pengobatan harus terus berjalan. Setiap lembar tagihan terasa seperti vonis baru yang semakin memberatkan. Tak jarang, keluarga harus memilih antara melanjutkan pengobatan atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada yang terpaksa menunda tindakan medis, mengurangi dosis obat, bahkan menahan sakit dalam diam karena tak sanggup lagi mencari biaya. Bukan karena menyerah, melainkan karena mereka sudah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki.Di ruang rawat inap, ada doa yang tak pernah putus dipanjatkan. Ada air mata yang jatuh diam-diam ketika malam tiba. Ada harapan kecil yang terus dijaga, meski tubuh semakin lemah dan biaya pengobatan semakin menumpuk. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: kesempatan untuk sembuh.Melihat kenyataan ini, Health Pro bersama BenihBaik.com mengajak para member Health Pro untuk menjadi bagian dari harapan mereka. Bantuan kita bisa membantu meringankan biaya pengobatan yang tidak tercover BPJS, agar para pasien bisa terus menjalani perawatan dengan layak dan tepat waktu.Setiap donasi yang Anda berikan bukan sekadar angka, tapi napas tambahan bagi mereka yang sedang berjuang. Itu adalah kekuatan bagi keluarga yang hampir putus asa. Itu adalah pesan bahwa di tengah rasa sakit dan keterbatasan, masih ada kepedulian dan kasih yang menguatkan.#TemanBaik, mari bersama-sama kita hadirkan harapan bagi mereka yang saat ini terbaring lemah di rumah sakit. Bagi mereka, bantuan Anda bisa menjadi alasan untuk terus bertahan, terus berobat, dan terus percaya bahwa kesembuhan masih mungkin terjadi.
Dana terkumpul
Rp 4.660.000
2 hari lagi
Dari Rp 50.000.000
Donasi
Anak
Duli Bertahan dari Jantung Bocor, Infeksi Paru-paru, Epilepsi dan Penyakit Lainnya
“Meski anakku belum bisa bicara, tapi aku sangat mengerti setiap kali Ia mulai merasakan sakit, yaitu dari tatapan dan rintihannya yang menyayat hatiku. Berbagai penyakit menggerogoti tubuhnya, Ia selalu mendapatkan diagnosa baru setiap kembali ke rumah sakit.””Biaya untuk memperjuangkan kesembuhan anakku kian hari kian membengkak. Demi mendahulukan pengobatannya, keluargaku sering hidup dalam gelap karena listrik diputus, hanya mengandalkan lilin untuk cahaya. Kami diusir dari kontrakan karena terus menunggak, bahkan memungut sayuran sisa yang dibuang di pasar untuk bertahan hidup.” -Anastasia, Orang tua Duli-Duli Akhdan Aleando Paokuma (2 thn) lahir dengan sesak napas dan langsung masuk ruang NICU. Sejak hari pertama hidupnya, aku harus bergelut dengan rasa takut kehilangan. Kondisinya terus menurun hingga dokter mendiagnosa anakku down syndrome disertai gangguan fungsi kelenjar tiroid. Meski anakku mengalami kekurangan, aku masih mencoba bersyukur. Setidaknya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memeluknya. Namun, rasa lega itu tak bertahan lama ketika dokter kembali memanggilku dan menyampaikan kabar yang bagai luka baru, anakku didiagnosa jantung bocor.Tubuhku seketika lemas, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Belum sempat hatiku menguat, anakku kembali mengalami sesak napas hebat. Anakku mendapat diagnosa baru, Ia dinyatakan infeksi paru-paru (pneumonia).Sejak itu, anakku harus menggunakan alat bantu napas dan sering keluar masuk rumah sakit. Hari demi hari napas anakku terdengar keras, aku mulai curiga dengan itu. Kekhawatiranku terbukti, anakku mengalami kelainan pada saluran napasnya hingga berbunyi (laringomalasia).Demi keselamatannya, anakku disarankan makan dan minum melalui selang NGT agar tidak berisiko tersedak. Setelah bertubi-tubi harus menerima keadaan, anakku harus menjalani pemeriksaan lanjutan karena Ia sering demam, muntah dan diare. Siapa sangka, hasilnya menunjukkan anakku alergi susu sapi. Jangankan membeli susu khusus, makan saja aku sering minta bantuan orang tua atau saudara karena keuangan terbatas. Suamiku hanya lulusan SD, sulit untuknya mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Demi anak, akhirnya suamiku mencoba bekerja sebagai pengemudi ojek online, mengecat rumah orang, hingga kenek bangunan.Aku pun tak tinggal diam, aku turut mencari tambahan dana dengan membuka jasa membersihkan kamar mandi tetangga, cuci dan gosok pakaian, menjaga rumah kosong hingga terjual, dan menjual semua barang-barang bekas yang ada di rumah. Di tengah perjuangan itu, anakku tiba-tiba mengalami sesak napas berulang hingga dinyatakan TB Paru dan asma. Tak lama setelah itu, anakku juga mengalami kejang dan sempat henti napas. Lagi-lagi Ia mendapat diagnosa baru, yaitu epilepsi.Perjuangan suamiku juga menunjukkan titik terang saat itu, Ia diterima bekerja sebagai petugas kebersihan. Namun, penghasilannya masih sering terbatas untuk menutupi biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat bantu napas dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Duli tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Duli!
Dana terkumpul
Rp 16.250.005
15 hari lagi
Dari Rp 16.233.000
Donasi
Anak
Terancam Buta! Bantu Syafira Bisa Melihat
“Walau dunianya gelap karena penyakit yang membuat matanya tak bisa melihat, ada cahaya yang menerangi kami, yaitu senyumannya. Kami menjadi kuat karena senyumannya yang hangat setiap Ia mendengar suara kami.” -Siti Mariam, Orang tua Syafira-Sejak membuka matanya di dunia, Syafira Nur Hidayat (3 thn) harus berjuang. Ia seharusnya masuk inkubator karena lahir secara prematur dengan berat badan 1,5 Kg, tapi terpaksa dibawa pulang lebih cepat karena kendala biaya.Orang tuanya sempat lega karena Syafira tumbuh dengan baik dan normal. Namun, memasuki usia 3 bulan, dunianya redup. Pupil matanya tiba-tiba memutih, dokter menyampaikan hal yang mengiris hati, Syafira kehilangan penglihatannya!Ia didiagnosa ROP stage 5, yaitu saraf matanya sudah putus dan hipotiroid kongenital yang membuat tumbuh kembangnya terlambat. Kenyataan ini memukul keras hati orang tuanya, apalagi saat itu tidak ada biaya untuk tes darah Syafira. Kesembuhan Syafira harus dibayar mahal, orang tuanya sampai menggadaikan motor. Secara rutin, Ia harus diberikan terapi hormon melalui obat seumur hidup dan fisioterapi di poli rehab medik seminggu sekali di RSCM. Di tengah keterbatasan keuangan, sebisa mungkin orang tuanya membawa Syafira berobat ke rumah sakit yang jaraknya jauh. Ayahnya bekerja sebagai pelayan toko mebel dengan gaji Rp50 ribu sehari, lalu mencari tambahan sebagai kenek dan membantu jualan sayur di malam hari. Kini, Syafira masih belum bisa berjalan. Orang tuanya masih menanti hari di mana ia bisa melangkah, meski pelan. Tapi biaya pengobatan, transportasi, susu khusus, dan obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya terus bertambah. Di tengah keterbatasan, mereka terus bertahan.#TemanBaik, mari bantu Syafira untuk melanjutkan pengoabtan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 11.774.000
6 hari lagi
Dari Rp 11.724.000
Donasi