Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
5 Tahun Berjuang dari Gagal Ginjal Stadium 5! Pak Arif Kesulitan Melanjutkan Pengobatan
“Aku berjalan kaki menembus hujan deras sejauh 3 km, demi membeli obat untuk suamiku. Tubuhku menggigil dan pikiranku panik, takut kehilangan suamiku. Mungkin wajahku sudah lelah dan basah oleh air hujan serta air mata, hingga petugas apotek menatapku dengan iba dan memberikan diskon pembelian obat.““Saat itu aku sadar, masih ada kebaikan di dunia ini. Aku tidak pernah menghitung lelahku, tak apa aku capek, yang penting suamiku masih bisa hidup dan ketemu anak-anak kami. Meski kadang malamku diisi dengan tangis dan doa, karena bingung harus cari uang bagaimana lagi agar suamiku bisa terus melanjutkan pengobatan.” -Siska Sartika, Istri dari Pak Arif-Suamiku, Arif Hidayat (33 thn), didiagnosa gagal ginjal kronis stadium 5 dan anemia berat. Setiap dua minggu sekali, aku selalu bangun lebih pagi untuk mengantarkan suamiku cuci darah ke rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, tanpa sempat benar-benar beristirahat, aku langsung mencari nafkah dengan mencuci baju tetangga. Berharap ada sedikit uang yang bisa kami gunakan untuk bertahan hidup. Malamnya, aku kembali menjaga suamiku yang sering terbangun dalam keadaan sesak napas.Penghasilanku dari bekerja sering tak menentu, bisa dibilang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, aku dan suamiku pernah sampai tidak makan selama 2 hari, karena uang yang ada habis untuk membeli obat. Saat itu, aku hanya bisa menahan air mata. Di tengah keputusasaan, suamiku pernah berkata lirih, “Kalau minggu ini tidak ada uang untuk beli obat, mungkin saya sudah tidak kuat lagi.” Kalimat itu menghantam hatiku begitu dalam. Namun, setiap kali ia mengingat anak kami, semangatnya seperti kembali menyala. Ia ingin tetap hidup, agar bisa mendampingi anak kami tumbuh dewasa.Bayangkan saja, sudah 5 tahun Ia menanggung sakit dalam keresahan, dibayangi rasa bersalah karena merasa menjadi beban keluarga. Tapi Ia tetap berusaha mencari uang tambahan. Saat kondisinya sedikit membaik, ia masih memaksakan diri menjadi tukang pijat untuk membantu kebutuhan dapur. Penyakit ini muncul saat suamiku berusia 28 tahun, Ia merasa tubuhnya sering lemas dan lelah meski hanya mengerjakan sedikit pekerjaan. Lama-kelamaan, wajahnya mulai bengkak, nafsu makannya hilang dan Ia sering sesak napas. Saat ke dokter, barulah terungkap bahwa fungsi organ ginjal suamiku sudah dibawah 10% dan Ia harus cuci darah seumur hidup untuk bertahan hidup. Sejak itu, suamiku sudah tidak bisa lagi bekerja, Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidur. Setiap kambuh, suamiku akan mengalami bengkak pada kakinya, nyeri dada dan sesak napas berat hingga harus dilarikan ke IGD. Demi pengobatannya selama ini, aku sudah berupaya menjual perhiasan hingga mengorbankan seluruh tabungan. Anaknya juga harus berhenti les karena kekurangan biaya.Perjuangan suamiku masih terus berlanjut. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arif tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arif!
Dana terkumpul
Rp 1.310.002
8 hari lagi
Dari Rp 12.930.000
Donasi
Beasiswa Pendidikan
Harapan Anak Petani untuk Menjadi Guru Terancam Akibat Keterbatasan
Orang tua Daniel hanyalah petani dan pedagang kecil. Hujan yang tak menentu membuat hasil panen sering gagal. Kios kecil ibunya pun semakin sepi pembeli. Penghasilan yang tak menentu sering membuat biaya kuliah tertunda. Ada rasa cemas yang diam-diam menghantui, takut harus berhenti di tengah jalan.Daniel Gerson Baisila (32 thn), menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan dan harapan. Langkahnya mungkin terasa lebih berat dibanding mahasiswa lain, namun semangatnya tak pernah surut sedikit pun.Hari-harinya memang melelahkan. Tugas kuliah menumpuk, pekerjaan rumah tak pernah berhenti, dan sesekali ia harus mencari pekerjaan sampingan. Tapi Daniel tidak pernah mengeluh. Baginya, lelah hari ini adalah harga untuk masa depan yang lebih baik.Ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Terbuka dengan jurusan S1 PGSD, selalu berjuang menjaga agar nilainya tetap baik. Bagi Daniel, pendidikan bukan sekadar gelar, pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan keluarga.Keinginan Daniel untuk menjadi seorang guru sekolah dasar bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk menjadi cahaya bagi anak-anak lain yang hidup dalam keterbatasan, seperti dirinya. Ia ingin hadir di depan kelas, membimbing, menyemangati, dan berkata pada murid-muridnya, bahwa mimpi tidak pernah salah, meski lahir dari keadaan yang sederhana.Kedua orang tua Daniel juga tak pernah berhenti berjuang. Meski tubuh mulai lelah dan usia tak lagi muda, mereka tetap bekerja keras. Sakit pinggang, panas matahari, dan sepinya pembeli tak pernah menjadi alasan untuk menyerah.“Ibu dan bapak mungkin hidup sederhana, tapi mereka tak pernah berhenti berusaha agar aku tetap bisa kuliah,” Itulah kalimat dari orang tuanya yang menjadi penguat langkah Daniel.Namun, pendapatan orang tuanya dari bekerja tak sebanding dengan uang kuliahnya yang besar. Saat ini, Daniel butuh membayar uang kuliah yang nilainya mencapai jutaan. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Daniel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Daniel!
Dana terkumpul
Rp 295.000
13 hari lagi
Dari Rp 6.800.000
Donasi
Anak
Selain Lahir Tanpa Anus, Zayyan Juga Mengalami Kerusakan Organ Hati
“Dokter mengatakan organ hati anakku sudah mulai menghitam akibat kerusakan! Seketika aku mematung, tubuhku gemetar dan aku menangis sejadi-jadinya mendengar fakta itu. Itulah momen paling menyakitkan selama hidupku.”“Pikiran buruk terus menghantui, takut kehilangan anakku untuk selamanya. Bahkan, rambutku rontok parah karena stres. Kadang aku menyalahkan diriku sendiri, merasa gagal menjaganya. Belum lagi, kenyataan tentang biaya pengobatan yang besar membuatku semakin tak berdaya.” -Nadila Desi, Orang tua Zayyan-Masih dalam keadaan lemas usai melahirkan, aku langsung dihadapkan pada kenyataan yang tak terbayangkan. Anakku, Zayyan Alfarizi (18 bln), didiagnosa tidak memiliki lubang anus, entah bagaimana itu bisa terjadi. Di usianya yang baru 4 hari, anakku harus operasi pembuatan lubang pada perutnya sebagai jalan sementara untuk buang air besar sementara. Namun cobaan itu ternyata belum berakhir. Aku mulai merasa ada yang tidak beres, karena tubuh perlahan menguning.Dan benar saja, saat pemeriksaan lanjutan, anakku tidak memiliki saluran empedu. Kondisi itu membuat organ hatinya perlahan rusak. Anakku langsung menjalani operasi kasai dengan harapan organ hatinya membaik. Tapi sebulan usai operasi, anakku tiba-tiba mengalami sesak napas, perutnya mengeras, dan demamnya tinggi. Ia sampai harus masuk rumah sakit. Namun, 5 hari dirawat, kondisinya semakin memburuk. Tubuhnya membengkak, kesadarannya menurun. Aku berteriak histeris memanggil perawat agar memeriksa kondisi anakku. Hingga akhirnya Ia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, menempuh perjalanan panjang selama 2 jam dengan penuh kecemasan di dada. Di rumah sakit itu, tubuh anakku dipenuhi selang dan alat medis. Di usia yang masih belasan bulan, anakku sudah sering keluar masuk rumah sakit. Kini tubuhnya sering lemas, semakin kurus, dan hampir setiap malam ia menangis kesakitan hingga terbangun dari tidurnya. Dokter mengatakan anakku masih harus menjalani operasi lanjutan. Tapi di sisi lain, biaya pengobatan terus membengkak tanpa bisa aku hentikan. Aku sudah menjual mahar pernikahan, menjual ponsel, bahkan terpaksa berutang ke tetangga demi anakku tetap bisa bertahan. Suamiku hanya bekerja sebagai pemotong pohon karet, dengan penghasilan yang bahkan sering tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kami juga harus mengeluarkan biaya besar untuk bolak-balik dari kampung ke rumah sakit di kota.Selain itu, anakku juga membutuhkan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, kantong kolostomi yang harus rutin dibeli, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zayyan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zayyan!
Dana terkumpul
Rp 3.506.001
13 hari lagi
Dari Rp 24.382.000
Donasi