Panggilan Mendesak

camp
Anak

Selain Harus Operasi Cangkok Jantung, Amanda Juga Berjuang dari TB Paru dan Gizi Buruk

“Anakku harus operasi cangkok jantung! Kenyataan itu menghantamku tanpa ampun. Aku tak sanggup membayangkan dadanya yang kecil harus dibelah, dan digantikan jantung orang lain. Ia bahkan belum merasakan tawa dan bebas seperti anak-anak lain, tapi beban dunia seolah dipundaknya.”“Hingga saat ini, anakku masih harus menempuh perjalanan panjang dari Serang, Banten, ke Jakarta demi pengobatan yang tak boleh terhenti.  Wajah dan tubuhnya yang lemah penuh dengan selang medis, matanya yang sayu seolah mengartikan semua rasa sakit yang Ia tahan.” -Siti Maunah, Orang tua Amanda-Anakku, Amanda Nisa Hafiza (5 thn), dinyatakan menderita TB Paru saat usianya yang beru 6 bulan. Saat itu Ia terus demam tinggi tanpa henti sampai dirawat 2 minggu di rumah sakit. Bahkan, Ia dipulangkan dari rumah sakit masih dalam keadaan tak kunjung membaik.Aku bingung dan cemas, apalagi kondisi anakku semakin memburuk meski sudah minum obat. Anakku sampai dirujuk ke rumah sakit lainnya, tapi kondisinya tetap tak menunjukkan titik terang. Dalam keputusasaan, aku memutuskan menghentikan pengobatan dan mencoba kembali mencari pertolongan di rumah sakit lain. Akhirnya semua terjawab! Selain TB Paru, anakku juga mengalami pembengkakan jantung dan gizi buruk. Dadaku terasa sesak, rasa bersalah menyelimutiku, selama ini anakku menahan penyakit mematikan sendirian di tubuhnya, tanpa siapa pun benar-benar tahu.Sejak saat itu, aku tak pernah berhenti berjuang membawanya berobat. Namun tubuhnya mulai berubah. Seluruh badannya membengkak, kaki dan tangannya membesar, bibirnya membiru. Setelah dua tahun pengobatan, dokter merujuk Amanda untuk melanjutkan perawatan ke rumah sakit di Jakarta.Kondisi anakku menurun drastis, Ia sampai masuk ICU di rumah sakit Jakarta akibat sesak napas hebat. Aku panik luar biasa, ketika dokter mengatakan anakku nyaris mengalami henti napas. Untuk bertahan hidup, anakku harus menghabiskan 8 liter oksigen, hanya agar napasnya tetap ada.Saat ini, anakku harus bolak-balik ke rumah sakit di Jakarta. Ia belum bisa melakukan aktivitas apapun, Ia harus ikut terapi untuk mengejar tumbuh kembangnya yang terhambat. Pengobatan anakku masih sangat panjang, terlebih operasi yang dibutuhkan belum bisa dilakukan.Aku benar-benar kehabisan jalan. Suamiku hanya bekerja sebagai karyawan swasta dengan penghasilan terbatas. Aku sudah menggadaikan kendaraan, bahkan tak jarang meminjam uang tetangga, hanya untuk ongkos membawa anakku berobat jauh ke Jakarta.Di luar biaya transportasi yang besar, kami juga harus menanggung obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat bantu napas oksigen, uap nebulizer, sepatu untuk terapi, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Amanda tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Amanda!
Dana terkumpul Rp 15.285.000
13 hari lagi Dari Rp 15.285.000
Donasi
camp
Anak

10 tahun hidup dengan tumor yang tumbuh di tulang ekornya! Puji Terus Kesakitan

“Sejak Ia masih bayi hingga kini berusia 10 tahun, anakku harus hidup ditemani tumor yang terus menggerogoti tubuhnya! Bukannya aku tidak ingin menyelamatkannya, tapi karena aku belum sanggup untuk membiayai operasinya.”“Setiap hari aku mendengar rintihannya, menahan sakit yang tak berkesudahan. Sementara itu, setiap hari suamiku bekerja keras dari pagi hingga malam sebagai buruh tebang pisang.  Recehan demi recehan aku kumpulkan, berharap suatu hari ada kesempatan untuk anakku menjalani operasi…” -Liza Ariyani, orang tua Puji-Tumor itu muncul di tulang ekor Puji Hariyani (10 thn) saat Ia baru berusia 3 bulan. Waktu itu aku menemukan benjolan di tubuhnya, dan dengan jantung berdebar, aku membawanya ke puskesmas. Ternyata firasatku benar, ada yang tidak beres dengan anakku.Dokter mengatakan anakku harus segera operasi pengangkatan tumor. Duniaku seketika runtuh dan lututku seketika lemas! Anakku yang masih bayi, harus berhadapan dengan penyakit mematikan, sementara aku tidak memiliki cukup uang untuknya operasi. Akhirnya anakku hanya bisa pasrah hidup dengan tumor itu. Sedangkan aku setiap hari memeluknya sambil berulang kali meminta maaf karena belum mampu membawanya berobat. Hari-hariku diisi dengan cemas, karena kondisi anakku semakin memburuk.Tumor itu kian membesar, sementara tubuhnya sangat kecil. harus berjuang lebih keras ketika belajar berjalan, tak seperti anak-anak lain. Sedikit saja tumornya tersenggol, ia menahan sakit yang membuat hatiku ikut hancur. Ia bahkan tak bisa merasakan saat Buang Air Besar atau Kecil, semuanya keluar tiba-tiba tanpa bisa Ia kendalikan.Meski hidup terasa berat, aku tak pernah berhenti berusaha mengumpulkan uang operasi. Baru ketika Puji berusia 10 tahun, dana itu akhirnya terkumpul. Namun saat kami sampai di rumah sakit daerah, dokter mengatakan mereka tidak sanggup menangani kasus Puji dan ia harus dirujuk ke Jakarta.Saat itu rasanya seluruh tenaga hilang dari tubuhku. Aku kembali tak berdaya, bingung harus bagaimana. Namun, di tengah kesulitan itu, mukjizat Allah datang! Aku mendapat bantuan pemerintah untuk biaya pesawat dari Bengkulu ke Jakarta.Anakku sudah menjalani operasi pengangkatan tumor pertamanya, dan kini sedang dalam masa pemulihan. Namun perjuangan kami belum selesai. Ia masih membutuhkan pengobatan lanjutan dan pemeriksaan berkala agar benar-benar bersih dari tumor.Untuk biaya selama di Jakarta, aku bahkan sudah menjual tanah. Kini aku sudah tak punya apa-apa lagi. Sementara kebutuhan terus berjalan, biaya transportasi Bengkulu ke Jakarta, obat yang tidak ditanggung BPJS, hingga kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Puji tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Puji!
Dana terkumpul Rp 24.361.001
4 hari lagi Dari Rp 24.266.000
Donasi
camp
Anak

Bangun Tidur Tiba-tiba Buta! Anak Kurir Alami Penyakit Saraf Langka

“‘Ma! Kok mata Azzam nggak bisa lihat apa-apa?’ Begitulah teriak panik anakku. Pagi itu, anakku berjalan sambil meraba-raba benda di sekitarnya, mencari keberadaanku dengan wajah penuh ketakutan. Ia kehilangan penglihatannya begitu bangun tidur.”“Kini, anakku hidup dalam dunianya yang gelap. Bukan karena tak ada harapan, tapi karena aku belum mampu membiayai tes genetik yang sangat besar. Sementara hanya tes itu satu-satunya jalan untuk mengetahui pengobatan apa yang seharusnya diberikan untuk anakku.” -Eni Maret, Orang tua Azzam-Keadaan Azzam Ikhwan Nurrochman (7 thn) sampai saat ini masih membuat hatiku terasa perih.Ia masih buta dan sulit berbicara. Masa sekolah yang seharusnya penuh warna, berubah menjadi hari-hari yang gelap dan membingungkan baginya.Saat awal penyakit itu muncul, aku benar-benar kalang kabut. Betapa tidak, dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, berharap ada satu dokter saja yang bisa memberi penjelasan. Namun tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anakku. Hingga akhirnya, setelah menjalani MRI, semuanya terungkap. Anakku mengalami adrenoleukodystrophy, penyakit genetik langka yang menyerang sistem saraf pusat. Seketika perasaanku hancur dan kebingungan.Padahal sebelumnya, Azzam adalah anak yang hampir tidak pernah sakit. Bahkan, Ia tak pernah mengalami kejang dan demam. Tak pernah terpikir sedikitpun bahwa suatu hari ia akan kehilangan penglihatannya begitu cepat.Kini, Ia harus menjalani tes genetik yang biayanya mencapai jutaan rupiah, sesuatu yang terasa sangat berat bagiku untuk membiayainya. Suamiku hanyalah seorang kurir barang, penghasilannya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari.Kian hari, kondisi anakku mengalami kemunduran. Senyum cerianya menghilang dan langkah kecilnya yang menyambutku sudah tak ada lagi. Tubuhnya sulit bergerak, bahkan sekedar mengunyah pun Ia tak mampu.  Banyak waktu yang ia habiskan hanya terbaring di kasur, tak berdaya.Ada saat-saat ketika demamnya tinggi, napasnya tersengal, dan tubuhnya kaku. Beberapa kali ia harus kembali dirawat di rumah sakit. Merasa bersalah sekali karena belum mampu memberikan pengobatan yang benar-benar ia butuhkan. Ia seolah dipaksa menerima kondisinya, hanya karena kami tidak mampu.Saat ini, Azzam masih rutin kontrol ke rumah sakit agar dokter bisa terus memantau keadaannya. Namun jarak dari rumah kami ke RSCM cukup jauh. Sering kali aku kebingungan mencari biaya untuk ongkos transportasinya.Belum lagi kebutuhan lain seperti tes genetik, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan keperluan perawatan sehari-hari.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Azzam tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Azzam!
Dana terkumpul Rp 1.487.001
6 hari lagi Dari Rp 9.767.000
Donasi

Pilihan Campaign