Panggilan Mendesak

camp
Anak

Duli Bertahan dari Jantung Bocor, Infeksi Paru-paru, Epilepsi dan Penyakit Lainnya

“Meski anakku belum bisa bicara, tapi aku sangat mengerti setiap kali Ia mulai merasakan sakit, yaitu dari tatapan dan rintihannya yang menyayat hatiku. Berbagai penyakit menggerogoti tubuhnya, Ia selalu mendapatkan diagnosa baru setiap kembali ke rumah sakit.””Biaya untuk memperjuangkan kesembuhan anakku kian hari kian membengkak. Demi mendahulukan pengobatannya, keluargaku sering hidup dalam gelap karena listrik diputus, hanya mengandalkan lilin untuk cahaya. Kami diusir dari kontrakan karena terus menunggak, bahkan memungut sayuran sisa yang dibuang di pasar untuk bertahan hidup.” -Anastasia, Orang tua Duli-Duli Akhdan Aleando Paokuma (2 thn) lahir dengan sesak napas dan langsung masuk ruang NICU. Sejak hari pertama hidupnya, aku harus bergelut dengan rasa takut kehilangan. Kondisinya terus menurun hingga dokter mendiagnosa anakku down syndrome disertai gangguan fungsi kelenjar tiroid.   Meski anakku mengalami kekurangan, aku masih mencoba bersyukur. Setidaknya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memeluknya. Namun, rasa lega itu tak bertahan lama ketika dokter kembali memanggilku dan menyampaikan kabar yang bagai luka baru, anakku didiagnosa jantung bocor.Tubuhku seketika lemas, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Belum sempat hatiku menguat, anakku kembali mengalami sesak napas hebat. Anakku mendapat diagnosa baru, Ia dinyatakan infeksi paru-paru (pneumonia).Sejak itu, anakku harus menggunakan alat bantu napas dan sering keluar masuk rumah sakit. Hari demi hari napas anakku terdengar keras, aku mulai curiga dengan itu. Kekhawatiranku terbukti, anakku mengalami kelainan pada saluran napasnya hingga berbunyi (laringomalasia).Demi keselamatannya, anakku disarankan makan dan minum melalui selang NGT agar tidak berisiko tersedak. Setelah bertubi-tubi harus menerima keadaan, anakku harus menjalani pemeriksaan lanjutan karena Ia sering demam, muntah dan diare. Siapa sangka, hasilnya menunjukkan anakku alergi susu sapi. Jangankan membeli susu khusus, makan saja aku sering minta bantuan orang tua atau saudara karena keuangan terbatas. Suamiku hanya lulusan SD, sulit untuknya mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Demi anak, akhirnya suamiku mencoba bekerja sebagai pengemudi ojek online, mengecat rumah orang, hingga kenek bangunan.Aku pun tak tinggal diam, aku turut mencari tambahan dana dengan membuka jasa membersihkan kamar mandi tetangga, cuci dan gosok pakaian, menjaga rumah kosong hingga terjual, dan menjual semua barang-barang bekas yang ada di rumah. Di tengah perjuangan itu, anakku tiba-tiba mengalami sesak napas berulang hingga dinyatakan TB Paru dan asma. Tak lama setelah itu, anakku juga mengalami kejang dan sempat henti napas. Lagi-lagi Ia mendapat diagnosa baru, yaitu epilepsi.Perjuangan suamiku juga menunjukkan titik terang saat itu, Ia diterima bekerja sebagai petugas kebersihan. Namun, penghasilannya masih sering terbatas untuk menutupi biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat bantu napas dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Duli tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Duli!
Dana terkumpul Rp 16.510.005
4 hari lagi Dari Rp 16.233.000
Donasi
camp
Anak

Operasi Tertunda Akibat Kejang Tak Berhenti, Asshafa Berjuang dari Jantung Bocor

“Ya Allah, kalau Engkau berkenan, pindahkan saja seluruh rasa sakit anakku itu kepadaku. Biarlah aku yang menanggung, aku tidak tega melihatnya menderita. Jika Engkau masih mengizinkan umurnya panjang, sembuhkanlah ia sepenuhnya. Tapi jika Ia sakit terus, aku akan belajar ikhlas untuk Ia kembali ke sisi-Mu ya Allah.’ Doa itu kupanjatkan dengan tangis yang gemetar.”“Setiap hari aku melatih kesabaran dan menerima dengan lapang dada kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya. Ketika sedang merasa lelah, aku sadar anakku pasti jauh lebih lelah karena kesakitan. Ada kekuatan dalam diriku yang sering muncul ketika melihat perjuangan anakku. Aku tak boleh menyerah untuk harapan hidupnya yang lebih baik.” -Nur Fitriyani, orang tua Asshafa-Duniaku runtuh saat tahu tangisan anakku ada jeritan kesakitan yang tak terucap. Aku beri nama anakku, Asshafa Putri Agnuvina. Ia lahir begitu cantik, mungil dan sehat. Tidak ada firasat buruk apapun, aku memeluknya dengan penuh syukur dan membayangkan hari indah bersamanya.Namun, saat usianya 40 hari, tangisannya berubah menjadi sangat kencang dan berlangsung selama berjam-jam. Aku sangat kebingungan dan panik, apalagi saat itu bibirnya membiru, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdetak sangat kencang dan setiap menyusu sering tersedak hingga henti napas sesaat.Aku tetap terus berusaha menenangkan diri, mungkin itu fase biasa yang dialami bayi. Seiring waktu, kondisinya tak kunjung membaik dan akhirnya aku memutuskan membawanya ke dokter. Saat itulah, duniaku mendadak gelap, dokter mengatakan anakku sakit jantung bocor.Ketakutanku diperparah karena ada dua lubang besar di jantungnya dan Ia harus dioperasi. Aku dan suami menangis sejadi-jadinya, tubuhku sampai lemas dan tak sanggup berdiri. Tak pernah ku sangka, tangisan panjangnya selaka ini berasal dari penyakit mematikan.Aku dan suami juga sempat bingung saat itu, karena kondisi ekonomi keluarga juga serba kekurangan. Namun, aku nekat berangkat dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta meski tidak punya bekal uang sama sekali. Namun, belum selesai anakku menjalani pengobatan, tiba-tiba Ia mengalami kejang saat usia 9 bulan. Tubuhnya kaku, matanya berbalik ke atas, wajahnya pucat seperti orang kehabisan napas. Hatiku perih, tak sanggup menyaksikan kondisi anakku.Dokter mengatakan anakku mengalami epilepsi (gangguan sistem saraf otak).  Sejak itu, hidupku berada di antara ruang tunggu dan ruang rawat inap. Saat ini, kondisi anakku seperti bayi yang baru lahir, Ia belum bisa duduk, berdiri dan bahkan belum bisa merespon. Ia juga masih sering kejang.Anakku sudah sempat akan menjalani operasi, tapi saat hari yang seharusnya menjadi harapan kesembuhan itu, Ia justru mengalami kejang hebat. Akhirnya operasi pada anakku terpaksa ditunda dan Ia harus kembali menunggu jadwal tindakan berikutnya.Pengobatan anakku masih panjang. Aku sudah menjual handphone, mesin jahit dan barang berharga lainnya untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku bekerja dari pagi sampai pagi sebagai penjahit, tapi penghasilannya sering tak menentu. Aku juga berupaya menjual jasa dengan mencuci pakaian tetangga.Aku juga berutang karena karena ingin terus membawa anakku berobat. Bahkan pernah diminta pergi dari rumah orang tua karena pinjaman yang belum mampu ku bayar membuat penagih datang ke sana. Sementara anakku saat ini masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Asshafa  tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Asshafa!
Dana terkumpul Rp 10.900.000
15 hari lagi Dari Rp 10.900.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak

Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 12.609.442
14 hari lagi Dari Rp 23.500.000
Donasi

Pilihan Campaign