Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kemanusiaan
Membangun Kemandirian, Pemberdayaan Wanita Disabilitas melalui Pelatihan Menjahit
Sebagai wujud nyata kasih yang tidak berhenti pada kata-kata, GKI Pondok Indah bersama para jemaat tergerak untuk menghadirkan terang harapan bagi mereka yang berjuang dalam keterbatasan. Program bantuan ini ditujukan bagi Yayasan Irma Agusti, lembaga yang membantu pemberdayaan perempuan disabilitas dan masyarakat rentan agar lebih mandiri. Kasih dihadirkan dalam tindakan nyata,yang memulihkan, menguatkan, dan menghidupkan kembali semangat hidup.Program ini difokuskan untuk pengembangan pelatihan menjahit bagi para penerima manfaat di bawah binaan Yayasan Irma Agusti. Bantuan ini akan digunakan untuk penyediaan peralatan menjahit, bahan praktik, serta dukungan operasional kegiatan pelatihan.Inisiatif ini lebih dari sekadar bantuan materi, tapi juga wujud kasih yang memberi ruang bagi setiap individu untuk bangkit, belajar, dan menemukan kembali makna hidup melalui karya tangan mereka sendiri.Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi, membuka peluang usaha mandiri, serta menapaki jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Bagi jemaat GKI Pondok Indah, program ini juga menjadi ajakan untuk menumbuhkan semangat kepedulian sosial, bahwa setiap bentuk kasih yang diberikan, sekecil apapun, dapat menjadi berkat yang mengubah kehidupan sesama.Lebih dari itu, inisiatif ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendorong kolaborasi dan pemberdayaan berkelanjutan antara gereja, lembaga sosial, dan komunitas lokal. Karena kasih sejati adalah ketika kita berjalan bersama, saling menopang, dan menghadirkan keadilan sosial yang memberi ruang bagi semua untuk bertumbuh.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa menyalakan harapan dan masa depan yang lebih cerah bagi sesama. Yuk klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk ikut berpartisipasi!
Dana terkumpul
Rp 36.281.000
8 hari lagi
Dari Rp 120.000.000
Donasi
Anak
Jantung dan Paru Mengalami Kelainan. Sri Harus Operasi Segera
“Selain jantungnya bocor, anak kami harus bertahan hidup dengan satu paru-paru saja. Hidupnya sempat diprediksi tidak akan panjang. Susah payah kami perjuangkan untuk kesembuhan anak kami, ayahnya berdagang nasi goreng sampai subuh untuk kumpulkan biaya. Saat ini anak kami akan menjalani operasi jantung tahap akhir menuju kesembuhannya.” -Hadiyah, Orang tua Sri-Dokter sudah mencurigai anakku, Sri Haulia (6 thn), mengalami jantung bocor sejak dalam kandungan. Aku begitu gelisah hingga tiba setelah aku melahirkannya, pihak bidan meminta untuk membawa anakku periksa karena jantungnya sangat berisik.Selain itu, kondisi fisik anakku juga tampak berbeda, kedua tangannya tidak memiliki ibu jari dan tulang ekornya memanjang. Tapi yang paling membuat hatiku hancur adalah hasil pemeriksaan menunjukkan kebocoran jantungnya tidak sedikit dan paru-parunya tidak berkembang sebelah.Sejak itu aku harus melihat anakku tumbuh dengan kondisi sakit-sakitan, Ia sering sesak nafas, batuk, flu, bibir dan tubuhnya membiru. Tapi aku tidak menjadikan itu beban, anakku ini istimewa dan aku akan terus semangat untuk mendampinginya mendapatkan kesembuhan. Saat ini anakku sudah menjalani 2 kali operasi perbaikan jantungnya. Sudah 5 kali aku bolak-balik Jakarta untuk pengobatan anakku. Bahkan saat itu aku dalam kondisi mengandung anakku yang lain, pusing, mual, hingga badan terasa remuk akibat bawaan hamil aku tahan jika imbalannya kesembuhan anak.Kondisi anakku saat ini membaik meski kadang masih mengalami sesak dan tubuhnya membiru. Tidurnya juga gelisah karena sering batuk dan sulit bernafas. Tapi perjuangan anakku menuju kesembuhannya tinggal 1 langkah lagi, Ia akan menjalani operasi jantung tahap akhir di 2024 ini.Namun kondisi keuangan keluarga kami sudah sangat menipis. Penghasilan suamiku hanya Rp50 ribu perhari tidak menutupi untuk kembali operasi ke Jakarta. Selama ini aku sudah meminjam dana ke bank dan menjual barang berharga yang aku miliki. Anakku membutuhkan biaya untuk transportasi, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, nutrisi, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Sri agar bisa menjalani operasi jantung tahap akhir di Jakarta dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 16.017.018
6 hari lagi
Dari Rp 50.000.000
Donasi
Anak
Berawal dari Jatuh Main Bola, Anak Tukang Bengkel Alami Kanker Nasofaring!
“Semua gara-gara jatuh kecil saat bermain bola, dokter justru menemukan anakku mengalami kanker nasofaring! Dunia seketika runtuh di hadapanku.” “Hari-harinya kini penuh rasa sakit. Ia menahan sakit kepala hebat yang tak pernah reda, siang dan malam tanpa jeda. Lehernya tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan, mulutnya tidak bisa mangap, penglihatannya mulai rabun, dan badannya kaku hingga tak bisa berjalan. Hatiku terasa hancur setiap detik tiap melihatnya…” -Sopiah, Orang tua Fariq-Muhammad Al Fariq Komarudin (14 thn) pulang ke rumah sambil memegangi kepalanya, mengeluh kesakitan. Dengan suara lirih, Ia berkata bahwa ia terjatuh saat bermain bola. Aku sangat cemas dengan apa yang dia alami dan langsung membawanya ke tukang pijat.Namun, sudah 5 kali dipijat dan 3 kali ke pengobatan alternatif, tapi tak ada perubahan. Sementara itu, anakku terus menangis menahan sakit di seluruh tubuhnya. Aku ingin sekali membawanya ke rumah sakit, tapi kami tidak punya uang.Setiap kali melihatnya meringis, aku merasa seperti seorang ibu yang gagal melindungi anaknya. Hari demi hari, kekhawatiranku semakin menjadi. Apa pun akan aku lakukan demi membawanya berobat. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku meminta bantuan pada kader desa. Syukurlah, anakku mendapat bantuan sehingga bisa dibawa ke rumah sakit.3 minggu dirawat di rumah sakit, kenyataan pahit itu akhirnya terungkap. Ternyata semua rasa sakit itu berasal dari kanker yang tumbuh di belakang rongga hidungnya! Hatiku bagai diterjang ombak besar. Mengapa anakku? Mengapa keluarga kecil kami yang serba kekurangan harus menghadapi cobaan seberat ini?Sejak saat itu, hidup anakku penuh dengan perjuangan. Ia bolak-balik rumah sakit, menjalani operasi, 16 kali kemoterapi, 33 kali radiasi, lalu 24 kali kemoterapi singkat. Meski kondisinya kini lebih baik, tapi Ia masih sering demam, sakit kepala, nyeri sendi, dan batuk.Anakku terpaksa kehilangan masa remajanya. Ia tidak bisa sekolah seperti teman-temannya. Padahal, Ia punya mimpi besar untuk masuk pesantren, ingin menjadi anak yang sukses dan membahagiakan orang tuanya. Tapi penyakit ini mencuri impiannya.Aku selalu memberinya semangat, bahwa kelak Ia bisa sekolah pesantren jika sembuh. Tapi jauh di dalam hati, aku pun sedang berjuang menahan air mata, karena kondisi ekonomi kami sudah di ambang batas untuk terus membiayai pengobatannya.Suamiku bekerja sebagai buruh bengkel, mengambil pekerjaan apa pun yang ada demi menambah pemasukan. Tapi gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari, sementara kami harus menghidupi empat orang anak. sekadar ongkos ke rumah sakit saja, aku sering meminjam uang dari saudara atau makan seadanya. Di luar itu, anakku masih membutuhkan obat yang tak ditanggung BPJS, susu, vitamin, dan kebutuhan lain yang tidak bisa kami abaikan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fariq tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fariq!
Dana terkumpul
Rp 9.991.496
9 hari lagi
Dari Rp 17.292.000
Donasi