Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

7 Tahun Tak Bisa Berjalan, Nenek Kiyah Hidup Bergantung pada Bantuan Orang

“Di usiaku yang sudah 75 tahun, aku tak pernah membayangkan hidupku akan bergantung pada belas kasih orang lain. Penyakit telah merenggut kakiku, membuatku tak mampu berjalan. Hari-hari kuhabiskan dengan berbaring, menatap langit-langit rumah yang sunyi sambil menunggu bantuan, bahkan untuk sekedar makan.”“Berobat pun aku harus menahan perih karena keterbatasan biaya. Suamiku telah berpulang 12 tahun lalu, sesekali anakku datang mengurusku. Meski kesembuhan terasa seperti mimpi yang jauh, aku masih menyimpan harapan kecil untuk kesembuhanku.”Namaku Kiyah, Sudah tujuh tahun lamanya aku hidup berdampingan dengan osteoartritis. Penyakit ini perlahan merusak bantalan antar tulang pada sendi kakiku. Hingga suatu pagi, hidupku berubah selamanya. Aku terkejut, mendapati dari pinggang ke bawah tubuhku lumpuh total.Nyeri hebat di kakiku datang setiap hari, tak pernah memberi jeda. Malam-malamku berlalu tanpa tidur nyenyak. Namun pada akhirnya, tak ada yang bisa kulakukan selain menahan rasa sakit itu dalam diam. Beraktivitas sudah tak mungkin, bahkan untuk sekedar berjalan ke kamar mandi atau berwudhu pun aku tak sanggup.Aku harus menunggu bantuan orang lain jika ingin beribadah. Padahal kini, hanya doa yang menjadi satu-satunya cara bagiku untuk bertahan, memohon harapan dan kekuatan. Saat ini, yang kuhadapi bukan hanya rasa sakit, tetapi juga beban biaya pengobatan yang terus berjalan.Pernah ada hari-hari di mana aku tak makan apa pun karena tak ada yang bisa membantu. Namun ada pula hari-hari yang penuh syukur, ketika keponakanku datang membawa sepiring nasi dan telur goreng, setelah sejak pagi perutku kosong.Segala harta yang kumiliki telah kujual satu per satu. Namun pengobatan tak bisa berhenti selama aku belum sembuh. Selama ini, aku hanya mengandalkan bantuan dana dari warga sekitar yang kadang ada dan kadang tidak ada sama sekali.Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, pampers, serta kebutuhan dasar lainnya untuk bertahan hidup.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nenek Kiyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nenek Kiyah!
Dana terkumpul Rp 1.897.000
2 hari lagi Dari Rp 6.940.000
Donasi
camp
Kesehatan

Buruh Las Menjadi Tak Berdaya Akibat Melawan Epilepsi Akut Selama 3 Tahun

Aku Rapiah, sedangkan Jaja adalah adikku yang sedang menjalani kehidupan yang berat selama 3 tahun terakhir. Sebelumnya Ia sehat dan menjalani hari-hari seperti biasanya, hingga suatu hari Ia mengalami kejang-kejang kecil. Aku terkejut dan mulai curiga bahwa kejadian itu merupakan pertanda besar.Saat aku membawanya berobat, adikku hanya diberikan obat. Aku kira setelah itu adikku akan sembuh, tapi harapanku mulai memudar ketika jaja mengalami kejang berulang yang semakin sering dan semakin hebat. Setelah dibawa ke rumah sakit, Jaja didiagnosa epilepsi akut. Sejak itu, kejang-kejang menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan, di saat-saat tertentu Jaja terlihat komat-kamit sendiri, seolah sedang mengungkapkan rasa sakitnya yang tak tertahankan.Di usia 41 tahun, tubuhnya semakin melemah. Jaja yang dulu dikenal sebagai buruh las keliling yang giat bekerja, perlahan kehilangan kemampuannya untuk berdiri, berjalan, bahkan mengurus dirinya sendiri.Jaja sering terjatuh setiap Ia mencoba untuk berdiri, tangannya sering tremor, hingga suaranya semakin jarang terdengar. Sekedar untuk makan pun, Ia harus dibantu. Bahkan, untuk sekedar buang air, Ia lakukan di tempat tidur.Di sela-sela kondisinya yang lemah, Jaja sering mengungkapkan harapannya ingin sembuh, ingin kembali bekerja dan ingin menikah. Keinginananya sederhana, tapi betul-betul mengiris hatiku. Aku harus menempuh jarak tujuh kilometer setiap akan membawa Jaja ke rumah sakit. Bagi sebagian orang, itu terdengar cukup dekat, tapi bagiku itu perjalanan yang berat. Pekerjaanku hanyalah tukang cuci gosok, biaya transportasi saja sudah menjadi beban yang tak ringan.Terkadang, aku harus berhutang ke tetangga untuk memenuhi biaya pengobatannya. Jaja saat ini masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, membeli kursi roda, susu, pampers dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jaja tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jaja!   
Dana terkumpul Rp 685.001
4 hari lagi Dari Rp 6.320.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Aksi Berbagi Nasi Bungkus

Berbagi nasi bungkus dan santunan adalah sebuah gerakan sosial yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Hal ini yang rutin dilakukan Denny Reksa.Bukan tokoh masyarakat bukan pula pejabat, Denny Reksa juga tidak memiliki yayasan sosial. Namun, jiwa sosialnya begitu tinggi. Nasi bungkus tersebut dibawa keliling, mulai dari Kota Surabaya hingga Terminal Purbaya.Denny Reksa yang merupakan mantan pewarta mengatakan, rutinitas membagikan nasi bungkus setiap Jumat sejatinya sudah lama dilakukan. Terhitung sudah 10 tahun dia membagikan nasi bungkus dan santunan untuk orang yang membutuhkan. Dia tidak lelah mencari tunawisma, lansia, penyandang disabilitas, hingga kaum duafa di Kota Surabaya. Berkembangnya waktu, kini aktivitas sosialnya tidak hanya dilakukan di Surabaya, tetapi juga di Mojokerto, Malang, hingga Semarang. Denny Reksa mengajak berbagai komunitas.TemanBaik, yuk dukung terus semangat berbagi Denny Reksa. TemanBaik juga bisa ikut serta dengan cara: Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiBoleh memilih donasi lewat mana saja, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul Rp 35.019.075
11 hari lagi Dari Rp 52.000.000
Donasi

Pilihan Campaign