Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Awalnya Hanya Bersin Berdarah, Ternyata Pak Antoni Didiagnosa Tumor Nasofaring!

“Akhirnya, aku memberanikan diri menulis pesan ini, demi harapan kesembuhan belahan jiwaku. Suamiku adalah sosok yang kuat, menjadi sandaranku, namun saat ini beliau sedang menghadapi penyakit yang begitu kejam.”“Dokter mendiagnosa suamiku menderita tumor nasofaring, yaitu kanker ganas di rongga hidungnya. Akibatnya, suamiku mengalami nyeri hebat yang menjalar ke area  wajahnya, kesulitan bernapas, mimisan tiba-tiba, hingga penurunan berat badan secara drastis.” -Suparti, Istri dari Antoni-Suamiku, Antoni Marsudi, harus menjalani ujian yang berat di usianya ke-44 tahun. Tak pernah terpikirkan olehku, sakit yang awalnya terlihat sepele itu ternyata membawa petaka bagi keluargaku. Bermula dari suamiku yang mengalami pusing, telinga berdengung, dan bersin disertai darah dari hidung.Saat itu, aku dan suami berpikir itu hanya alergi biasa. Saat berobat ke puskesmas, suamiku hanya diberikan obat dan mengira Ia akan segera sembuh. Namun, harapan itu memudar ketika suamiku kembali bersin-bersin dan justru semakin banyak darah yang keluar. Akhirnya aku membawa suamiku ke rumah sakit, dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ada cairan pada sinusnya (bagian hidung). Aku cukup kaget karena ternyata suamiku harus dioperasi. Namun, cobaan sebenarnya ternyata bukan itu, ditemukan ada tumor nasofaring pada suamiku.Rasanya bagai disambar petir di siang bolong, aku tak pernah berpikir suamiku mengalami penyakit semengerikan itu. Suamiku harus melalui 3 kali operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Sejak itu, kondisi suamiku juga semakin menurun.Tubuh suamiku kian hari kian lemah, sering pusing, mual, sesak napas dan bahkan kejang. Sekedar untuk bernapas saja, terkadang harus dibantu dengan alat oksigen. Ia yang dulu kuat bekerja, kini hanya bisa terbaring dan bergantung sepenuhnya padaku. Kami sudah tidak ada sumber dana lagi karena suami tak lagi bisa mencari nafkah. Tabungan habis terkuras karena pengobatannya sangat panjang. Aku sendiri selalu berupaya mencari jalan keluar agar suami bisa berobat, meski harus pinjam uang sana-sini.Saat ini, Suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat medis dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Antoni tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Antoni!
Dana terkumpul Rp 1.975.000
5 hari lagi Dari Rp 22.330.000
Donasi
camp
Anak

Penyempitan Saluran Napasnya menutup Nyaris 99%, Azzurah Tetap bertahan dari Sakit Jantung

“Momen saat anakku berhadapan dengan hidup dan mati itu tak akan pernah ku lupakan, jantung kecilnya sempat berhenti berdetak! Di saat duniaku rasanya hancur, tiba-tiba keajaiban Tuhan datang, jantungnya kembali berdetak. Saat itu aku yakin anakku kuat dan masih ingin bertahan hingga Ia dinyatakan sembuh.” -Fekrelian Rante, Orang tua Azzurah-Sejak usianya baru menginjak 28 hari, anakku, Azzurah Marisyah Sayu Latif (6 bln), sudah harus menghadapi beratnya ujian kehidupan. Batuk, sesak napas, dan tubuh membirunya sudah menjadi pemandangan yang menghantui hari-hariku yang penuh kecemasan.Awalnya anakku sempat mendapat perawatan di rumah sakit karena nafasnya yang berat. Namun, kian hari semakin menurun hingga Ia tak sadarkan diri. Saat dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, ternyata Ia didiagnosa pneumonia dan kelainan jantung bawaan. Sejak itu, anakku harus berpindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya rumah sakit, hingga akhirnya Ia dirujuk pengobatan ke Jakarta. Rasa putus asa itu semakin besar karena anakku harus tetap menggunakan oksigen dan didampingi perawat khusus untuk membawanya pengobatan dari Kalimantan ke Jakarta. Namun, saat itu kerabat yang tidak tega melihat kondisi anakku, memberikan bantuan dana agar anakku masih bisa terus punya harapan untuk hidup. Aku juga berupaya menjual emas, telepon genggam, hingga membatasi makan sehari-hari demi pengobatan anakku.Syukurlah, anakku bisa menjalani pengobatan di Jakarta. Tapi siapa sangka, dokter mengatakan anakku juga mengalami penyempitan saluran napas yang membuat setiap tarikan napasnya terasa berat. Bahkan, ada penyempitan yang hampir menutup saluran hingga 99 persen! Dokter akhirnya melakukan operasi kecil pada anakku. Hingga saat ini, kondisi anakku masih bergantung pada oksigen untuk bernapas. Dadanya sampai tertarik ke dalam tiap Ia berusaha bernapas dan tubuhnya masih membiru. Aku masih hidup dalam ketakutan akan kehilangannya.Dibalik perjuangan itu, anakku masih gadis kecil yang ceria. Ia masih tersenyum tiap dia masih tersenyum tiap diajak bermain, seolah tak ingin menunjukkan betapa berat sakit yang Ia rasakan. Aku yakin, setiap doa pasti menemukan jalannya dan aku harus terus berjuang.Anakku masih harus menjalani operasi bedah toraks dan kontrol rutin ke rumah sakit. Selain oksigen, aku juga harus mempersiapkan alat suction hingga pemantau saturasi untuk mendukung perawatannya selama di rumah singgah, tempat tinggal sementara di Jakarta.Selain itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Azzurah tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Azzurah!
Dana terkumpul Rp 2.273.000
1 hari lagi Dari Rp 15.366.000
Donasi
camp
Anak

Sakit Jantung Hingga Ada Nanah Menumpuk di Kepala! Begini Perjuangan Orang tua Membawa Syaqila ke Jakarta

“Aku menempuh perjalanan dari Sulawesi ke Jakarta demi harapan kesembuhan anakku. Namun, semuanya runtuh ketika dokter mengatakan anakku belum bisa operasi jantung karena ada nanah menumpuk di kepalanya! Akhirnya anakku dirujuk ke rumah sakit lain untuk operasi kepala terlebih dahulu.”“Namun, 33 hari setelah operasi kepala, anakku demam tinggi. Sepanjang malam aku mengompresnya, tapi yang kudapati anakku malah kejang! Seketika aku teriak histeris memanggil dokter karena ketakutan. Anakku dilarikan ke ruang ICU. sementara aku hanya bisa bersujud, memenjatkan doa tanpa henti sepanjang malam, hingga Tuhan tunjukkan kuasanya. Anakku perlahan membaik…” -Jumriah, Orang tua Syakila-Dokter mendiagnosa anakku, Syaqila Aisyah Syarif (10 thn), mengalami penyakit jantung bawaan. Kondisinya terlalu parah, hingga komplikasi naik ke kepalanya. Kekurangan oksigen membuat pembuluh darah di otaknya terganggu, sampai akhirnya muncul penumpukan nanah yang mengancam nyawanya.Usianya masih 6 bulan saat penyakit ini menggerogoti tubuh mungilnya. Bermula dari tubuhnya yang tampak semakin lemah, napasnya sering sesak, kuku tangan, kaki, hingga bibirnya membiru. Selama 10 tahun ini, aku dan suamiku tidak pernah berhenti berjuang demi menyelamatkan nyawa Syaqila. Perjalanan pengobatan dimulai dari Sulawesi Barat, kami menempuh 8 jam perjalanan ke rumah sakit Makassar dengan membawa Syaqila yang dalam keadaan sesak napas.Dalam perjalan itu, tak jarang singgah di masjid untuk sekedar istirahat dan bermalam. Sampai di rumah sakit biasanya pagi hari dan baru selesai periksa menjelang malam. Selama 6 bulan kami jalani itu semua, hingga akhirnya anakku dirujuk pengobatan ke Jakarta.biaya seadanya dan berhemat, aku dan suami nekat membawa anak naik kapal ke Jakarta. Beralaskan karung untuk duduk dan beristirahat di pelabuhan menunggu keberangkatan. Tiga hari tiga malam perjalanan kapal, anakku selalu sesak napas karena banyak orang yang merokok. Sementara kondisiku juga tidak baik-baik saja karena mabuk laut. Sesampainya di Jakarta, kami tinggal di gang sempit. Ketika hujan deras, aku mendorong kursi roda anakku menuju rumah sakit, sambil memegang payung yang sering tersangkut di pagar rumah orang. Tak jarang air mataku sering jatuh, karena lelah dan sedih akan keadaan.Anakku sudah menjalani dua kali operasi pengangkatan nanah di otaknya, dan dua kali operasi bedah saraf. Pada operasi terakhir, Ia harus dirawat di ICU selama 5 hari. Hingga kini, ia masih terbaring di rumah sakit dan masih sering mengalami demam sampai tubuhnya menggigil. Perjalanan untuk pengobatan anakku masih panjang, Ia harus operasi jantung lanjutan. Kendala biaya selalu menjadi masalah utama pengobatan anakku. Suamiku hanya seorang kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Terkadang ia juga berjualan mainan keliling demi menambah penghasilan. Sementara itu, di Jakarta membutuh biaya untuk tempat tinggal, transportasi ke Jakarta dan ke rumah sakit, konsumsi, obat yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Syaqila tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Syaqila!
Dana terkumpul Rp 3.133.000
5 hari lagi Dari Rp 23.180.000
Donasi

Pilihan Campaign