Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
3 Tahun Zivana Berjuang Sembuh dari Sakit Jantung
‘Sampai kapan Adek harus sesak nafas Pak?’Matanya yang tampak lelah menatap kosong langit-langit kamar dengan rumah sakit. Ia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya yang lemah dipasangi selang medis. Masker oksigen menjadi harapan satu-satunya untuk hidup saat sesak nafas itu muncul.Hari ulang tahunnya berubah menjadi mimpi buruk! Kondisi kesehatan anak saya, Zivana Ratu Maulidya, tiba-tiba menurun drastis hingga harus diopname. Kuku hingga bibirnya terlihat membiru, ternyata dokter mengatakan Ia mengalami jantung bocor kompleks.Zivana sudah melakukan kateterisasi jantung, namun yang pertama gagal. Akhirnya Ia kembali melakukan kateterisasi jantung lagi dan langsung dirujuk operasi ke Jakarta. Kami sekeluarga begitu terpukul, tak menyangka Zivana memiliki sakit mengerikan ini. Neneknya yang terlalu memikirkan kondisi Zivana jadi ikutan jatuh sakit dan akhirnya meninggalkan kami selamanya. Tak hanya itu, kakeknya juga ikut meninggal ketika saya dan istri membawa ZIvana berobat ke Jakarta. Melalui telepon kami diberi kabar duka, istri saya menangis sejadi-jadinya. Kondisi keluarga kami bagai diterpa badai maut. Tiga tahun Ia pengobatan, tapi kondisi Zivana masih sering ngos-ngosan, demam, batuk dan tidak bisa aktivitas berat. Namun, saya tidak mau kehilangan keluarga saya lagi, saya ingin Zivana sembuh dan mendapatkan jantung sehatnya. Sementara pikiran saya lebih rumit lagi karena harus memikirkan biaya pengobatan anak yang diintai penyakit mematikan. Saya merupakan guru di sekolah swasta yang honornya Rp600 ribu perbulan. Kebutuhan sehari-hari saja sulit untuk dipenuhi.Berat sekali memikirkan biaya karena Zivana harus bolak-balik berobat ke Jakarta dari tempat tinggal kami di Mojokerto, Jawa Timur. Belum lagi biaya obat yang tidak dicover BPJS, susu, hingga kebutuhan lain selama pengobatan anak di perantauan. #TemanBaik, mari bantu Zivana untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 3.455.003
3 hari lagi
Dari Rp 23.760.000
Donasi
Kemanusiaan
Perjuangan Anak Yatim Disabilitas Agar Bisa Hidup Lebih Mandiri
“Di sebuah bangunan sederhana di Garut, terdengar tawa kecil dan hangat anak-anak disabilitas. Mereka tinggal di Yayasan Karya Bhakti, tempat yang menjadi rumah bagi anak-anak dengan tunarungu, tunagrahita, hingga cerebral palsy. Di balik senyum mereka yang lembut, tersimpan cerita perjuangan yang tidak pernah kita lihat.”“Ada hari-hari ketika mereka hanya bisa makan lauk tahu dengan sedikit garam. Ada pula saat mereka mengenakan pakaian yang sudah sempit karena keterbatasan kebutuhan. Bantuan yang datang terbatas, membuat para pengurus terus berusaha keras agar setiap anak tetap hidup dengan layak.”Yayasan Karya Bhakti Garut berdiri pada 1975, dibangun oleh para mantan pejabat Pemda Garut yang tergerak melihat banyaknya anak-anak dengan disabilitas yang membutuhkan pendidikan dan harapan hidup di masa depan.Bermula dari niat tulus itulah, lahir sebuah tempat yang menjadi rumah kedua bagi anak-anak istimewa ini, tempat mereka belajar, tumbuh, dan bermimpi. Di yayasan ini, 30 anak menjalani hari-harinya melalui pendidikan Sekolah Luar Biasa. Anak-anak terdiri dari dari 12 anak tunagrahita (keterbatasan intelektual dan adaptif) dan 18 anak tuna netra (tidak bisa mendengar). Sebagian dari mereka adalah yatim, berasal dari keluarga kurang mampu, atau tinggal jauh dari orang tua. Namun, keterbatasan itu tidak pernah memadamkan semangat mereka.Setiap pagi, mereka menyambut pelajaran dengan mata berbinar. Mereka belajar mengenal huruf, menggambar, memilih warna, hingga membantu teman yang kesulitan belajar. Mereka tak hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga belajar untuk saling menguatkan.Di luar jam sekolah, mereka tetap produktif. Ada yang berkebun, ada yang memelihara ikan, ada pula yang membuat telur asin. Apa yang mereka panen, itulah yang mereka makan. Dengan usaha sederhana, mereka berjuang untuk hidup mandiri.Namun, sekeras apapun perjuangan anak panti untuk bertahan hidup dan menjadi mandiri seperti orang pada umumnya, cobaan di depan mata tak dapat dihindari. ayasan kini kesulitan biaya, bahkan untuk sekedar menyediakan makan sehari-hari.Para pengurus terus berusaha, saling patungan untuk membeli beras agar anak-anak ini tidak kelaparan. Bantuan dari pemerintah datang tak menentu, tidak bisa menjadi sandaran penuh. Saat ini anak panti membutuhkan beras, bahan dasar lauk pauk, dan kebutuhan lainnya untuk sehari-hari. #TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa menjadi harapan bagi para anak disabilitas di Yayasan Karya Bhakti agar bisa mewujudkan impian agar bisa lebih hidup mandiri. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 1.540.006
4 hari lagi
Dari Rp 16.985.000
Donasi
Anak
5 Kali Operasi Kepala, Hisyam Berjuang dari Abses Akut Hingga TB Paru!
“Aku hampir tak sanggup berdiri ketika dokter berkata ada nanah (abses) sebesar 3 cm di otak anakku! Dokter juga mengatakan sebagian otaknya sudah mengalami kerusakan, bahkan ada kemungkinan Ia bisa lupa bernapas.”“Di usianya yang belum genap setahun, anakku sudah melewati 5 kali operasi. Entah berapa banyak sayatan, jahitan, dan tusukan jarum yang terpaksa ia rasakan. Ia tidak bisa mengungkapkan sakitnya, tapi sorot mata sayunya bercerita lebih dari apapun.” -Rahma Wita, Orang tua Hisyam-Di usianya yang baru 40 hari, Muhammad Hisyam Al Najmi (1 thn), tiba-tiba mengalami demam tinggi disertai kejang hebat. Saat hasil pemeriksaan keluar, anakku mengalami hidrosefalus. Aku tidak tahu sepenuhnya penyakit itu, tapi hatiku dipenuhi ketakutan. Hisyam dipindahkan ke ruang PICU dan dinyatakan kritis! Bahkan, dokter mengatakan tingkat kesadarannya hanya 3%. Seketika air mataku jatuh. Aku tidak siap kehilangan anakku, anak yang sudah aku nantikan selama tiga tahun. Tuhan, Ia bahkan baru sempat aku peluk sebentar.Dokter akhirnya melakukan operasi untuk menyedot abses di otak anakku. Aku menangis lega ketika operasi itu berhasil dan Hisyam melewatinya dengan selamat. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Beberapa bulan kemudian, Hisyam tiba-tiba muntah berkali-kali dan kembali harus dirawat di rumah sakit.Mimpi buruk anakku ternyata belum usai. Abses di kepalanya muncul lagi, kali ini ukurannya lebih besar. Anakku harus kembali menghadapi meja operasi, tapi napasnya malah sesak. Ternyata penderitaannya bertambah, anakku mengalami pneumonia dan TB Paru. Sejak itu, perjuangannya semakin berat. Ia menjalani berbagai operasi hingga akhirnya dipasangi VP-Shunt untuk mengalirkan kelebihan cairan dari kepalanya ke perut.Masalah paru-parunya pun membuat ia membutuhkan alat bantu napas trakeostomi. Meski tubuhnya dipenuhi alat medis, tapi aku melihat semangat anakku untuk kesembuhannya. Saat fisioterapi, Ia berusaha keras mengangkat kepalanya sendiri. Setiap minggu, aku membawanya kontrol hingga 17 kali bolak-balik ke rumah sakit. Aku selalu ingin Ia punya kesempatan untuk sembuh.Namun harapanku sering kali runtuh ketika melihat isi dompetku. Penghasilan suamiku sebagai sopir jauh dari cukup untuk biaya pengobatan yang terus meningkat. Semua barang berharga telah kami jual demi merawat Hisyam. Kini, kami benar-benar kehabisan cara.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat bantu napas oksigen, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hisyam tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hisyam!
Dana terkumpul
Rp 17.254.006
1 hari lagi
Dari Rp 17.244.000
Donasi