Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Mendorong Gerobak Demi Harapan, Pedagang Jajanan Ini Tak Ingin Kehilangan Anaknya Lagi
“Setiap hari aku mendorong gerobak es dan jajanan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya berharap ada pembeli. Meski penghasilanku jauh dari kata pas-pasan, tapi itu bisa menjadi harapan untuk anakku bertahan dari penyakit jantung yang mengintai nyawanya.”“Aku sudah pernah kehilangan putriku akibat penyakit serupa. Kali ini, aku kembali ingin berjuang agar tak lagi kehilangan anakku. Aku yakin Tuhan tidak tidur. Segala usahaku sekecil apapun, akan ada jalan keluar yang tidak disangka-sangka.” -Jasher Arafat, Orang tua Ruzain-Belum kering bekas luka di hatiku, lagi-lagi aku harus menghadapi kenyataan pahit. Semua bermula ketika anakku, Muhammad Ruzain Abdul Haiy Guntoro (10 bln), mengalami sesak napas. Kondisi ini seperti tak asing karena pernah terjadi pada anakku yang lain yang telah tiada.Aku langsung membawa Ruzain ke rumah sakit dan disitulah duniaku rasanya diterjang badai. Anakku didiagnosa penyakit jantung bawaan dan pneumonia (infeksi paru-paru). Sejak itu, hari-hariku kembali dipenuhi dengan kekhawatiran. Anakku berubah, kuku jarinya mulai membiru. Setiap Ia minum susu, benakku dihantui kecemasan, takut napasnya tiba-tiba sesak dan membuatnya tersiksa. Jika itu terjadi, aku hanya bisa mendekapnya erat, memberikan ketenangan sambil menahan tangis.Sebelumnya anakku tampak ceria, justru lebih banyak diam. Aku harus membawanya bolak-balik ke rumah sakit di Padang dengan menempuh jarak 170 km dari Payakumbuh. Namun, kini anakku dirujuk untuk melanjutkan pengobatan di Jakarta. Namun, biaya menjadi kendala terbesar anakku. Sekedar untuk membawa anak ke rumah sakit saja, tak jarang aku dibantu oleh saudaraku. Bahkan, susunya saja sering tak terpenuhi. Beruntung saat itu pihak puskesmas yang mengetahui kondisi keluargaku memberikan susu gratis.Akhirnya aku menjual freezer dan boks es yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga selama ini. Aku juga mengambil pekerjaan sebagai kurir antar makanan, bekerja dari pagi sampai malam agar mendapatkan biaya untuk anakku memiliki harapan hidup.Pengobatannya panjang, anakku belum dioperasi. Saat ini anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ruzain tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ruzain!
Dana terkumpul
Rp 2.478.000
13 hari lagi
Dari Rp 16.240.000
Donasi
Anak
Bermula dari Kejadian Sepele, Dipta Berujung Didiagnosa Kanker Darah
“Semua bermula dari kejadian yang terlihat begitu sepele, anakku terjatuh ketika masih duduk di bangku TK! Tak ada firasat sedikitpun di hatiku bahwa itu akan menjadi awal penderitaannya. Tubuhnya semakin hari makin lemah, berat badannya turun drastis, wajahnya pucat, hingga akhirnya Ia tak lagi mampu berjalan.”“Anakku langsung masuk ICU rumah sakit selama 15 hari, terasa begitu panjang dan menyiksanya rasanya bagiku sebagai ibunya. Setiap detik aku hanya bisa memohon dan berharap keajaiban datang, tapi aku malah mendapatkan kabar mengerikan. Anakku didiagnosa kanker darah stadium 2!” -Juleha, Orang tua Dipta-Tiada satu hari pun berlalu tanpa rasa sakit yang terus datang pada kedua tulang kaki anakku, Dipta Anindia (6 thn). Aku harus selalu mendengar rintihan dan tangisnya menahan nyeri yang tak kunjung hilang. Tubuhnya sampai lemas karena, penyakit ini terus menghabisinya.Begitu banyak perjuangan yang sudah dilalui anakku untuk bertahan hidup. Mulai dari transfusi darah, kemoterapi, hingga operasi. Ia juga sering bolak-balik rumah sakit untuk menjalani rawat inap, seminggu tinggal di rumah sakit lalu seminggu kembali pulang, hanya untuk kembali berjuang lagi.Namun, semua pengobatan itu belum mampu menghilangkan penderitaan anakku. Efek kemoterapi membuat anakku sering mual, sulit makan, tenggorokan dan gusinya terasa perih. Sebagai ibu, hatiku hancur melihatnya harus menahan sakit sebesar itu di usia yang masih sangat kecil.Meski begitu, Dipta adalah anak yang sangat kuat. Ia hampir tak pernah menangis saat jarum suntik menusuk tubuhnya. Semua tindakan medis dijalaninya dengan tegar tanpa banyak mengeluh. Bahkan perjalanan jauh selama 5 jam menuju rumah sakit pun ia hadapi tanpa mengeluh. Sementara itu, kendala terbesar pengobatan anakku adalah biaya. Demi membawa anakku berobat dari Cirebon ke rumah sakit di Bandung selama ini, aku menjual motor dan barang-barang di rumah.Suamiku hanyalah seorang kuli bangunan, terkadang berjualan bakso ikan saat ada waktu senggang. Sedangkan aku sebagai ibu rumah tangga juga berusaha mencari tambahan nafkah agar pengobatan anakku tetap berjalan.Selain itu, aku juga perlu biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dipta tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dipta!
Dana terkumpul
Rp 2.618.000
11 hari lagi
Dari Rp 16.080.000
Donasi
Anak
Sudah menjalani Operasi 7 Kali! Leher Haziq dilubangi Akibat Penyakit Jantung
“Usianya baru 3 tahun, tapi tubuh kecil anakku sudah melalui 7 kali operasi! Aku hampir mengira sudah tidak ada lagi harapan hidup anakku, saat Ia sempat koma 1 bulan. Tapi, seperti keajaiban dari Tuhan, ia tetap bertahan dan berjuang hidup.”“Dokter sebenarnya menyarankan agar anakku dioperasi ke Malaysia, tapi aku hanya bisa pasrah karena terkendala biaya. Akhirnya, aku memilih jalan lain, yaitu anakku menjalani operasi pembuatan lubang pada lehernya sebagai jalan napasnya. Itu pun aku juga kesulitan, karena harus membeli alat medis yang mahal…” -Sarmina, Orang tua Haziq-Meski sudah operasi berkali-kali, tetapi anakku, Haziq Al Ghifari (3 thn), masih sering mengalami sesak napas hingga dilarikan ke ICU. Ia tidak pernah tidur nyenyak, sejak penyakit kelainan jantung dan kelainan darah mulai menggerogoti hidupnya.Waktu itu usianya masih 2 bulan, Haziq tiba-tiba sering menangis tak terkendali hingga badannya membiru. Tapi aku semakin terkejut ketika Ia kejang hingga tak sadarkan diri. Dunia terasa runtuh di depan mata, tapi aku juga harus buru-buru membawanya ke rumah sakit.Tapi rumah sakit menolak menangani karena aku tak mampu membayar biaya Rp10 juta per malam! Tangisku histeris, kemana saya cari biaya sebanyak itu? Sementara aku takut kehilangan nyawa anakku. Hingga akhirnya, anakku dirujuk untuk berobat ke rumah sakit umum.Dua bulan lamanya anakku mengalami kritis! Selama itu, aku berjuang sekuat tenaga, mulai dari meminjam uang sampai menggadaikan rumah demi pengobatannya. Syukurlah, anakku juga sangat berjuang untuk hidupnya, Ia perlahan membuka mata dan pulih.Kian hari, anakku semakin semangat untuk sembuh. Ia tak pernah menangis ketika ditusuk jarum infus. Bahkan, Haziq selalu bilang, “sembuh Haziq,” atau “Haziq sayang ibu,” hatiku rasanya pecah oleh haru dan bahagia.Namun, pengobatan anakku masih panjang dan biaya yang dibutuhkan juga terus membengkak. Suamiku bekerja keras sebagai penyadap karet dan pelayan di rumah makan, tapi penghasilannya tetap tak mencukupi. Bahkan, pernah suatu kali, aku hanya punya Rp17 ribu hasil pinjaman tetangga, itu pun hanya cukup untuk bensin dan membeli pampers eceran. Untuk susu, suamiku harus meminjam lagi ke rekan kerjanya.Anakku masih butuh biaya untuk bolak-balik ke rumah sakit, tiket pesawat untuk berobat dari Riau ke Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS uang sewa rumah selama berobat anak di Jakarta, susu, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Haziq tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Haziq!
Dana terkumpul
Rp 15.228.001
11 hari lagi
Dari Rp 25.948.000
Donasi