Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Alami Kelainan Kelamin, Devanka Belum Bisa Dinyatakan Laki-laki atau Perempuan!
“Anakku didiagnosa kelainan hormon yang menyebabkan alat kelaminnya tidak jelas! Akibatnya, Ia belum bisa dinyatakan laki-laki maupun perempuan. Tubuhnya lemah, kekurangan zat besi, dinyatakan stunting karena tumbuh kembangnya tak sejalan dengan usianya.”“Bagai dihantam bertubi-tubi, hancur sekali hatiku! Setiap hari aku diliputi kecemasan, tentang kesehatannya, tentang kebahagiaannya, tentang bagaimana ia akan menjalani hidupnya kelak. Aku hanya ingin ia tumbuh dengan layak dan tersenyum tanpa beban, tapi jalan yang harus Ia lalui terasa begitu berat.” -Rinda Ardianti, Orang tua Devanka-Anakku, Devanka Rizki (23 bln), lahir lebih cepat sebelum waktunya dan tubuhnya begitu rapuh dengan berat badan 1,4 Kg. Moment kehadiran anak yang seharusnya ku sambut dengan bahagia, seketika bercampur dengan kecemasan. Apalagi dokter menyampaikan Ia mengalami ambigu genitalia, kelainan alat kelamin. Tidak ada dekapan hangat rumah di hari-hari pertama kehidupannya, melainkan ruang NICU yang menjadi tempat istirahatnya selama 11 hari. Setiap detik waktuku rasanya diisi dengan ketakutan dan harapan, karena berkali-kali kondisi anakku menurun. Hingga akhirnya kondisi anakku perlahan membaik dan diizinkan pulang. Namun, perjalanan belum selesai, anakku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk penanganan lebih lanjut.Anakku menjalani 3 kali operasi pada alat kelaminnya. Namun, hingga kini anakku masih berada dalam ketidakpastian apakah Ia perempuan atau laki-laki. Tubuhnya terus bertahan dan berjuang untuk sembuh, tapi masa depannya seolah masih tertutup kabut. Operasi lanjutan masih menanti anakku ke depannya, tapi biaya pengobatannya bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku mulai menjual perhiasan dan emas dari pernikahanku karena kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.Suamiku bekerja sebagai pengemudi ojek online, berat subuh dan pulang larut malam. Itupun penghasilannya tak menentu, kerja kerasnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Terkadang, suamiku rela tidak makan, asal kebutuhan anak kami terpenuhi.Bahkan, aku pernah terpaksa menghentikan pembelian susu medis untuk anakku karena benar-benar tidak ada uang lagi. Akhirnya kondisi kesehatan menurun, begitu pula dengan berat badannya. Rasa bersalah menghantamku, karena tidak bisa memberikan yang terbaik.Hingga saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, tes laboratorium, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Devanka tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Devanka!
Dana terkumpul
Rp 1.345.000
12 hari lagi
Dari Rp 16.190.000
Donasi
Kemanusiaan
Hidup Sebatang Kara, Bantu Edy Sembuh dari Penyakit Saraf di Kaki
TemanBaik, perkenalkan saya Rustandi Eddy (63 tahun). Saat ini saya hidup sebatang kara dan tengah berjuang sembuh dari penyakit saraf kaki berat. Penyakit ini berawal pada tahun 2019, di mana saat itu saya sedang berada di bengkel dan selesai makan sate. Namun ketika hendak berdiri saya tidak bisa, kedua kaki saya terasa sakit sekali. Setelah diperiksakan, dokter mengatakan tensi saya 200. Sudah 2 kali berobat namun tidak juga ada perubahan, bahkan saya sudah gonta ganti dokter untuk mengobati penyakit saya ini, tapi saya tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya saya diberi surat pengantar untuk tes Elektroensefalogram (EEG) ke RSHS Bandung. Setelah diperiksa, menurut EEG saya didiagnosis pengidap penyakit saraf kaki berat. “Sudah minum herbal dan berobat terapi serta berobat kampung. Kalau tidak makan obat, sakitnya luar biasa bahkan tidak ada ngantuk walau 7 hari 7 malam,” ucap EdySaya membutuhkan bantuan Temanbaik untuk berobat, karena saya hidup sebatang kara, tidak memiliki anak dan juga istri. saya juga tidak berpenghasilan lagi karena tidak bisa jalan.Biaya untuk berobat selama ini hasil dari menjual harta benda yang ada di rumah dan sumbangan dari keluarga serta orang-orang baik. Jika tidak ada bantuan yang dikirim saya tidak makan. TemanBaik, maukah bantu saya sembuh dari penyakit saraf kaki berat ini? Saya ingin bisa bekerja lagi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari saya. bantuan dari TemanBaik nantinya akan saya gunakan untuk berobat, menebus obat resep dokter dan makan.Bantuan dari TemanBaik dapat disalurkan dengan cara: Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiPilih metode pembayaran, kalau ingin lebih praktis kamu bisa berdonasi dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay, atau kamu juga bisa berdonasi dengan cara transfer antar bank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul
Rp 30.831.989
5 hari lagi
Dari Rp 35.000.000
Donasi
Anak
Tubuhnya Terancam Kaku Permanen, Anak Pengantar Minuman Berjuang dari Cerebral Palsy
“Tubuh Anakku terancam kaku selamanya akibat penyakit cerebral palsy! Otaknya mengalami kerusakan, membuat Ia sering kejang-kejang. Demi menyelamatkannya, aku rela terlilit utang dari pinjaman online, meski setiap cicilan membuat napasku terasa makin sesak.”“Aku hanya seorang pengantar minuman, sedangkan suamiku bekerja sebagai buruh di pabrik pipa. Penghasilan kami pas-pasan, habis untuk sekedar bertahan hidup. Sementara satu anakku sedang sakit, dan yang lainnya berkebutuhan khusus. Mereka sama-sama membutuhkan biaya besar, tapi kemampuan kami begitu terbatas.” -Lia Aprianti, Orang tua Abid-Ketika hamil Abid Deyyan Alkhalifi (2 thn), aku sempat mengalami sesak napas hingga tak sadarkan diri akibat tensiku sangat tinggi. Dalam keadaan genting itu, dokter mengambil keputusan yang membuat lututku lemas. Abid harus dilahirkan lebih cepat dari seharusnya, dan resikonya kematian. Tapi syukurlah, Abid lahir dengan selamat. Tapi beberapa jam kemudian, kebahagiaan itu runtuh. Tubuh kecilnya mulai kejang berulang kali. Suamiku berlarian dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, mencari ruang NICU yang kosong demi menyelamatkan nyawa anak kami.Abid harus dirawat selama 16 hari. Aku sempat lega karena anakku tak pernah kejang lagi sejak itu. Namun, ketika Ia berusia 3 bulan, kenyataan pahit itu kembali dimulai. Kejangnya muncul berulang-ulang setiap hari, dan hingga kini masih menghantui hidupnya.Sudah tiga kali Abid dilarikan ke ruang PICU. Sampai hari ini, ia belum bisa melakukan aktivitas apa pun selain berbaring. Mengunyah pun Ia tak mampu, makan dan minumnya hanya dibantu dengan selang NGT yang dimasukkan ke hidungnya. Terkadang, Ia tiba-tiba ia melotot, menyilangkan kaki, lalu menangis sekeras-kerasnya. Demam mendadak dan turunnya saturasi oksigen sudah menjadi bagian dari hari-harinya. Penderitaan ini harus Ia jalani sepanjang hidupnya. Setiap hari ia minum obat kejang dan menjalani terapi agar tubuhnya tidak semakin kaku. Tapi di tengah semua kesakitan itu, aku bisa melihat dengan jelas semangat anakku untuk sembuh, Ia selalu tersenyum setiap menjalani terapi. Itulah yang membuatku terus berjuang demi pengobatannya meski dalam keterbatasan.Demi pengobatannya, kami sudah menggadaikan BPKB motor hingga sertifikat tanah. Kini aku merasa berada di ujung jurang, tak tahu lagi apa yang bisa kujual. Anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT rutin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Abid tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Abid!
Dana terkumpul
Rp 7.565.507
5 hari lagi
Dari Rp 13.078.500
Donasi