Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Sakit Jantung Hingga Ada Nanah Menumpuk di Kepala! Begini Perjuangan Orang tua Membawa Syaqila ke Jakarta
“Aku menempuh perjalanan dari Sulawesi ke Jakarta demi harapan kesembuhan anakku. Namun, semuanya runtuh ketika dokter mengatakan anakku belum bisa operasi jantung karena ada nanah menumpuk di kepalanya! Akhirnya anakku dirujuk ke rumah sakit lain untuk operasi kepala terlebih dahulu.”“Namun, 33 hari setelah operasi kepala, anakku demam tinggi. Sepanjang malam aku mengompresnya, tapi yang kudapati anakku malah kejang! Seketika aku teriak histeris memanggil dokter karena ketakutan. Anakku dilarikan ke ruang ICU. sementara aku hanya bisa bersujud, memenjatkan doa tanpa henti sepanjang malam, hingga Tuhan tunjukkan kuasanya. Anakku perlahan membaik…” -Jumriah, Orang tua Syakila-Dokter mendiagnosa anakku, Syaqila Aisyah Syarif (10 thn), mengalami penyakit jantung bawaan. Kondisinya terlalu parah, hingga komplikasi naik ke kepalanya. Kekurangan oksigen membuat pembuluh darah di otaknya terganggu, sampai akhirnya muncul penumpukan nanah yang mengancam nyawanya.Usianya masih 6 bulan saat penyakit ini menggerogoti tubuh mungilnya. Bermula dari tubuhnya yang tampak semakin lemah, napasnya sering sesak, kuku tangan, kaki, hingga bibirnya membiru. Selama 10 tahun ini, aku dan suamiku tidak pernah berhenti berjuang demi menyelamatkan nyawa Syaqila. Perjalanan pengobatan dimulai dari Sulawesi Barat, kami menempuh 8 jam perjalanan ke rumah sakit Makassar dengan membawa Syaqila yang dalam keadaan sesak napas.Dalam perjalan itu, tak jarang singgah di masjid untuk sekedar istirahat dan bermalam. Sampai di rumah sakit biasanya pagi hari dan baru selesai periksa menjelang malam. Selama 6 bulan kami jalani itu semua, hingga akhirnya anakku dirujuk pengobatan ke Jakarta.biaya seadanya dan berhemat, aku dan suami nekat membawa anak naik kapal ke Jakarta. Beralaskan karung untuk duduk dan beristirahat di pelabuhan menunggu keberangkatan. Tiga hari tiga malam perjalanan kapal, anakku selalu sesak napas karena banyak orang yang merokok. Sementara kondisiku juga tidak baik-baik saja karena mabuk laut. Sesampainya di Jakarta, kami tinggal di gang sempit. Ketika hujan deras, aku mendorong kursi roda anakku menuju rumah sakit, sambil memegang payung yang sering tersangkut di pagar rumah orang. Tak jarang air mataku sering jatuh, karena lelah dan sedih akan keadaan.Anakku sudah menjalani dua kali operasi pengangkatan nanah di otaknya, dan dua kali operasi bedah saraf. Pada operasi terakhir, Ia harus dirawat di ICU selama 5 hari. Hingga kini, ia masih terbaring di rumah sakit dan masih sering mengalami demam sampai tubuhnya menggigil. Perjalanan untuk pengobatan anakku masih panjang, Ia harus operasi jantung lanjutan. Kendala biaya selalu menjadi masalah utama pengobatan anakku. Suamiku hanya seorang kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Terkadang ia juga berjualan mainan keliling demi menambah penghasilan. Sementara itu, di Jakarta membutuh biaya untuk tempat tinggal, transportasi ke Jakarta dan ke rumah sakit, konsumsi, obat yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Syaqila tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Syaqila!
Dana terkumpul
Rp 3.143.000
1 hari lagi
Dari Rp 23.180.000
Donasi
Kemanusiaan
Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak
Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 14.169.446
15 hari lagi
Dari Rp 23.500.000
Donasi
Kesehatan
8 Tahun Alami Hipertiroid, Pedagang Kue Sempat Alami Kelumpuhan sementara
“8 tahun lamanya aku menderita hipertiroid! Aku tidak punya biaya untuk berobat, karena aku hanyalah seorang pedagang kue keliling yang penghasilannya pas-pasan.”“Akibatnya, tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku mengalami kelumpuhan semantara pada kaki dan kanan. Aku tak lagi bisa mencari nafkah dan juga tidak bisa lagi berobat karena tidak memiliki biaya.”Aku Febi Wahyudi (36 thn), kondisiku sempat memburuk hingga harus dilarikan ke IGD. Saat itu, tubuhku tak mampu digerakkan, jantung berdebar begitu kencang, keringat dingin mengucur, dan saya hanya bisa terbaring lemah. Aku hanya bisa terus berdoa sepanjang waktu, jangan sampai ini menjadi akhir dari hidupku.Dokter memberikan penanganan, termasuk pemberian kalium untuk mengatasi kelumpuhan, serta obat-obatan yang kini harus aku konsumsi secara rutin. Aku juga harus menjalani fisioterapi dan mengkonsumsi vitamin yang tidak semuanya ditanggung BPJS.Syukurlah, kondisiku berangsur membaik meski perjuanganku dengan penyakit ini belum selesai. Aku masih harus minum obat dan masih kesulitan melakukan aktivitas berat. Saat penyakit ini kambuh, aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, menahan pusing akibat vertigo hingga telingaku terasa berdengung.Di tengah kondisi ini, aku tetap berusaha bertahan. Aku mulai berjualan kue kembali meski dalam jumlah kecil. Penghasilanku terbatas, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berupaya meminjam uang pada orang-orang terdekat demi pengobatanku.Aku ingin sembuh, karena tidak ingin melihat ibuku terus menangis karena melihat kondisiku yang memprihatinkan. Namun, aku kesulitan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Febi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Febi!
Dana terkumpul
Rp 1.310.000
1 hari lagi
Dari Rp 4.600.000
Donasi