Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Minum Air Hujan Jadi Penopang Hidup Pengurus Gereja yang Mengidap Kanker Prostat
“Ya Tuhan, suamiku yang lemah karena kanker prostat terpaksa minum air hujan! Di tempat kami, air bersih sangat minim dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Aku hanya bisa memandang dompet kosong di tanganku, menangis dalam diam, menyaksikan tubuh suamiku terkulai tak berdaya di atas kasur tipis.”“Kain seadanya terpaksa aku gunakan sebagai pengganti popok yang tak mampu kubelikan untuk suamiku. Tubuhnya kian menyusut, tinggal tulang yang terbungkus kulit. Ia hanya bisa meringkuk, menahan nyeri yang tak ada habisnya. Berobat ke rumah sakit hanyalah mimpi yang terlalu jauh, obat warung murah menjadi satu-satunya harapan pereda nyerinya…” -Modesta Malo, Istri Pak Yohanes-“Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh, selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah yang kupuji.” (Yeremia 17:14). Doa itu tanpa henti dipanjatkan suamiku, Yohanes Bulu Poety (62 thn), Ia menanti keajaiban terjadi di tengah penderitaannya.Dahulu, suamiku adalah sosok yang aktif melayani gereja dan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Namun semua itu harus terhenti ketika nyeri hebat mulai menyerang pinggangnya. Awalnya, suamiku mengira Ia mengalami usus buntu. Tapi kenyataan lebih buruk dari mimpi buruk manapun.Kanker ganas menyerang saluran kencingnya. Risiko kelumpuhan terus mengancam. Dokter menyarankan kemoterapi dan operasi pengangkatan sel kanker, dengan biaya puluhan juta rupiah. Kami mencoba memohon ke pihak rumah sakit agar suamiku bisa berobat tanpa biaya, tapi hasilnya sia-sia.Sudah 4 Tahun suamiku berjuang melawan kanker ganas ini. Berkali-kali ia berteriak histeris menahan nyeri di pinggangnya. Persendian lututnya pun sering terasa seperti diremuk, hingga kakinya tak lagi bisa digerakkan.Lahan hingga peternakan sudah dijual demi pengobatan suamiku. Bolak-balik dari Sumba, NTT ke Denpasar, Bali menguras segalanya. kini, tak ada lagi harta tersisa, bahkan untuk sekedar kontrol rutin jarang dilakukan. Kini, akulah yang menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Setiap subuh aku pergi ke ladang memanen sayuran. Siangnya, aku menyiapkan makanan dan mengganti popok kain suamiku. Setelah itu, aku berkeliling menjual hasil ladang, berharap cukup untuk makan hari ini.Aku harus bertahan menghadapi terik matahari, hujan deras, rasa lapar, dan haus, demi sesuap nasi. Syukurlah, Tuhan masih menghadirkan orang-orang baik. Tetangga kerap mengantarkan makanan dan sesekali membantu merawat suamiku.Saat ini, suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, air mineral, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Yohanes tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Yohanes!
Dana terkumpul
Rp 4.091.002
12 hari lagi
Dari Rp 13.809.000
Donasi
Kesehatan
Terlunta di Jakarta Demi Kesembuhan, Habib Faizal Lawan Diabetes Hingga Sakit Jantung
“Akibat terlalu sering mengkonsumsi minuman manis, aku diduga mengalami kanker di leher jantung. Awalnya aku didiagnosis diabetes, tapi ternyata penyakit itu terus menjalar hingga aku mengalami 3 kali serangan jantung!”“Sudah 9 bulan aku terlunta-lunta demi berjuang berobat di kota Jakarta.ari masjid ke masjid aku mencari tempat berteduh untuk sekadar beristirahat setelah menjalani pengobatan di rumah sakit. Biaya untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan pun kian menipis, namun tekadku untuk sembuh tak pernah pupus.”Perkenalkan #TemanBaik, aku Habib Faizal Al Aydrus (56 thn), seorang ustadz yang mengajar mengaji di Lubuk Linggau, Bengkulu. Sejak usiaku 47 tahun, aku sudah harus menerima kenyataan yang berat. Aku mengalami diabetes kronis dengan kadar gula pernah mencapai angka 400. Aku juga didiagnosis mengalami gangguan paru-paru akibat sering menghirup asap rokok. Padahal, seumur hidup aku tidak pernah merokok. Namun karena lingkungan tempat tinggalku yang tidak sehat, akulah yang harus menanggung semua penderitaan ini.Hari demi hari, tubuhku menjadi mudah lelah dan sangat lemah. Aku sering tiba-tiba pingsan akibat tekanan darah dan kolesterolku naik tanpa peringatan. Dadaku sering sesak, nyerinya sampai menembus punggungku. Jantungku sering berdebar hebat, kepalaku pusing, malam yang panjang selalu ku lalui tanpa tidur nyenyak. Siapa sangka, dokter menyampaikan kabar yang membuat tubuhku gemetar. Aku mengalami Brugada Tipe 1, kondisi jantung yang sangat berbahaya. Dokter merujuk agar aku melanjutkan pengobatan di Jakarta. Kebun dan motor sudah ku jual, sama sekali tidak ada wali yang membantu. Di tengah kesulitanku itu, bantuan dari Allah datang. Murid-murid dan jamaah haji yang dengan tulus menggalang dana agar gurunya bisa sembuh. Aku sangat ingin sembuh, karena aku masih memiliki anak yang berusia 13 tahun yang masih membutuhkan orang tuanya. Aku ingin tetap hidup untuk melihat anakku tumbuh dewasa. Aku masih ingin beribadah, berdakwah, dan mengajar anak-anak majelis.Aku harus menjalani operasi pemasangan ICD, alat bantu untuk mengatur irama detak jantung. Namun, aku sudah kehabisan tabungan selama pengobatan di Jakarta selama ini. Sementara aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Habib Faizal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Habib Faizal !
Dana terkumpul
Rp 1.800.001
14 hari lagi
Dari Rp 16.842.880
Donasi
Anak
Ashfa Terus Muntah-muntah Akibat Tidak Punya Lubang Anus
“Kesedihan dan putus asa, itulah yang aku rasakan sebagai orang tua ketika mengantarkan anakku ke meja operasi. Tubuhnya masih kecil, rapuh dan tak berdaya, tapi perutnya harus dilubangi sebagai jalan BAB-nya sementara.”“Demi menyelamatkan nyawanya, aku menjual motor dan beberapa aset keluarga. Operasi pertamanya tak ditanggung BPJS, dan sejak itu pengobatan terus berjalan tanpa henti. Kini aku kehabisan biaya, aku bahkan tak mampu membawanya ke rumah sakit ketika Ia menangis kesakitan. Hancur sekali hatiku, rasa bersalah membayangiku karena ketidak mampuan melindungi anakku.” -Rita Marita, Orang tua Ashfa-Sejak detik pertama Ashfa Muhammad Abil Abbas (8 bln) lahir, kecemasan sudah menjadi hal yang selalu kurasakan. I-ku tak keluar, sehingga aku terpaksa memberi anakku susu formula. Namun, ternyata anakku malah muntah-muntah.Awalnya kupikir Ia hanya tidak cocok dengan merek susu tertentu. Namun, ketika sudah ganti merk lain, kondisi anakku tak ada perubahan. Tapi harapan itu perlahan runtuh, muntahnya tak berhenti dan bahkan sampai mengeluarkan lendir hijau.Saat aku bawa ke klinik, anakku disarankan untuk mengganti merek susu lagi. Muntahnya memang sempat reda, tapi aku curiga melihat perutnya yang tiba-tiba membengkak tak wajar. Rasa takut itu mendorongku untuk membawa anakku periksa lagi ke dokter. Jawaban dari semua kebingungan itu datang dengan begitu kejam. Pihak klinik menemukan bahwa anakku tidak memiliki lubang anus (atresia ani)! Ususnya tersumbat, membuat kotoran menumpuk di dalam tubuh kecilnya dan perutnya membesar. Saat mendengar diagnosis itu, lidahku kelu, dunia seakan berhenti berputar, terlebih ketika tahu biaya operasinya tidak ditanggung BPJS. Demi menyelamatkan nyawa anakku, aku menjual barang-barang berharga, menggadaikan sertifikat rumah, dan berutang ke sana-sini. Operasi pertama telah ia jalani, namun perjuangan belum selesai. Masih ada dua operasi lanjutan yang harus dilewati. Kini, anakku harus BAB melalui lubang di perutnya. Setiap hari aku membutuhkan kantong stoma untuk menampung kotorannya, sebuah kenyataan yang begitu perih untuk diterima seorang ibu.Biaya pengobatan semakin menyesakkan. Pernah aku menahan lapar seharian, hanya demi menyisihkan uang untuk membeli satu botol obat pereda nyeri bagi anakku. Satu kali operasi tak serta-merta menghapus rasa sakit di tubuhnya. Aku hanyalah seorang buruh pabrik. Suamiku melakukan pekerjaan apa pun yang bisa ia kerjakan, berjualan gorengan, lalu menarik ojek online hingga larut malam. Kami lelah, tapi tak pernah menyerah, karena yang kami perjuangkan adalah masa depan anak kami.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, kontrol rutin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ashfa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ashfa!
Dana terkumpul
Rp 4.277.500
7 hari lagi
Dari Rp 4.175.000
Donasi