Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Berjuang di Sisa Usia, Pak Mugni Berjuang Melawan Kanker Usus Stadium 4

“Saat ini aku sedang bertarung melawan kanker stadium empat! Namun, perjuangan ini bukan hanya milikku seorang, tapi juga ada istriku, wanita yang tak pernah pergi meski setiap hari menyaksikanku menahan sakit. Di usia kami yang tak lagi muda, kami hanya hidup berdua, tanpa anak, dan saling menguatkan.”“Setiap hari perutku melilit hebat, membuatku merintih. Di sisi tempat tidur, istriku hanya bisa menangis, tak berdaya karena sering tak punya biaya untuk membawaku berobat. Ia hanya bisa mengusap perutku berulang kali, berharap sentuhannya bisa meredakan rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.”Aku Mugni (57 thn). Dulu aku seorang petani, pekerjaan yang membuatku merasa hidup, karena membuatku menafkahi diriku dan istriku. Namun, penyakit ini merenggut segalanya, tak hanya tubuhku, tapi juga penghasilanku. Kini, hidupku semakin sulit karena tak bisa bekerja lagi. Perut sebelah kiriku bengkak dan mengeras saat pertama kali penyakit ini datang. Aku sampai tidak bisa BAB, bahkan buang angin pun tidak. Dengan harapan sembuh, aku bergegas ke rumah sakit. Tapi kenyataannya, perutku malah makin membengkak hanya dalam waktu 1 malam.Dokter mengungkapkan kenyataan yang begitu kejam, aku didiagnosa kanker usus. Duniaku runtuh, sejak itu hidupku tak mudah. Aku buang air melalui perutku yang dilubangi, dengan ususku berada diluar perut setelah 2 kali menjalani operasi. Tubuhku semakin kurus dihabisi penyakit, bagai tulang dibalut kulit.Selama ini, kebutuhan sehari-hari dan pengobatan, aku hanya bisa menunggu bantuan dari keluarga dan tetangga. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Pernah kondisi tubuhku memburuk karena pengobatan terputus karena tak ada biaya.Di tengah semua kesulitan itu, istriku setiap hari merawatku, mengantarkanku bolak-balik ke rumah sakit dengan tubuhnya yang juga mulai renta. Kesabarannya menjadi kekuatan yang sering kali membuatku menahan air mata.Aku masih ingin sembuh. Aku ingin bisa bekerja lagi, berdiri di atas kaki sendiri, dan tidak merepotkan siapa pun. Namun jalanku masih panjang. Aku masih harus menjalani kemoterapi dan berbagai pengobatan lainnya.Saat ini aku sangat membutuhkan biaya transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, kantong kolostomi untuk menampung kotoran buang air, alat medis, dan kebutuhan lainnya. 
Dana terkumpul Rp 4.747.001
13 hari lagi Dari Rp 31.005.000
Donasi
camp
Anak

Tubuhnya Terancam Kaku Permanen, Anak Pengantar Minuman Berjuang dari Cerebral Palsy

“Tubuh Anakku terancam kaku selamanya akibat penyakit cerebral palsy! Otaknya mengalami kerusakan, membuat Ia sering kejang-kejang. Demi menyelamatkannya, aku rela terlilit utang dari pinjaman online, meski setiap cicilan membuat napasku terasa makin sesak.”“Aku hanya seorang pengantar minuman, sedangkan suamiku bekerja sebagai buruh di pabrik pipa. Penghasilan kami pas-pasan, habis untuk sekedar bertahan hidup. Sementara satu anakku sedang sakit, dan yang lainnya berkebutuhan khusus. Mereka sama-sama membutuhkan biaya besar, tapi kemampuan kami begitu terbatas.” -Lia Aprianti, Orang tua Abid-Ketika hamil Abid Deyyan Alkhalifi (2 thn), aku sempat mengalami sesak napas hingga tak sadarkan diri akibat tensiku sangat tinggi. Dalam keadaan genting itu, dokter mengambil keputusan yang membuat lututku lemas. Abid harus dilahirkan lebih cepat dari seharusnya, dan resikonya kematian. Tapi syukurlah, Abid lahir dengan selamat. Tapi beberapa jam kemudian, kebahagiaan itu runtuh. Tubuh kecilnya mulai kejang berulang kali. Suamiku berlarian dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, mencari ruang NICU yang kosong demi menyelamatkan nyawa anak kami.Abid harus dirawat selama 16 hari. Aku sempat lega karena anakku tak pernah kejang lagi sejak itu. Namun, ketika Ia berusia 3 bulan, kenyataan pahit itu kembali dimulai. Kejangnya muncul berulang-ulang setiap hari, dan hingga kini masih menghantui hidupnya.Sudah tiga kali Abid dilarikan ke ruang PICU. Sampai hari ini, ia belum bisa melakukan aktivitas apa pun selain berbaring. Mengunyah pun Ia tak mampu, makan dan minumnya hanya dibantu dengan selang NGT yang dimasukkan ke hidungnya. Terkadang, Ia tiba-tiba ia melotot, menyilangkan kaki, lalu menangis sekeras-kerasnya. Demam mendadak dan turunnya saturasi oksigen sudah menjadi bagian dari hari-harinya. Penderitaan ini harus Ia jalani sepanjang hidupnya. Setiap hari ia minum obat kejang dan menjalani terapi agar tubuhnya tidak semakin kaku.  Tapi di tengah semua kesakitan itu, aku bisa melihat dengan jelas semangat anakku untuk sembuh, Ia selalu tersenyum setiap menjalani terapi. Itulah yang membuatku terus berjuang demi pengobatannya meski dalam keterbatasan.Demi pengobatannya, kami sudah menggadaikan BPKB motor hingga sertifikat tanah. Kini aku merasa berada di ujung jurang, tak tahu lagi apa yang bisa kujual. Anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT rutin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Abid tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Abid!
Dana terkumpul Rp 6.550.500
1 hari lagi Dari Rp 6.528.000
Donasi
camp
Anak

Bantu Anak Buruh Tukang Jahit Sembuh dari Kelainan Jantung Bawaan

Kami menjual tanah warisan orang tua untuk membiayai perjalanan pengobatan Gama ke Jakarta. Meski hasil penjualan tidak seberapa, semangat untuk membawa Gama mendapatkan perawatan tetap membara. Ini anakku, Gama (2th). Kami tinggal di Pegaden Tengah, Kel. Pegaden Tengah, Kec. Wonopringgo - Pekalongan. Gamma lahir dari keluarga sederhana yang mengandalkan penghasilan ayahnya sebagai buruh tukang jahit pakaian. Sehari-hari, ayahnya berjuang dengan upah harian Rp 60 ribu rupiah, mencukupi untuk kebutuhan makan keluarga. Walaupun kondisi ekonomi kami terbilang sulit, namun kehadiran Gama merupakan anugerah terindah. Kehadirannya menjadi sinar dalam keluarga kami. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika Gama mengalami masalah kesehatan serius.Gama lahir sehat di RSUD Kraton Pekalongan. Sayangnya, pada usia 5 bulan ia mulai mengalami sesak nafas, demam, dan batuk-batuk. Pertumbuhannya pun terhenti secara drastis. Ini semua karena kelainan jantung bawaan diagnosis VSD yang dideritanya. Ini kabar yang sangat menyedihkan untuk kami. Mendengar kabar ini, kebingungan menghampiri kami. Dana yang diperlukan mencapai 100 juta lebih. Sumber penghasilan kami hanya dari suamiku yang bekerja keras sebagai buruh jahit. Sementara kami tetap harus memenuhi rujukan dokter ke RS Harapan Kita Jakarta supaya anakku mendapatkan penanganan yang lebih baik. Kebutuhan hidup dan biaya di Jakarta sungguh besar, tapi kami hanya bisa berharap akan ada keajaiban dan rezeki dari arah mana saja yang terus memacu kami untuk melangkah menjemput kesembuhan anak kami, Gama.#TemanBaik, usaha demi usaha sudah kami lakukan walaupun hasilnya belum seberapa. Untuk itu kami membutuhkan uluran tangan supaya bisa mencukupi kebutuhan anak kami selama masa pengobatan di Jakarta. Bagi yang ingin membantu, bisa klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul Rp 11.365.009
6 hari lagi Dari Rp 100.000.000
Donasi

Pilihan Campaign