Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Derita 9 Tahun Penyakit Prostat, Tangis Bapak Ngatiyo Tak Tertahan Tiap Kencing Darah
“Bapakku sempat pesimis, dengan suara lirih dan putusasa Ia mengatakan ingin mati saja! Ia tidak sanggup menahan sakit yang terus menghantuinya, Ia juga sedih karena menjadi beban bagi anaknya sendiri. Bayangkan saja, 9 tahun lamanya bapakku bertahan dengan penyakit prostat di tubuhnya.”“Setiap kali kambuh, bapakku akan menjerit kesakitan dan menangis pecah menggema di rumah. Saking menderitanya, kencingnya sampai mengeluarkan darah. Sudah 9 kali bapakku harus pasang-copot selang kencing, itulah bukti perjuangannya untuk bertahan setiap harinya.” -Sri Kusnia, anak dari Bapak Ngatiyo-Bapakku, Ngatiyo Muklis (67 thn), kini hanya terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Tubuh yang dulu kuat mencari nafkah, kini tak lagi mampu menahan rasa sakit yang terus menghantui setiap harinya.Semua bermula pada 2017 silam, bapak selalu mengalami nyeri hebat setiap buang air kecil. Bahkan, terkadang kencingnya bercampur darah. Hingga suatu hari, bapak sama sekali tidak bisa buang air kecil. Aku pun membawanya ke puskesmas karena sangat khawatir.Saat itu, petugas kesehatan memasangi bapak selang kencing selama 2 minggu sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar.Dokter mengatakan bapakku terkena prostat, sehingga membuat saluran kencingnya tersumbat. Seiring waktu, penyakit bapakku semakin parah. Hal yang paling mengerikan adalah kencingnya tak hanya keluar darah, tapi juga nanah. Rasa sakit yang Ia rasakan semakin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, dokter memutuskan agar bapakku dioperasi karena sudah di tahap infeksi. Sebenarnya bapak sempat menolak, karena takut operasi tersebut lenyakitkan dari apa yang selama ini Ia rasakan. Namun, demi harapan sembuh, Bapak tetap memberanikan diri. Sayangnya, setelah operasi, kondisi bapak justru semakin menurun.Sepulang ke rumah usai operasi, bapak merasa kesakitan luar biasa. Ia kehilangan nafsu makan dan muntah-muntah. Bahkan, untuk bangun dan duduk pun, bapak sudah tidak sanggup. Bapak harus kontrol rutin lebih lanjut, tapi kondisi ekonomi keluarga kami juga terpuruk.Saat masih sehat, bapak bekerja sebagai tukang parkir. Sejak sakit, bapak tidak bisa bekerja lagi dan ibu juga tidak punya penghasilan. Aku pun berinisiatif membawa bapak dan ibu tinggal bersamaku. Aku tidak tega melihat bapak sampai tidak bisa tidur tenang karena kesakitan.Tapi kondisi ekonomiku juga sangat kurang, suamiku hanya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan, yang harus mencukupi kebutuhan kami dan tiga anak. Dalam keadaan terdesak, aku bahkan menjual kendaraan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, hanya agar bapak bisa tetap berobat. Perjuangan bapak belum berakhir, Ia bapa masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit yang jaraknya jauh, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, vitamin, dan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bapak Ngatiyo tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bapak Ngatiyo!
Dana terkumpul
Rp 2.512.001
3 hari lagi
Dari Rp 18.110.000
Donasi
Keagamaan
Belum Punya Gereja, Kami Terpaksa Ibadah di Bangunan Bekas Posyandu
Untuk sementara, ibadah dilangsungkan di bangunan bekas posyandu yang diperluas dengan material swadaya dan seng bekas sumbangan warga. Tentunya ini sudah mendapat izin pemerintah desa.Hai TemanBaik, Inilah penampakan tempat ibadah bagi kami jemaat di Dusun Wairhubing, Desa Watuliwung, Kecamatan. Kangae, Kabupaten. Sikka - Nusa Tenggara Timur. Sekilas, Gereja Stasi Santo Agustinus Wairhubing ini mungkin terlihat seperti bukan tempat ibadah pada umumnya bukan? Ya memang, karena ini bangunan bekas posyandu yang diperluas dengan material swadaya dan seng bekas sumbangan warga. Bahkan kalau jemaatnya banyak, kami harus pasang terpal di luar supaya nggak kepanasan. Sangat sederhana, bahkan jauh dari kata mewah, tapi di sinilah kami memanjatkan doaSelama ini, jemaat masih bergotong royong untuk pembebasan tanah guna pembangunan gereja dengan cara lelang lagu, patungan, penjualan kaos berlogo Stasi St. Agustinus dan usaha kreatif. Meskipun dari segi ekonomi sangat kurang, namun kami tetap antusias dan nggak menurunkan sedikit pun semangat kami untuk segera memiliki gereja sendiri. Dengan total 258 KK atau 947 jiwa, kami bergotong royong membagi tugas dalam pembangunan gereja ini. Pelan-pelan kami usahakan agar kebutuhan gereja terpenuhi walaupun sebenarnya sulit. Sebab gereja masih membutuhkan kelengkapan bangku, sound system, meja dan lainnya. Semoga kerja keras kami ini membuahkan hasil, dan nantinya kami bisa segera memiliki gereja sendiri. Untuk TemanBaik yang mau membantu pembangunan Gereja Stasi Santo Agustinus Wairhubing, dapat menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul
Rp 69.235.101
11 hari lagi
Dari Rp 200.000.000
Donasi
Anak
“Adek Ingin Main Bola,” Harapan Kecil Reyndra untuk Mendapatkan Jantung Sehatnya
“Dalam kepolosannya, anakku sering bertanya, ‘Ayah… dede mau lari-lari, mau main bola. Dede nanti sembuh kan ya?’ Ia belum mengerti betapa berat kenyataan yang harus dihadapinya. ““Namun, setiap kata dari anakku menyimpan harapan besar yang tak tega aku biarkan pudar. Kalimat sederhana itu menjadi kekuatan terbesar untuk terus memperjuangkan kesembuhan anakku. Kelak, aku ingin melihatnya berlari, tertawa dan hidup seperti anak-anak sehat lainnya.” -Opik Taufik, Orang tua Reyndra-Tangisan pertama seorang bayi biasanya menjadi tanda kebahagiaan bagi orang tua. Namun, tidak bagiku dan suami…Anakku, Muhammad Reyndra Ardhana Rahman (4 thn), lahir melalui operasi sesar d karena posisi sungsang. Saat itu, aku menanti suara tangis pertama anakku dengan penuh harap, tapi yang terjadi justru keheningan. Anakku lahir tanpa tangisan, saat itu seketika aku mengalami ketakutan yang luar biasa. Setelah diperiksa, dokter menyampaikan kabar yang mengguncang perasaanku. Ada kebocoran dan penyempitan pada jantung anakku! Ia juga kekurangan oksigen sampai tubuhnya membiru. Dokter saat itu memutuskan agar anakku menjalani perawatan di inkubator selama 3 hari. Bayi kecilku, Ia sudah harus langsung berjuang untuk bertahan hidup begitu lahir di dunia. Hari-harinya tak pernah mudah, Ia sering mengalami sesak napas, mudah lelah dan tubuhnya sampai kebiruan. Dokter akhirnya merujuk anakku untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. Bermodal nekat dan uang seadanya, enam jam perjalanan ku tempuh membawa anakku dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta. Namun, pengobatan berlangsung panjang, harus berkali-kali aku membawa anakku bolak-balik berobat ke perantauan. Hingga akhirnya semua uang habis, pengobatan anakku terpaksa terhenti.Seiring waktu, kondisi anakku kembali memburuk. Napasnya sesak dan anakku mengalami kelemahan pada kaki hingga tak mampu berdiri akibat kekurangan oksigen. Aku tak bisa diam saja, akhirnya aku menjual motor dan bahkan menggadaikan sertifikat rumah orang tuaku agar bisa membawa anakku berobat ke Jakarta. Syukurlah, setelah menjalani kateterisasi jantung di rumah sakit di Jakarta, kondisi anakku mulai membaik. Meski sudah ada perkembangan, tubuh anakku sesekali masih membiru dan nafsu makan anakku menurun.Anakku masih harus kontrol rutin dan menunggu operasi lanjutan pemasangan ring. Perjuangan anakku belum selesai, sementara biaya masih terus berjalan. Aku hanyalah buruh di vendor yg bekerja sama dengan PLN, penghasilanku hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reyndra tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reyndra!
Dana terkumpul
Rp 11.895.000
3 hari lagi
Dari Rp 11.595.000
Donasi