Panggilan Mendesak

camp
Kemanusiaan

Berbagi Beras Gratis untuk 50 Lansia di Daerah Pekanbaru

Adanya pembatasan import dan fenomena El Nino berkepanjangan, berdampak pada menurunnya produksi beras sejak Agustus 2023. Situasi ini menyulitkan lansia duafa, yang untuk makan sehari-hari saja mereka masih kesusahan. Hai TemanBaik,Beras yang menjadi makanan pokok kita, nyatanya nggak bisa didapatkan dengan mudah. Khususnya bagi TemanKita yang hidup dalam himpitan ekonomi. Siapakah yang paling terdampak dari kelangkaan dan kenaikan harga beras ini? Tentu mereka adalah lansia duafa yang hidup serba kekurangan, bahkan dalam kondisi normal untuk makan sekalipun sangat sulit.Mereka nggak pernah bingung dan bertanya “enaknya pesan makanan apa?”. Yang mereka pikirkan adalah “Besok ada beras atau tidak ya?” Kondisi ini tentu menyedihkan untuk kita yang masih bisa mendapatkan makanan dengan mudah. Maka dari itu, kami Berbagi Takkan Rugi sebagai komunitas ingin menunjukkan kepedulian kepada sesama terutama kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.Kali ini, kamu akan membagikan beras gratis untuk lansia duafa sebanyak kurang lebih 50 orang di daerah Pekanbaru. Gerakan kebaikan ini tentunya nggak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya bantuan dan dukungan dari TemanBaik. Semakin banyak yang mendukung kegiatan ini, akan semakin banyak pula lansia duafa yang terbantu. Untuk TemanBaik yang mau membantu pengadaan beras dapat menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang ya! 
Dana terkumpul Rp 11.464.008
5 hari lagi Dari Rp 16.000.000
Donasi
camp
Anak

Mulut Alicia Terus Mengeluarkan Darah Akibat Operasi Jantungnya Gagal!

“Operasi jantung anakku gagal! Akibatnya, Ia sering mengalami pendarahan yang keluar dari mulutnya di tengah napasnya yang sesak. Dokter menyarankan anakku cek kromosom, tapi apa daya, biaya untuk itu belum sanggup kupenuhi.”“Setiap hari, air mataku menjadi saksi betapa berat perjuangan anakku melawan sakit. Dalam setiap helaan napasnya yang lemah, aku hanya bisa memanjatkan doa, semoga ada pertolongan untuk melanjutkan pengobatan. Aku ingin melihatnya tersenyum tanpa rasa sakit…” -Puji Lestari, Orangtua Alicia-Saat Alicia Alessandra Manulang (2 thn) lahir, aku kira semua baik-baik saja. Dokter bilang anakku terlahir sempurna, tidak ada cacat sedikitpun. Namun, tak lama kemudian, aku terkejut mendapati  tubuhnya mulai menguning. Saat dibawa ke dokter, anakku dinyatakan mengalami infeksi pusar dan harus dirawat di inkubator. Sejak itu, hari-hariku berganti dengan tangis dan doa tanpa henti. Namun, kenyataan menghantamku lebih keras dari yang kubayangkan. Alicia  didiagnosa down syndrome, jantungnya bocor 1,7 mm, dan mengalami gizi buruk! Terpukul sekali rasanya, apalagi aku tahu, aku tak memiliki cukup biaya untuk pengobatannya. Sebagai ibu, tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak sendiri menderita, sementara aku tak mampu memberi yang terbaik, bahkan untuk membeli susu khusus pemulihan gizinya aku tak mampu.Suamiku hanya seorang sopir antar-jemput anak sekolah, dan aku tak bisa bekerja karena harus merawat Alicia dan kakaknya yang masih duduk di kelas 1 SD. Namun dibalik semua lelah dan air mata, aku tak pernah berhenti berjuang.Anakku merupakan satu-satunya yang menguatkanku dalam menghadapi hidup yang berat ini. Aku melihat semangat hidup yang luar biasa. Meski tubuhnya lemah, Alicia selalu berusaha tersenyum dan tetap aktif. Ia juga selalu semangat mengikut terapi untuk perkembangannya. Aku yakin Ia bisa sembuh!Kapan pun ada kesempatan, aku mencoba mencari uang tambahan dengan menjualkan dagangan orang lain. Hasilnya memang tak seberapa, tapi bagiku itu adalah harapan untuk anakku. Operasi keduanya harus segera dilakukan, namun lagi-lagi biaya menjadi dinding besar yang sulit kutembus.Bahkan untuk kontrol rutin dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat saja, aku sering harus meminjam uang dari keluarga atau teman. Belum lagi untuk obatnya yang tidak dicover BPJS, susu khusus, alat bantu pernapasannya dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alicia tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alicia!
Dana terkumpul Rp 8.296.500
4 hari lagi Dari Rp 14.581.000
Donasi
camp
Anak

Ibu Harus Banting Tulang Sendirian, demi Operasi Jantung Bocorku

Kalau nggak minum obat, nanti kondisi jantungku bisa lebih parah dan tekanan paru yang tinggi bikin aku sulit dioperasi, Kak. Hai Kak,Kenalin, aku Angelyn (5th) dari Blitar, Jawa Timur. Aku menderita kelainan jantung bawaan (jantung bocor) sejak lahir, tapi baru ketahuan saat umurku 5 bulan. Ibu bilang, waktu itu ia khawatir banget dengan kondisiku yang berat badannya nggak stabil. Katanya, aku rewel. Padahal, kebutuhan ASI-ku tercukupi sekali. Napasku juga ngos-ngosan seperti orang habis lari Kak, sampai ada cekungan di leherku. Ketika posyandu, petugas medis malah mengira, kalau aku menderita gizi buruk. Lalu, aku diperiksa ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Di sana, aku melewati banyak tindakan medis, seperti echo dan thorax. Ternyata, aku menderita jantung bocor. Sedih banget, Kak.2018, harusnya aku berangkat ke RS Harapan Kita, Jakarta, untuk tindakan selanjutnya. Namun, ibu baru bisa membawaku ke sana 4 tahun kemudain, karena uangnya baru kekumpul. Kondisiku juga sering drop, sampai jadwal kateterisasiku tertunda.  Aku pengen cepat sembuh Kak, supaya ibu nggak capek lagi. Jangan tanya ayahku dimana ya, Kak! Semenjak pisah sama ibu, ia nggak pernah kasih nafkah untuk kami berdua. Sementara, aku harus tetap minum obat-obatan, khusus untuk mengurangi beban jantung, mengeluarkan cairan, dan hipertensi paru. Kak, bolehkah aku dibantu? Ibu kesusahan memenuhi kebutuhan pengobatan ke rumah sakit. Kalau kakak mau bantu, salurkan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul Rp 20.687.061
14 hari lagi Dari Rp 59.402.000
Donasi

Pilihan Campaign