Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Akibat Kanker Serviks, Aku Mengalami Pendarahan Tanpa Henti dan Nyeri Hebat
“Aku terkejut dan nyaris pingsan, saat dokter bilang aku mengalami kanker serviks! Penyakit mematikan itu tumbuh ganas di leher rahimku. Pantas saja aku sampai tak sanggup berdiri, ternyata nyeri hebat yang selama ini kurasakan bukan sakit biasa.”“Penderitaanku semakin bertambah ketika aku dirujuk pengobatan dari Papua ke Jakarta. Di tengah tubuhku yang lemah, aku dipenuhi ketakutan tentang ‘harus cari uang kemana?’ Biaya hidup di Jakarta begitu besar, sementara rasa sakit tak tertahankan ini tak bisa ditunda dan terus menyergapku.”Namaku, Wiki Widiawati Nasba (37 thn), seorang istri sekaligus Ibu yang kini berjuang sembuh dari kanker serviks stadium 3B. Rasa sakit ini begitu berat, tapi yang paling menakutkan bagiku adalah membayangkan jika aku pergi lebih cepat. Anakku masih berusia 7 tahun, Ia masih membutuhkan pelukan dan kehadiranku. Aku masih ingin terus hidup, menggenggam tangan putriku dan menyaksikannya tumbuh besar. Namun saat ini bahkan untuk memeluknya pun aku tak mampu. Aku harus berobat jauh ke Jakarta. Hari-hariku kini kuhabiskan terbaring di kamar rumah sakit sambil merindukan anakku.Penyakit ini bermula dari pendarahan tidak normal yang aku alami sebulan penuh. Saat itu, pihak puskesmas hanya memberikanku obat untuk menghentikan pendarahan saja. Aku sempat lega dan mengira aku sudah sembuh, karena pendarahan itu memang berhenti. Namun 2 bulan kemudian, kondisiku kembali memburuk. Aku mengalami keputihan yang semakin hari semakin banyak, disertai dengan pendarahan. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perut hingga ke pinggulku. Lantaran pendarahannya semakin tidak terkontrol, aku dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani transfusi darah. Sayangnya, aku tidak menjalani pemeriksaan lanjutan karena keterbatasan alat. Hingga akhirnya, aku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di Sorong, Papua. Di sanalah, penyakit itu terungkap!Sejak itu, aku harus bolak-balik rumah sakit untuk mendapat transfusi darah. Tubuhku luar biasa lemas. Aku tak lagi mampu mencuci, memasak, atau melakukan aktivitas sederhana lainnya. Saat penyakit ini kambuh, aku hanya bisa terbaring, menahan rasa sakit sendirian dalam diam.Melihat kondisiku yang kian memburuk, kerabat dan orang sekitar berusaha membantu hingga aku bisa berobat ke Jakarta. Namun perjuangan belum selesai, biaya hidup di perantauan sangat besar. Suamiku tak bisa bekerja karena harus mendampingiku selama pengobatan. Tabungan dari penghasilannya sebagai buruh pabrik pun kini telah habis. Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Wiki tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Wiki!
Dana terkumpul
Rp 5.650.004
1 hari lagi
Dari Rp 6.480.000
Donasi
Kesehatan
Leher Nida Menonjol Akibat Tumor Ganas, Menoleh pun Tak Bisa!
“Sembilan tahun aku hidup dengan tumor ganas di leherku! Masa remajaku yang seharusnya indah dan penuh keceriaan, harus kulewati dengan rasa sakit. Ada hariku hanya bisa menunduk, cukup minder karena kondisiku berbeda, leherku bengkak sebelah.”“Dokter bilang aku harus kemoterapi dan radioterapi. Namun, Ibuku yang bekerja hanya sebagai penyapu jalan, tampak lemas ketika mendengar pengobatan cukup besar. Sementara itu, nyawaku bisa terancam jika aku tak pengobatan.”Perkenalkan, Aku Nida Alya Nur (24 thn). Penyakit ini mulai menghantui hidupku sejak aku masih 17 tahun. Awalnya hanya nyeri dan pegal di sekujur tubuh yang aku dianggap biasa. Namun lama-kelamaan rasa sakit itu makin menjadi hingga leherku terasa seperti tertusuk.Orang tuaku langsung membawaku ke rumah sakit karena aku terus menangis kesakitan. Setelah pemeriksaan, aku didiagnosa tumor ganas! Ibuku nyaris pingsan mendengar kabar itu. Aku berasal dari keluarga sederhana, untuk memenuhi biaya pengobatanku, rasanya jauh sekali dari kata mungkin. Sejak itu, hari-hariku dipenuhi obat-obatan dan perjalanan bolak-balik ke rumah sakit. Selebihnya, aku lebih sering terbaring di kamar karena tubuhku sangat lemah. Seluruh badanku masih terasa sakit, terutama bagian leher. Bahkan berjalan agak jauh saja membuatku sesak napas.Aku harus segera menjalani operasi. Sedangkan untuk ke rumah sakit saja aku butuh biaya besar, karena menempuh perjalanan dari Subang, Jawa Barat, ke Jakarta. Belum lagi, untuk obat-obatan yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Ibuku berusaha sekuat tenaga. Ia mencari pekerjaan tambahan, berdagang kecil-kecilan kebutuhan sehari-hari dari pagi hingga malam. Tapi hasilnya tetap belum mampu menutupi seluruh biaya pengobatanku, hanya cukup untuk kebutuhan harian kami.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nida tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nida!
Dana terkumpul
Rp 7.295.005
1 hari lagi
Dari Rp 10.950.000
Donasi
Kesehatan
Bertahun-tahun Utik Bertahan Beberapa Infeksi, Diabetes, Hingga Kista!
“Demi keselamatanku, dokter terpaksa membelah kepalaku tanpa obat bius! Nanah yang sudah menumpuk di kepalaku akibat bakteri, harus dikeluarkan. Tubuhku sampai gemetar, teriakan dan tangisanku menggema akibat sakit yang begitu menyiksa.”“Sebelum operasi itu, aku sempat naik ojek ke rumah sakit akibat keterbatasan biaya. Tapi, helm yang ku pakai saat itu justru menjadi sumber penderitaan, kepalaku yang bengkak malah jadi nyeri seperti tertusuk jarum. Sepanjang perjalanan aku muntah berkali-kali dan napasku tersengal, akhirnya aku melanjutkan perjalanan dengan ambulans.”Aku Utik Supartiyem (42 thn). Sebagian besar hidupku tak pernah lepas dari sakit. Kista, diabetes melitus, hipertensi, infeksi bakteri, infeksi saluran kemih, hingga komplikasi darah silih berganti menggerogoti tubuhku.Kini aku hanya hidup berdua dengan Ayahku yang telah berusia 77 tahun. Di usianya yang renta, Ayah masih harus bekerja mencari kelapa dan mengumpulkan kayu demi kami bisa bertahan hidup. Padahal, Ayah juga sakit-sakitan, infeksi paru-paru, kista, pembengkakan saluran prostat dan batu ginjal.Tentu saja penghasilan Ayahku bahkan sering tak cukup untuk makan, apalagi untuk biaya pengobatanku yang tak kunjung usai. Bayangkan saja, sejak 2011 penyakit mulai menggerayangi tubuhku. Saat itu, aku masih bekerja sebagai pengasuh lansia.Suatu hari, tiba-tiba aku mengalami kram perut hebat hingga tak bisa tidur telentang. Melihat kondisiku, Bosku membawaku ke rumah sakit. Dokter mengatakan ada kista di ovarium sebelah kiri. Aku terdiam dan lemas, tak pernah menyangka penyakit mengerikan itu datang kepadaku.Aku menjalani operasi, dan sempat membaik. Aku kembali bekerja, mencoba bangkit. Namun harapan itu hanya singgah sebentar. Beberapa tahun kemudian, sesak napas mulai menyerang. Selain infeksi paru-paru, gula darahku juga melonjak tinggi.Tubuhku semakin rapuh, hingga akhirnya aku tak sanggup lagi bekerja. Aku berhenti, dan mencoba bertahan hidup dengan berjualan sosis bakar di depan sekolah. Tapi sesak napasku semakin tak terkendali, hingga aku kembali diopname di rumah sakit.Penyakitku seolah tak ada habisnya, seiring waktu malah makin bertambah. Bahkan suatu hari, aku ditemukan nyaris meninggal oleh teman dan tetangga. Tubuhku mendadak lemas, aku tak bisa bangkit dari tempat tidur. Tangan dan kakiku membengkak, napasku tersengal.Aku juga sempat mengalami pendarahan hebat, hingga harus dikuret berulang kali akibat pembengkakan rahim. Semua barang berharga dan perabotan di rumah sudah terjual habis untuk pengobatan. Aku juga terpaksa berutang karena sudah tidak ada jalan lagi. Segala cara aku lakukan agar bisa makan dan berobat. Aku membuat kerajinan tangan, meski hasilnya sangat kecil. Setiap hari aku bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan tubuh ini sanggup bertahan. Hidupku terasa seperti jalan buntu tanpa ujung.Hingga saat ini, aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Utik tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Utik!
Dana terkumpul
Rp 3.407.000
1 hari lagi
Dari Rp 12.516.900
Donasi