Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Usai Mendonorkan Sebelah Ginjal Pada Anak, Ibu Inwaningsih Didiagnosa Kanker Rahim!
“Masih melekat diingatan Ibu Inwaningsih, yang rela mendonorkan satu ginjalnya kepada buah hatinya yang sakit parah. Sayangnya, perjuangannya yang luar biasa itu berakhir dengan takdir kejam, setelah 12 tahun berjuang dengan satu ginjal pemberian sang ibu dan menjalani cuci darah, anak tercintanya berpulang untuk selama-lamanya.”“Hati Ibu Inwaningsih hancur, kehilangan itu begitu dalam, seakan separuh jiwanya ikut direnggut pergi bersama sang anak. Luka itu bahkan belum sempat kering, tapi beliau harus dihadapkan cobaan lain. Ia divonis kanker rahim! Di situasinya yang single parent, kini Ia berjuang sendiri di antara rasa sakit, kehilangan dan ketidakpastian.” Perkenalkan, aku Inwaningsih (47 thn). Hidupku seakan tak pernah lepas dari bayang-bayang penyakit yang mengancam nyawa. Kanker rahim itu bagai petir yang menyambar, rasanya membuatku takut dan murung diri. Bagaimana kalau penyakit ini merenggut nyawaku? Aku masih memiliki 2 anak yang masih membutuhkan pelukanku.Kini, aku tak lagi bisa mencari nafkah, tubuhku tak sekuat dulu. Bahkan, setelah aku merelakan satu ginjalku untuk almarhumah anakku yang berjuang melawan gagal ginjal, kondisi fisikku memang tak boleh terlalu lelah. Tapi, tuntutan hidup memaksaku tetap untuk terus bergerak meski harus menahan nyeri di bawah pusar. Penyakit ini mulai mengintai tubuhku dengan benjolan yang timbul di bawah perut sebelah kanan dan terasa nyeri. Aku juga mengalami demam tinggi sampai tubuhku lemas. Akhirnya kondisiku kian memburuk dan aku dilarikan ke IGD rumah sakit.Setelah pemeriksaan, ternyata rahimku telah dipenuhi cairan bakteri. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupku adalah dengan operasi pengangkatan rahim. Seketika dadaku terasa sesak, aku harus kehilangan bagian dari diriku sebagai seorang perempuan. Kini aku harus menjalani rawat jalan dan menjalani radioterapi setiap hari. Akibatnya, aku jadi sering merasa pusing dan mual, tapi semuanya harus aku tahan demi sembuh. Di saat berada di titik terendah ini, rasanya rindu sekali untuk memeluk anak-anakku yang berada jauh di kampung halaman. Aku percaya, jika aku terus berjuang dan mengikuti semua anjuran dokter, harapan untuk sembuh itu masih ada. Tapi kenyataannya, langkahku terhalang oleh kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Dulu aku bekerja di kantin milik teman, namun sekarang untuk beraktivitas sehari-hari saja aku kesulitan.Motor satu-satunya yang kumiliki sudah terpaksa kujual demi biaya pengobatan. Sementara aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit setiap hari, obat yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Inwaningsih tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Inwaningsih!
Dana terkumpul
Rp 1.961.000
4 hari lagi
Dari Rp 14.360.000
Donasi
Kesehatan
Tumor Ganas Terus Menggerogoti Dagu Diyana Hingga Ia Pendarahan!
“Gumpalan darah terus mengalir dari tumor ganas di dagu Diyana! Bantal yang Ia tiduri sampai kuyup berubah merah. Tapi Ia hanya terbaring diam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Namun, air matanya diam-diam mengalir dalam keheningan, akibat rasa sakit yang begitu hebat. ”“Di titik terendah itu, Diyana kesulitan biaya untuk pengobatan. Bahkan pernah, saat penyakitnya kambuh hingga membuatnya tak sadarkan diri, keluarganya harus berlari mencari pinjaman uang terlebih dahulu untuk membawanya ke rumah sakit. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, betapa sedih keluarganya karena keadaan itu.”Benjolan itu muncul di dagu Diyana (31 thn) dengan ukuran yang kecil. Semula terlihat biasa saja dan samar, jadi diabaikan begitu saja. Siapa sangka, ternyata benjolan tersebut perlahan membesar dan mulai menakutkan. Tubuh Diyana juga terasa berbeda, Ia jadi mudah lelah dan sakit.Setelah bertemu dokter, fakta pahit terkuak. Ternyata bengkak tersebut berasal dari tumor yang sudah mengganas. Dunia Diyana terasa runtuh seketika. Tindakan operasi sudah diupayakan untuk mengangkat penyakit tersebut, tapi harapan pupus ketika benjolan itu tumbuh lagi.Akhirnya operasi kedua kembali dilakukan. Namun, belum sempat Diyana bernapas lega dan merasakan kesembuhan, penyakit itu kembali menggerogoti tubuhnya untuk ketiga kalinya. Ia seakan tak diberi ampun, sampai akhirnya Ia harus dirujuk melanjutkan pengobatan dari Lampung ke Jakarta.Bayangkan, sudah 9 tahun Diyana harus bertahan dari penyakit ini. Tidak ada sedetikpun yang dilaluinya tanpa rasa sakit dan air mata. Kondisinya malah semakin lemah, tidak bisa bekerja lagi dan tidak stabil. Ia harus terus menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup.Tiap kali kambuh, Ia akan merasa nyeri hebat di bagian bengkak tumornya dan sampai harus dilarikan ke IGD rumah sakit. Di tengah segala penderitaan yang tak berjeda itu, Diyana selalu semangat untuk sembuh. Ia masih ingin hidup lebih lama, bersama suaminya, menemani anak-anaknya tumbuh besar. Namun, biaya pengobatan yang sangat besar sangat membebani. Suaminya hanyalah buruh tani dengan penghasilan terbatas. Keluarganya sudah menjual segala barang-barang berharga untuk pengobatan Diyana selama ini. Bahkan, keluarga nekat meminjam sana-sini hingga tengah malam dengan harapan tinggi, tapi justru jarang sekali ada yang menolong.Pengobatan Diyana masih panjang, Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers, vitamin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Diyana tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Diyana!
Dana terkumpul
Rp 1.755.001
15 hari lagi
Dari Rp 5.000.000
Donasi
Anak
Setahun Lebih Tak Kunjung Operasi, Rianti Bertahan dari Kelainan Jantung
“Dokter telah memasang ring kedua kalinya pada anak saya karena tak kunjung mendapat jadwal operasi. Kami sudah kehabisan biaya, saya hanya penjual seblak di depan rumah, itu pun sambil menggendong anak. Anak saya belum bisa berjalan, tapi semangatnya sangat tinggi untuk belajar berjalan sambil berpegangan. Bahkan Ia sampai kelelahan dan ngos-ngosan, ketika saya suruh berhenti dia akan menangis.” -Refti Ika Purwanti, Orang tua Rianti-Anak ketiga saya, Rianti Anindira Kanza (2 thn), didiagnosa kelainan jantung bawaan. Penyakit ini terlihat saat usianya 6 bulan, yaitu kuku tangan, kaki, hingga bibirnya tampak membiru. Kondisinya semakin parah ketika menangis, Ia akan mengalami sesak nafas. Saya akhirnya membawa anak periksa ke dokter, hasilnya buat saya terkejut. Salah satu katup jantung Rianti tidak terbentuk sempurna dan terjadi penyempitan pembuluh darah. Dokter langsung mengambil tindakan kateterisasi dan pemasangan ring di jantung anak saya agar tidak mengalami sesak.Anak saya dirujuk untuk melanjutkan pengobatan di Jakarta untuk operasi. Saya nekat menjual semua harta yang saya punya demi bisa membawa anak dari Karimun, Riau, menuju Jakarta. Tapi sesampainya di Jakarta, anak saya tidak bisa langsung mendapatkan tindakan karena harus mengantri.Hampir 2 bulan saya menunggu jadwal operasi anak di Jakarta, tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami pun kembali pulang ke kampung tanpa adanya tindakan apapun pada anak saya. Saya sudah kehabisan biaya hidup selama di Jakarta. Kini sudah setahun lebih anak saya masih belum juga mendapatkan kabar mengenai jadwal operasi. Selama ini anak saya hanya melakukan kontrol rutin ke rumah sakit di kota. Tentu saja kondisi anak saya memburuk, Ia semakin membiru dan sulit menelan makanan.Anak saya masih harus terus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit di kota yang tidak ditanggung BPJS, saya sudah tidak ada biaya. Penghasilan suami saya juga terbatas meski saya juga sudah bantu kerja tambahan. Anak saya masih butuh dana untuk operasi, transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan anak lainnya.#TemanBaik, mari bantu Rianti agar bisa melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 21.977.001
12 hari lagi
Dari Rp 26.772.000
Donasi