Panggilan Mendesak

camp
Anak

Tubuhnya Terancam Kaku Permanen, Anak Pengantar Minuman Berjuang dari Cerebral Palsy

“Tubuh Anakku terancam kaku selamanya akibat penyakit cerebral palsy! Otaknya mengalami kerusakan, membuat Ia sering kejang-kejang. Demi menyelamatkannya, aku rela terlilit utang dari pinjaman online, meski setiap cicilan membuat napasku terasa makin sesak.”“Aku hanya seorang pengantar minuman, sedangkan suamiku bekerja sebagai buruh di pabrik pipa. Penghasilan kami pas-pasan, habis untuk sekedar bertahan hidup. Sementara satu anakku sedang sakit, dan yang lainnya berkebutuhan khusus. Mereka sama-sama membutuhkan biaya besar, tapi kemampuan kami begitu terbatas.” -Lia Aprianti, Orang tua Abid-Ketika hamil Abid Deyyan Alkhalifi (2 thn), aku sempat mengalami sesak napas hingga tak sadarkan diri akibat tensiku sangat tinggi. Dalam keadaan genting itu, dokter mengambil keputusan yang membuat lututku lemas. Abid harus dilahirkan lebih cepat dari seharusnya, dan resikonya kematian. Tapi syukurlah, Abid lahir dengan selamat. Tapi beberapa jam kemudian, kebahagiaan itu runtuh. Tubuh kecilnya mulai kejang berulang kali. Suamiku berlarian dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, mencari ruang NICU yang kosong demi menyelamatkan nyawa anak kami.Abid harus dirawat selama 16 hari. Aku sempat lega karena anakku tak pernah kejang lagi sejak itu. Namun, ketika Ia berusia 3 bulan, kenyataan pahit itu kembali dimulai. Kejangnya muncul berulang-ulang setiap hari, dan hingga kini masih menghantui hidupnya.Sudah tiga kali Abid dilarikan ke ruang PICU. Sampai hari ini, ia belum bisa melakukan aktivitas apa pun selain berbaring. Mengunyah pun Ia tak mampu, makan dan minumnya hanya dibantu dengan selang NGT yang dimasukkan ke hidungnya. Terkadang, Ia tiba-tiba ia melotot, menyilangkan kaki, lalu menangis sekeras-kerasnya. Demam mendadak dan turunnya saturasi oksigen sudah menjadi bagian dari hari-harinya. Penderitaan ini harus Ia jalani sepanjang hidupnya. Setiap hari ia minum obat kejang dan menjalani terapi agar tubuhnya tidak semakin kaku.  Tapi di tengah semua kesakitan itu, aku bisa melihat dengan jelas semangat anakku untuk sembuh, Ia selalu tersenyum setiap menjalani terapi. Itulah yang membuatku terus berjuang demi pengobatannya meski dalam keterbatasan.Demi pengobatannya, kami sudah menggadaikan BPKB motor hingga sertifikat tanah. Kini aku merasa berada di ujung jurang, tak tahu lagi apa yang bisa kujual. Anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT rutin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Abid tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Abid!
Dana terkumpul Rp 6.965.507
9 hari lagi Dari Rp 13.078.500
Donasi
camp
Anak

“Kok Aku Nggak Sembuh-sembuh?” Khoirul Harus Berkali-kali Perbaikan Operasi Jantung Akibat Infeksi

“‘Kok aku kayak nggak sembuh-sembuh?’ Itulah pertanyaan polos anakku yang menyayat hatiku. Penyakit mematikan itu seolah tidak ada habisnya, Ia harus berulang kali merasakan tusukan jarum suntik dan sayatan pisau di dadanya. Itupun proses pengobatannya bisa dibilang masih sangat panjang.”“Perasaanku tentu saja pernah putus asa, karena terbentur dengan kondisi anak yang kian memburuk dan keterbatasan ekonomi. Hanya keinginan untuk melihatnya tumbuh dewasa yang membuatku terus bertahan, meski harus terus berutang untuk membiayainya ke rumah sakit. Selama ini anakku bertahan, aku pun tak boleh menyerah.” -Jumiati, Orang tua Khoirul-Tak ku sangka, anak yang aku lahirkan dengan perjuangan operasi caesar mendapatkan cobaan berat. Dokter menemukan suara jantung Khoirul Yoga (4 thn) terlalu bising, hatiku seakan runtuh. Namun apa daya, aku tidak langsung membawanya ke rumah sakit besar yang jaraknya belasan jam karena keadaan ekonomi terbatas.Hari-hari yang dilalui anakku bagaikan penderitaan. Sesak napas yang datang tiba-tiba, tubuh kecilnya yang membiru, hingga kejang yang membuatku gemetar ketakutan,  semuanya menjadi pemandangan yang tak pernah bisa aku lupakan. Aku berupaya mengumpulkan biaya, hingga akhirnya di usianya 8 bulan aku bisa membawanya berobat ke rumah sakit di Padang, Sumatera Barat. Ternyata kenyataan pahit itu semakin jelas, dokter mendiagnosa anakku mengalami sakit jantung bawaan lahir dan harus dirujuk ke Jakarta.Dunia terasa berhenti sejenak, antara sedih, takut, dan cemas, aku hanya bisa bertanya dalam hati, “Apakah aku sanggup?” Suamiku hanya bekerja sebagai petugas kebersihan di lahan sawit dan tukang pijit, penghasilannya tak menentu. Satu per satu barang di rumah terjual, dan aku mengetuk pintu demi pintu untuk meminjam uang. Meski uang yang aku kumpulkan tak seberapa, tapi aku tetap memberanikan diri membawa anakku ke Jakarta. Proses operasi yang dijalani anakku tidak mudah. Saat operasi jantung pertamanya, Ia sempat infeksi hingga harus dioperasi ulang.Di operasi kedua, demam tinggi tak kunjung reda. Bahkan saat operasi ketiga, dokter menemukan adanya bakteri di jantungnya dan lagi-lagi harus dilakukan perbaikan. Setiap detik di ruang tunggu operasi adalah siksaan batin yang tak terlukiskan bagiku.Saat ini, anakku masih ditahap penyembuhan dan menjalani berobat jalan. Aktivitas anakku sangat terbatas karena Ia mudah lelah, dan jika Ia kelelahan, kejang itu kembali datang.  Pertumbuhannya pun terhambat, berat badannya sulit bertambah. Sedih sekali melihatnya tak bisa bermain seperti anak-anak lainnya.Perjalanannya untuk sembuh masih panjang, kendala biaya jadi masalah utama. Demi kontrol saja, kami harus menempuh perjalanan belasan jam, seringkali harus menginap karena kondisi anakku tak kuat. Belum lagi kontrol rutin ke Jakarta, obat-obatan, vitamin, dan kebutuhan lain yang tidak semuanya ditanggung.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Khoirul tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Khoirul!
Dana terkumpul Rp 12.620.000
9 hari lagi Dari Rp 12.600.000
Donasi
camp
Anak

Penyempitan Saluran Napasnya menutup Nyaris 99%, Azzurah Tetap bertahan dari Sakit Jantung

“Momen saat anakku berhadapan dengan hidup dan mati itu tak akan pernah ku lupakan, jantung kecilnya sempat berhenti berdetak! Di saat duniaku rasanya hancur, tiba-tiba keajaiban Tuhan datang, jantungnya kembali berdetak. Saat itu aku yakin anakku kuat dan masih ingin bertahan hingga Ia dinyatakan sembuh.” -Fekrelian Rante, Orang tua Azzurah-Sejak usianya baru menginjak 28 hari, anakku, Azzurah Marisyah Sayu Latif (6 bln), sudah harus menghadapi beratnya ujian kehidupan. Batuk, sesak napas, dan tubuh membirunya sudah menjadi pemandangan yang menghantui hari-hariku yang penuh kecemasan.Awalnya anakku sempat mendapat perawatan di rumah sakit karena nafasnya yang berat. Namun, kian hari semakin menurun hingga Ia tak sadarkan diri. Saat dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, ternyata Ia didiagnosa pneumonia dan kelainan jantung bawaan. Sejak itu, anakku harus berpindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya rumah sakit, hingga akhirnya Ia dirujuk pengobatan ke Jakarta. Rasa putus asa itu semakin besar karena anakku harus tetap menggunakan oksigen dan didampingi perawat khusus untuk membawanya pengobatan dari Kalimantan ke Jakarta. Namun, saat itu kerabat yang tidak tega melihat kondisi anakku, memberikan bantuan dana agar anakku masih bisa terus punya harapan untuk hidup. Aku juga berupaya menjual emas, telepon genggam, hingga membatasi makan sehari-hari demi pengobatan anakku.Syukurlah, anakku bisa menjalani pengobatan di Jakarta. Tapi siapa sangka, dokter mengatakan anakku juga mengalami penyempitan saluran napas yang membuat setiap tarikan napasnya terasa berat. Bahkan, ada penyempitan yang hampir menutup saluran hingga 99 persen! Dokter akhirnya melakukan operasi kecil pada anakku. Hingga saat ini, kondisi anakku masih bergantung pada oksigen untuk bernapas. Dadanya sampai tertarik ke dalam tiap Ia berusaha bernapas dan tubuhnya masih membiru. Aku masih hidup dalam ketakutan akan kehilangannya.Dibalik perjuangan itu, anakku masih gadis kecil yang ceria. Ia masih tersenyum tiap dia masih tersenyum tiap diajak bermain, seolah tak ingin menunjukkan betapa berat sakit yang Ia rasakan. Aku yakin, setiap doa pasti menemukan jalannya dan aku harus terus berjuang.Anakku masih harus menjalani operasi bedah toraks dan kontrol rutin ke rumah sakit. Selain oksigen, aku juga harus mempersiapkan alat suction hingga pemantau saturasi untuk mendukung perawatannya selama di rumah singgah, tempat tinggal sementara di Jakarta.Selain itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Azzurah tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Azzurah!
Dana terkumpul Rp 2.058.000
10 hari lagi Dari Rp 15.366.000
Donasi

Pilihan Campaign