Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Wajahnya Dipenuhi Selang! Febrian Harus Operasi Bedah Jantung di Jakarta
“Wajah mungil anakku kini dipenuhi selang dan alat medis! Setiap kali aku menatapnya, dadaku sesak. Ia bahkan sulit menggerakkan kepalanya, karena hampir seluruh wajahnya tertutup alat-alat yang membantu napasnya tetap berjalan.”“Seharusnya Ia sedang belajar tersenyum, bukan berjuang untuk bernapas. Aku hanya bisa berdoa sambil memeluk harapan yang sama kuatnya seperti perjuangannya untuk tetap terus hidup.” -Hanif Fahtul, Orang tua Febrian-Sejak hari pertama saya, Febrian Ananda Putra (10 bln), hadir ke dunia, Ia sudah menanggung ujian besar. Ia mengalami sakit jantung bawaan lahir. Kini usianya baru 7 bulan, dan kami harus bolak-balik berobat ke RS Pusat Jantung Harapan Kita, Jakarta.Penyakit ini baru kami ketahui saat usianya 2,5 bulan, ketika ia dibawa imunisasi. Saat itu napasnya terlihat jauh lebih cepat dari bayi lain. Wajahnya pucat, lalu perlahan tangan, kaki, dan bibirnya mulai membiru. Hati saya seakan runtuh melihat kondisi itu.Dokter menjelaskan bahwa penyakit jantung itu membuat pembuluh darah anak saya tertukar, darah kotor dan darah bersih mengalir terbalik. Sejak lahir tubuh kecilnya berjuang tanpa henti. Penanganan awal berupa operasi BAS sudah dilakukan, namun itu belum cukup.Anak saya masih membutuhkan satu kali operasi bedah jantung besar agar bisa bertahan dan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Namun, saat ini kondisinya kembali menurun. Sudah tiga hari Ia demam, tubuhnya sering membiru, dan Ia tidak kuat beraktivitas sedikit pun. Kelelahan kecil saja bisa sangat berbahaya baginya.Saya berharap anak saya mendapat kesempatan untuk hidup lebih lama, bernapas tanpa rasa sesak, dan merasakan masa depan yang layak Ia miliki. Tapi biaya pengobatan yang sering tidak bisa aku sanggupi, bahkan untuk sekedar transportasi dari Pacitan ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Febrian tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Febrian!
Dana terkumpul
Rp 935.000
5 hari lagi
Dari Rp 2.000.000
Donasi
Anak
Sudah 6 kali Operasi! Alvarendra Alami Usus Buntu Hingga Paru-paru Tak Berkembang
“3 kali anakku harus dirawat inap, bahkan masuk PICU hingga 2 bulan! Kondisi kesehatanku juga sempat drop, karena emosi terkuras akibat ketakutan kehilangan anakku dan kelelahan fisik. Di saat terberat itu, suamiku justru memilih pergi, meninggalkan aku dan anak kami yang tengah berjuang melawan sakitnya.”“Untuk bertahan hidup, aku terpaksa mengandalkan uang pemberian dari Ibuku yang sudah renta. Aku juga mencoba mengais rezeki dengan berjualan minuman, tapi sering kali harus kutinggalkan karena harus mendampingi anakku.” -Novrida, orang tua Alvarendra-Alvarendra Arroyyan (2 thn), adalah penyejuk hatiku, buah hati yang seharusnya tumbuh dalam pelukan dan tawa. Namun, sejak masih dalam kandungan, hidupnya justru telah diuji. Ia mengalami usus buntu dan ketika lahir secara prematur, paru-parunya belum berkembang sempurna.Tak ada hangatnya rumah, tak ada pelukan dariku di awal hidupnya. Sejak lahir, anakku harus tinggal di rumah sakit. Enam bulan lamanya, hari-harinya dihabiskan di balik dinding ruang perawatan, menghirup aroma obat-obatan, jauh dari kasih sayang seorang ibu yang hanya bisa menatapnya dengan doa.Tubuh mungil anakku telah menanggung banyak luka. Enak kali operasi sudah Ia lalui, mulai dari tindakan mengeluarkan cairan yang terus menumpuk di paru-parunya hingga operasi pada ususnya. Tapi anakku luar biasa, Ia mampu bertahan dari semua rasa sakit yang tak bisa Ia ucapkan.Saat ini, kondisi anakku lebih banyak diam karena belum lancar berbicara. Namun, setiap menjalani terapi motorik dan belajar berjalan, senyum cerianya selalu hadir, walau batuk-batuk masih datang karena masalah paru-parunya. Ia juga mengalami gizi buruk karena hanya mampu menerima asupan susuPengobatan harus terus dijalani, tapi aku mulai terhimpit oleh keterbatasan biaya. Dalam seminggu, bisa empat kali aku harus membawanya ke rumah sakit yang berjarak 30 menit dari rumah kami di Pulogadung, Jakarta Timur. Biaya transportasi menjadi beban berat bagiku yang tak memiliki penghasilan tetap. Belum lagi, ada juga obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya untuk anakku.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alvarendra tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alvarendra!
Dana terkumpul
Rp 10.459.000
15 hari lagi
Dari Rp 10.440.000
Donasi
Anak
Menderita Beberapa Kelainan Otak, Adiva Hanya Bisa Terbaring Lemah
“Di usianya yang baru 18 bulan, anak saya sudah menjalani operasi buka ubun-ubun. Sampai sekarang usianya sudah 3 tahun, anak saya belum bisa apa-apa, selain tiduran dan belajar tengkurap.” -Eliana Aprilia Saraswati, Ibunda Adiva-Semua bermula ketika anak saya, Adiva Arsyila Savina (3 thn), sering menangis tidak wajar saat usianya 3 minggu. Tanpa kenal waktu ia terus menangis pagi, siang, malam, seperti kesakitan. Matanya juga mengarah ke atas, badannya kaku, kaki bengkok, dan tangannya mengepal.Setelah diperiksa, dokter bilang anak saya hanya sakit perut kembung. Tapi anehnya anak saya masih menangis tanpa henti meski sudah minum obat. Hingga usianya 3 bulan, tumbuh kembang Adiva terhambat, mata dan pendengarannya juga tidak merespon. Saya yang semakin curiga pun kembali membawanya periksa, ternyata dokter menemukan ubun-ubun Adiva sudah tertutup (craniosynostosis) hingga membuat otaknya tidak berkembang. Selain itu anak saya juga didiagnosa cerebral palsy (lumpuh otak) dan mikrosefali (lingkar kepalanya kecil). Setelah menjalani operasi, saya sempat mengira itu merupakan awal kesembuhan anak saya. Kenyataannya saat usia 2 tahun, Adiva mendadak sering kejang dan dokter mendiagnosa anak saya juga sakit epilepsi.Kondisinya anak saya saat ini suka tantrum kalau sedang menangis, sehingga ia mencakar muka, telinga, menjambak rambutnya, dan memukul kepalanya. Biasanya akan saya bedong supaya anak saya tidak menyakiti dirinya sendiri. Anak saya masih harus kontrol rutin ke rumah sakit.Namun saya terkendala biaya pengobatan anak. Saya hanya ibu rumah tangga dan suami saya merupakan pengemudi ojek online yang penghasilannya tidak menentu. Saya sangat berharap Adiva sembuh dan perjuangan saya demi kesehatan anak berbuah manis.#TemanBaik, mari bantu Adiva agar bisa perlahan sembuh dari penyakitnya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 39.233.004
4 hari lagi
Dari Rp 45.875.000
Donasi