Panggilan Mendesak

camp
Usaha Bisnis

Kisah I Made, Tunanetra yang Berjuang Hidup Mandiri Menjadi Terapis Pijat!

“Duniaku gelap, sehitam mata yang terpejam selamanya. Ya, sejak lahir aku memang tak bisa melihat. Namun, hidup tak pernah menungguku siap. Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah meski dalam gelap.”“Demi anak dan istri bisa tetap makan, akulah yang turun berjuang. Memulai belajar pijat sejak duduk di bangku SMP dengan terapis, membaca literatur hingga bantuan teknologi, aku memantapkan diri menjadi terapis pijat. Dari keterbatasan itu, inilah aku memulai mimpi…”Halo #TemanBaik, Namaku Made Sumertayasa (36 thn), saat ini aku sedang berjuang membangun usaha jasa pijat kesehatan dan terapi bernama Panti Pijat Amerta Manik Usada. Lokasi usahaku berada di Desa Pejeng, Banjar Pedapdapan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Meski kondisi fisikku terbatas, aku yakin usaha pijat inilah harapanku untuk masa depan.   Kelak, aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tak ingin selamanya bergantung atau menyusahkan saudara dan keluargaku kelak.Panti pijat kecilku tak hanya melayani pijat kebugaran, tetapi juga terapi sistem saraf pusat, serta penanganan keluhan seperti keseleo, salah urat, leher kaku, hingga nyeri kronis. Inilah satu-satunya sumber penghidupan untuk aku, istriku, dan anakku.Namun kenyataannya tak semudah harapan. Keterbatasan modal membuat aku harus menjalani praktik pijat di rumah yang sangat sederhana. Ruang praktik menyatu dengan ruang keluarga, hanya dibatasi oleh sehelai tirai tipis. Kondisi ini sering membuat pasien merasa kurang nyaman dan privasi mereka tak sepenuhnya terjaga. Padahal, kemampuan terapi pijatku cukup dipercaya oleh pasien. Kondisi ini membuat tempat usahaku sulit berkembang alias hanya jalan di tempat.Dalam seminggu, terkadang hanya 1 sampai 2 hari ada pasien. Di hari lain, aku harus menunggu tanpa kepastian. Aku juga kerap mendatangi pasien menggunakan ojek online. Namun saat tak ada satupun pasien datang, tak ada nafkah yang bisa kuberikan untuk keluarga. Bahkan, pernah sampai seminggu penuh aku tidak ada pasien sama sekali. Tentu saja kondisi itu sangat berat untuk mentalku. Hingga akhirnya, orang tuakulah yang membantu kami bertahan untuk makan sehari-hari.Oleh karena itu, aku ingin meningkatkan kualitas tempat usaha pijatku agar menarik lebih banyak pasien lagi. Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk menyewa tempat sederhana yang layak untuk ruang praktik, pengadaaan perlengkapan pijat, hingga kebutuhan dasar pendukung pelayanan pasien.#TemanBaik, Rp100 ribu yang kita punya bisa menjadi harapan bagi Bapak I Made agar bisa hidup mandiri dengan keterbatasannya. Yuk, bantu Bapak I Made untuk memiliki tempat praktik pijat yang layak dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 1.405.000
12 hari lagi Dari Rp 16.800.000
Donasi
camp
Kesehatan

5 tahun Tak Tahu Alami Kanker Otak, Oktapiani Kini Terancam Buta!

“Diam-diam kanker otak tumbuh di kepala istriku selama 5 tahun! Awalnya, istriku mengalami nyeri di kepala dan matanya. Keterbatasan biaya membuat istriku tidak bisa berobat, sehingga kami tak pernah tau penyakitnya. Hanya obat murah dari warung yang menjadi satu-satunya menjadi pereda rasa sakitnya.”“Kini, penyakit itu mulai merenggut penglihatannya! Dunia yang Ia lihat hanya hitam dan putih, jarak pandangnya hanya bisa 1 meter, setiap langkah yang Ia tempuh harus sambil meraba dinding. Aku merasa bersalah, karena istri yang ku cintai harus menanggung penderitaan panjang dalam diam, dan aku tak bisa berbuat banyak.” -Jafar, Suami dari Oktapiani-Istriku, Oktapiani (33 thn), seolah kehilangan hidupnya yang dulu Ia miliki. Hari-harinya sekarang lebih banyak dihabiskan dengan berbaring atau duduk diam di bale, akibat penglihatannya terbatas. Terkadang sakitnya kambuh, nyeri hebat akan menyerang kepala dan matanya.Sekedar berjalan ke kamar mandi, istriku harus dituntun atau meraba dinding. Lantai kamar mandi yang masih berupa tanah licin yang belum dikeramik, menjadi rintangan yang membuat setiap langkah terasa berbahaya. Hari-hari yang dijalani istriku tak lagi mudah, bahkan untuk kebutuhan paling sederhana. Namun, di tengah kesulitan itu, anak-anak kami menjadi sumber kekuatan untuk istriku.  Tawa dan perhatian kecil dari mereka kerap menghibur ibunya, menumbuhkan semangat untuk terus bertahan dan berharap sembuh.Istriku telah menjalani operasi di kepalanya. Namun, operasi itu bukan akhir dari perjuangan. Ia masih membutuhkan pengobatan lanjutan agar luka bekas operasi tidak terinfeksi dan tidak semakin merusak penglihatannya.Sementara itu, penghasilanku sebagai tukang bubur jauh dari cukup untuk menanggung biaya pengobatan yang besar. Aku juga harus memikirkan dua anak kami yang masih sekolah. Tak jarang, aku mengetuk pintu rumah saudara atau tetangga, meminjam uang hanya untuk ongkos mengantar istriku ke rumah sakit.Kondisi ekonomi kami semakin terpuruk saat aku harus berhenti bekerja demi mendampingi istriku berobat. Pernah suatu hari, ketika istriku harus masuk ICU, uang terakhir yang kumiliki hanya cukup untuk membeli pampers untuknya. Sementara perutku sendiri perih menahan lapar, aku hanya bisa meneguk air putih agar tetap bertahan. Saat ini, istriku masih sangat membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, pampers, serta kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Oktapiani tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Oktapiani!
Dana terkumpul Rp 4.315.001
10 hari lagi Dari Rp 17.313.000
Donasi
camp
Keagamaan

Al Qur’an Braille untuk Teman Tunanetra di Indonesia

Jumlah penyandang tunanetra di Indonesia masih cukup banyak. Data Sensus Ekonomi Indonesia tahun 2018 mengungkapkan 14% dari jumlah total total populasi Indonesia atau sekitar 4,2 juta adalah penyandang tunanetra. Apabila ditarik lagi dari data tersebut, Menurut data Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, mayoritas tunanetra muslim di Indonesia masih buta aksara Al Qur'an. Salah satu penyebabnya adalah karena mahalnya harga Al Qur'an Braille di Indonesia yang bisa mencapai jutaan rupiah.Hingga saat ini, baru sekitar 20.000 Al Qur'an Braille yang sudah disebar ke berbagai daerah di Indonesia. Padahal, kebutuhan Al Qur'an Braille di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2 jutaan. (Sumber: Panti Sosial Bina Netra (PSBN), 2019).Melihat masalah tersebut, Komunitas We Love Others berusaha untuk memfasilitasi pemberian Al Qur'an Braille untuk para penyandang tunanetra di Indonesia yang memiliki hak yang sama untuk dapat membaca bahkan menghafalkan Al Qur'an. Untuk tahap pertama, jangkauan pemberian Al Qur'an Braille ditujukan kepada para penyandang tunanetra yaitu siswa dan pengajar Al Qur’an di daerah Lumajang, Jember, dan Magetan (Jawa Timur). Kemudian pembagian akan semakin luas jangkauannya ke penerima manfaat di seluruh Indonesia. TemanBaik, yuk dukung program pemberian Al Qur'an Braille bagi teman-teman tunanetra di Indonesia yang digagas Komunitas We Love Others dengan cara:Klik “Donasi Sekarang”.Isi nominal donasiBoleh memilih donasi lewat mana saja, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul Rp 4.954.015
9 hari lagi Dari Rp 165.000.000
Donasi

Pilihan Campaign