Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Pendidikan
Anak Petani Raih Berbagai Prestasi Demi Mewujudkan Mimpi Menjadi Guru
“Aku ingin sekolah sampai perguruan tinggi dan kelak bisa menjadi guru. Demi meraih cita-cita itu, setiap hari aku selalu belajar giat hingga meraih prestasi juara 1 atau 2 di kelas. Aku juga pernah meraih juara harapan dalam lomba pidato Bahasa Arab, sebuah pencapaian kecil yang membuatku semakin percaya diri untuk terus melangkah.”“Saat ini aku telah menghafal dua juz Al-Qur’an, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berhenti belajar dan berusaha. Siapa tahu suatu hari nanti, prestasi-prestasi ini menjadi jalan bagiku untuk mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah dan mewujudkan mimpiku.”Namaku Prajna Paramitha Chamile (13 thn), saat ini aku duduk di bangku kelas 6 MI Miftahul Huda Lamong. Setiap hari kegiatanku sederhana, yaitu bersekolah, mengaji, dan belajar. Kendati demikian, aku menjalani semuanya dengan penuh sungguh-sungguh.Prestasi yang aku raih selama ini bukan karena aku paling pintar, tapi karena aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku punya mimpi besar, yaitu ingin menjadi seorang guru, agar ilmu yang kupelajari bisa bermanfaat untuk banyak orang.Aku percaya, selama aku tidak berhenti berjuang, selalu ada jalan yang Allah siapkan. Aku ingin sukses, membanggakan orang tuaku, dan menjadi guru agar bisa memberi manfaat untuk banyak orang.Namun, kondisi ekonomi keluarga menghalangiku untuk membayangkan masa depan cerah yang ku nantikan. Ayahku hanyalah seorang petani, penghasilannya tak menentu. Akibatnya, kebutuhan untuk pendidikanku sering tak terpenuhi.Ibuku juga berupaya membantu mencari nafkah tambahan agar aku tak berhenti sekolah. Beliau mencoba peruntungan dengan jualan online. Meski uang yang dihasilkan tak seberapa, tapi Ibu sudah berjuang demi aku.Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk membayar uang sekolah, membayar ujian, memberi perlengkapan sekolah dan kebutuhan lainnya. Kerja keras orang tuaku tak akan aku sia-siakan, aku tidak akan menyerah oleh keadaan dan selalu belajar keras. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Prajna untuk tetap punya harapan melanjutkan sekolah. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Prajna!
Dana terkumpul
Rp 435.000
6 hari lagi
Dari Rp 2.450.000
Donasi
Keagamaan
Sedekah Al - Qur’an untuk Santri Yatim dan Dhuafa
Sedekah Al-Qur’an: Temani Santri Yatim & Dhuafa Menghafal Kalamullah Di sudut-sudut pesantren sederhana, masih banyak santri yatim dan dhuafa yang semangat menghafal Al-Qur’an — meski tanpa mushaf pribadi, atau dengan mushaf lama yang lusuh dan sobek. Bayangkan jika mereka memiliki Al-Qur’an baru, lengkap dengan tajwid yang jelas, halaman yang bersih, dan bisa dibawa ke mana-mana. Betapa bahagianya mereka… dan betapa besarnya pahala yang mengalir untuk Anda. Hari ini, Anda bisa menjadi jalan cahaya bagi mereka. Mulai dari Rp50.000, Anda sudah bisa membelikan 1 mushaf Al-Qur’an untuk 1 santri penghafal. Setiap mushaf yang Anda sedekahkan bukan hanya akan dibaca, tapi juga dihafal, diajarkan, dan diamalkan — menjadikannya amal jariyah yang tak terputus, bahkan setelah kita tiada. Mereka adalah anak-anak pilihan, yang meski hidup dalam keterbatasan, tetap menggenggam kuat cita-cita menjadi penghafal Qur’an. Namun, tanpa mushaf pribadi, perjalanan mereka menjadi lebih berat.Dengan sedekah Anda,Mereka bisa mengulang hafalan dengan lebih tenang.Bisa membawa Al-Qur’an saat belajar bersama ustadz.Bisa menjaga dan merawat mushafnya sendiri — menjadikannya teman hidup dalam menjemput keberkahan.Yuk, kirim 1 mushaf, panen pahala tanpa henti
Dana terkumpul
Rp 1.140.000
10 hari lagi
Dari Rp 50.000.000
Donasi
Anak
Ashfa Terus Muntah-muntah Akibat Tidak Punya Lubang Anus
“Kesedihan dan putus asa, itulah yang aku rasakan sebagai orang tua ketika mengantarkan anakku ke meja operasi. Tubuhnya masih kecil, rapuh dan tak berdaya, tapi perutnya harus dilubangi sebagai jalan BAB-nya sementara.”“Demi menyelamatkan nyawanya, aku menjual motor dan beberapa aset keluarga. Operasi pertamanya tak ditanggung BPJS, dan sejak itu pengobatan terus berjalan tanpa henti. Kini aku kehabisan biaya, aku bahkan tak mampu membawanya ke rumah sakit ketika Ia menangis kesakitan. Hancur sekali hatiku, rasa bersalah membayangiku karena ketidak mampuan melindungi anakku.” -Rita Marita, Orang tua Ashfa-Sejak detik pertama Ashfa Muhammad Abil Abbas (8 bln) lahir, kecemasan sudah menjadi hal yang selalu kurasakan. I-ku tak keluar, sehingga aku terpaksa memberi anakku susu formula. Namun, ternyata anakku malah muntah-muntah.Awalnya kupikir Ia hanya tidak cocok dengan merek susu tertentu. Namun, ketika sudah ganti merk lain, kondisi anakku tak ada perubahan. Tapi harapan itu perlahan runtuh, muntahnya tak berhenti dan bahkan sampai mengeluarkan lendir hijau.Saat aku bawa ke klinik, anakku disarankan untuk mengganti merek susu lagi. Muntahnya memang sempat reda, tapi aku curiga melihat perutnya yang tiba-tiba membengkak tak wajar. Rasa takut itu mendorongku untuk membawa anakku periksa lagi ke dokter. Jawaban dari semua kebingungan itu datang dengan begitu kejam. Pihak klinik menemukan bahwa anakku tidak memiliki lubang anus (atresia ani)! Ususnya tersumbat, membuat kotoran menumpuk di dalam tubuh kecilnya dan perutnya membesar. Saat mendengar diagnosis itu, lidahku kelu, dunia seakan berhenti berputar, terlebih ketika tahu biaya operasinya tidak ditanggung BPJS. Demi menyelamatkan nyawa anakku, aku menjual barang-barang berharga, menggadaikan sertifikat rumah, dan berutang ke sana-sini. Operasi pertama telah ia jalani, namun perjuangan belum selesai. Masih ada dua operasi lanjutan yang harus dilewati. Kini, anakku harus BAB melalui lubang di perutnya. Setiap hari aku membutuhkan kantong stoma untuk menampung kotorannya, sebuah kenyataan yang begitu perih untuk diterima seorang ibu.Biaya pengobatan semakin menyesakkan. Pernah aku menahan lapar seharian, hanya demi menyisihkan uang untuk membeli satu botol obat pereda nyeri bagi anakku. Satu kali operasi tak serta-merta menghapus rasa sakit di tubuhnya. Aku hanyalah seorang buruh pabrik. Suamiku melakukan pekerjaan apa pun yang bisa ia kerjakan, berjualan gorengan, lalu menarik ojek online hingga larut malam. Kami lelah, tapi tak pernah menyerah, karena yang kami perjuangkan adalah masa depan anak kami.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, kontrol rutin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ashfa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ashfa!
Dana terkumpul
Rp 4.177.500
11 hari lagi
Dari Rp 4.175.000
Donasi