Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Sakit Kronis Pada Paru-paru Hingga Alami Kejang, Kensa Bertahan Setiap Detik untuk Bisa Hidup
“Masih aku ingat betul titik terendah dalam hidupku ketika Kensa harus dirujuk ke rumah sakit dengan hanya membawa uang 200 ribu rupiah. Sebagian habis untuk perjalanan, dan sisanya kami coba cukupkan untuk bertahan selama Kensa rawat inap.”“Beberapa hari aku dan suamiku bahkan harus menahan lapar, hanya makan roti seadanya. Namun di tengah keterbatasan itu, Tuhan tetap mengirimkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang membantu kami. Hari-hari kami sekarang adalah perjuangan tanpa henti. Siang bekerja, malam menjaga Kensa yang bisa sewaktu-waktu kambuh.” -Hasanah, Orang tua Kensa-Sejak lahir, Kensa Brielle Hia (4 bln) didiagnosa mengalami down sindrom. Lalu, saat usianya 3 bulan, tiba-tiba Ia mengalami demam tinggi, batuk dan flu. Saat itu, aku mengira itu hanya sakit biasa yang dialami anak-anak dalam masa pertumbuhannya. Namun, sampai usianya 1 tahun, sakit itu tak kunjung sembuh.Aku sampai berpindah-pindah mulai dari puskesmas, klinik, hingga rumah sakit, demi mengetahui penyakit apa yang dialami anakku. Hingga akhirnya, dokter memberikan kabar yang mengguncang hatiku, anakku didiagnosa sakit paru-paru kronis. Perjuangan panjang ini tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Meski sudah dirawat di rumah sakit, penyakit itu seolah tidak ingin pergi dari tubuh anakku. Bahkan, kondisinya semakin memburuk sampai Ia terkadang mengalami kejang-kejang.Hatiku hancur sekali, buah hatiku itu belum sempat merasakan hidup menjadi anak-anak pada umumnya. Ia belum bisa duduk dengan tegak tanpa bantuan, belum bisa berdiri sendiri, dan sekedar memanggil “mama” dan “papa” pun belum bisa. Suara yang keluar darinya hanyalah tangisan, satu-satunya cara Ia menyampaikan keresehannya.Setiap penyakitnya kambuh, aku hanya bisa menenangkannya dengan memeluk tubuhnya yang meronta kesakitan sambil memberikan obat. Setelah itu, menggendongnya sampai Ia tertidur lelah dalam tangis yang belum sepenuhnya reda.Namun, dibalik tangis histerisnya, aku tetap mengganggam harapan bahwa anakku suatu hari bisa sembuh. Aku percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk menyelamatkan anakku, meski keterbatasan ekonomi juga menjadi hambatan.Semua tabungan sudah aku kuras dan barang berharga sudah aku jual. Namun perjuangan ini masih jauh dari kata cukup. Dokter menyarankan anakku menjalani pemeriksaan lanjutan seperti scan otak, kemoterapi, hingga kemungkinan tindakan operasi. Sayangnya, keterbatasan biaya menjadi penghalang terbesar kami saat ini.Perjalanan berobat dari Pulau Nias ke rumah sakit di Medan bukan perjalanan singkat. Dibutuhkan waktu berhari-hari, biaya besar, dan kesiapan yang tidak ringan. Ayah Kensa hanya seorang buruh bangunan, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh tani.Selain biaya transportasi, Kensa juga membutuhkan biaya untuk obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kensa tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kensa!
Dana terkumpul
Rp 13.896.380
13 hari lagi
Dari Rp 13.896.380
Donasi
Anak
Hari-hari Habibie Dipenuhi Tangis, Jarum Suntik, dan Perjuangan Melawan Sakit
“Penyakit membuat kondisi dada anakku membusung ke depan, tulang belakang mulai melengkung, sering berkeringat, gigi depan atas sudah habis, berat badan hanya sekitar 7,5 kilogram.”“Ia mudah lelah, belum bisa berjalan, belum bisa berbicara, dan masih hanya bisa merangkak atau ngesot. Untuk makan pun terbatas, bahkan susu melalui selang NGT hanya sekitar 60 ml setiap pemberian karena lambungnya belum mampu menampung lebih banyak.” -Euis Helawati, Orang tua Habibie-Anakku, Habibie Ihtisyam Naji (3 thn), sudah harus berjuang lebih keras dibanding anak-anak pada umumnya. Di usia 8 bulan, Ia mengalami batuk dan demam tinggi. Dokter menyatakan bahwa ada bercak pada paru-parunya dan harus minum obat rutin. Penyakitnya sempat dinyatakan sembuh, tapi kelegaan itu tak bertahan lama. Anakku tetap sering mengalami demam, bahkan berat badannya tak kunjung naik. Aku merasa ada hal tidak beres yang terjadi pada anakku. Setelah itu, fakta lebih berat akhirnya terungkap.Anakku didiagnosa sakit jantung! Hatiku rasanya bagai terhentak keras saat mendengar kabar buruk itu. Hal yang lebih menyakitkan lagi, kebocoran pada jantungnya ada di dua titik dan disertai pembengkakan. Ia harus segera melanjutkan pengobatan dari Subang, Jawa Barat ke Jakarta. Tanpa pikir panjang, aku langsung menguras semua tabungan asal anakku bisa berobat. Namun, saat akan pemeriksaan lanjutan di Jakarta, anakku mengalami demam tinggi. Akhirnya tindakan ditunda, dengan berat hati aku terpaksa membawa anakku kembali ke kampung halaman dengan sia-sia. Tidak ada hal yang lebih meresahkan dari ketidakpastian. Dua minggu anakku dirawat di rumah sakit daerah, syukurlah kondisinya membaik dan tiba saat Ia menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun, kabar berikutnya yang harus ku terima, bagai tamparah keras.Ternyata, selain sakit jantung, anakku didiagnosa anemia dan infeksi berulang hingga harus menerima transfusi darah. Sejak itu, hidup yang dijalani anakku adalah tentang masuk ruang perawatan rumah sakit hingga jarum suntik.Di tengah keterbatasan, ada rasa takut yang terus menghantui jika pengobatan anakku terhenti. Ia bisa mengalami gizi buruk dan keterlambatan tumbuh kembang yang lebih parah. Secara finansial, perjuangan ini sudah melewati batas kemampuan. Segala yang bisa dijual demi pengobatan anak telah dilepas, motor, sepeda listrik, bahkan rumah pun nyaris menjadi pilihan terakhir. Penghasilan sebagai kuli bongkar di pasar tidak pernah menentu, sementara kebutuhan anak sakit tidak pernah bisa menunggu.Di titik terendah, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Habibie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Habibie!
Dana terkumpul
Rp 2.573.004
11 hari lagi
Dari Rp 26.241.000
Donasi
Anak
Bertaruh Harapan ke Jakarta, Demi Jantung Kecil Naziya yang Terus Berjuang
“Tanpa kepastian biaya hidup, aku membawa anakku berobat ke Jakarta dengan bermodal keberanian dan harapan. Namun, ujian kembali menghempasku. Siapa sangka, ditengah perjuangan itu, tiba-tiba aku mengalami sakit pada organ hati!”“Namun, dibalik semua kesulitan pasti ada kemudahan. Syukurlah Tuhan masih memberi kekuatan dan kesembuhan agar saya bisa kembali berjuang untuk anakku. Hanya satu hal yang membuatku tetap bertahan, keinginan untuk melihat anakku tumbuh sehat, bermain, dan menikmati masa kecilnya seperti anak-anak lainnya.” -Verawati, Orang tua Naziya-Duniaku terasa berhenti sejenak di hari kelahiran anakku, Naziya Chaerunnisa Kanza (1 thn). Tiba-tiba saja dokter datang dengan wajah serius dan mengatakan anakku mengalami kelainan jantung bawaan. Perasaan bersalah langsung menyergapku, apalagi karena ku melahirkannya secara prematur di usia kandungan 8 bulan.Tidak ada yang lebih menyakitkan, selain melihat anakku harus berjuang untuk tetap hidup. Sekedar bernapas saja, Ia terengah-engah. Tubuhnya tampak lemah dan mungil karena susah naik berat badan. Belum lagi, wajahnya akan berubah warna kebiruan setiap sakitnya kambuh.Anakku harus menjalani pengobatan dari Medan ke Jakarta.Perjalanan ini bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang tenaga, waktu dan biaya yang terus aku usahakan meski dengan segala keterbatasan. Aku akhirnya berhutang dan menjual barang yang bisa dijual agar anakku bisa terus berobat. Hingga saat ini, anakku sudah menjalani 2 kali kateterisasi jantung, CT scan, rontgen hingga echo jantung. Saat ini, anakku masih menanti tindakan lanjutan dari dokter. Aku yakin, setiap pengobatan yang melelahkan ini, akan membawa anakku menuju kesembuhan yang aku impikan. Namun, pengobatannya masih panjang dan aku harus terus mengeluarkan biaya yang besar. Suamiku hanya bekerja sebagai pengemudi taksi online, penghasilannya tak menentu. Ia juga tidak bisa bekerja selama mendampingi anak kami berobat ke Jakarta.Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Naziya tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Naziya!
Dana terkumpul
Rp 2.858.002
6 hari lagi
Dari Rp 50.000.000
Donasi