Panggilan Mendesak

camp
Kemanusiaan

Wujudkan Rumah Sakit Apung Nusa Waluya II (RSA 3)

Rumah Sakit Nusa Waluya II merupakan Rumah Sakit Apung ketiga doctorSHARE yang mana rumah sakit berbentuk tongkang pertama di dunia dan menjadi fasilitas perawatan kesehatan tingkat lanjut di seluruh kepulauan Indonesia salah satunya Kepulauan Papua di tahun 2024.Rumah sakit ini dapat merawat pasien yang membutuhkan perhatian medis khusus yang dirujuk ke rumah sakit apung oleh Puskesmas setempat. Hal ini akan terkoordinasi dengan baik dengan sistem kesehatan lokal dengan memanfaatkan fasilitas RSA Nusa Waluya II yang lebih lengkap.RSA Nusa Waluya II dirancang dengan tujuan program pelayanan jangka panjang, bisa menyediakan layanan kesehatan primer serta lanjutan, dan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat serta tenaga medis setempat. Dengan fasilitas setara rumah sakit Tipe C di darat, masyarakat setempat dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan dekat dengan tempat wilayah merekaPada pelayanan medis selanjutnya RSA Nusa Waluya II akan mendukung fasilitas kesehatan milik pemerintah di daerah yaitu Kepulauan Yapen Papua. Akses perawatan lanjutan semakin mudah dan perawatan primer seperti Puskesmas akan diperkuat perannya dengan keberadaan RSA Nusa Waluya II.Bantuan dan perhatian anda akan sangat berdampak bagi 6.000 pasien wilayah tersebut melalui implementasi RSA Nusa Waluya II untuk menyediakan:1. Peralatan Medis dan Fasilitas : Pemeliharaan dan perbaharuan peralatan medis, termasuk peralatan diagnostik, alat bedah, dan perlengkapan medis lainnya.2. Tenaga Medis dan Pelatihan : Pelayanan medis 6000 pasien, 100 operasi mayor, 200 operasi minor, 100 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil dan tenaga kesehatan di setiap lokasi.3. Operasional Lapangan : Biaya operasional seperti transportasi laut, logistik medis, dan administrasi harian untuk memastikan Rumah Sakit Apung dapat beroperasi dengan efisien dan responsif terhadap kebutuhan mendesak komunitas dilayani#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini 
Dana terkumpul Rp 14.388.019
4 hari lagi Dari Rp 9.551.272.500
Donasi
camp
Anak

Perut Membesar dan Kaki Menyusut, Nizam Tak Bisa Berjalan Akibat Berbagai Penyakit

“‘Aku kuat dan semangat sembuh, Ma,’ ucap anakku dengan senyum kecil yang berusaha tegar. Kalimat itu menghangatkan hatiku sekaligus membuat pilu. Di usia yang seharusnya diisi tawa dan permainan, Ia justru harus belajar tentang sakit dan rasa lelah karena berjuang mempertahankan hidup.”“Di sela Ia meyakinkanku bahwa Ia baik-baik saja, anakku masih terus menunjukkan tanda sebaliknya. Ia mengalami batuk hebat, jantungnya sering berdegup terlalu kencang, perutnya membesar sementara kakinya semakin mengecil hingga Ia tak lagi mampu berjalan. Tak ada luka yang lebih dalam daripada melihat anak sendiri menahan sakit.” -Supriandi, Orang tua Nizam-TBC, gizi buruk, dan gangguan organ hati silih berganti terus menghantam tubuh anakku, Nizam Alhanan (2 thn), yang rapuh. Baru saja merasakan udara dunia,  anakku sudah menerima cobaan berat. Ia lahir dengan terlilit tali pusar. Meski saat itu kondisinya dinyatakan baik-baik saja, sebagai orang tua aku tetap menyimpan rasa cemas.Waktu berlalu, dan Nizam tumbuh serta berkembang seperti anak-anak lainnya. Namun, ketenangan itu perlahan runtuh ketika usianya menginjak 1 tahun 6 bulan. Demam tinggi dan diare berulang terus menyerangnya tanpa henti. Hasil pemeriksaan menyatakan Nizam mengidap penyakit paru-paru (TBC) dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Dengan harapan besar, aku patuh menjalani setiap anjuran dokter.Namun harapan itu kembali runtuh. Pengobatan yang dijalani tak menunjukkan perubahan, justru kondisi anakku semakin melemah hingga dua kali harus keluar masuk rumah sakit. Akhirnya, Nizam dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan di sanalah semua penyakitnya terungkap.Kini, setiap tangisan Nizam terasa seperti luka yang menggores hatiku. Tangisannya seolah menjadi bahasa pengaduan atas rasa sakit yang harus Ia tanggung sendiri. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa memeluknya, memberikan obat dan air putih hangat, sambil berdoa semoga rasa sakit itu sedikit mereda.Anakku masih harus terus menjalani pengobatan. Namun, biaya yang dibutuhkan jauh di luar kemampuanku. Suamiku hanyalah seorang pegawai honorer, dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Sementara pengobatan Nizam memerlukan biaya besar, bahkan sekadar biaya transportasi dari Desa Tanah Merah, Sumatera Utara, menuju Kota Medan pun menjadi beban berat bagi kami. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, vitamin, dan kebutuhan penunjang lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nizam tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nizam!
Dana terkumpul Rp 26.476.500
8 hari lagi Dari Rp 25.950.000
Donasi
camp
Kesehatan

Gagal Jantung di Usia 30, Aku Hampir Tak Kembali dari saat melahirkan anakku

“Nyawaku terancam! Kondisiku tak sadarkan diri dan kritis saat akan melahirkan! Semua akibat jantungku tidak stabil dan napasku sesak.”“Akhirnya, dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi caesar pada persalinanku demi menyelamatkanku dan bayiku.”Perkenalkan, aku Jumiyati (31 thn). Hidupku berubah total ketika usiaku memasuki 30 tahun, aku didiagnosa mengalami gagal jantung. Awalnya, aku mengalami bengkak seluruh badan, nyeri dada disertai sesak napas parah yang membuatku nyaris saja pingsan. Saat periksa ke rumah sakit, dokter menemukan bahwa paru-paruku dipenuhi cairan, hingga jantungku tidak bisa bekerja dengan baik. Aku sampai harus dirawat di ICU rumah sakit selama 7 hari. Seketika lututku lemas, rasanya tak percaya di tubuhku ada penyakit mematikan. Sejak itu, aku harus bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Namun, hingga kini aku masih sering mengalami sesak napas dan nyeri dada. Segala aktivitasku terbatas, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat pun sudah tidak sanggup lagi.Hidupku bergantung pada alat bantu napas tabung portabel. Jadi, setiap bulan keluargaku harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan biaya untuk membeli oksigen. Belum lagi, biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat uang tidak dicover BPJS, terapi jantung, dan kebutuhan lainnya. Orang tuaku bekerja sebagai petani, sedangkan suamiku bekerja hanya sebagai kuli bangunan. Penghasilan keluargaku tak menentu, itupun untuk sehari-hari terbatas. Semakin terpukul lagi aku, karena aku memiliki anak-anak yang masih kecil dan membutuhkanku. Di tengah semua keterbatasan ini, aku harus terus berjuang untuk sembuh demi anak-anakku. Begitupula suamiku, yang bekerja lebih keras, bahkan mencari pekerjaan tambahan, hanya agar aku bisa terus melanjutkan pengobatan dan tetap bertahan.Namun, kenyataannya biaya sering menjadi kendala terbesar. Jika aku tidak melanjutkan pengobatan, kondisiku bisa memburuk dan mengancam nyawaku.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jumiyati tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jumiyati!
Dana terkumpul Rp 1.408.000
4 hari lagi Dari Rp 1.300.000
Donasi

Pilihan Campaign