Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Selain Sakit Jantung, Arjuna Juga Mengalami Lumpuh Akibat Ada Nanah di Otaknya!
“‘Tidak apa-apa Nak, jika kamu sudah terlalu lelah berjuang dan tak ingin lagi berada di pangkuan Ibu. Ibu ikhlas,’ bisikku lirih di telinganya. Dua puluh hari ia terbaring koma, dan aku tak lagi sanggup menahan perih karena anakku menderita.”“Ada gumpalan nanah di dalam jaringan otak anakku! Tiga bulan penuh ia harus dirawat inap di rumah sakit. Seluruh tabunganku habis untuk pengobatannya, hingga aku dan anakku harus terusir dari kontrakan. Di saat nyawa anakku dipertaruhkan, hidupku seakan di ujung jurang.” -Vani Susanti, Orang tua Arjuna-Selain otaknya terinfeksi virus, anakku Arjuna Sutarno Putra (7 thn) juga mengalami kelainan jantung bawaan. Penghasilan suamiku yang hanya berasal dari berdagang pisang sering kali tak cukup untuk menutup biaya pengobatan Arjuna. Setiap hari kami berjuang dengan keterbatasan.Saat ini, kondisi anakku berbeda dari anak-anak seusianya. Ia belum mampu berjalan karena ada stroke di bagian kanan tubuhnya, dan berat badannya sulit naik. Sesak napas kerap datang tanpa aba-aba, membuatku harus memberikan uap hingga tiga kali sehari agar anakku bisa bernapas sedikit lebih lega.Mimpi buruk anakku bermula ketika Ia berusia 1 tahun. Aku melihat kukunya membiru. Awalnya aku mengira Ia hanya kedinginan. Namun aku curiga, kian hari kukunya semakin menggelap. Saat aku bawa ke dokter, barulah ketahuan Ia punya penyakit jantung.Selama 6 tahun sakit, anakku belum pernah menjalani operasi. Ia lebih sering keluar-masuk rumah sakit akibat abses di otaknya. Untuk penyakit jantungnya, ia hanya bergantung pada antibiotik. Jika sakitnya kambuh, Ia akan memegang kepalanya untuk menunjukkan Ia kesakitan. Meski hidupnya dipenuhi penderitaan, tapi anakku semangat untuk sembuh. Ia anak yang aktif dan pantang menyerah. Dengan napas terengah-engah, Ia tetap berusaha belajar berjalan meski tubuhnya tak mampu mengimbangi keinginannya. Ia belum bisa bicara, jadi aku tak tahu apa yang Ia rasakan selama ini. Anakku akan menjalani operasi kateterisasi jantung karena karena kondisi abses otaknya mulai membaik. Namun, biaya pengobatannya sangat berat. Aku sudah menggadaikan motor demi menyewa ambulans agar anakku bisa dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Rumah pun telah tergadai, barang berharga dijual, dan utang kepada teman-teman menjadi jalan terakhir agar Arjuna tetap bisa berobat selama ini. Saat ini anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, nebulizer dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arjuna tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arjuna!
Dana terkumpul
Rp 11.304.998
12 hari lagi
Dari Rp 11.380.000
Donasi
Keagamaan
Al Qur’an Braille untuk Teman Tunanetra di Indonesia
Jumlah penyandang tunanetra di Indonesia masih cukup banyak. Data Sensus Ekonomi Indonesia tahun 2018 mengungkapkan 14% dari jumlah total total populasi Indonesia atau sekitar 4,2 juta adalah penyandang tunanetra. Apabila ditarik lagi dari data tersebut, Menurut data Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, mayoritas tunanetra muslim di Indonesia masih buta aksara Al Qur'an. Salah satu penyebabnya adalah karena mahalnya harga Al Qur'an Braille di Indonesia yang bisa mencapai jutaan rupiah.Hingga saat ini, baru sekitar 20.000 Al Qur'an Braille yang sudah disebar ke berbagai daerah di Indonesia. Padahal, kebutuhan Al Qur'an Braille di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2 jutaan. (Sumber: Panti Sosial Bina Netra (PSBN), 2019).Melihat masalah tersebut, Komunitas We Love Others berusaha untuk memfasilitasi pemberian Al Qur'an Braille untuk para penyandang tunanetra di Indonesia yang memiliki hak yang sama untuk dapat membaca bahkan menghafalkan Al Qur'an. Untuk tahap pertama, jangkauan pemberian Al Qur'an Braille ditujukan kepada para penyandang tunanetra yaitu siswa dan pengajar Al Qur’an di daerah Lumajang, Jember, dan Magetan (Jawa Timur). Kemudian pembagian akan semakin luas jangkauannya ke penerima manfaat di seluruh Indonesia. TemanBaik, yuk dukung program pemberian Al Qur'an Braille bagi teman-teman tunanetra di Indonesia yang digagas Komunitas We Love Others dengan cara:Klik “Donasi Sekarang”.Isi nominal donasiBoleh memilih donasi lewat mana saja, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul
Rp 5.004.015
2 hari lagi
Dari Rp 165.000.000
Donasi
Kesehatan
5 tahun Tak Tahu Alami Kanker Otak, Oktapiani Kini Terancam Buta!
“Diam-diam kanker otak tumbuh di kepala istriku selama 5 tahun! Awalnya, istriku mengalami nyeri di kepala dan matanya. Keterbatasan biaya membuat istriku tidak bisa berobat, sehingga kami tak pernah tau penyakitnya. Hanya obat murah dari warung yang menjadi satu-satunya menjadi pereda rasa sakitnya.”“Kini, penyakit itu mulai merenggut penglihatannya! Dunia yang Ia lihat hanya hitam dan putih, jarak pandangnya hanya bisa 1 meter, setiap langkah yang Ia tempuh harus sambil meraba dinding. Aku merasa bersalah, karena istri yang ku cintai harus menanggung penderitaan panjang dalam diam, dan aku tak bisa berbuat banyak.” -Jafar, Suami dari Oktapiani-Istriku, Oktapiani (33 thn), seolah kehilangan hidupnya yang dulu Ia miliki. Hari-harinya sekarang lebih banyak dihabiskan dengan berbaring atau duduk diam di bale, akibat penglihatannya terbatas. Terkadang sakitnya kambuh, nyeri hebat akan menyerang kepala dan matanya.Sekedar berjalan ke kamar mandi, istriku harus dituntun atau meraba dinding. Lantai kamar mandi yang masih berupa tanah licin yang belum dikeramik, menjadi rintangan yang membuat setiap langkah terasa berbahaya. Hari-hari yang dijalani istriku tak lagi mudah, bahkan untuk kebutuhan paling sederhana. Namun, di tengah kesulitan itu, anak-anak kami menjadi sumber kekuatan untuk istriku. Tawa dan perhatian kecil dari mereka kerap menghibur ibunya, menumbuhkan semangat untuk terus bertahan dan berharap sembuh.Istriku telah menjalani operasi di kepalanya. Namun, operasi itu bukan akhir dari perjuangan. Ia masih membutuhkan pengobatan lanjutan agar luka bekas operasi tidak terinfeksi dan tidak semakin merusak penglihatannya.Sementara itu, penghasilanku sebagai tukang bubur jauh dari cukup untuk menanggung biaya pengobatan yang besar. Aku juga harus memikirkan dua anak kami yang masih sekolah. Tak jarang, aku mengetuk pintu rumah saudara atau tetangga, meminjam uang hanya untuk ongkos mengantar istriku ke rumah sakit.Kondisi ekonomi kami semakin terpuruk saat aku harus berhenti bekerja demi mendampingi istriku berobat. Pernah suatu hari, ketika istriku harus masuk ICU, uang terakhir yang kumiliki hanya cukup untuk membeli pampers untuknya. Sementara perutku sendiri perih menahan lapar, aku hanya bisa meneguk air putih agar tetap bertahan. Saat ini, istriku masih sangat membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, pampers, serta kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Oktapiani tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Oktapiani!
Dana terkumpul
Rp 4.455.001
3 hari lagi
Dari Rp 17.313.000
Donasi