Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Lansia
200 Lebih Lansia Prasejahtera di Desa Lembu, Semarang Butuh Santunan Darimu
Peningkatan jumlah penduduk lansia disebabkan karena adanya tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, kemajuan di bidang pelayan kesehatan dan lain sebagainya. Menurut Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, ada 30,16 juta jiwa penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun 2021. Melihat meningkatnya jumlah lansia, itu juga yang terjadi di Lingkungan Desa Lembu, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Total kurang lebih 200 orang lansia membutuhkan bantuan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Contohnya saja lansia bernama Mbah Raminah yang berusia 80 tahun yang tinggal di rumah gubuk berukuran 3 x 6 meter, tidak memiliki apa-apa di dalam rumahnya dan hanya bisa mengandalkan pemberian dari saudara laki-lakinya yang juga lansia. Mbah Raminah mungkin 1 dari kebanyakan lansia yang sudah tidak bisa beraktivitas lagi dan membutuhkan bantuan dari tetangga karena faktor ekonomi dan juga kesehatan sebab umur. Maka dari itu adanya kita untuk membantu sesama apalagi untuk mereka yang membutuhkan. Donasi yang didapatkan dari galang dana ini nantinya akan disalurkan kepada lansia di Desa Lambu dalam bentuk sembako, lauk pauk, dan santunan. TemanBaik, ayo salurkan bantuan terbaikmu untuk lansia di Desa Lambu dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul
Rp 39.839.190
6 hari lagi
Dari Rp 184.000.000
Donasi
Kesehatan
Napasnya Tersengal Tiap Dorong Gerobak, Pejual Es Berjuang dari Sakit Jantung dan Batu empedu
“Napasku tersengal-sengal, kesulitan mendorong gerobak es yang menjadi penopang hidupku. Langkahku sering terhenti di tengah jalan dan tanganku refleks memegang dada yang nyeri, berharap penyakit jantungku tidak membuatku pingsan tiba-tiba. Semua perjuangan ini agar aku bisa terus berobat dan menghidupi 3 anakku.”“Namun, hidup terus mengujiku. Aku tiba-tiba didiagnosa sakit batu empedu dan motor satu-satunya yang menjadi sumber penghasilan keluarga kami hilang dicuri. Suamiku kini kehilangan cara untuk mencari nafkah. Akhirnya, aku terpaksa menolak operasi, bukan karena tak ingin sembuh, tapi tidak ada biaya...”Namaku Marpuah (34 thn). Entah bagaimana menggambarkan betapa letihnya tubuhku menahan sakit, sementara aku tetap harus berdiri dan berjalan demi bertahan hidup. Mau tak mau aku terus menyusuri jalanan mendorong gerobak es, menembus panas dan hujan. Pembeli kadang sepi, aku hanya bisa pulang dengan tangan hampa. Suamiku tak tinggal diam, Ia berupaya meminjam motor saudara untuk ngojek, itupun kalau motornya tidak dipakai. Penghasilanku dan suami tak pernah pasti. Jangankan untuk berobat, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja susah.Awalnya, aku sendiri tak pernah tahu bahwa ada penyakit jantung bawaan dalam tubuhku. Hingga suatu hari, tiba-tiba dadaku terasa panas dan napasku sesak. Saat aku ke rumah sakit, barulah kenyataan pahit itu terungkap. Dokter langsung menyarankan agar aku operasi jantung.Sebenarnya aku takut, sangat takut. Tapi setiap kali aku menatap wajah anak-anakku, aku tahu aku harus bertahan. Aku ingin tetap hidup untuk mereka. Berbekal keberanian yang tersisa, aku akhirnya menjalani operasi dan kini harus rutin kontrol untuk memastikan kondisiku tetap stabil.Namun, cobaan belum juga berhenti. Tak lama setelah itu, rasa sakit hebat kembali datang, kali ini bukan di dada, tapi di perut. Setelah diperiksa, aku didiagnosis menderita batu empedu. Sejak saat itu, aku harus mengkonsumsi obat rutin untuk menghancurkannya.Nyeri di bagian bawah pinggang terasa terus-menerus, membuatku semakin sulit bergerak, apalagi bekerja. Sku kehilangan kemampuan untuk beraktivitas dan mencari nafkah seperti dulu. Modal jualan es pun habis, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.Tak ada pemasukan, tak ada pegangan. Aku pernah berada di titik di mana hanya ada satu butir telur ceplok di dapur dan itu harus kubagi untuk kami berempat, untuk anak-anakku. Tetangga tak mau meminjamkan uang, mungkin takut aku tak mampu mengembalikannya.Saat ini, aku masih berjuang dan masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Marpuah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Marpuah!
Dana terkumpul
Rp 1.630.003
7 hari lagi
Dari Rp 3.872.000
Donasi
Kemanusiaan
Kehidupan Panti ODGJ Wanita Di NTT Terancam Terbengkalai Akibat Kekurangan Biaya!
“Saya sering terpaku setiap melihat perempuan dengan gangguan jiwa yang terlantar di jalanan. Mereka berjalan tanpa arah, sendirian dan tidak ada yang peduli. Saya sering bertanya, apakah mereka sudah makan? Di mana mereka berteduh ketika hujan deras? Bahkan, mereka berlumuran darah karena haid."“Kondisi mereka sangat tidak aman dan sangat beresiko mendapat tindak kejahatan. Tidak ada yang peduli, dunia begitu kejam untuk mereka. Berangkat dari hati yang menangis, disitulah saya memberanikan diri untuk bergerak menampung dan merawat mereka. Setiap hari saya usahakan mereka bisa makan, meski saya harus berhutang .”Saya Katarina Deno (65 thn). Sejak 2017 silam, saya memilih jalan hidup yang mungkin tidak banyak orang sanggup untuk jalani, yaitu merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang bergender wanita. Tak terasa, sudah 9 tahun saya berdiri bersama mereka di Panti Lembaga Pelayanan Kasih Samaria. Setiap harinya adalah perjuangan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi ODGJ dan menghadirkan kembali rasa manusiawi bagi mereka yang kehilangan segalanya.Saat ini, sudah ada 40 ODGJ yang tinggal di panti yang berlokasi di Jl. Prof W. Z. Yohanes, Rewarangga Selatan, Ende Timur, Ende, Nusa Tenggara Timur. Saya berusaha memastikan mereka agar tetap bisa makan, mengenakan pakaian bersih dan memiliki tempat tinggal yang nyaman.Mereka makan 3 kali sehari, meski dengan lauk sederhana seperti tempe, sayur dan tahu. Saya juga selalu mendampingi mereka untuk minum obat secara teratur, bekerja sama dengan perawat mengontrol jadwal pemeriksaan mereka. Lantaran mereka sakit karena masalah kejiwaan, saya juga membantu memberikan dukungan moral agar mereka agar terus merasa diperhatikan dan tidak terasingkan. Saya tahu, luka terbesar mereka bukan hanya dari pikiran, tapi juga dari perasaan ditinggalkan dan tak dianggap.Di sela keterbatasan, saya juga berupaya memberikan mereka harapan. Para ODGJ diberikan pelatihan kemandirian, seperti membuat kerajinan tangan kemoceng. Selain itu, pembinaan keagamaan juga diberikan dari tim penyuluh kementerian agama.Namun hari ini, perjuangan saya semakin berat. Donasi yang berasal dari bantuan masyarakat dan bantuan sukarela kini berkurang. Saya bahkan terpaksa mengurangi porsi makan, memberi seadanya karena memang keterbatasan biaya.Panti juga berada di lahan milik pemerintah daerah, bisa sewaktu-waktu bisa diminta pindah. Di tengah ketidakpastian, panti masih berjuang untuk biaya untuk makan, obat-obatan hingga perawatan bagi para ODGJ.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan para ODGJ wanita tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup para ODGJ wanita!
Dana terkumpul
Rp 6.440.000
15 hari lagi
Dari Rp 48.500.000
Donasi