Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Di Ambang Kematian karena Tumor di Jantung, Ibu Erni Tak Ingin Menyerah

“Dokter mendiagnosis aku mengidap tumor jantung jenis myxoma. Penyakit ini sangat berbahaya, jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan stroke atau bahkan kematian mendadak. Selain sesak napas berat, penyakit ini mebuatku sering muntah, jantung terasa sangat berat, serta dada terasa panas dan nyeri.” - Aku Erni Fitriani Lestari (46 thn)Tanpa aba-aba, penyakit ini tiba-tiba datang dan membuatku merasakan sesak napas hebat! Bahkan, aku sampai tak bisa beraktivitas sampai akhirnya harus rawat inap di rumah sakit selama satu minggu. Saat itu, belum ada kepastian perihal penyakit apa yang ada di dalam tubuhku.Setelah itu, aku menjalani pemeriksaan lanjutan. Saat itulah penyakit yang tak pernah terpikirkan olehku itu ternyata ada di dalam tubuhku. Dokter menyatakan ada tumor dalam jantungku, kini penyakit itu sudah mengganas hingga menutup katup jantungku. Duniaku rasanya runtuh seketika! Hari demi hari, kondisiku kian memburuk. Aku sering tiba-tiba drop hingga bolak-balik dilarikan ke ICU rumah sakit. Tubuhku mulai membengkak karena terlalu banyak cairan obat yang masuk. Sayangnya, obat itu pun bukan untuk membuatku sembuh, tapi untuk meredakan nyeri dari sakitku.Satu-satunya cara untukku terus bisa bertahan hidup adalah dengan operasi, karena ukuran tumor itu terus membesar dan sangat berbahaya. Namun, tindakan itu hanya bisa dilakukan di Jakarta. Kondisi keuanganku yang terbatas, membuatku menjual aset apapun yang aku punya.Akhirnya aku pergi dari kampung halaman di Kalimantan ke Jakarta. Aku sudah menjalani operasi bedah jantung dan pembukaan tulang rusuk untuk pengangkatan tumor. Syukurlah, operasi itu berjalan lancar meski aku sempat drop dua kali hingga harus masuk ICU rumah sakit.Perjuanganku belum selesai, aku masih dalam masa pemulihan dan masih harus menjalani kontrol rutin setiap minggu. Masalah biaya lagi-lagi menjadi kendala pengobatanku, apalagi biaya hidup di Jakarta sangat besar. Aku merupakan single parent, pekerjaanku ketika masih sehat adalah seorang terapis. Sejak sakit ini datang, seluruh aktivitas saya benar-benar berhenti termasuk bekerja. Setiap gerakan mempengaruhi detak jantung dan membuat sesak semakin parah. Saat ini, aku ingin sekali kondisiku segera membaik agar bisa kembali pada anak-anakku yang terpaksa aku tinggalkan di kampung halaman. Aku sangat membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Erni tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup  Erni!
Dana terkumpul Rp 4.028.005
13 hari lagi Dari Rp 31.422.800
Donasi
camp
Anak

Keluar Masuk Rumah Sakit Tiap Bulan, Adzriel Didiagnosa Jantung Bocor dan Down Syndrom

“Titik terkelamku adalah ketika melihat tubuh kecil anakku masuk ruang PICU dan dipasangi alat ventilator, aku hanya bisa menangis karena tak tega. Pikiranku bertanya-tanya, seberapa sakit yang Ia rasakan? Apakah Ia bisa menahan semuanya?”“Hatiku semakin hancur ketika sebuah selang NGT dimasukkan melalui hidungnya untuk makan dan minumnya. Tangisnya yang lirih seakan menusuk sampai ke hati. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, ‘seberapa sakit yang sedang anakku rasakan? Apakah tubuh kecilnya sanggup menahan semua ini?” -Haedy, orang tua Adzriel-Kenyataan berat harus aku terima begitu anakku, Muhammad Adzriel Alfarizqy (1 thn), lahir. Saat itu, dokter mengatakan bahwa ada tanda-tanda down syndrom pada anakku. Sambil menangis, aku hanya bisa menatap wajahnya sambil terus berdoa, semoga semua ini hanya kekhawatiran sementara.Namun, ujian itu ternyata baru saja dimulai. Tiga hari setelah membawa anakku pulang ke rumah, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kekuningan sampai harus dirawat di rumah sakit. Di tengah kecemasan itu, lagi-lagi hal buruk lainnya muncul, anakku mendadak mengalami sesak napas.Ternyata dokter lagi-lagi membawa berita yang membuat hatiku hancur, anakku didiagnosa jantung bocor. Sejak itu, hidupku dipenuhi suara alarm IGD, ruang perawatan dan tangis. Siapa sangka, setiap bulan anakku harus keluar masuk rumah sakit karena sesak napas dan infeksi paru-paru berulang.Setiap hari aku selalu memeluk dan mengajak anakku berbicara, ‘Ayo Dek, lawan sakitnya ya. Dedek anak hebat. Dedek pasti kuat dan bisa sembuh.’ Hanya itu yang bisa terus aku tanamkan agar Ia terus bertahan, sambil berharap Allah SWT mengangkat semua penyakit yang dideritanya.Di tengah perjuangan ini, aku juga dihimpit masalah ekonomi. Suamiku hanya bekerja sebagai petugas keamanan, sedangkan aku bekerja sebagai pegawai swasta. Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan tiga anak kami sekaligus biaya pengobatan Adzriel.Sebagai orang tua, aku berharap anakku bisa tumbuh sehat, bisa bernapas lega tanpa alat bantu, bermain dan tertawa seperti anak lainnya. Namun, aku kesulitan memenuhi biaya pengobatan anak yang membutuhkan transportasi ke rumah sakit, membeli obat, alat medis dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Adzriel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Adzriel!  
Dana terkumpul Rp 12.626.000
3 hari lagi Dari Rp 12.516.000
Donasi
camp
Kesehatan

Ma, Aku Ingin Bisa Berjalan dan Sekolah Lagi

Kondisi kaki Kiki ( 12 tahun ) sejak lahir memang sudah berbeda, tidak seperti anak normal lainnya. Bisa dibilang itu awal mula ia mengidap Osteogenesis imperfecta. Penyakit genetik langka yang ditandai dengan tulang rapuh dan lemah, sehingga menyebabkan mudah patah.Sempat dilakukan penambahan urat di kedua kakinya di RSUD Arifin Achmad supaya kondisi kaki bisa lurus. Walaupun sempat bisa berjalan sampai usianya 2 tahun, namun kondisinya kembali memburuk setelah ia terjatuh  dan kakinya mengalami patah tulang. Sudah dilakukan belasan operasi di RS Eka Hospital dan RSCM Jakarta, namun belum ada perubahan maksimal untuk Kiki. Ia harus terus menjalani pengobatan untuk menghindari kerapuhan tulang yang nantinya dapat membuatnya tak bisa berjalan.Akibat osteogenesis imperfecta yang dideritanya, Kiki kini tak bisa sekolah, hanya bisa berobat dan minum obat serta susu tulang dengan rutin.Orang tua berharap ada keajaiban untuk Kiki bisa sembuh. Karena dokter mengatakan alat yang dibutuhkan untuk kaki Kiki hanya bisa dipesan dari luar negeri dengan biaya yang sangat mahal.  Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan pas-pasan. Perjalanan Kiki masih panjang. Ia ingin bisa berjalan dan meraih cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur'an.Yang bisa kita bantu saat ini ialah memenuhi kebutuhan obat yang tidak ditanggung BPJS serta kebutuhan lainnya selama masa pengobatan Kiki. TemanBaik, jangan biarkan tulangnya rapuh, bangkitkan semangatnya dengan bantuanmu.Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul Rp 20.356.589
4 hari lagi Dari Rp 70.355.000
Donasi

Pilihan Campaign