Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Anak Tukang Cuci Berjuang Sembuh dari Bibir Sumbing dan Sindrom 13!
“Anakku didiagnosa sindrom 13 patau! Sebuah kelainan langka yang menyebabkan membuatnya lahir dengan banyak keterbatasan, dari bibir sumbing hingga gangguan penglihatan. Rasanya duniaku runtuh begitu mendengar kondisinya.”“Setiap hari aku menatapnya terbaring di ranjang rumah sakit, tubuh mungilnya dipenuhi selang dan alat medis. Aku ingin kuat, tapi air mata tak pernah benar-benar kering. Demi terus berjuang untuknya, aku bahkan terpaksa meminjam uang ke rentenir. Aku hanya ingin anakku ada kesempatan untuk hidup.” -Suharti, Orang tua Zaini-Anakku, Muhammad Zaini (18 bln), langsung masuk ICU begitu lahir. Berat badannya sangat rendah dan bibirnya memang sudah sumbing. Perasaanku kacau sekali saat itu! Bayangkan saja, dua minggu anakku harus di ruangan untuk pasien yang mengalami kritis.Aku kira anakku sembuh setelah diizinkan pulang dari rumah sakit, tapi setelah itu ternyata tiba-tiba Ia mengalami sesak napas, demam tinggi hingga kejang-kejang. Setelah kembali dilarikan ke rumah sakit, barulah anakku ketahuan ada kelainan sindrom.Lagi-lagi aku bagai tertampar oleh kenyataan! Apalagi sejak itu anakku jadi sering mengalami sesak napas hingga harus bergantung pada alat oksigen. Pernah Ia sampai 20 hari di PICU rumah sakit karena kesulitan bernapas, aku sampai berhutang kemana-mana untuk biayanya.Saat ini anakku sudah menjalani 2 kali operasi bibir sumbingnya. Melihat perubahan pada bibirnya yang semakin membaik, rasanya hatiku menjadi hangat karena bahagia. Perlahan, anakku mulai terlihat seperti anak-anak lainnya. Namun, Ia masih membutuhkan selang NGT untuk makan dan minumnya. Ia juga belum bisa melakukan apapun, selain berbaring di tempat tidur. Aku tidak akan menyerah demi kesembuhannya, aku lihat sendiri perubahan anakku lebih baik dan tidak ingin menyia-nyiakan perjuanganya.Anakku harus menjalani operasi lanjutan pada bibirnya, tapi lagi-lagi biaya yang besar menjadi kendala. Aku bekerja sebagai tukang cuci dan gosok, sedangkan suamiku bekerja sebagai kuli bangunan. Penghasilan kami sangat terbatas, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.Sementara anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT rutin dan kebutuhan lainnya.
Dana terkumpul
Rp 7.246.500
3 hari lagi
Dari Rp 10.421.000
Donasi
Pendidikan
Waktunya Gen Z Berkontribusi Bersama uc.you Wujudkan Pendidikan Gratis untuk Hak Semua Kalangan
Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur, masih banyak suara yang tak terdengar, suara anak-anak yang berhenti sekolah bukan karena enggan belajar, melainkan karena hidup menuntut mereka untuk bertahan. Di sanalah Nara Kreatif lahir, dari keyakinan sederhana namun kuat: pemuda harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton.Berawal dari keprihatinan akan banyaknya anak putus sekolah di Indonesia, Nara Kreatif berdiri sebagai kewirausahaan sosial yang ingin membuka jalan kembali bagi mereka yang sempat terhenti. Melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nara Kreatif, pendidikan kesetaraan diberikan secara gratis bagi anak-anak dan masyarakat prasejahtera, karena setiap anak, tanpa terkecuali, berhak memiliki masa depan.PKBM Nara Kreatif menyediakan jalur belajar dari Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), hingga Paket C (setara SMA), semuanya telah terakreditasi A sejak tahun 2021. Namun perjuangan mereka tak berhenti di ruang kelas. Nara Kreatif hadir langsung di tengah masyarakat, menggandeng kelurahan dan desa agar kegiatan belajar bisa dilakukan di aula publik atau area lingkungan. Tujuannya sederhana: agar siapapun bisa belajar tanpa harus memikirkan ongkos transportasi atau biaya tambahan yang kerap menjadi penghalang.Kini, Nara Kreatif berjuang membuka akses pendidikan gratis bagi anak-anak dan masyarakat putus sekolah di Rusun Tongkol, Jakarta Utara, wilayah padat penduduk yang banyak dihuni keluarga berpenghasilan rendah. Di tempat di mana sinar matahari pun sulit menembus tiap rumah, harapan tetap harus menyala.Bagi mereka, sekolah kejar paket gratis bukan sekadar ruang belajar, melainkan kesempatan kedua untuk bermimpi. Setiap ijazah yang diraih bukan hanya selembar kertas, melainkan simbol keberanian untuk bangkit, menatap masa depan, dan percaya bahwa mereka mampu mengubah hidupnya.Melalui program ini, setidaknya 150 hingga 250 orang akan merasakan manfaat nyata. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membuka dan mengelola sekolah ini: mulai dari operasional, pengembangan kurikulum, ujian kelulusan, hingga program pendampingan dan kegiatan penunjang lainnya.Sejak berdiri pada tahun 2013, Nara Kreatif tidak pernah berhenti berjuang. Di tengah segala keterbatasan, mereka terus melangkah, menggandeng banyak pihak yang memiliki semangat yang sama, pemerataan pendidikan untuk semua.Kali ini, Nara Kreatif bersama Endang Yustika (uc.you), seorang Gen-Z Preneur yang memiliki jiwa sosial tinggi, mengajak kita semua untuk ikut serta. Melalui kampanye ini, mereka ingin membuka mata publik bahwa di balik gemerlap kota, masih ada banyak anak yang membutuhkan tangan kita untuk menggapai mimpinya.Karena setiap rupiah yang disalurkan, setiap dukungan yang diberikan, bukan hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menyalakan kembali harapan. Dan mungkin, dari satu ruang kelas kecil di Rusun Tongkol, masa depan bangsa ini sedang lahir kembali.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu masyarakat yang putus sekolah di Rusun Tongkol agar bisa melanjutkan pendidikan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 188.000
2 hari lagi
Dari Rp 620.740.000
Donasi
Anak
Berulang Kali Dinyatakan Kritis, Ahmad Menderita 5 Penyakit Sekaligus
“Tak hanya berulang kali dinyatakan kritis, anakku juga sempat dinyatakan henti jantung! Lagi-lagi aku harus melihatnya terperangkap dalam balutan kabel dan selang medis hanya untuk sekedar bernapas. Tuhan, sampai kapan anakku hidup dalam penderitaan sebesar ini?”“Kesana-kemari aku mencari jawaban akan kondisi anakku, tapi yang aku terima justru kepahitan. Ternyata anakku telah digerogoti 5 penyakit sekaligus! Bahkan, Bakteri bakteri ganas itu sudah menyebar hingga organ vitalnya…” -Safitri, Orang tua Ahmad.Anakku, Ahmad Adrian (2 thn), dinyatakan distonia (otot berkontraksi tak terkendali), epilepsi (gangguan pada saraf otak), TBC (penyakit yang disebabkan oleh bakteri), kelumpuhan pada kedua kaki dan tangan, hingga masalah organ vital.Mimpi buruk mulai menguasai hidup anakku ketika Ia mengalami demam tinggi, muntah, diare, hingga akhirnya kejang. Anakku langsung masuk IGD rumah sakit dan dinyatakan kritis, akibat ada virus di otaknya. Sejak itu, duniaku juga ikut berantakan.Hari-hariku penuh dengan perasaan cemas dan doa akan keselamatan anakku. Ia bisa mengalami kejang hingga 15 kali, bahkan ada yang berlangsung hampir satu jam. Jantungnya bisa kekurangan oksigen ketika kejang hingga berakibat henti jantung.Aku bahkan sengaja menyewa rumah dekat dengan rumah sakit, agar anakku cepat tertolong ketika penyakitnya tiba-tiba kambuh. Pernah, jam 1 dini hari, ketika semua orang terlelap, anakku tiba-tiba mengalami henti jantung. Sepanjang malam, dokter melakukan pompa jantung hingga jam 7 pagi, hingga akhirnya jantungnya berdetak lagi.Kini tubuh anakku kaku karena efek kejang yang terus-menerus. Ia sering batuk dan membutuhkan alat medis untuk mengeluarkan dahaknya. Makan dan minum pun, selang NGT di hidung menjadi satu-satunya jalan. Tak ada tawa dan langkah riangnya, kadang suami membawanya jalan-jalan di sekitar rumah agar anakku ada hiburan.Sejujurnya, aku sempat hampir menyerah melihat kondisi anakku. Tapi ketika melihatnya berkali-kali selamat dari maut, hatiku terasa hangat. Jika anak sekecil itu saja tak berhenti berjuang, bagaimana mungkin aku menyerah?Namun, aku terkendala biaya untuk pengobatannya. Cincin kawin dan barang berharga sudah aku jual demi pengobatan anak selama ini. Sementara penghasilan suamiku terbatas meski sudah bekerja dari siang hingga malam, berpindah dari buruh tani, kuli bangunan, hingga buruh sawit. Anakku saat ini membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, alat medis untuk membantu pernapasannya, biaya kontrakan di dekat rumah sakit di Pekanbaru karena rumah kami jauh di Riau, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ahmad tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ahmad!
Dana terkumpul
Rp 8.524.510
8 hari lagi
Dari Rp 14.877.000
Donasi