Panggilan Mendesak

camp
Anak

Tolong Umar Pulih! Kejang & Koma Mengancam Hidupnya

Di awal November 2024, Umar Hanan Wibowo (5 tahun) mengalami kejang pertama kali hingga mulutnya mengeluarkan busa. Saat dilarikan ke IGD, kejangnya terus berulang, hingga akhirnya Umar koma selama satu minggu dan harus dirawat di ruang PICU.Umar yang tak sadarkan diri dirujuk ke RSUD di Jakarta Pusat. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan menemukan adanya gangguan serius pada otaknya.Umar menjalani perawatan intensif selama 16 hari, sempat pulang selama dua hari, namun kondisinya kembali memburuk. Dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat, Umar dilarikan kembali ke IGD dalam keadaan tidak sadarkan diri.Hingga kini, Umar masih harus menjalani pengobatan untuk infeksi otak yang dideritanya. Pengobatan ini tidak boleh terhenti, jika tidak, kondisinya dapat semakin memburuk. Bahkan, bisa mengancam nyawa Umar. Namun, biaya pengobatan yang tidak ditanggung jaminan kesehatan menjadi beban berat bagi keluarganya.Ayah Umar, Ari Wibowo, bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan 675 ribu rupiah per minggu, yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Keluarga Umar telah berusaha semaksimal mungkin untuk pengobatannya. #TemanBaik untuk bersama-sama membantu Umar melanjutkan pengobatannya. Caranya klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 5.632.010
3 hari lagi Dari Rp 10.539.000
Donasi
camp
Kesehatan

Berjuang di Sisa Usia, Pak Mugni Berjuang Melawan Kanker Usus Stadium 4

“Saat ini aku sedang bertarung melawan kanker stadium empat! Namun, perjuangan ini bukan hanya milikku seorang, tapi juga ada istriku, wanita yang tak pernah pergi meski setiap hari menyaksikanku menahan sakit. Di usia kami yang tak lagi muda, kami hanya hidup berdua, tanpa anak, dan saling menguatkan.”“Setiap hari perutku melilit hebat, membuatku merintih. Di sisi tempat tidur, istriku hanya bisa menangis, tak berdaya karena sering tak punya biaya untuk membawaku berobat. Ia hanya bisa mengusap perutku berulang kali, berharap sentuhannya bisa meredakan rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.”Aku Mugni (57 thn). Dulu aku seorang petani, pekerjaan yang membuatku merasa hidup, karena membuatku menafkahi diriku dan istriku. Namun, penyakit ini merenggut segalanya, tak hanya tubuhku, tapi juga penghasilanku. Kini, hidupku semakin sulit karena tak bisa bekerja lagi. Perut sebelah kiriku bengkak dan mengeras saat pertama kali penyakit ini datang. Aku sampai tidak bisa BAB, bahkan buang angin pun tidak. Dengan harapan sembuh, aku bergegas ke rumah sakit. Tapi kenyataannya, perutku malah makin membengkak hanya dalam waktu 1 malam.Dokter mengungkapkan kenyataan yang begitu kejam, aku didiagnosa kanker usus. Duniaku runtuh, sejak itu hidupku tak mudah. Aku buang air melalui perutku yang dilubangi, dengan ususku berada diluar perut setelah 2 kali menjalani operasi. Tubuhku semakin kurus dihabisi penyakit, bagai tulang dibalut kulit.Selama ini, kebutuhan sehari-hari dan pengobatan, aku hanya bisa menunggu bantuan dari keluarga dan tetangga. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Pernah kondisi tubuhku memburuk karena pengobatan terputus karena tak ada biaya.Di tengah semua kesulitan itu, istriku setiap hari merawatku, mengantarkanku bolak-balik ke rumah sakit dengan tubuhnya yang juga mulai renta. Kesabarannya menjadi kekuatan yang sering kali membuatku menahan air mata.Aku masih ingin sembuh. Aku ingin bisa bekerja lagi, berdiri di atas kaki sendiri, dan tidak merepotkan siapa pun. Namun jalanku masih panjang. Aku masih harus menjalani kemoterapi dan berbagai pengobatan lainnya.Saat ini aku sangat membutuhkan biaya transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, kantong kolostomi untuk menampung kotoran buang air, alat medis, dan kebutuhan lainnya. 
Dana terkumpul Rp 7.064.004
5 hari lagi Dari Rp 31.005.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Perjuangan Anak Yatim Disabilitas Agar Bisa Hidup Lebih Mandiri

“Di sebuah bangunan sederhana di Garut, terdengar tawa kecil dan hangat anak-anak disabilitas. Mereka tinggal di Yayasan Karya Bhakti, tempat yang menjadi rumah bagi anak-anak dengan tunarungu, tunagrahita, hingga cerebral palsy. Di balik senyum mereka yang lembut, tersimpan cerita perjuangan yang tidak pernah kita lihat.”“Ada hari-hari ketika mereka hanya bisa makan lauk tahu dengan sedikit garam. Ada pula saat mereka mengenakan pakaian yang sudah sempit karena keterbatasan kebutuhan. Bantuan yang datang terbatas, membuat para pengurus terus berusaha keras agar setiap anak tetap hidup dengan layak.”Yayasan Karya Bhakti Garut berdiri pada 1975, dibangun oleh para mantan pejabat Pemda Garut yang tergerak melihat banyaknya anak-anak dengan disabilitas yang membutuhkan pendidikan dan harapan hidup di masa depan.Bermula dari niat tulus itulah, lahir sebuah tempat yang menjadi rumah kedua bagi anak-anak istimewa ini, tempat mereka belajar, tumbuh, dan bermimpi. Di yayasan ini, 30 anak menjalani hari-harinya melalui pendidikan Sekolah Luar Biasa. Anak-anak terdiri dari dari 12 anak tunagrahita (keterbatasan intelektual dan adaptif) dan 18 anak tuna netra (tidak bisa mendengar). Sebagian dari mereka adalah yatim, berasal dari keluarga kurang mampu, atau tinggal jauh dari orang tua. Namun, keterbatasan itu tidak pernah memadamkan semangat mereka.Setiap pagi, mereka menyambut pelajaran dengan mata berbinar. Mereka belajar mengenal huruf, menggambar, memilih warna, hingga membantu teman yang kesulitan belajar. Mereka tak hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga belajar untuk saling menguatkan.Di luar jam sekolah, mereka tetap produktif. Ada yang berkebun, ada yang memelihara ikan, ada pula yang membuat telur asin. Apa yang mereka panen, itulah yang mereka makan. Dengan usaha sederhana, mereka berjuang untuk hidup mandiri.Namun, sekeras apapun perjuangan anak panti untuk bertahan hidup dan menjadi mandiri seperti orang pada umumnya, cobaan di depan mata tak dapat dihindari. ayasan kini kesulitan biaya, bahkan untuk sekedar menyediakan makan sehari-hari.Para pengurus terus berusaha, saling patungan untuk membeli beras agar anak-anak ini tidak kelaparan. Bantuan dari pemerintah datang tak menentu, tidak bisa menjadi sandaran penuh. Saat ini anak panti membutuhkan beras, bahan dasar lauk pauk, dan kebutuhan lainnya untuk sehari-hari. #TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa menjadi harapan bagi para anak disabilitas di Yayasan Karya Bhakti  agar bisa mewujudkan impian agar bisa lebih hidup mandiri. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 1.528.000
4 hari lagi Dari Rp 16.985.000
Donasi

Pilihan Campaign