Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Bekas Jahitan Operasi Kankernya Terbuka, Pak Endang Kesulitan Biaya Melanjutkan Pengobatan

“Kondisi suamiku kini sangat kritis, rasa sakit yang ia tanggung setiap hari akan semakin menjadi-jadi. Kotorannya keluar bukan hanya melalui anus, tetapi juga dari lubang bekas jahitan operasi di perutnya yang terbuka. Setiap hari ia menahan perih, malu, dan penderitaan yang sulit dibayangkan.” -Asih Triyani, Istri dari Endang-Tiba-tiba suamiku, Endang Suhendar (39 thn), perlahan mengeluhkan sulit buang air besar dan tidak bisa kentut. Hari demi hari perutnya semakin membesar, keras, dan sembelit yang Ia rasakan begitu menyiksa. Aku tidak pernah menyangka, dari keluhan sederhana itu justru menjadi awal cobaan panjang dalam keluargaku. Dokter mengatakan bahwa suamiku menderita kanker usus besar. Saat itu, dadaku seketika sesak dan air mataku jatuh, tidak kuat mendengar kenyataan getir itu.Kanker besar itu terjadi karena adanya tumor di bagian usus, sehingga saluran pencernaannya terganggu. Rasa sakit yang Ia rasakan begitu hebat, sementara aku hanya bisa menemaninya sambil berdoa agar penderitaannya diringankan.Suamiku sudah menjalani 3 kali operasi dan tiga kali masuk ICU. Ia juga sudah menjalani rawat inap serta kemoterapi rutin 3 kali dalam sebulan. Setiap kali akan ke rumah sakit, aku harus menempuh perjalanan dari Pandeglang, Banten menuju Jakarta.Kini, kondisi suamiku sangat memprihatinkan. Ia hanya bisa berbaring di kasur, duduk saja harus aku bantu perlahan sambil disandarkan ke bantal. Bangun dan berjalan pun sangat sulit, Ia akan merasakan nyeri hebat di perut dan lubang anusnya setiap kali kambuh.Meski tubuhnya melemah, semangat suami saya untuk sembuh tak pernah surut. Setiap hari Ia terus berdoa dan berusaha kuat, seringkali Ia menangis sambil berkata ingin sembuh karena ingin melihat anak-anak kami tumbuh besar. Ia ingin kembali memeluk anak-anaknya dan menjadi ayah yang selalu ada untuk mereka.Sejak sakit, suami saya tidak lagi bisa bekerja dan tidak memiliki penghasilan. Kini saya yang berjuang mencari nafkah seorang diri. Saya bekerja cuci gosok di rumah tetangga, kadang membantu membuat gorengan, dengan upah Rp50 ribu setiap selesai kerja. Demi pengobatannya, aku sudah menjual rumah dan barang-barang sampai tak tersisa. Aku dan keluargaku sampai menumpang tinggal di rumah kakekku yang sudah tua dan rapuh. Pernah ada masa ketika di rumah tak ada uang sedikitpun, akhirnya aku meminjam uang ke tetangga hanya agar anak-anak bisa makan serta suami saya bisa berobat.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Endang tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Endang! 
Dana terkumpul Rp 3.378.002
8 hari lagi Dari Rp 10.650.000
Donasi
camp
Anak

Nyaris Tak Selamat, 7 Tahun Jordan Berjuang dari Meningitis Hingga Hidrosefalus!

“Anakku pernah dinyatakan meninggal dunia! Saat itu aku menangis histeris sampai  tubuhku gemetar, dan dengan sisa harapan yang kupunya, aku memohon kepada dokter agar tidak melepas selang-selang medis penopang hidup anakku. Jangan ambil dia dariku, aku belum siap kehilangan buah hatiku.”“Di tengah keputusasaan itu, aku berdoa tanpa henti. Dan di saat terduga, mukjizat  itu datang. Tuhan menjawab dengan cara tak terbayangkan, napas anakku tiba-tiba kembali, Ia hidup! Tak ku sangka, pujian kepada Sang Juru Selamat yang selalu aku lakukan untuk terapi jiwaku yang kalut, ternyata begitu magis dan luar biasa.” -Hotlan Sipangkir, Orang tua Jordan-Pada 2020 lalu, malapetaka datang pada tubuhku kecil anakku, Jordan Kristian Lumban Batu (7 thn). Tiba-tiba Ia mengalami muntah hebat dan kejang berkepanjangan hingga tak sadarkan diri. Saat dirawat di rumah sakit, anakku dinyatakan koma!Lututku lemas, dunia terasa berhenti berputar, aku nyaris jatuh pingsan. Belum sempat aku menerima kenyataan pahit itu, cobaan lainnya datang. Nasib anakku kian tragis, karena hasil pemeriksaan dokter menunjukkan ada bakteri menyebar melalui aliran darah dan merusak organ tubuhnya.Anakku harus menelan takdir getir, Ia didiagnosa penumpukan cairan di otak (hidrosefalus), meningitis, epilepsi, hingga cerebral palsy. Ia harus menjalani operasi pemasangan selang dari kepala menuju perut, untuk mengurangi kelebihan cairan di otaknya.Sejak itu, tidak ada jeda bagi anakku untuk berjuang. Sudah 6 tahun dilewati dengan kepasrahan dan doa, mengharapkan mukjizat Bapa di surga untuk anakku. Hingga kini, Ia belum juga bisa bicara, berdiri, bahkan makan sendiri. Tubuh bagian kanannya melemah akibat kejang hebat, Ia harus minum obat seumur hidupnya. Setiap kambuh, anakku akan memukul dan membenturkan tubuhnya sendiri. Saat itu terjadi, aku hanya bisa memeluknya erat sambil menangis, berharap rasa sakitnya bisa berpindah padaku.Meski begitu, aku tidak pernah berhenti berjuang. Dalam keterbatasan, aku tetap melakukan apa pun demi kesembuhannya. Aku rela meminjam uang ke sana-sini, asalkan anakku bisa terus berobat dan menjalani terapi.Setiap perjuangan, Tuhan selalu memberikan secercah harapan. Sebelumnya anakku tidak bisa apapun, kini sudah bisa duduk. Hal sederhana bagi orang lain, tapi bagiku itu adalah keajaiban yang menguatkan langkahku. Aku bangga dan semakin yakin untuk terus mendampinginya, apapun yang terjadi.Namun, biaya pengobatannya terus berlanjut. Suamiku hanya bekerja sebagai kurir antar paket dan terkadang bekerja kuli bangunan. Penghasilannya terbatas untuk anakku yang membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jordan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jordan!
Dana terkumpul Rp 4.558.002
1 hari lagi Dari Rp 35.340.000
Donasi
camp
Anak

Sel Kanker di Tubuhnya Sempat Mencapai 87%! Kenzie Masih Terus Bertahan

“Sel kanker di tubuh anakku sempat mencapai 87%! Tubuhnya sampai lemas tak berdaya, Ia menangis menahan nyeri, hingga harus menerima transfusi 3 kantong darah merah dan 2 kantong trombosit demi bertahan hidup. Di usianya yang harusnya bebas tertawa dan bermain, anakku justru harus bolak-balik menjalani kemoterapi.”“Perjalanan anakku menuju sembuh masih panjang, tapi aku kesulitan biaya untuk pengobatannya membludak dan kemampuanku terbatas. Sementara itu, sel kanker bisa menyebar hingga ke kepalanya jika pengobatan terhenti. Aku takut kehilangan kesempatan menyelamatkan anakku akibat kendala biaya.” -Viyadhita, Orang tua Kenzie-Anakku, Muhammad Kenzie Arsenio (2 thn), sudah menjalani 10 kali kemoterapi. Pengobatan itu membawa dampak yang begitu berat untuk tubuh kecilnya. Seluruh badannya terasa sakit, lemas tak berdaya, wajahnya pucat, disertai batuk dan flu.Padahal tubuhnya harus selalu dalam kondisi stabil agar bisa melanjutkan kemoterapi. Semua bermula dari demam biasa, hingga bibirnya pecah-pecah sampai berdarah. Dokter sempat menduga anakku terkena DBD dan merujuk kami ke rumah sakit yang lebih besar. Namun siapa sangka, gejala yang terlihat sepele itu berubah menjadi kabar paling menghancurkan dalam hidupku, anakku divonis menderita kanker darah.Rasa kecewaku tak terbendung, tubuhku langsung lunglai mendengar anakku diserang penyakit ganas. Tapi aku juga harus kuat, karena harus berjuang mendampingi anakku pengobatan. Saat ini, kondisi anakku sering menurun drastis, demam, hingga tidak bisa jalan karena persendiannya sering linu. Emosinya pun berubah, ia sering marah-marah, mungkin karena tubuh kecilnya terlalu lelah menahan sakit.Demi menjaga kesehatannya, anakku harus minum susu khusus dan mengkonsumsi makanan bergizi. Namun kebutuhan sederhana itu pun sering kali sulit kami penuhi. Suamiku hanya bekerja sebagai pemasang dekorasi pernikahan, dengan penghasilan yang tak menentu karena pekerjaan tidak selalu adaBahkan, aku butuh biaya yang cukup besar untuk sekedar membawa anakku kontrol rutin karena jarak yang jauh, dari Sukabumi, Jawa Barat ke Bandung. Belum lagi,obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kenzie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kenzie! 
Dana terkumpul Rp 1.750.003
7 hari lagi Dari Rp 15.900.000
Donasi

Pilihan Campaign