Panggilan Mendesak

camp
Anak

Ibu Disabilitas Berjuang Demi Kesembuhan Anaknya yang Sakit Jantung

“Kondisi fisikku yang hanya memiliki satu kaki, membuat suamiku harus mengorbankan pekerjaannya demi mendampingi anak kami yang sedang berjuang melawan sakit jantung. Kini, tidak ada lagi sumber penghasilan keluarga, sementara biaya untuk pemasangan alat medis pada jantung anakku sangat besar.”“‘Maafkan Ibu Nak, kondisi Ibu yang tidak sempurna membuatmu tidak bisa mendapatkan yang terbaik,’ itulah bisikan yang selalu ku lontarkan tiap memeluk anakku. Hatiku terluka hingga putus asa, tangisku dalam doa selalu penuh tanya, ‘Tuhan, apakah anakku bisa sembuh dan hidup normal seperti anak lainnya?’” -Kristin Mace, orang tua Maria-Aku percaya semua berada dalam kendali-Mu, Tuhan. Aku akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan anakku, Maria Celine Ohoiwutun (3 bln). Namun, kondisi ekonomi juga menjadi salah satu hambatan besar. Tabungan suamiku yang dulu bekerja sebagai mekanik di perusahaan tambang sudah ludes untuk pengobatan anak selama ini. Bahkan, pernah ada masa ketika anakku harus dirawat di rumah sakit tanpa memakai popok, karena kami benar-benar tidak mampu membelinya. Namun di tengah keterbatasan itu, aku percaya Tuhan tidak pernah diam dan aku tak akan pernah menyerah demi kesembuhan anakku.Sejak lahir, anakku sudah masuk ruang NICU karena napasnya tersengal-sengal. Doker mengatakan Ia mengalami infeksi paru-paru (pneumonia). Kian hari, kondisinya terus memburuk. Napasnya sering sesak, setiap kali menyusu ia selalu muntah, bahkan tubuh kecilnya pernah membiru. Rasa cemasku tak terbendung, aku langsung membawanya ke rumah sakit. Saat itulah dokter menyampaikan kabar yang membuat hatiku seakan runtuh, ternyata anakku sakit jantung bawaan. Kondisinya serius hingga Ia harus dirujuk dari Maluku Tenggara ke rumah sakit di Ambon.Namun, berhari-hari dirawat di rumah sakit Ambon, anakku malah dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Bermodal biaya seadanya dan penuh harapan, aku dan suami memberanikan diri membawa anak kami menempuh perjalanan jauh ke Jakarta. Setibanya di sana, Ia langsung menjalani tindakan kateterisasi pertamanya.Kondisi anakku saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Anakku tidak boleh aktivitas berlebihan. Jantungnya sering berdebar kencang dan sesak napas masih sering terjadi. Saat ini ia sedang menunggu jadwal operasi lanjutan untuk pemasangan empat alat medis pada jantungnya. Sayangnya, aku kesulitan biaya. Perjalanan pengobatan anakku juga tidaklah mudah. Aku harus bolak-balik mengantarkannya berobat, menempuh perjalanan dari Kabupaten Maluku Tenggara ke Kota Ambon, lalu melanjutkan perjalanan panjang menuju Jakarta. Perjalanan itu sangat melelahkan, tetapi semua itu terasa kecil dibandingkan harapan untuk kesembuhan anakku.Aku sudah mencoba berbagai cara untuk bertahan. Barang-barang yang ada di rumah sudah dijual, mulai dari handphone, kipas angin, hingga stroller anak. Namun perjuangan pengobatan anakku masih panjang. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat tidak ditanggung BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Maria tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Maria!
Dana terkumpul Rp 2.645.002
15 hari lagi Dari Rp 22.362.748
Donasi
camp
Anak

Tolong Umar Pulih! Kejang & Koma Mengancam Hidupnya

Di awal November 2024, Umar Hanan Wibowo (5 tahun) mengalami kejang pertama kali hingga mulutnya mengeluarkan busa. Saat dilarikan ke IGD, kejangnya terus berulang, hingga akhirnya Umar koma selama satu minggu dan harus dirawat di ruang PICU.Umar yang tak sadarkan diri dirujuk ke RSUD di Jakarta Pusat. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan menemukan adanya gangguan serius pada otaknya.Umar menjalani perawatan intensif selama 16 hari, sempat pulang selama dua hari, namun kondisinya kembali memburuk. Dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat, Umar dilarikan kembali ke IGD dalam keadaan tidak sadarkan diri.Hingga kini, Umar masih harus menjalani pengobatan untuk infeksi otak yang dideritanya. Pengobatan ini tidak boleh terhenti, jika tidak, kondisinya dapat semakin memburuk. Bahkan, bisa mengancam nyawa Umar. Namun, biaya pengobatan yang tidak ditanggung jaminan kesehatan menjadi beban berat bagi keluarganya.Ayah Umar, Ari Wibowo, bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan 675 ribu rupiah per minggu, yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Keluarga Umar telah berusaha semaksimal mungkin untuk pengobatannya. #TemanBaik untuk bersama-sama membantu Umar melanjutkan pengobatannya. Caranya klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 10.774.000
9 hari lagi Dari Rp 10.539.000
Donasi
camp
Anak

Ada 3 Lubang di Jantungnya! Anak Tukang Ojol Harus Operasi Bedah di Jakarta

“Dokter bilang terdapat 3 lubang di jantung anakku! Air mataku tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan di atas motor, sambil menggendong anakku untuk pindah rumah sakit. Sementara suamiku mengendarai motor dengan pandangan kosong, sama linglung dan hancurnya.”“Kepalaku penuh ketakutan, bagaimana jika tubuh kecil anakku tak sanggup bertahan? Aku tak pernah siap kehilangannya. Di tengah kecemasan itu, aku juga dihantam biaya pengobatannya yang besar. Suamiku berbulan-bulan tak dapat upah di tempat kerja sebelumnya, karena mengantar anak berobat. Ia terpaksa banting setir menjadi pengemudi ojek online, yang penghasilannya pun tak menentu.” -Reni Misnawati, Orang tua Reynand-Akibat penyakit, kini tubuh anakku, Reynand Margogo Sinurat (3 thn), semakin hari semakin kurus, hingga tulang rusuknya kelihatan sangat jelas dari balik kulitnya. Ia tidak bisa tidur dengan tenang, karena sesak napasnya akan semakin menyiksa setiap malam hari hingga membuat bagian dadanya cekung.Setiap menangis, wajah anakku akan pucat dan membiru. Tak jarang Ia sampai muntah hebat. Jika kambuh, Ia bisa batuk-batuk sampai tubuhnya lemas dan dilarikan ke IGD rumah sakit. Tak seperti anak-anak seusianya, Ia hanya bisa minum susu untuk makan, itupun susu khusus yang harganya sangat mahal.Aku dan suami sering kewalahan, karena dalam sebulan anakku bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk susunya. Bahkan pernah, untuk sekadar makan sehari-hari, aku harus membongkar celengan kaleng dan membeli beras kiloan dari uang logam yang tersisa.Sejak lahir, Reynand selalu menangis jika tak digendong. Aku tak bisa meninggalkannya, tak bisa keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Meski begitu, aku terus berusaha. Dari rumah, aku mencoba berjualan produk orang lain secara online, berharap ada sedikit tambahan untuk bertahan.Semua emas dan barang berharga yang kami miliki sudah kujual demi pengobatan anakku. Saat benar-benar buntu, aku hanya bisa menelepon orang tua dan rekan-rekan, memohon pinjaman. Aku keliling kota Pekanbaru, mencari bantuan ke sana kemari, demi satu harapan, dan anakku bisa terus hidup.Kini Reynand dirujuk untuk menjalani operasi bedah jantung di Jakarta. Aku semakin tak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Biaya transportasi dari Pekanbaru ke Jakarta saja sudah sangat besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta biaya hidup selama kami harus berjuang di tanah perantauan.Sebagai orang tua, aku hanya ingin satu hal, melihat anakku bernapas tanpa rasa sakit, dan hidup seperti anak-anak lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reynand tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reynand!
Dana terkumpul Rp 23.640.554
13 hari lagi Dari Rp 23.619.555
Donasi

Pilihan Campaign