Panggilan Mendesak

camp
Kemanusiaan

Membangun Kemandirian, Pemberdayaan Wanita Disabilitas melalui Pelatihan Menjahit

Sebagai wujud nyata kasih yang tidak berhenti pada kata-kata, GKI Pondok Indah bersama para jemaat tergerak untuk menghadirkan terang harapan bagi mereka yang berjuang dalam keterbatasan. Program bantuan ini ditujukan bagi Yayasan Irma Agusti, lembaga yang membantu pemberdayaan perempuan disabilitas dan masyarakat rentan agar lebih mandiri. Kasih dihadirkan dalam tindakan nyata,yang memulihkan, menguatkan, dan menghidupkan kembali semangat hidup.Program ini difokuskan untuk pengembangan pelatihan menjahit bagi para penerima manfaat di bawah binaan Yayasan Irma Agusti. Bantuan ini akan digunakan untuk penyediaan peralatan menjahit, bahan praktik, serta dukungan operasional kegiatan pelatihan.Inisiatif ini lebih dari sekadar bantuan materi, tapi juga wujud kasih yang memberi ruang bagi setiap individu untuk bangkit, belajar, dan menemukan kembali makna hidup melalui karya tangan mereka sendiri.Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi, membuka peluang usaha mandiri, serta menapaki jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Bagi jemaat GKI Pondok Indah, program ini juga menjadi ajakan untuk menumbuhkan semangat kepedulian sosial, bahwa setiap bentuk kasih yang diberikan, sekecil apapun, dapat menjadi berkat yang mengubah kehidupan sesama.Lebih dari itu, inisiatif ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendorong kolaborasi dan pemberdayaan berkelanjutan antara gereja, lembaga sosial, dan komunitas lokal. Karena kasih sejati adalah ketika kita berjalan bersama, saling menopang, dan menghadirkan keadilan sosial yang memberi ruang bagi semua untuk bertumbuh.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa menyalakan harapan dan masa depan yang lebih cerah bagi sesama. Yuk klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk ikut berpartisipasi!
Dana terkumpul Rp 38.781.003
2 hari lagi Dari Rp 120.000.000
Donasi
camp
Anak

Lambungnya Terancam Bolong! Anak Tukang Ojek Berjuang dari Berbagai Penyakit

“Dokter mengatakan lambung anakku terancam bolong jika pengobatannya terhenti! Cairan asam lambung yang terus meningkat, dikhawatirkan menetes ke usus dan menggerogoti tubuh kecilnya. Jika itu terjadi, Ia juga bisa kehilangan nyawanya.”“Aku terpaku, tak mampu berkata apa pun melihat kondisi anakku yang memprihatinkan. Tubuhnya lemas dan kurus, sampai tulangnya kian menonjol dari balik kulitnya. Sementara aku kesulitan biaya untuk melanjutkan pengobatannya…” -Dian Rustami, Orang tua Salman-Muhammad Salman Alfarizi (10 bln) tidak tumbuh seperti anak-anak lain ketika usianya menginjak 6 bulan.  Saat kusuapkan makanan, Ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya. Awalnya, aku hanya mengira Ia sedang tumbuh gigi. Namun setelah bertemu dokter, kenyataan pahit justru menamparku.Ada benjolan di belakang telinga anakku! Setelah diperiksa lebih lanjut, anakku dinyatakan positif TB Paru. Sejak itu, kondisi anakku semakin drop dan sering keluar masuk rumah sakit. Bahkan, Ia nyaris kehilangan nyawanya akibat sesak napas hebat.Seiring berjalannya waktu, penyakit anakku justru bertambah. Anakku divonis gizi buruk karena tubuhnya yang lemah selalu disertai demam, muntah, dan dehidrasi. Ia harus makan dan minum melalui selang NGT yang dimasukkan dari hidungnya, karena setiap makanan yang masuk selalu Ia tolak.Cobaan tak berhenti di situ, setelah dipasang NGT, muntahnya justru semakin parah. Aku sempat memberinya susu alergi, berharap ada perubahan. Tapi anakku tetap tersiksa oleh muntah yang tak kunjung reda.Setelah kembali periksa ke rumah sakit, anakku membawa diagnosa baru, yaitu gerd akut, kelainan lubang kencing (hipospadia), hingga amandel. Tuhan, masih pantaskah tubuh sekecil itu menanggung beban sebanyak ini? Ia terlihat begitu kelelahan, Ia masih menanti mukjizat-Mu. Tidur anakku tak pernah tenang sampai matanya sayu. Ia sering terbangun karena muntah atau perut yang bergejolak. Dalam sebulan, Ia bisa 12 kali periksa ke dokter. Namun, Ia masih menunjukkan semangatnya untuk terus hidup melalui senyuman mungilnya.Anakku harus menjalani operasi, namun biaya menjadi kendala besarku. Motor, emas, dan barang berharga lainnya sudah habis dijual untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku hanyalah pengemudi ojek online. Meski Ia sudah bekerja dari gelap pagi ketemu gelap malam, penghasilannya tetap tak menutupi biaya pengobatan anakku.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi bolak-balik ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu khusus, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Salman tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Salman!
Dana terkumpul Rp 27.650.501
6 hari lagi Dari Rp 27.350.000
Donasi
camp
Anak

Berawal dari Jatuh Main Bola, Anak Tukang Bengkel Alami Kanker Nasofaring!

“Semua gara-gara jatuh kecil saat bermain bola, dokter justru menemukan anakku mengalami kanker nasofaring! Dunia seketika runtuh di hadapanku.” “Hari-harinya kini penuh rasa sakit. Ia menahan sakit kepala hebat yang tak pernah reda, siang dan malam tanpa jeda. Lehernya tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan, mulutnya tidak bisa mangap, penglihatannya mulai rabun, dan badannya kaku hingga tak bisa berjalan. Hatiku terasa hancur setiap detik tiap melihatnya…” -Sopiah, Orang tua Fariq-Muhammad Al Fariq Komarudin (14 thn) pulang ke rumah sambil memegangi kepalanya, mengeluh kesakitan. Dengan suara lirih, Ia berkata bahwa ia terjatuh saat bermain bola. Aku sangat cemas dengan apa yang dia alami dan langsung membawanya ke tukang pijat.Namun, sudah 5 kali dipijat dan 3 kali ke pengobatan alternatif, tapi tak ada perubahan. Sementara itu, anakku terus menangis menahan sakit di seluruh tubuhnya. Aku ingin sekali membawanya ke rumah sakit, tapi kami tidak punya uang.Setiap kali melihatnya meringis, aku merasa seperti seorang ibu yang gagal melindungi anaknya. Hari demi hari, kekhawatiranku semakin menjadi. Apa pun akan aku lakukan demi membawanya berobat. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku meminta bantuan pada kader desa. Syukurlah, anakku mendapat bantuan sehingga bisa dibawa ke rumah sakit.3 minggu dirawat di rumah sakit, kenyataan pahit itu akhirnya terungkap. Ternyata semua rasa sakit itu berasal dari kanker yang tumbuh di belakang rongga hidungnya! Hatiku bagai diterjang ombak besar. Mengapa anakku? Mengapa keluarga kecil kami yang serba kekurangan harus menghadapi cobaan seberat ini?Sejak saat itu, hidup anakku penuh dengan perjuangan. Ia bolak-balik rumah sakit, menjalani operasi, 16 kali kemoterapi, 33 kali radiasi, lalu 24 kali kemoterapi singkat. Meski kondisinya kini lebih baik, tapi Ia masih sering demam, sakit kepala, nyeri sendi, dan batuk.Anakku terpaksa kehilangan masa remajanya. Ia tidak bisa sekolah seperti teman-temannya. Padahal, Ia punya mimpi besar untuk masuk pesantren, ingin menjadi anak yang sukses dan membahagiakan orang tuanya. Tapi penyakit ini mencuri impiannya.Aku selalu memberinya semangat, bahwa kelak Ia bisa sekolah pesantren jika sembuh.  Tapi jauh di dalam hati, aku pun sedang berjuang menahan air mata, karena kondisi ekonomi kami sudah di ambang batas untuk terus membiayai pengobatannya.Suamiku bekerja sebagai buruh bengkel, mengambil pekerjaan apa pun yang ada demi menambah pemasukan. Tapi gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari, sementara kami harus menghidupi empat orang anak. sekadar ongkos ke rumah sakit saja, aku sering meminjam uang dari saudara atau makan seadanya. Di luar itu, anakku masih membutuhkan obat yang tak ditanggung BPJS, susu, vitamin, dan kebutuhan lain yang tidak bisa kami abaikan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fariq tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup  Fariq!
Dana terkumpul Rp 18.032.491
3 hari lagi Dari Rp 17.292.000
Donasi

Pilihan Campaign