Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Kanker Payudara Stadium 4 Menjalar ke Tulang Selangka dan Tulang Ekor Bu Arwin!
“Kanker payudara stadium 4 yang aku derita kini tak lagi hanya menyerang satu bagian tubuh, penyakit ini sudah menjalar hingga ke tulang selangka dan tulang ekor! Sudah menjalar ke tulang selangka dan tulang ekor!”“Rasa sakit yang tak terbayangkan itu perlahan merenggut kemampuanku untuk sekadar duduk, apalagi berjalan. Tulang kakiku mulai keropos, tubuhku semakin lemah. Hingga kini aku hanya bisa terbaring, menjalani hari dengan penuh harap di tengah ketidakberdayaan.”Perkenalkan, aku Arwin Tri Herawati (48 thn), hidupku berubah sejak penyakit itu datang 4 tahun lalu. Kini, hanya anakku satu-satunya alasan aku ingin bertahan sampai hari ini. Ia yang selalu membantuku untuk beraktivitas ketika tubuhku tak berdaya sama sekali.Awalnya benjolan kecil muncul di payudaraku, tapi aku tak menghiraukan. Namun lama-lama membengkak, menghitam dan mengeluarkan cairan. Kulit di sekitar payudaraku juga mulai berkerut seperti kulit jeruk. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhku, setiap hari tanpa henti.Duniaku terasa berhenti, ketika dokter mengatakan aku mengalami kanker payudara. Penyakit itu dengan cepat mengganas sebelum aku menyadarinya, bahkan sudah kena ke organ hatiku. Akibatnya, perutku terasa begah, tubuhku terasa remuk saking sakitnya. Aku sudah menjalani dua kali operasi. Namun, penyakit ini seperti tidak memberikanku istirahat. Luka bekas operasiku ternyata sempat terinfeksi dan jahitannya terbuka, menambah rasa sakit yang harus aku tanggung.Tak jarang aku menangis karena tak kuat menahan sakit dan sedih dengan keadaanku, rasanya nyaris menyerah. Tapi, pada akhirnya aku tetap ingin terus hidup dan sembuh agar perjuangan anakku yang sudah mengurusku tidak sia-sia. Aku juga ingin bekerja lagi, agar hidupku tak terus diisi dengan meminta-minta bantuan.Biaya pengobatanku sangat berat, sekedar untuk ke rumah sakit aja aku harus menempuh 4 jam perjalanan. Akhirnya, aku sering tidak berangkat ke rumah sakit karena biaya transportasi yang mahal. Bahkan, untuk sekedar membeli obat pereda nyeri saja aku tidak mampu. Dulu, Ibuku masih membantu biaya hidupku. Beliau adalah seorang pensiunan guru, tapi sekarang beliau terkena stroke dan harus pengobatan juga. Sehingga, aku harus berjuang sendiri untuk hidupku. Itu pun aku sering menunggu belas kasihan tetangga yang kadang membantu memberikan makan. Aku sudah menjual rumah dan isinya untuk pengobatan untuk pengobatanku selama ini. Kini, aku dan anakku terpaksa tinggal dengan menumpang di rumah adikku. Pinjaman uang sana-sini juga tidak bisa lagi aku hindarkan.Saat ini, aku masih membutuhkan biaya untuk sewa mobil ke rumah sakit, obat dan vitamin yang tidak ditanggung BPJS, pampers, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Arwin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Arwin!
Dana terkumpul
Rp 4.150.001
1 hari lagi
Dari Rp 5.292.000
Donasi
Kesehatan
Tumor Ganas Terus Menggerogoti Dagu Diyana Hingga Ia Pendarahan!
“Gumpalan darah terus mengalir dari tumor ganas di dagu Diyana! Bantal yang Ia tiduri sampai kuyup berubah merah. Tapi Ia hanya terbaring diam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Namun, air matanya diam-diam mengalir dalam keheningan, akibat rasa sakit yang begitu hebat. ”“Di titik terendah itu, Diyana kesulitan biaya untuk pengobatan. Bahkan pernah, saat penyakitnya kambuh hingga membuatnya tak sadarkan diri, keluarganya harus berlari mencari pinjaman uang terlebih dahulu untuk membawanya ke rumah sakit. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, betapa sedih keluarganya karena keadaan itu.”Benjolan itu muncul di dagu Diyana (31 thn) dengan ukuran yang kecil. Semula terlihat biasa saja dan samar, jadi diabaikan begitu saja. Siapa sangka, ternyata benjolan tersebut perlahan membesar dan mulai menakutkan. Tubuh Diyana juga terasa berbeda, Ia jadi mudah lelah dan sakit.Setelah bertemu dokter, fakta pahit terkuak. Ternyata bengkak tersebut berasal dari tumor yang sudah mengganas. Dunia Diyana terasa runtuh seketika. Tindakan operasi sudah diupayakan untuk mengangkat penyakit tersebut, tapi harapan pupus ketika benjolan itu tumbuh lagi.Akhirnya operasi kedua kembali dilakukan. Namun, belum sempat Diyana bernapas lega dan merasakan kesembuhan, penyakit itu kembali menggerogoti tubuhnya untuk ketiga kalinya. Ia seakan tak diberi ampun, sampai akhirnya Ia harus dirujuk melanjutkan pengobatan dari Lampung ke Jakarta.Bayangkan, sudah 9 tahun Diyana harus bertahan dari penyakit ini. Tidak ada sedetikpun yang dilaluinya tanpa rasa sakit dan air mata. Kondisinya malah semakin lemah, tidak bisa bekerja lagi dan tidak stabil. Ia harus terus menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup.Tiap kali kambuh, Ia akan merasa nyeri hebat di bagian bengkak tumornya dan sampai harus dilarikan ke IGD rumah sakit. Di tengah segala penderitaan yang tak berjeda itu, Diyana selalu semangat untuk sembuh. Ia masih ingin hidup lebih lama, bersama suaminya, menemani anak-anaknya tumbuh besar. Namun, biaya pengobatan yang sangat besar sangat membebani. Suaminya hanyalah buruh tani dengan penghasilan terbatas. Keluarganya sudah menjual segala barang-barang berharga untuk pengobatan Diyana selama ini. Bahkan, keluarga nekat meminjam sana-sini hingga tengah malam dengan harapan tinggi, tapi justru jarang sekali ada yang menolong.Pengobatan Diyana masih panjang, Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers, vitamin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Diyana tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Diyana!
Dana terkumpul
Rp 1.855.001
10 hari lagi
Dari Rp 5.000.000
Donasi
Anak
Plasma Darahnya Sampai Dikirim Keluar Negeri, Anakku Alami Penyakit Langka!
“Penyakitnya yang diderita anakku sangat langka, sehingga sampel darahnya harus dikirim ke India dan Korea untuk diteliti dokter! Biayanya mencapai Rp 9,8 juta, jumlah yang terasa begitu jauh dari jangkauanku. Sementara aku masih dibayangi utang dari pembelian obat-obatan anakku sebelumnya.”“Akhirnya anakku yang lain juga harus ikut berkorban. Ia terpaksa menunda pendaftaran sekolahnya, karena uang yang ada diutamakan untuk pengobatan adiknya yang sakit. Di tengah semua itu, aku berusaha bertahan dengan mencari penghasilan tambahan sebagai tukang urut, demi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku sampai stres, tak selera makan, bingung menghadapi keadaan.” -Siti Rahayu, Orang tua Zhafir-Kondisi anakku, Zhafir Sakif Abqory (3 bln), sudah mengkhawatirkan sejak dalam kandungan. Ia harus lahir lebih cepat melalui operasi caesar karena posisi sungsang, dengan berat badan hanya 1,9 Kg. Sejak itu, Ia harus dirawat di NICU selama 3 hari dan di NFSU2 selama 3 minggu. Saat usianya baru menginjak 3 bulan, anakku mulai menunjukkan gejala aneh. Mata kiri dan kanannya sering berkedut berulang kali. Ia juga enggan menyusui dan tubuhnya tampak lemas. Hingga suatu hari, Ia mengalami sesak napas hebat. Dalam kepanikan, aku segera membawanya ke rumah sakit.Duniaku rasanya berubah menjadi kelam, anakku tak sadarkan diri selama 4 hari! Dokter menyampaikan bahwa ia mengalami radang lambung. Ia sampai diberikan susu kaleng karena terus menolak ASI, tapi anakku justru muntah-muntah. Badannya semakin lemah hingga tak sadarkan diri.Namun kenyataan yang lebih pahit harus aku terima ketika dokter mendiagnosa Zhafir dengan kelainan Mitokondria. Sebuah kondisi langka yang menyebabkan gangguan saraf berat, membuat tubuhnya tidak mampu mengubah makanan menjadi energi. Akibatnya, Ia mengalami kelemahan otot, kejang, gangguan pernapasan, hingga penurunan kemampuan gerak.Dalam sehari, anakku bisa mengalami kejang hingga 6 kali, yang berlangsung sekitar 2 menit, dilanjutkan penurunan kesadaran. Hingga kini, Ia lebih sering keluar-masuk PICU rumah sakit dan menjalani rawat inap berulang. kesulitan menegakkan kepala, hanya bisa mengkonsumsi susu medis dan lebih banyak tidur.Hancur sekali hatiku setiap melihatnya tubuhnya harus menerima tindakan medis, ditusuk berulang kali dan makan minumnya harus melalui selang NGT yang ditancapkan ke hidungnya. Setiap malam aku hanya bisa menangis dan kesulitan tidur karena mengkhawatirkan anakku.Meski dalam keterbatasan ekonomi yang begitu berat, aku tak pernah berhenti berjuang. Bahkan, aku pernah hanya memiliki uang Rp25.000, menggendong anakku naik bus untuk ke rumah sakit. Aku menahan nyeri perut karena lapar berjam-jam, sambil menunggu antrian pengobatan hingga sore.Suamiku bekerja sebagai caddie golf tanpa hari libur. Ia berjalan hingga 8 kilometer setiap hari, hingga kakinya sakit dan kesehatannya ikut menurun. Sering kali ia mengalami migrain karena terpapar panas seharian di lapangan. Namun penghasilan yang didapatkan tetap tidak mencukupi, terlebih biaya pengobatan anak kami Di luar obat yang tidak ditanggung BPJS, masih banyak kebutuhan lain yang harus kami penuhi, mulai dari biaya transportasi ke rumah sakit, vitamin, selang NGT, hingga kebutuhan medis lainnya#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhafir tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhafir!
Dana terkumpul
Rp 17.426.000
4 hari lagi
Dari Rp 17.265.000
Donasi