Panggilan Mendesak

camp
Anak

Anak Tukang Tambal Ban Itu Berjuang Melawan Penyakit Jantung di Jakarta

“Demi pengobatan anak, aku dan suami pernah tidak makan demi menghemat biaya, berhutang untuk sekedar bertahan hidup, menjual motor, sapi dan barang berharga lain. Bahkan, keluargaku harus menumpang tinggal di rumah orang tua. Namun, di tengah keterbatasan, aku masih percaya pada kebaikan.”“Aku pernah dalam kondisi tak memiliki uang sepeserpun untuk membawa anak ke rumah sakit. Tapi berkat campur tangan Tuhan, tak ada yang mustahil. Tiba-tiba ada orang baik yang bersedia mengantarkan kami ke rumah sakit dan bahkan memberi bekal makanan. Sejak itu, aku percaya bahwa harapan selalu ada, meski di tempat yang paling gelap.” -Nur Aida, Orang tua Sayid-Anakku, Sayid Albian Hidayah (7 thn), lahir prematur dengan berat badan hanya 1,7 kg down syndrom. Ujian yang lebih berat lainnya datang ketika usianya 3 bulan, Ia mendadak demam tinggi, batuk, sesak napas hingga membuat seluruh tubuhnya membiru. Jantungku berdegup kencang melihat kondisi itu, dalam kepanikan aku membawanya ke rumah sakit. Keresahanku di koridor rumah sakit semakin menjadi ketika anakku harus masuk NICU. Hari-hariku sangat berat dan tanpa kepastian. Bayangkan saja, sebulan lamanya anakku tidak keluar dari ruang intensif tersebut. Hingga akhirnya dokter datang memberi kenyataan yang getir, anakku didiagnosa pneumonia berat, jantung bocor, hipertensi paru, hingga gangguan hormon hipertiroid.Sejak itu, anakku harus rutin menjalani kontrol rutin, terapi berjalan, terapi bicara, terapi fokus hingga fisioterapi.  Aku kira cobaan anakku sangat berat, ternyata penderitaannya justru bertambah. Dokter mendapati pendengarannya terganggu, Ia harus menggunakan alat bantu dengar. Selama ini, anakku hanya bisa menyampaikan isi hatinya melalui isyarat dan aku berupaya memahaminya.Meski hatiku hancur melihat Ia tidak bisa hidup seperti anak-anak sehat seusianya, tapi aku tidak mau menyerah untuk kesembuhannya. setiap kali melihat anakku bertahan dan berjuang, rasanya aku kembali dikuatkan. Meski Ia belum bisa bicara, tapi semangatnya cukup menjadi alasanku untuk bersyukur dan berusaha. Saat ini, kondisi anakku masih sering demam, batuk, sesak napas, hingga gizi tak seimbang. Ia masih harus menjalani operasi jantung, tapi aku kesulitan biaya untuk transportasi dari Lombok ke rumah sakit di Jakarta. Suamiku bekerja sebagai buruh tambal ban dengan penghasilan Rp30 ribu per hari, terkadang juga mengambil pekerjaan sebagai buruh angkat pasir. Sementara pengobatan anakku tidak hanya untuk transportasi, tapi juga untuk obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sayid tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sayid!
Dana terkumpul Rp 4.465.004
9 hari lagi Dari Rp 44.176.000
Donasi
camp
Anak

Nyawanya Terancam! Dareen Harus Segera Operasi Jantung ke Jakarta

“Belum sembuh rasa traumaku karena kehilangan nyawa anakku, tapi kini aku harus menghadapi ketakutan yang sama. Bayi yang baru saja aku lahirkan mengalami mengalami penyakit yang sama seperti kakaknya yang telah lebih dulu berpulang akibat kelainan jantung bawaan.”“Teringat lagi aku perjuangan dulu,  saat aku harus tidur 14 hari di ruang tunggu rumah sakit karena tak punya cukup uang untuk sewa tempat tinggal. Kini kondisinya sama, aku harus tergesa meminjam uang sana-sini untuk membeli tabung oksigen untuk anakku yang sesak napas. Hatiku terus berdoa, semoga Tuhan kali ini memberi akhir yang berbeda.” -Vera Anggraini, Ibunda Dareen-Sejak lahir, sesak napas sudah menyerang anakku, Muhammad Dareen Arrayyan Taysir (21 hari). Awalnya dokter bilang ada masalah pada paru-paru anakku, sehingga anakku harus menginap di dalam inkubator rumah sakit. Aku bahkan belum sempat menyentuh wajah mungilnya, tapi anak yang baru kudengar tangisnya ini hanya bisa ku pandang dari luar kotak kaca dengan selang di hidungnya untuk bisa bernapas. Aku hanya bisa berdiri menatapnya dan terus berdoa agar Tuhan memberi keajaiban untuknya.Namun, harapanku berubah menjadi pahit ketika dokter mendapati jantung anakku terdengar bising. Ia juga harus menjalani transfusi darah karena protein dalam sel darah merahnya menurun. Bahkan, anakku harus pindah ke rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan lanjutan. Hingga akhirnya diagnosa kelainan jantung itu datang pada anakku, rasanya bagai disambar petir! Tubuhku gemetar, air mataku tak terbendung. Ingatan tentang anakku yang telah tiada dulu kembali berputar di kepala, membuat dadaku sesak. Tapi kali ini, aku tak boleh menyerah demi Dareen.Dokter bilang Dareen harus segera dioperasi di Jakarta. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tak punya cukup uang untuk biaya keberangkatan dari Pekanbaru, apalagi biaya selama di sana. Semua tabungan selama ini sudah habis untuk pengobatan anakku sebelumnya yang telah berpulang.Kini, aku bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan anakku yang bergantung dengan 3 tabung oksigen sehari dan selang NGT sebagai jalur makannya. Suamiku bekerja sebagai buruh bongkar barang, penghasilannya terbatas dan juga digunakan untuk menghidupi 6 anggota keluarga.Itupun suamiku tak bisa bekerja karena juga harus ikut mendampingi anak kami yang kami pengobatan. Sementara anakku membutuhkan biaya untuk berangkat ke Jakarta, membeli obat dan alat medis yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dareen tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dareen!
Dana terkumpul Rp 33.718.020
7 hari lagi Dari Rp 34.957.000
Donasi
camp
Anak

Perjuangan Single Parent Merawat Anaknya yang Menderita Epilepsi

Tengah malam itu aku berlari mengetuk pintu rumah tetangga untuk meminjam kendaraan karena dua anak kembarku tiba-tiba hilang nafas, kejang dan membiru secara bersamaan!Saya berusaha terus bertahan dan tak menjatuhkan air mata melihat kondisi anak saya yang berusia 1 tahun, Jihan Safitri dan Yasmin Safitri. Hati saya tercekat ketika awalnya dokter mencurigai mereka jantung bocor. Namun Tuhan menjawab doa saya, karena setelah pemeriksaan mendalam, jantung anak saya dinyatakan bagus. Namun, dokter mendiagnosa anak saya epilepsi dan anemia. Mereka hanya dianjurkan minum obat kejang dan kontrol rutin ke rumah sakit, namun tubuh mereka sering lemas dan kekurangan gizi dan zat besi. Belum lagi setiap kejang parah, tubuh tak berdaya mereka harus dilarikan ke IGD. Cobaan ini semakin berat saya pikul sendiri, sebagai seorang single parent saya harus menghidupi 5 anak saya dan 2 diantaranya sakit. Setiap bawa anak kontrol saya sering bawah bekal, karena uang hanya pas-pasan untuk ongkos dari Tangerang ke Jakarta. Saya bekerja jualan makanan, tiap jam 2 dini hari saya harus bertarung melawan lelah berjualan kue dan gorengan keliling di pasar sampai jam 7 pagi, berharap sedikit harapan dari tiap langkah yang diambil. Syukurlah, kadang saya juga dapat kerjaan cuci dan gosong pakaian di rumah orang.Sayangnya, perjuangan saya bekerja dari pagi sampai malam tak sederas hasilnya. Sering dagangan sepi, meminjam dana ke kerabat dekat tak jarang saya lakukan karena ongkos ke rumah sakit pas-pasan.. Saat ini anak saya masih membutuhkan biaya untuk transportasi rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Jihan dan Yasmin untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 22.822.505
3 hari lagi Dari Rp 22.098.000
Donasi

Pilihan Campaign