Panggilan Mendesak

camp
Anak

Peradangan Selaput Otak Membuat Zhasqy Tidak Bisa Menangis dan Bicara

“Sejak peradangan selaput otak, anakku jadi sering kejang-kejang hebat hingga kakinya jadi kaku dan bengkok. Dokter mengatakan satu-satunya harapan adalah operasi agar kakinya bisa diselamatkan. Namun bagiku, jangankan biaya operasi, biaya pengobatan rutinnya saja terasa berat.”“Pernah suatu hari, aku benar-benar tak memegang uang sepeser pun, sementara kondisi anakku menurun drastis. Dalam keputusasaan, hanya satu tandan pisang dari kebun samping rumah yang menjadi harapan terakhir. Pisang itu kujual, dan dari hasil itulah aku bisa membawa anakku ke rumah sakit. Aku akan berupaya demi anakku meski harapan hanya setitik.” -Mardia, orang tua Zhasqy-Zhasqy Alluca Ramaprilio (2 thn) kini hanya bisa berbaring tak berdaya. Tidak ada rintihan, tak ada panggilan “Mama” yang keluar dari mulut polosnya, karena Ia tak bisa bicara. Bahkan, suara tangisnya yang seharusnya menjadi tanda kehidupan, justru menjadi harapan bagiku, anakku sama sekali tak pernah menangis. Dokter mendiagnosa anakku mengalami meningitis TB, hidrosefalus dan infeksi paru-paru. Kejang masih sering menyerangnya. Tatapan matanya kosong, karena Ia tak bisa melihat. Demam tinggi dan sesak napas datang silih berganti, hingga aku kembali harus berlari membawanya ke rumah sakit. Semua bermula dari demam tinggi yang menyerang anakku saat usianya 10 bulan. Aku begitu panik dan ketakutan, karena Ia tak kunjung bangun saat aku memanggil namanya berulang kali. Ternyata, dokter mengatakan Ia tak sadarkan diri dan berujung mengalami koma.Hatiku hancur dan hari-hari kulewati dengan gelisah, menanti dokter membawa kabar baik tentang kondisi anakku. Doa tak henti-hentinya kupanjatkan, hingga akhirnya Ia menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Namun, kelegaan itu hanya sekejap, karena sejak saat itulah mimpi buruk anakku benar-benar dimulai.Sudah 2 tahun anakku menghadapi penyakit ini dan Ia sudah menjalani operasi pada kepalanya. Kini, aku harus membawanya dari rumah di Kabupaten Kuantan Singingi ke ke rumah sakit di Pekanbaru, menempuh jarak 5 jam perjalan. Dalam sebulan, Ia harus menghadap dokter sebanyak 5 kali termasuk fisioterapi. Tentunya, biaya transportasinya besar.Demi pengobatan anakku, aku telah menjual sapi peliharaan satu-satunya harta yang kumiliki. Suamiku bekerja membantu tukang bangunan, penghasilannya Rp70 sehari. Terkadang, aku juga membantu mencari tambahan dengan menjadi buruh setrika baju orang. Namun, penghasilan kami sering tak sebanding dengan biaya pengobatan anak. Kini, tak ada lagi yang bisa kujual. Sementara itu, selain biaya perjalanan, anakku masih membutuhkan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, susu, serta kebutuhan medis lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhasqy tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhasqy!
Dana terkumpul Rp 27.828.400
10 hari lagi Dari Rp 27.698.400
Donasi
camp
Anak

Seorang Ibu Berjuang Sendirian Demi Anak yang Didiagnosis Beragam Penyakit

“Sejak lahir, anakku tak pernah lepas dari deretan penyakit yang mengintai tubuhnya. Batu empedu, peradangan hebat pada dinding lambung, gangguan tenggorokan, TB klinis, radang di rongga hidung dan sinus, asma, hingga gangguan saraf, semua harus ditanggung di usia yang seharusnya dipenuhi bermain dan tertawa.”“Di tengah perjuangan melawan penyakit yang tak kunjung usai, anakku juga harus kehilangan sosok ayah akibat perceraian. Kini aku berdiri sendirian, memikul semua beban pengobatan dan kehidupan. Aku bekerja sebagai buruh gudang di pelabuhan, menempel pita cukai rokok. Langkahku terseok, tapi aku tak boleh menyerah demi anakku.” -Tanty Oktabalia, orang tua Andaru-Andaru Yasa Alsaki (5 thn) sudah langsung mendapat perawatan karena demam dan tubuhnya menguning begitu Ia lahir. Hari Ibu mana yang tak hancur menyaksikan bayinya terbaring lemah sejak hari pertama?Cobaan itu belum berhenti, saat usianya baru 3 bulan, anakku mengalami BAB berdarah.  Ia sempat membaik setelah minum obat, membuatku sempat lega. Namun kelegaan itu kembali runtuh ketika di usia 1 tahun, Ia terserang infeksi berat hingga leukositnya melonjak drastis.Sejak saat itu, infeksi terus datang berulang, seolah tubuh kecilnya tak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Tak lama kemudian, anakku di diagnosa fimosis (kulit ujung penisnya menutup). Di usia yang masih 18 bulan, anakku harus menjalani operasi sunat. Tubuhku gemetar sambil menangis, berusaha kuat melihat anakku yang menderita. Tak lama setelah operasi itu, kondisi Andaru justru memburuk. Ia tak bisa BAB, perutnya mengeras, tubuhnya kembali menguning, dan muntah hebat datang tanpa henti.Dalam kepanikan dan ketakutan, anakku dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Di sanalah Ia didiagnosa mengalami batu empedu, dunia rasanya runtuh!  Selama 9 bulan Andaru harus menjalani terapi obat untuk menghancurkan batu empedunya. Setiap hari penuh doa dan kecemasan, tapi syukurlah Tuhan masih memberikan keajaiban. Anakku  dinyatakan sembuh dan tak perlu menjalani operasi. Aku menangis lega, mengira badai telah berlalu. Namun ternyata, penderitaan anakku belum selesai.Setelah itu, Andaru kembali mengalami diare hebat dan didiagnosis radang usus. Obat demi obat tak menunjukkan perubahan. Pemeriksaan lanjutan kembali dilakukan, dan diagnosa pun berubah menjadi peradangan dinding lambung. Rasanya hatiku bagai ditampar kenyataan berkali-kali, kabar buruk tak pernah berhenti mengiringi.Kini, hampir setiap bulan Andaru harus keluar-masuk rumah sakit karena kondisinya bisa tiba-tiba menurun drastis.  Napasnya sering sesak, bergantung pada alat bantu oksigen dan obat-obatan. Aku harus tetap kuat demi anakku, karena setiap napasnya adalah tanggung jawabku.Aku selalu diliputi ketakutan setiap kali Andaru berkata dengan suara lemah,“Ma, aku sesak napas, aku mual mau muntah.” Kalimat sederhana itu bisa berarti kami harus kembali berlari ke rumah sakit. Sementara uang di tanganku tak selalu ada. Bahkan untuk berobat pun, aku kerap harus meminjam uang dari teman.Saat ini, Andaru masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat bantu pernapasan, dan kebutuhan medis lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Andaru tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Andaru!
Dana terkumpul Rp 13.043.000
6 hari lagi Dari Rp 13.012.000
Donasi
camp
Anak

Jeritannya Menyayat Hati, Anugerah Berjuang dari Hidrosefalus, Infeksi Paru-paru dan Diare Kronis

“Mati-matian aku berjuang demi pengobatan anakku, tapi di saat itu dokter mengatakan resiko kematian anakku sudah tinggi! Duniaku runtuh! Namun, disaat aku berada di titik terendah hidupku, Allah berkehendak lain. Mukjizat itu datang, anakku kembali ke pelukanku, Ia bertahan dan memilih untuk terus hidup!”“Perjalanan kesembuhan anakku tidak mudah. Aku meninggalkan harga diri, mengemis meminta pertolongan biaya. Alih-alih uluran tangan, aku justru mendapat hinaan. Anak pertamaku pun terpaksa berhenti sekolah sementara, karena biaya pendidikannya harus dialihkan demi menyelamatkan nyawa adiknya.” -Adinda, Ibunda Anugerah-Dokter berkali-kali bertanya padaku dengan cemas, apakah anakku sudah mendapat bantuan biaya untuk pengobatan? Karena jika diare yang terjadi pada anakku terus dibiarkan, nyawa anakku benar-benar terancam. Tapi aku belum pernah mendapatkan pertolongan sekalipun.Anakku, Anugerah Alfarizqy (6 bln), didiagnosa mengalami hidrosefalus (penumpukan cairan di kepala), infeksi paru-paru, hingga diare kronis akibat alergi susu sapi. Hampir setiap malam aku terjaga, dihantui pertanyaan tak terjawab, bagaimana aku bisa membeli susu khusus yang harganya jauh di luar kemampuanku?Sejak dalam kandungan, anakku memang sudah didiagnosa hidrosefalus. Ia lahir dengan ukuran kepala mencapai 50 cm. Seiring waktu, kepalanya semakin lonjong ke belakang dan muncul bentuk benjolan.Usianya masih seumur jagung, tetapi ia sudah harus bertarung dengan maut, menjalani operasi kepala hingga 5 kali. Setiap kali penyakitnya kambuh, tangisannya melengking tajam hingga urat di ubun-ubunnya menonjol. Muntahnya menyembur, dan Ia bisa diare sampai 10 kali dalam sehari. Akibatnya, badannya lemas luar biasa, napasnya sesak dan terkadang kesadarannya sampai hampir hilang.Segala cara telah kulakukan demi kesembuhan anakku. Barang-barang berharga satu per satu terjual, pinjaman kutagih ke sana-sini. Suamiku hanyalah buruh harian, kadang memasang plafon, kadang mengelas, dan sering kali pulang tanpa pekerjaan sama sekali.Aku sendiri tak lagi bisa bekerja karena harus merawat anakku sepanjang waktu. Dulu aku seorang penyanyi, kini jika ada kesempatan, aku tak ragu mencuci dan menyetrika pakaian orang lain atau berjualan sarapan. Hasilnya memang tak seberapa, tapi itulah satu-satunya cara agar dapur kami tetap mengepul.Anak-anakku yang lain pun ikut berkorban. Aku terpaksa mengurangi jatah makan; satu bungkus mi instan harus kubagi berempat. Tas sekolah mereka sudah rusak, sepatu terasa sempit, tak bisa beli demi pengobatan adiknya. Kontrakan terus menunggak sampai berbulan-bulan.Sementara itu, pengobatan anakku masih panjang. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Anugerah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Anugerah!
Dana terkumpul Rp 8.433.000
10 hari lagi Dari Rp 8.433.000
Donasi

Pilihan Campaign