Panggilan Mendesak

camp
Anak

Sering Opname dan Tranfusi Darah, Elbara Berjuang dari Gangguan Hati Kronis

“Aku hampir kehilangan kewarasan melihat perut anakku kian hari kian membuncit, akibat organ hatinya membengkak. Tangisannya setiap hari membuatku ketakutan, apakah Ia bisa bertahan? Rasa bersalah juga menghantuiku, karena tak banyak yang bisa ku lakukan selain mengusap kepalanya sambil menahan air mataku jatuh.”“Harapan hidupnya kini bergantung pada operasi cangkok hati! Namun aku tak berdaya, tidak bisa membantu mencari nafkah tambahan karena harus merawat anak. Sementara suamiku hanya kuli bangunan yang penghasilannya pas-pasan. Jangankan operasi, membawa anakku berobat ke Jakarta terasa bagai mimpi.” -Lingga Purwanti, Orang tua Elbara-Entah sudah berapa kali anakku, Elbara Kenan Arcelo (15 bln), harus terbaring lemah menjalani opname di rumah sakit. Kotoran dari BAB-nya sering ada bercak darahnya, tak terbayangkan seberapa sakit penderitaan yang harus ditanggung tubuh kecilnya.Ujian ini muncul saat anakku berusia 3 bulan, aku curiga tubuhnya kuning. Aku mencoba menjemurnya di bawah sinar matahari, berharap itu membuatnya kembali normal, tapi tak ada perubahan. Hingga usianya 8 bulan, anakku mengalami flu tak kunjung sembuh selama sebulan, BAB-nya tampak dempul, dan perutnya mulai membengkak.Awalnya, anakku didiagnosa mengalami gangguan aliran empedu. Namun, kondisinya terus menurun. Ia dirujuk dari Banyuwangi ke rumah sakit di Bali untuk menjalani opname. Setelah pemeriksaan lanjutan, anakku didiagnosa gangguan hati kronis.Saat itu, duniaku seakan berhenti berputar. Aku tak mampu berkata apa pun. Dalam diam, aku hanya bisa bertanya pada Tuhan, mengapa harus anakku? Ia masih terlalu kecil untuk menanggung rasa sakit sebesar ini. Apalagi pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat besar.Setiap minggu, kami harus bolak-balik ke rumah sakit di Bali. Akhirnya, aku menjual segala harta yang tersisa agar bisa tinggal di Bali dan anakku bisa pengobatan lebih mudah. Aku tak peduli apa pun lagi, aku akan berjuang asal anakku tetap bisa berobat.Kini, kondisi Elbara semakin berat. Ia bisa buang air kecil hingga 15 kali sehari, seluruh tubuhnya terasa gatal tanpa henti, dan Ia sering mengalami anemia hingga harus transfusi darah. Setiap malam aku memeluknya, berharap rasa sakit itu bisa berpindah ke tubuhku saja.Namun cobaan ini belum berakhir. Dokter menyatakan Elbara harus menjalani transplantasi hati, dan pengobatan lanjutan hanya bisa dilakukan di Jakarta. Aku dilanda kebingungan dan ketakutan. Biaya menjadi penghalang terbesar, sementara waktu terus berjalan. Tanpa pengobatan, usia anakku mungkin tak akan lama.Saat ini, anakku membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak Pengobatan anakku membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Elbara tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Elbara!
Dana terkumpul Rp 15.232.500
6 hari lagi Dari Rp 14.880.000
Donasi
camp
Anak

Sakit Jantung Mengintai Milka, Ia Hanya Ingin Sembuh dan Bisa Berlari

“Pernah suatu malam, Milka menangis memintaku susu. Persediaan benar-benar habis, sementara kami tak memiliki uang sepeser pun. Dengan hati yang remuk dan air mata yang kutahan, aku hanya mampu memberinya segelas teh hangat agar ia bisa terlelap.”“Sejak saat itu, suamiku berangkat bekerja lebih awal setiap hari, menantang lelah dan harapan, demi satu tujuan agar anak kami bisa kembali minum susu. Syukurlah, Tuhan masih begitu sayang pada Milka. Hari itu, suamiku pulang membawa susu. Tangisku pecah karena rasa syukur tak terhingga.” -Siti Nurohmah, Orang tua Milka-Ada satu momen yang tak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Saat itu anakku, Milka Alifa Rahma (5 tahun), terbaring lemas dengan tubuh panas karena demam. Dengan sisa tenaganya, Ia menatapku dengan wajah polos dan mata penuh harap, lalu berkata pelan:‘Ma, nanti kalau dedek sudah sembuh, dedek bisa lari kencang kan, Ma? Dedek bisa main hujan-hujanan juga. Makanya dedek rajin minum obat biar cepat sembuh.’ Kalimat sederhana itu menghancurkan hatiku. Harapannya tak besar, Ia hanya ingin hidup normal seperti teman-teman seusianya. Namun bagi anak sekecil itu, harapan sederhana tersebut terasa begitu berat untuk diwujudkan.sejak usianya baru 5 bulan, Milka sudah akrab dengan sakit. Demam dan batuk datang silih berganti. Penyakit yang terlihat ringan bagi orang lain, namun membuat tubuh kecilnya tak pernah benar-benar sehat. Hingga suatu hari, duniaku hancur saat dokter mengatakan bahwa sakit Milka bukan sakit biasa, melainkan jantung bocor. Bahkan, lebar lubang di jantungnya mencapai 6,5 mm. Angka itu mungkin terdengar kecil, tapi dampaknya sangat besar untuk kehidupan anakku. Keterbatasan alat di rumah sakit daerahku di Lampung, membuat anakku harus dirujuk ke Jakarta. Sebagai orang tua, hatiku benar-benar hancur. Apalagi, aku keterbatasan biaya untuk membawanya berobat ke Jakarta. Suamiku hanyalah buruh tani serabutan. Kadang bekerja di sawah, kadang di kebun orang. Pekerjaan itu pun tak selalu ada, sehingga penghasilannya tidak menentu. Sementara aku tak bisa meninggalkan Milka, fokus merawatnya setiap hari. Hidup kami berjalan dari satu kecemasan ke kecemasan lainnya.Ada kalanya aku benar-benar putus asa, aku membutuhkan biaya untuk membawa anak berobat. Saat itu hujan deras seharian, suamiku tidak bisa bekerja. Di tengah kepasrahan itu, tiba-tiba tetangga datang membutuhkan jasa cuci dan gosok. Syukurlah, aku bisa mendapatkan upah untuk membawa anakku  kontrol rutin.Namun, aku tak tega melihat anakku terus kesakitan. Akhirnya, aku mulai dari menjual barang-barang berharga dan meminjam uang hingga bisa membawa anakku ke Jakarta.  Saat ini kondisi anakku masih sering demam, batuk, dan mudah lelah. Pengobatan selama di Jakarta sangat membuatku kesulitan. Apalagi, suamiku tidak bisa mencari nafkah karena ikut mendampingi anak berobat di Jakarta. Sementara anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Milka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Milka!
Dana terkumpul Rp 10.772.500
13 hari lagi Dari Rp 10.600.000
Donasi
camp
Anak

Perut Membesar dan Kaki Menyusut, Nizam Tak Bisa Berjalan Akibat Berbagai Penyakit

“‘Aku kuat dan semangat sembuh, Ma,’ ucap anakku dengan senyum kecil yang berusaha tegar. Kalimat itu menghangatkan hatiku sekaligus membuat pilu. Di usia yang seharusnya diisi tawa dan permainan, Ia justru harus belajar tentang sakit dan rasa lelah karena berjuang mempertahankan hidup.”“Di sela Ia meyakinkanku bahwa Ia baik-baik saja, anakku masih terus menunjukkan tanda sebaliknya. Ia mengalami batuk hebat, jantungnya sering berdegup terlalu kencang, perutnya membesar sementara kakinya semakin mengecil hingga Ia tak lagi mampu berjalan. Tak ada luka yang lebih dalam daripada melihat anak sendiri menahan sakit.” -Supriandi, Orang tua Nizam-TBC, gizi buruk, dan gangguan organ hati silih berganti terus menghantam tubuh anakku, Nizam Alhanan (2 thn), yang rapuh. Baru saja merasakan udara dunia,  anakku sudah menerima cobaan berat. Ia lahir dengan terlilit tali pusar. Meski saat itu kondisinya dinyatakan baik-baik saja, sebagai orang tua aku tetap menyimpan rasa cemas.Waktu berlalu, dan Nizam tumbuh serta berkembang seperti anak-anak lainnya. Namun, ketenangan itu perlahan runtuh ketika usianya menginjak 1 tahun 6 bulan. Demam tinggi dan diare berulang terus menyerangnya tanpa henti. Hasil pemeriksaan menyatakan Nizam mengidap penyakit paru-paru (TBC) dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Dengan harapan besar, aku patuh menjalani setiap anjuran dokter.Namun harapan itu kembali runtuh. Pengobatan yang dijalani tak menunjukkan perubahan, justru kondisi anakku semakin melemah hingga dua kali harus keluar masuk rumah sakit. Akhirnya, Nizam dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan di sanalah semua penyakitnya terungkap.Kini, setiap tangisan Nizam terasa seperti luka yang menggores hatiku. Tangisannya seolah menjadi bahasa pengaduan atas rasa sakit yang harus Ia tanggung sendiri. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa memeluknya, memberikan obat dan air putih hangat, sambil berdoa semoga rasa sakit itu sedikit mereda.Anakku masih harus terus menjalani pengobatan. Namun, biaya yang dibutuhkan jauh di luar kemampuanku. Suamiku hanyalah seorang pegawai honorer, dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Sementara pengobatan Nizam memerlukan biaya besar, bahkan sekadar biaya transportasi dari Desa Tanah Merah, Sumatera Utara, menuju Kota Medan pun menjadi beban berat bagi kami. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, vitamin, dan kebutuhan penunjang lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nizam tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nizam!
Dana terkumpul Rp 26.476.500
11 hari lagi Dari Rp 25.950.000
Donasi

Pilihan Campaign