Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Pendidikan
Hidup dengan Ayahnya yang Sakit-sakitan, Antonius Terancam Putus Sekolah!
“Sekolah terus, Nak, jangan pikirkan Bapak, suatu hari nanti hidupmu akan lebih baik.” Antonius Harefa (14 thn) terancam putus sekolah! Sejak ibunya meninggal, Ia hanya hidup berdua dengan ayahnya yang kini sakit-sakitan. Setiap hati Ayahnya harus membuat pilihan menyakitkan, antara membeli obat, atau membiayai uang sekolah Antonius yang lama menunggak.Tentu, beban hidup itu pernah sesekali mematahkan hati dan semangat Antonius. Bayangkan saja, Ia berangkat sekolah dengan seragam robek dan sepatu bolong. Belum lagi, Ia sangat malu karena tunggakan sekolahnya semakin menumpuk. Namun ia tetap datang, meski hatinya selalu dihantui rasa takut dipanggil pihak sekolah. Saat ini Antonius duduk di bangku kelas 3 SMP Swasta Rido Balaekha Cemerlang, Nias Selatan, Sumatera Utara. Setiap hari, berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk sampai ke sekolah. Bahkan, saat hujan deras pun, Ia terjang dengan sandal jepitnya yang sudah tipis, demi tidak menyia-nyiakan hari sekolahnya. Segala keterbatasannya tidak pernah membuat Antonius berhenti mencetak prestasi. Ia pernah juara 1 lomba solo vocal dan menjadi juara 2 membaca puisi. Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang jujur, rajin, dan selalu membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.Sejak kecil, Antonius memang suka mengajari orang lain. Ia selalu mengingat pesan almarhum ibunya yang bermimpi melihat putranya menjadi seorang guru suatu hari nanti. Setiap kali ia membantu temannya memahami pelajaran, semangat itu seperti kembali hidup.Namun, kondisi penyakit Ayahnya semakin parah hingga tak bisa lagi bekerja. Dulu, ayahnya membanting tulang sebagai pencetak batu bata dan mencari tambahan dengan mengumpulkan biji pinang dari kebun untuk dijual. Kini, Ayahnya hanya mengandalkan uluran tangan tetangga untuk sekedar bertahan hidup. Sedangkan uang sekolah Antonius terus menumpuk, Ia juga butuh membeli peralatan untuk menunjangnya sekolah.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Antonius untuk melanjutkan sekolah dan mengejar cita-citanya menjadi guru. Yuk, Klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk membantu Antonius!
Dana terkumpul
Rp 2.032.001
7 hari lagi
Dari Rp 7.000.000
Donasi
Anak
Anak Kuli Bangunan Sampai Kejang Akibat Penyakit Jantung
“Sesak napas dan kejang-kejang itu sudah menjadi bagian hidup anakku. Tubuhnya yang kecil itu begitu rapuh akibat menanggung derita. Tatapan matanya penuh harap dan keteguhan, itulah yang menguatkanku, aku belajar artinya sebenarnya bertahan dan berjuang.”“Tak usah ditanya bagaimana perjuanganku. Demi anakku, aku rela melakukan apapun, bahkan sampai meminjam uang pada rentenir, hanya agar bisa membawanya berobat dari Lampung ke Jakarta. Saat Ia dirawat di rumah sakit, aku berjuang bukan hanya karena rasa takut kehilangan, tapi juga karena uangku semakin menipis. Aku tidak tahu harus mencari ke mana lagi.” -Jamala Sari, orang tua Aisyah-Ada yang terasa janggal ketika berat badan anakku, Aisyah Humairah (3 thn), mulai menurun saat usianya baru 6 bulan. Ia sering batuk dan flu yang tak kunjung sembuh, kadang juga napasnya terdengar sesak. Tapi aku berusaha menenangkan diri, mencoba berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.Namun, ketenangan itu hancur ketika Aisyah tiba-tiba demam tinggi dan kejang-kejang. Saat melihat tubuh kecilnya menegang dan wajahnya memucat, aku panik luar biasa. Aku langsung menggendongnya ke rumah sakit dengan air mataku yang terus mengalir. Dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.Dan benar saja. Saat dokter mengatakan anakku mengalami jantung bocor, rasanya hidupku bagai diterjang badai. Anakku yang selama ini kupikir hanya flu biasa, ternyata harus berjuang melawan penyakit mematikan.Anakku harus dirawat inap di rumah sakit. Setiap hari aku hanya bisa menangis, memandangi wajah mungilnya yang lemah sambil berdoa agar Tuhan memberinya kekuatan. Namun, 9 bulan dirawat, tak ada tindakan berarti karena rumah sakit di daerah kami tidak memiliki peralatan untuk operasi jantung.Akhirnya, dengan sisa tenaga dan keberanian, aku meminjam uang ke sana-sini demi membawa Aisyah berobat ke Jakarta. Aku yang pergi membawa harapan, tapi setelah di Jakarta, aku harus menerima kabar buruk lagi. anakku didiagnosa lambung (gerd berat) dan penyakit THT.Kini, anakku masih dirawat di rumah sakit. Ia sering demam dan sesak napas, hidupnya bergantung pada tabung oksigen. Setiap kali jarum suntik menembus kulitnya, aku hanya bisa membelai kepalanya dan berbisik lembut, “sabar ya, Nak, Ibu di sini.”Anakku sedang menunggu jadwal operasi. Namun, aku terkendala biaya selama di Jakarta. Suamiku hanya bekerja sebagai buruh babat rumput dan kuli bangunan harian, penghasilannya sangat terbatas untuk kebutuhan sehari-hari.Sementara itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat medis, stroller, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aisyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aisyah!
Dana terkumpul
Rp 2.419.007
3 hari lagi
Dari Rp 20.377.000
Donasi
Anak
Tubuh Lemah Kayla Bertahan dari Infeksi Hati dan Kurang Gizi
“Perjuangan dan tangis mewarnai perjalanan saya sebagai seorang ibu tunggal yang mencari nafkah dengan berjualan gorengan milik orang lain. Satu dari tiga anak saya sedang berjuang hidup dari penyakit infeksi hati.”“Setiap minggu saya harus menebus obat dengan nominal Rp400 ribu. Sudah sebulan lamanya, saya terpaksa meminjam uang agar pengobatan anak tidak terputus. Hari-hari saya penuh kecemasan.” -Jelita, Orang tua Kayla-Tak lama setelah lahir, demam tinggi menyergap tubuh kecil Kayla Zahra Qamela (5 bln). Puskesmas hanya menyarankan kompres untuk menurunkan demamnya, mengingat Kayla lahir prematur, tanpa memberikan obat yang diperlukan. Namun, 3 hari Kayla tak ada perubahan. Diwarnai dengan perasaan khawatir, Ibunya membawa Kayla ke rumah sakit. Naluri seorang ibu terbukti benar, Kayla langsung dilarikan ke IGD, dipasangi selang oksigen dan NGT karena napasnya yang semakin lemah.Beberapa hari dirawat, Kayla dirujuk pindah rumah sakit yang lebih besar karena kondisinya cukup parah. Tubuhnya sangat lemah karena Ia juga didiagnosa kekurangan gizi. Entah sudah berapa kali Ibunya meninggalkan anaknya yang lain di rumah, demi merawat Kayla.Jika bisa membelah diri, itu yang akan dilakukan Ibunya. Tidak ada uang masuk selama Ibunya harus merawat Kayla, sementara kebutuhan pengobatan membengkak. Susu khusus gizinya saja mencapai Rp400 ribu, itupun habis dalam 4 hari saja.Mereka sudah berupaya hidup berhemat, sehari hanya makan 2 kali sehari, dengan nasi dan telur berukuan kecil akibat dibagi-bagi. Perasaan bersalah dan kesedihan menghantui Ibunya karena ketidakmampuan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.Pengobatannya masih panjang, Ia masih membutuhkan dana untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT, serta kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Kayla untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 9.085.003
2 hari lagi
Dari Rp 20.740.000
Donasi