Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Bantu Asyieqa agar Bisa Mendengar
Namanya Khairuna Asyieqa atau yang akrab dipanggil Asyieqa. Usianya baru 5 tahun. Ia merupakan anak yang terlahir dengan kondisi istimewa, begitulah sang ibu menceritakannya.Siapapun yang pertama kali melihat gadis kecil yang ceria ini tak akan menyangka kalau ia mengalami gangguan syaraf pendengaran dengan kategori tuli sangat berat untuk kedua telinganya.Di usia 2 tahun lah Asyieqa mulai diketahui menderita gangguan pendengaran setelah menjalani tes di RS Ulin Banjarmasin. Diagnosis dokter tentunya membuat hati orang tua Asyieqa hancur dan sedih.Dokter menyarankan pemasangan implan koklea untuk Asyieqa, namun biayanya sungguh fantastis yang membuat orang tua tak menyanggupinya. Selama ini, mereka hanya mampu memberikan alat bantu dengan kualitas standar yang itupun belum bisa mengcover kebutuhan pendengarannya.Akibatnya, sampai sekarang Asyieqa masih belum bisa respons kalau dipanggil atau bicara. Kondisinya tentu sangat memprihatinkan, karena apabila tidak ditindak lanjut akan menghambat pertumbuhannya dan cara bersosialisasi Asyieqa dengan lingkungannya.TemanBaik, perjalanan Asyieqa masih panjang. Ia masih harus sekolah, namun kondisi pendengarannya bisa menghambat prosesnya nanti. Maukah TemanBaik membantu?Sedikit bantuanmu bisa membantu Asyieqa menjalani pemasangan implan koklea. TemanBaik yang ingin membantu dapat menyalurkan bantuan dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul
Rp 10.966.202
15 hari lagi
Dari Rp 19.930.000
Donasi
Anak
Ajaib! Meski Alami Berbagai Kerusakan Otak, Shadiahana Patahkan Diagnosa Dokter
“Anakku mengalami meningitis, yaitu ada peradangan selaput otak di area pelipisnya hingga Ia menglami gangguan memori. Penyakit ini menimbulkan komplikasi pada lain, seperti cerebral palsy (lumpuh otak), epilepsi (gangguan saraf), mikrosefali (ukuran otak lebih kecil), sklerosis hipokampus (pengerasan jaringan otak), pneumonia dan Tb Paru.”“Setiap kejang, kepalanya terasa begitu sakit hingga Ia menjadi linglung. Ia belum bicara, jadi satu-satunya cara ia mengekspresikan rasa sakitnya adalah dengan memukul kepalanya sendiri, bahkan menjedotkannya ke lantai. Tuhan, aku frustasi sekali, seandainya bisa, biarlah aku saja yang menanggung sakit itu…” -Cecilia Kencana, Orang tua Shadiahana-Dokter mengatakan bahwa anakku, Shadiahana (1 thn), akan menjadi pasien seumur hidupnya. Perkataan dokter itu bagai menamparku bertubi-tubi. Tapi aku tahu,aku tidak boleh menyerah, karena kalau aku lemah, siapa lagi yang akan menjadi kekuatan bagi anakku?Pada usia 8 bulan tepatnya, awal mula Hana mengalami kejang hingga bibirnya mencong ke kiri, matanya mendelik ke kiri atas, dan seluruh tubuhnya kaku. Dua puluh hari lamanya anakku berjuang melewati masa kritis, dengan kondisi anemia akut dan masalah pencernaan.Sejak itu, kondisi anakku sering kejang tak terkendali, obat-obatan bahkan tak lagi meredakannya. Ia harus dibantu alat oksigen setiap kali sesak, dan minum pun hanya bisa melalui selang NGT. Setiap kali melihatnya berjuang seperti itu, rasanya dadaku sesak. Tak usah ditanya, tentu saja mentalku pernah jatuh. Apalagi ketika dokter bilang anakku tidak bisa jalan seumur hidup dan akan menjadi bayi selamanya. Saat itu, aku hanya bisa bersujud dan berdoa, memohon kepada Tuhan agar memberi kesembuhan bagi anakku.Keajaiban datang, suatu hari anakku tiba-tiba bisa berdiri dan berjalan ke arahku! Langkahnya mungkin goyah, tapi bagiku itu adalah bukti nyata bahwa Tuhan masih menulis cerita indah untuknya. Aku merinding, anakku sangat gigih untuk kesembuhannya. Namun perjuangan kami belum berakhir. Setiap kali penyakitnya kambuh, rasa takut kembali menyelimuti rumah kami. Bahkan, suamiku tak berani meninggalkan Hana ketika tidur, sehingga tiap hari kami bergantian menjaga. Selain itu, kami juga sangat khawatir dengan biaya pengobatannya. Suamiku bekerja sebagai operator mesin bordir komputer dan di beberapa tempat lainnya untuk memenuhi kebutuhan medis anak kami. Ia bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 11 malam. Itu pun penghasilannya sering kurang, hingga aku harus pinjam uang lagi.Segala upaya aku lakukan, meski harus tidak makan dengan layak hingga mencicil pengobatan ke rumah sakit. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat dan alat medis yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Shadiahana tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Shadiahana!
Dana terkumpul
Rp 2.680.006
5 hari lagi
Dari Rp 23.987.000
Donasi
Pendidikan
Anak Penjual Dimsum Berprestasi, Kini Terancam Putus Sekolah!
“Audrey pernah juara III lomba mewarnai saat TK! Ia sangat mendambakan masa depannya menjadi pelukis. Selain seni, anakku juga pandai dalam mata pelajaran lainnya di sekolah. Bahkan, Ia selalu sedih jika mendapatkan nilai 8, karena Ia langganan mendapat nilai 100 atau A+.”“Namun, kini anakku terancam putus sekolah karena sudah menunggak 5 bulan. Aku hanyalah pedagang dimsum pinggir jalan yang bahkan sering rugi dibandingkan untung… ” -Sari, Orang tua Audrey-Aku bahkan terpaksa memindahkan anakku, Audrey Abigail Deshapsari (8 thn), dari kelas nasional ke kelas reguler agar biaya sekolahnya lebih rendah. Aku tau, diam-diam hal itu mematahkan hati anakku yang telah bekerja keras menjadi yang terbaik di sekolah.Saat ini, Audrey duduk di bangku kelas 2 SD Dharma Putra Advent, Bekasi. Biaya sekolahnya sangat besar, aku dan suami tidak mampu membayarnya. Segala upaya sudah aku coba agar dapat penghasilan lebih, tapi tak kunjung membuahkan hasil.Sebelum berjualan dimsum, aku dan suami sempat bekerja freelance memasarkan properti. Sayangnya, tidak berjalan mulus. Aku dan suami pun mencoba bisnis dengan membeli lahan dengan iming-iming setoran lahan parkir, tapi kami ditipu. Padahal, kami beli lahan itu dari hasil menjual tanah orang tua.Kami juga sempat mencoba usaha membuka bengkel, tapi lagi-lagi tak terealisasi karena teman kerja untuk membangun usaha akhirnya mengundurkan diri. Suami juga mencoba menjadi tukang parkir hingga jasa mengantar jemput anak sekolah, tapi hasilnya tak seberapa.Jadilah aku dan suami berakhir dengan usaha dimsum. Tiga tahun mengeluarkan biaya untuk mencoba mengiklankan dagangan, tapi tak kunjung laku, Bahkan, dagangannya juga lebih sering nombok. Modal membuat dimsum Rp200 ribu, tapi hasil penjualan hanya dapat Rp100 ribu.Bahkan, transportasi anak ke sekolah saja kami kesulitan biaya untuk menyewa kendaraan. Sedangkan naik ojek bisa habis Rp80 ribu. Saking buntunya, suami pernah selama nyaris 2 bulan meminjam motor tetangga untuk antar dan jemput anak sekolah.Puji Tuhan, pihak sekolah masih memberikan kelonggaran walau anakku menunggak uang sekolah. Namun, raport anakku belum bisa diambil karena belum bayar uang sekolah. Aku berharap anakku bisa melanjutkan sekolah, sekalipun ekonomi kami terseok-seok.Aku yakin anakku kelak bisa menjadi orang sukses, karena Ia sangat cerdas, baik, dan penurut. Aku ingin anakku bisa menjadi orang yang lebih beruntung dibandingkan orang tuanya, makanya aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikannya. #TemanBaik, yuk bantu Audrey untuk melanjutkan sekolah dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 3.072.000
5 hari lagi
Dari Rp 3.860.000
Donasi