Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Di Balik Tidur Tak Tenang, Anak Sopir Berjuang dari Cerebral Palsy
“Di sunyinya malam, saat semua orang terlelap, tiba-tiba saja tubuh anakku kejang habat! Tangisku pecah karena ketakutan, suamiku sedang bekerja dan dompetku kosong untuk membawa anak ke rumah sakit. Sambil menggendong anakku, aku berlari ke rumah tetangga meminta pertolongan.”“Syukurlah, tetangga memberikan uang agar aku bisa menyewa ambulans untuk anakku. Memiliki anak spesial dengan kondisi keuangan pas-pasan adalah ujian yang berat. Tapi anakku lah yang paling menderita, Ia harus bersabar menahan sakit lebih lama ketika orang tuanya masih berupaya meminjam uang.” -Gusri Lusiani, Orang tua Hana-Berkali-kali aku menyebut nama Tuhan setiap kali melihat anakku, Hana Zahra Alwani (4 thn), menahan sakit. Berharap Tuhan bisa mendengar dan meredakan penderitaan anakku. Hana sering tiba-tiba menangis tanpa sebab, rasa sakit itu tak terungkap karena Ia belum bisa bicara. Tanpa mengenal waktu, Hana sering mendadak kejang dan muntah hingga harus masuk rumah sakit. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan tangisan. Bahkan, untuk ekedar untuk tidur saja ia selalu resah. Badannya semakin hari semakin kaku. Sudah empat tahun minum obat, tapi kejangnya tak kunjung hilang. Penyakit ini mulai menunjukkan wujudnya saat usia anakku 6 bulan. Saat anak-anak seusianya mulai bisa mengangkat kepala, telungkup, dan duduk, Hana belum mampu melakukannya. Kemudian, Ia mengalami kejang berulang rutin tiap bulan. Saat itulah anakku didiagnosa cerebral palsy.Aku tak sanggup menahan air mataku saat pertama kali mendampingi anakku menjalani pengobatan. Hati Ibu mana yang tak hancur mengetahui anaknya mengalami kerusakan otak? Belum lagi, aku harus menyaksikan anakku ditusuk jarum suntik dan di rawat inap di rumah sakit.Hingga kini, belum ada tindakan operasi untuk Hana. Namun ia harus rutin menjalani kontrol ke rumah sakit. Perjalanan dari desa kami di Provinsi Riau menuju Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar empat jam dan biaya yang tidak sedikit. Selain ongkos perjalanan, aku juga harus membeli obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta memenuhi kebutuhan selama mendampingi Hana menginap di perantauan. Suamiku hanya bekerja sebagai sopir pengantar air, dengan penghasilan yang pas-pasan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini pun, kami masih menumpang tinggal di rumah mertua demi menghemat biaya. Tak jarang suamiku terpaksa meminjam uang kepada bos tempatnya bekerja ketika Hana harus berobat. Namun, sebelum utang itu lunas, kami kembali harus meminjam demi pengobatan berikutnya.Sebagai seorang ibu, keinginanku hanyalah agar anakku bisa terus mendapatkan pengobatan yang ia butuhkan. Aku percaya, selama harapan masih ada, aku akan terus berjuang agar suatu hari nanti Hana bisa hidup lebih baik dan terbebas dari penderitaan ini.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hana tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hana!
Dana terkumpul
Rp 7.714.500
8 hari lagi
Dari Rp 7.431.000
Donasi
Anak
Bermula Kejang 2 Jam, Kini 4 Tahun Anakku Tak Bisa Apapun Akibat Gangguan Otak!
“Berawal dari kejang selama 2 jam pada hari itu, kini anakku sudah hampir 4 tahun tak bisa apa-apa. Kejang panjang itu membuat oksigen tak sempat mengalir ke otaknya, hingga Ia harus menanggung lumpuh otak seumur hidupnya!”“Setiap hari aku meratapi dengan tangis, hari-harinya hanya bisa terbaring tak berdaya. Namun, di matanya pula aku menemukan sepercik harapan, seolah berkata ingin terus berjuang. Ia selalu tersenyum dengan hangat, itulah yang menjadi alasanku berupaya demi kesembuhannya…” -Siti Nurhayati, Orangtua Hadi-Rasa syukurku begitu dalam hanya dengan melihat anakku, Muhammad Hadi Ramdani (4 tahun), masih bisa bernapas hingga hari ini. Setiap helaan napasnya terasa seperti anugerah yang begitu berharga.Masih hangat ingatanku yang sempat melalui hari-hari mengerikan itu, ketika anakku seminggu tak sadarkan diri di ruang PICU. Ia didiagnosa epilepsi (gangguan saraf otak), meningitis dan mikrosefali (ukuran otak lebih kecil dari ukuran normal).Padahal anakku lahir sehat dan tumbuh normal, tapi ternyata hanya sampai usia 1 tahun. Selanjutnya, penyakit itu datang menjadi mimpi buruknya. Ia mengalami demam tinggi, muntah-muntah, kejang-kejang hebat hingga akhirnya tak sadarkan diri. Kini, tubuhnya kaku dan lemah. Ia masih mengalami kejang 2-3 kali setiap hari. Rasanya begitu pilu melihat anakku melewatkan masa kecilnya dengan terbujur di tempat tidur, sementara anak-anak lain seusianya berlari dan tertawa riang di luar sana.Setiap bulan kami harus bolak-balik ke rumah sakit untuk kontrol dan terap. Tapi aku kesulitan sekali menghadapi biaya pengobatannya. Bahkan, aku tak mampu membeli susu khusus untuk nutrisinya hingga Ia mengalami gizi buruk.Aku merasa berdosa sekali anakku harus mengalami semua situasi ini. Apalagi Ia harus menjalani tindakan EEG dan MRI ulang di rumah sakit. Rasanya aku hampir pasrah, karena bingung, harus mencari kemana lagi ongkos perjalanan dari Cianjur ke rumah sakit Jakarta?Segala perhiasan dan harta benda lainnya sudah ku jual tak bersisa. Suamiku bekerja sebagai kuli bangunan, itu juga dapat upah kalau ada panggilan kerja. Sedangkan aku tak bisa bekerja karena 24 jam harus merawat anakku yang lemah.Saat ini anakku sangat membutuhkan ongkos transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu khusus untuk kebutuhan gizinya dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hadi tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hadi!
Dana terkumpul
Rp 10.448.001
12 hari lagi
Dari Rp 10.398.000
Donasi
Kesehatan
Berjuang Pengobatan Jantung, Pak Subandi Malah Mengalami Pendarahan Otak!
“Aku pernah berada diambang kematian! Pendarahan otak menyerangku setelah aku meminum obat pengencer darah akibat sakit jantung. Setengah liter darah dikeluarkan dari kepalaku, dokter bahkan mengatakan harapanku untuk sembuh sangat kecil. Namun, aku memilih bertahan!”“Aku masih ingin terus hidup, menyaksikan cucuku tumbuh dewasa. Namun, sedih dan gelisah tetap membayangiku, karena tubuhku tak mampu lagi mencari nafkah untuk pengobatanku. Bahkan, kebutuhan sehari-hari pun aku mengandalkan bantuan saudara yang ada rezeki lebih. Sementara pengobatanku butuh biaya yang besar.” Aku Subandi (62 thn), sudah 18 tahun lamanya aku berjuang melawan penyakit jantung. Namun, perlahan kondisiku justru semakin memburuk. Usaha konveksi kain yang dulu kubangun dengan penuh harapan terpaksa berhenti, karena tubuhku tak sanggup lagi bekerja. Meski penyakit ini berdampingan dengan kematian, tapi aku tak akan pernah menyerah untuk sembuh. Setiap hari aku berupaya berjalan kaki dan berjemur di bawah sinar matahari agar kondisiku lebih baik, minum obat tepat waktu hingga rutin kontrol ke rumah sakit. Semua bermula saat usiaku 44 tahun, hari yang menjadi awal mimpi burukku. Tiba-tiba aku sering mengalami sesak napas hebat hingga dilarikan ke rumah sakit. Di sanalah aku mengetahui bahwa aku sakit jantung. Aku luar biasa terpukul, takut penyakit ganas itu ada di tubuhku.Hidupku tak lagi sama, aku kini bergantung pada alat bantu napas oksigen yang aku sewa setiap bulan. Hari-hariku lebih banyak terbaring di kasur. Berjalan ke kamar mandi pun aku sudah tak sanggup, hingga terpaksa menggunakan pampers.Aku sangat bersyukur memiliki istri dan anak yang merawatku dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Namun, aku juga merasa bersalah karena tidak bisa mencari nafkah dan sering merepotkan mereka. Mereka adalah tanggung jawabku, tapi kini malah aku yang menjadi beban. Aku takut keluargaku runtuh karena keterbatasanku.Semua aset yang kumiliki sudah aku jual untuk biaya pengobatan selama ini. Sekarang keuanganku terbatas, untuk membiayai transportasi ke beberapa poli rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, pampers, menyewa tabung oksigen dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Subandi tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Subandi!
Dana terkumpul
Rp 2.106.000
12 hari lagi
Dari Rp 6.480.000
Donasi