Panggilan Mendesak

camp
Kemanusiaan

Investasi Hidup, Nutrisi untuk Harapan Anak Pejuang Kanker

Setiap anak seharusnya bisa tumbuh sehat, berlarian bebas, dan mengejar mimpi tanpa batas. Namun, bagi anak-anak pejuang kanker di Yayasan Pita Kuning, hari-hari mereka diisi dengan perjuangan panjang melawan rasa sakit, obat-obatan, dan perawatan intensif yang tak mudah.Di balik senyum kecil mereka, ada tubuh rapuh yang berjuang keras melawan sel kanker. Di balik mata yang berbinar, ada doa sederhana agar esok masih bisa bangun dengan kekuatan baru. Untuk bisa bertahan, mereka tak hanya membutuhkan perawatan medis, tetapi juga dukungan nutrisi dan vitamin yang sangat penting menjaga daya tahan tubuh mereka.Bayangkan, di usia mereka yang masih begitu belia, harus melewati kemoterapi dan terapi medis yang melelahkan. Tubuh kecil itu sangat membutuhkan asupan vitamin agar tidak mudah drop, agar tetap kuat, agar tetap bisa tersenyum di tengah rasa sakit.Melalui kolaborasi Panin Sekuritas dan Panin Asset Management bersama BenihBaik dan Pita Kuning, kami mengajak Anda untuk ikut mendampingi mereka. Setiap donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan nutrisi anak-anak pejuang kanker ini.Kebaikan Anda, sekecil apa pun, akan menjadi energi besar bagi mereka untuk terus bertahan, melawan, dan tumbuh dengan penuh harapan.Mari kita wujudkan doa sederhana mereka: tetap sehat, tetap kuat, dan tetap tersenyum. Klik “Donasi Sekarang” dan jadilah bagian dari perjuangan mereka hari ini.
Dana terkumpul Rp 22.115.004
15 hari lagi Dari Rp 100.000.000
Donasi
camp
Anak

Duli Bertahan dari Jantung Bocor, Infeksi Paru-paru, Epilepsi dan Penyakit Lainnya

“Meski anakku belum bisa bicara, tapi aku sangat mengerti setiap kali Ia mulai merasakan sakit, yaitu dari tatapan dan rintihannya yang menyayat hatiku. Berbagai penyakit menggerogoti tubuhnya, Ia selalu mendapatkan diagnosa baru setiap kembali ke rumah sakit.””Biaya untuk memperjuangkan kesembuhan anakku kian hari kian membengkak. Demi mendahulukan pengobatannya, keluargaku sering hidup dalam gelap karena listrik diputus, hanya mengandalkan lilin untuk cahaya. Kami diusir dari kontrakan karena terus menunggak, bahkan memungut sayuran sisa yang dibuang di pasar untuk bertahan hidup.” -Anastasia, Orang tua Duli-Duli Akhdan Aleando Paokuma (2 thn) lahir dengan sesak napas dan langsung masuk ruang NICU. Sejak hari pertama hidupnya, aku harus bergelut dengan rasa takut kehilangan. Kondisinya terus menurun hingga dokter mendiagnosa anakku down syndrome disertai gangguan fungsi kelenjar tiroid.   Meski anakku mengalami kekurangan, aku masih mencoba bersyukur. Setidaknya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memeluknya. Namun, rasa lega itu tak bertahan lama ketika dokter kembali memanggilku dan menyampaikan kabar yang bagai luka baru, anakku didiagnosa jantung bocor.Tubuhku seketika lemas, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Belum sempat hatiku menguat, anakku kembali mengalami sesak napas hebat. Anakku mendapat diagnosa baru, Ia dinyatakan infeksi paru-paru (pneumonia).Sejak itu, anakku harus menggunakan alat bantu napas dan sering keluar masuk rumah sakit. Hari demi hari napas anakku terdengar keras, aku mulai curiga dengan itu. Kekhawatiranku terbukti, anakku mengalami kelainan pada saluran napasnya hingga berbunyi (laringomalasia).Demi keselamatannya, anakku disarankan makan dan minum melalui selang NGT agar tidak berisiko tersedak. Setelah bertubi-tubi harus menerima keadaan, anakku harus menjalani pemeriksaan lanjutan karena Ia sering demam, muntah dan diare. Siapa sangka, hasilnya menunjukkan anakku alergi susu sapi. Jangankan membeli susu khusus, makan saja aku sering minta bantuan orang tua atau saudara karena keuangan terbatas. Suamiku hanya lulusan SD, sulit untuknya mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Demi anak, akhirnya suamiku mencoba bekerja sebagai pengemudi ojek online, mengecat rumah orang, hingga kenek bangunan.Aku pun tak tinggal diam, aku turut mencari tambahan dana dengan membuka jasa membersihkan kamar mandi tetangga, cuci dan gosok pakaian, menjaga rumah kosong hingga terjual, dan menjual semua barang-barang bekas yang ada di rumah. Di tengah perjuangan itu, anakku tiba-tiba mengalami sesak napas berulang hingga dinyatakan TB Paru dan asma. Tak lama setelah itu, anakku juga mengalami kejang dan sempat henti napas. Lagi-lagi Ia mendapat diagnosa baru, yaitu epilepsi.Perjuangan suamiku juga menunjukkan titik terang saat itu, Ia diterima bekerja sebagai petugas kebersihan. Namun, penghasilannya masih sering terbatas untuk menutupi biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat bantu napas dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Duli tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Duli!
Dana terkumpul Rp 16.360.005
9 hari lagi Dari Rp 16.233.000
Donasi
camp
Anak

Nyawanya Terancam! Dareen Harus Segera Operasi Jantung ke Jakarta

“Belum sembuh rasa traumaku karena kehilangan nyawa anakku, tapi kini aku harus menghadapi ketakutan yang sama. Bayi yang baru saja aku lahirkan mengalami mengalami penyakit yang sama seperti kakaknya yang telah lebih dulu berpulang akibat kelainan jantung bawaan.”“Teringat lagi aku perjuangan dulu,  saat aku harus tidur 14 hari di ruang tunggu rumah sakit karena tak punya cukup uang untuk sewa tempat tinggal. Kini kondisinya sama, aku harus tergesa meminjam uang sana-sini untuk membeli tabung oksigen untuk anakku yang sesak napas. Hatiku terus berdoa, semoga Tuhan kali ini memberi akhir yang berbeda.” -Vera Anggraini, Ibunda Dareen-Sejak lahir, sesak napas sudah menyerang anakku, Muhammad Dareen Arrayyan Taysir (21 hari). Awalnya dokter bilang ada masalah pada paru-paru anakku, sehingga anakku harus menginap di dalam inkubator rumah sakit. Aku bahkan belum sempat menyentuh wajah mungilnya, tapi anak yang baru kudengar tangisnya ini hanya bisa ku pandang dari luar kotak kaca dengan selang di hidungnya untuk bisa bernapas. Aku hanya bisa berdiri menatapnya dan terus berdoa agar Tuhan memberi keajaiban untuknya.Namun, harapanku berubah menjadi pahit ketika dokter mendapati jantung anakku terdengar bising. Ia juga harus menjalani transfusi darah karena protein dalam sel darah merahnya menurun. Bahkan, anakku harus pindah ke rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan lanjutan. Hingga akhirnya diagnosa kelainan jantung itu datang pada anakku, rasanya bagai disambar petir! Tubuhku gemetar, air mataku tak terbendung. Ingatan tentang anakku yang telah tiada dulu kembali berputar di kepala, membuat dadaku sesak. Tapi kali ini, aku tak boleh menyerah demi Dareen.Dokter bilang Dareen harus segera dioperasi di Jakarta. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tak punya cukup uang untuk biaya keberangkatan dari Pekanbaru, apalagi biaya selama di sana. Semua tabungan selama ini sudah habis untuk pengobatan anakku sebelumnya yang telah berpulang.Kini, aku bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan anakku yang bergantung dengan 3 tabung oksigen sehari dan selang NGT sebagai jalur makannya. Suamiku bekerja sebagai buruh bongkar barang, penghasilannya terbatas dan juga digunakan untuk menghidupi 6 anggota keluarga.Itupun suamiku tak bisa bekerja karena juga harus ikut mendampingi anak kami yang kami pengobatan. Sementara anakku membutuhkan biaya untuk berangkat ke Jakarta, membeli obat dan alat medis yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dareen tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dareen!
Dana terkumpul Rp 33.095.020
9 hari lagi Dari Rp 34.957.000
Donasi

Pilihan Campaign