Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Di Tengah Sakit Hipertiroid, Bu Siska Harus Merawat Suami Stroke dan Anak Disabilitas
“Sejak suamiku terkena stroke, aku mencoba menggantikan perannya mencari nafkah demi menyambung hidup dan biaya pengobatannya. Namun takdir kembali menguji, tubuhku sendiri jatuh sakit karena hipertiroid. Di tengah kondisi yang serba terbatas, aku juga harus merawat anak kami yang mengalami disabilitas.”“Kebingungan, takut, dan putus asa menggerayangi hidupku, entah bagaimana lagi mencari uang untuk pengobatan suamiku. Bahkan, untuk makan sehari-hari saja, terkadang aku harus menunggu bantuan saudara dan teman. Sementara jika pengobatan suamiku terhenti, nyawanya akan terancam.” -Siska, Istri Bapak Iskandar-Penyakit itu datang pada suamiku, Iskandar (47 thn), ketika keluarga kami baru saja mendapatkan rezeki. Saat itu, suamiku baru saja mulai bekerja lagi menjadi supir travel setelah setahun lamanya menganggur. Kami sempat berpikir kehidupan perlahan akan membaik. Namun ternyata, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.Ketika sedang membawa penumpang ke Dumai, suamiku meneleponku dengan suara yang tersendat-sendat. Ia bilang tangan dan kakinya mendadak lemah. Seketika rasa cemas mengahantamku, dan aku langsung memintanya segera ke rumah sakit sambil berdoa semoga tidak ada hal buruk.Namun kenyataan yang ada begitu menghancurkan. Dokter mengatakan ada penyumbatan di otak suamiku, bahkan terdapat di tiga bagian otaknya hingga mencapai batang otak. Seketika tubuhku terasa lemas, rasanya seperti dunia runtuh di depan mata.Hingga hari ini, suamiku sudah menjalani perawatan di rumah sakit, kontrol rutin hingga terapi. Tubuhnya masih sering lemas, sulit berbicara, serta kesemutan dan kebas yang membuat aktivitas sehari-harinya sangat terbatas. Suamiku yang dulu pekerja keras, kini harus berjuang melawan sakit di atas tempat tidur.Semua tabungan sudah terkuras habis demi pengoatan. Bahkan aku terpaksa menjual barang-barang berharga di rumah demi menyelamatkan suamiku. Aku mencoba bertahan dengan berjualan kecil-kecilan di rumah, penghasilanku tak menentu, paling besar dapat Rp20 ribu.Di tengah keterbatasan itu, suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Iskandar tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Iskandar!
Dana terkumpul
Rp 480.004
13 hari lagi
Dari Rp 3.510.000
Donasi
Anak
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit
Cobaan semakin berat ketika Ayah Haura memilih pergi meninggalkan keluarga saat usia haura baru 2 bulan, tanpa kabar dan tanpa tanggung jawab. Tinggallah Ibu dari Haura yang harus bertahan sendiri, merawat empat anaknya yang masih kecil sambil merawat Haura yang sakit.Setiap minggu, Ibunya harus bolak-balik puluhan kilometer untuk membawa Haura ke rumah sakit. Tapi seringkali pada akhirnya langkah itu terhenti karena tidak ada biaya. Sementara Ibunya hanya mengandalkan sisa tabungan yang makin menipis karena tidak punya penghasilan… -Syafrini, orang tua Haura-Haura Adzkia Shalfina (21 bln) lahir secara prematur, tubuh mungilnya belum siap lahir ke dunia. Sejak pertama kali membuka mata, Ia sudah harus berjuang di ruang NICU. Di sana, napasnya kerap terhenti seolah Ia kelelahan untuk bertahan.Suara napasnya lirih, tubuhnya lemah, bahkan untuk menyusu pun Ia tidak mampu. Alat medis menjadi penopang hidupnya di hari-hari awal Ia lahir. Setelah pulang ke rumah, perjuangan itu tak juga mereda dan rasa cemas orang tuanya justru semakin menghantui.Kondisi Haura tak menunjukkan perubahan, dokter saat itu mendiagnosa Haura hanya mengalami gizi buruk. Namun kondisinya tetap mengkhawatirkan, dengan hati berdebar dan penuh ketakutan, orang tuanya membawanya ke rumah sakit.Saat itulah, kenyataan pahit satu per satu terungkap. Ada lubang di jantung kecilnya, Ia juga didiagnosa laringomalasia (jaringan pita suara lemah), GERD, hipertiroid, serta kekurangan gizi. Ia harus makan dan minum menggunakan selang NGT yang dimasukkan melalui hidungnya, karena napasnya sesak setiap menyusui.Hidup Haura sejak itu tak pernah lepas dari tabung oksigen untuk bisa terus bernapas. Ia sering muntah, napasnya sering bunyi, mudah diare, bahkan sulit buang air. Ia tidak boleh kelelahan sama sekali, karena beresiko kesehatannya menurun drastis. Tak ada yang bisa menggambarkan perih hati Ibunya menyaksikan Haura sudar menderita sejak lahir, apalagi jika Haura harus masuk rumah sakit. Demi pengobatan anaknya, ibunya rela menjual motor, telepon genggam hingga meminjam uang ke banyak orang. Padahal kebutuhan terus berdatangan, Haura masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan haura tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup haura!
Dana terkumpul
Rp 14.599.023
4 hari lagi
Dari Rp 42.462.000
Donasi
Anak
Sakit Kronis Pada Paru-paru Hingga Alami Kejang, Kensa Bertahan Setiap Detik untuk Bisa Hidup
“Masih aku ingat betul titik terendah dalam hidupku ketika Kensa harus dirujuk ke rumah sakit dengan hanya membawa uang 200 ribu rupiah. Sebagian habis untuk perjalanan, dan sisanya kami coba cukupkan untuk bertahan selama Kensa rawat inap.”“Beberapa hari aku dan suamiku bahkan harus menahan lapar, hanya makan roti seadanya. Namun di tengah keterbatasan itu, Tuhan tetap mengirimkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang membantu kami. Hari-hari kami sekarang adalah perjuangan tanpa henti. Siang bekerja, malam menjaga Kensa yang bisa sewaktu-waktu kambuh.” -Hasanah, Orang tua Kensa-Sejak lahir, Kensa Brielle Hia (4 bln) didiagnosa mengalami down sindrom. Lalu, saat usianya 3 bulan, tiba-tiba Ia mengalami demam tinggi, batuk dan flu. Saat itu, aku mengira itu hanya sakit biasa yang dialami anak-anak dalam masa pertumbuhannya. Namun, sampai usianya 1 tahun, sakit itu tak kunjung sembuh.Aku sampai berpindah-pindah mulai dari puskesmas, klinik, hingga rumah sakit, demi mengetahui penyakit apa yang dialami anakku. Hingga akhirnya, dokter memberikan kabar yang mengguncang hatiku, anakku didiagnosa sakit paru-paru kronis. Perjuangan panjang ini tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Meski sudah dirawat di rumah sakit, penyakit itu seolah tidak ingin pergi dari tubuh anakku. Bahkan, kondisinya semakin memburuk sampai Ia terkadang mengalami kejang-kejang.Hatiku hancur sekali, buah hatiku itu belum sempat merasakan hidup menjadi anak-anak pada umumnya. Ia belum bisa duduk dengan tegak tanpa bantuan, belum bisa berdiri sendiri, dan sekedar memanggil “mama” dan “papa” pun belum bisa. Suara yang keluar darinya hanyalah tangisan, satu-satunya cara Ia menyampaikan keresehannya.Setiap penyakitnya kambuh, aku hanya bisa menenangkannya dengan memeluk tubuhnya yang meronta kesakitan sambil memberikan obat. Setelah itu, menggendongnya sampai Ia tertidur lelah dalam tangis yang belum sepenuhnya reda.Namun, dibalik tangis histerisnya, aku tetap mengganggam harapan bahwa anakku suatu hari bisa sembuh. Aku percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk menyelamatkan anakku, meski keterbatasan ekonomi juga menjadi hambatan.Semua tabungan sudah aku kuras dan barang berharga sudah aku jual. Namun perjuangan ini masih jauh dari kata cukup. Dokter menyarankan anakku menjalani pemeriksaan lanjutan seperti scan otak, kemoterapi, hingga kemungkinan tindakan operasi. Sayangnya, keterbatasan biaya menjadi penghalang terbesar kami saat ini.Perjalanan berobat dari Pulau Nias ke rumah sakit di Medan bukan perjalanan singkat. Dibutuhkan waktu berhari-hari, biaya besar, dan kesiapan yang tidak ringan. Ayah Kensa hanya seorang buruh bangunan, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh tani.Selain biaya transportasi, Kensa juga membutuhkan biaya untuk obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kensa tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kensa!
Dana terkumpul
Rp 13.896.380
15 hari lagi
Dari Rp 13.896.380
Donasi