Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Aku Sampai Jadi Pengamen Demi Anakku Operasi Jantung di Jakarta
“Tak ada pilihan lagi, aku terpaksa mengamen di Pasar Tanah Abang demi sebuah harapan! Bermodal uang Rp720 ribu, aku nekat membawa anakku berobat ke Jakarta. Namun, 3 minggu berlalu tanpa kepastian, sementara uang yang kupunya semakin menipis, dan rasa takut kian mencekik diriku.”“Seolah ujian tanpa akhir, tiba-tiba dokter membawa kabar pahit. Anakku tidak bisa tindakan dioperasi karena tubuhnya terlalu lemah! Detak jantungnya hanya 14% dan napasnya tinggal 20%. Harapanku hancur, aku hanya mampu menggendong anakku sambil menangis, membawanya pulang dalam kondisi sakit parah.” -Irma Juliani, Orang tua Gamal-Sudah 16 tahun lamanya anakku, Gamal Azka Mudza (16 thn), berjuang melawan jantung bocor. Sejak kecil sampai sekarang, anakku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau duduk diam di kursi. Ia hidup, tapi tidak pernah sekalipun melihat dan mencicipi dunia di luar rumah.Tubuhnya sangat mudah lelah, bahkan tak jarang Ia tiba-tiba jatuh pingsan. Hampir semua hari-hari dilaluinya dengan berdamai dengan rasa sakit dan napas tersengal. Dalam sebulan, mungkin hanya dua atau tiga hari saja ia tampak sedikit lebih baik. Saat kondisinya memburuk, aku hanya bisa memberinya bantuan oksigen dan memijat punggungnya, mendengar rintihannya sambil menahan air mata. Namun di tengah penyakit mematikan yang mengurung hidupnya, anakku justru memiliki hati paling kuat. Saat aku dan suamiku tertekan secara emosi melihat kondisinya, anakku yang menenangkan kami. Suaranya yang lirih sering berkata tegar, “Sabar Pih, Gamal sudah biasa begini.” Kalimat itu menghantam hatiku sangat keras. Bayangkan saja, usianya baru 2 tahun saat vonis jantung bocor itu datang. Tapi keterbatasan biaya membuatku tak mampu membawanya menjalani operasi. Akhirnya, anakku terpaksa bertahan dengan pengobatan alternatif saja. Sayangnya, kondisinya tak kunjung membaik dan justru semakin parah.Setelah anakku memiliki BPJS, barulah aku memberanikan diri untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi kondisinya semakin mengkhawatirkan, aku sampai menjual motor dan harta berharga lainnya untuk membawa anakku dari Bandung ke Jakarta.Aku hanyalah pegawai pabrik, penghasilannya seadanya untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berharap anakku bisa operasi dan sembuh, tapi biaya yang dikeluarkan sangat besar. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gamal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gamal!
Dana terkumpul
Rp 5.002.500
11 hari lagi
Dari Rp 4.950.000
Donasi
Kesehatan
Bertahun-tahun Utik Bertahan Beberapa Infeksi, Diabetes, Hingga Kista!
“Demi keselamatanku, dokter terpaksa membelah kepalaku tanpa obat bius! Nanah yang sudah menumpuk di kepalaku akibat bakteri, harus dikeluarkan. Tubuhku sampai gemetar, teriakan dan tangisanku menggema akibat sakit yang begitu menyiksa.”“Sebelum operasi itu, aku sempat naik ojek ke rumah sakit akibat keterbatasan biaya. Tapi, helm yang ku pakai saat itu justru menjadi sumber penderitaan, kepalaku yang bengkak malah jadi nyeri seperti tertusuk jarum. Sepanjang perjalanan aku muntah berkali-kali dan napasku tersengal, akhirnya aku melanjutkan perjalanan dengan ambulans.”Aku Utik Supartiyem (42 thn). Sebagian besar hidupku tak pernah lepas dari sakit. Kista, diabetes melitus, hipertensi, infeksi bakteri, infeksi saluran kemih, hingga komplikasi darah silih berganti menggerogoti tubuhku.Kini aku hanya hidup berdua dengan Ayahku yang telah berusia 77 tahun. Di usianya yang renta, Ayah masih harus bekerja mencari kelapa dan mengumpulkan kayu demi kami bisa bertahan hidup. Padahal, Ayah juga sakit-sakitan, infeksi paru-paru, kista, pembengkakan saluran prostat dan batu ginjal.Tentu saja penghasilan Ayahku bahkan sering tak cukup untuk makan, apalagi untuk biaya pengobatanku yang tak kunjung usai. Bayangkan saja, sejak 2011 penyakit mulai menggerayangi tubuhku. Saat itu, aku masih bekerja sebagai pengasuh lansia.Suatu hari, tiba-tiba aku mengalami kram perut hebat hingga tak bisa tidur telentang. Melihat kondisiku, Bosku membawaku ke rumah sakit. Dokter mengatakan ada kista di ovarium sebelah kiri. Aku terdiam dan lemas, tak pernah menyangka penyakit mengerikan itu datang kepadaku.Aku menjalani operasi, dan sempat membaik. Aku kembali bekerja, mencoba bangkit. Namun harapan itu hanya singgah sebentar. Beberapa tahun kemudian, sesak napas mulai menyerang. Selain infeksi paru-paru, gula darahku juga melonjak tinggi.Tubuhku semakin rapuh, hingga akhirnya aku tak sanggup lagi bekerja. Aku berhenti, dan mencoba bertahan hidup dengan berjualan sosis bakar di depan sekolah. Tapi sesak napasku semakin tak terkendali, hingga aku kembali diopname di rumah sakit.Penyakitku seolah tak ada habisnya, seiring waktu malah makin bertambah. Bahkan suatu hari, aku ditemukan nyaris meninggal oleh teman dan tetangga. Tubuhku mendadak lemas, aku tak bisa bangkit dari tempat tidur. Tangan dan kakiku membengkak, napasku tersengal.Aku juga sempat mengalami pendarahan hebat, hingga harus dikuret berulang kali akibat pembengkakan rahim. Semua barang berharga dan perabotan di rumah sudah terjual habis untuk pengobatan. Aku juga terpaksa berutang karena sudah tidak ada jalan lagi. Segala cara aku lakukan agar bisa makan dan berobat. Aku membuat kerajinan tangan, meski hasilnya sangat kecil. Setiap hari aku bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan tubuh ini sanggup bertahan. Hidupku terasa seperti jalan buntu tanpa ujung.Hingga saat ini, aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Utik tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Utik!
Dana terkumpul
Rp 3.307.000
14 hari lagi
Dari Rp 12.516.900
Donasi
Usaha Bisnis
Kisah I Made, Tunanetra yang Berjuang Hidup Mandiri Menjadi Terapis Pijat!
“Duniaku gelap, sehitam mata yang terpejam selamanya. Ya, sejak lahir aku memang tak bisa melihat. Namun, hidup tak pernah menungguku siap. Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah meski dalam gelap.”“Demi anak dan istri bisa tetap makan, akulah yang turun berjuang. Memulai belajar pijat sejak duduk di bangku SMP dengan terapis, membaca literatur hingga bantuan teknologi, aku memantapkan diri menjadi terapis pijat. Dari keterbatasan itu, inilah aku memulai mimpi…”Halo #TemanBaik, Namaku Made Sumertayasa (36 thn), saat ini aku sedang berjuang membangun usaha jasa pijat kesehatan dan terapi bernama Panti Pijat Amerta Manik Usada. Lokasi usahaku berada di Desa Pejeng, Banjar Pedapdapan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Meski kondisi fisikku terbatas, aku yakin usaha pijat inilah harapanku untuk masa depan. Kelak, aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tak ingin selamanya bergantung atau menyusahkan saudara dan keluargaku kelak.Panti pijat kecilku tak hanya melayani pijat kebugaran, tetapi juga terapi sistem saraf pusat, serta penanganan keluhan seperti keseleo, salah urat, leher kaku, hingga nyeri kronis. Inilah satu-satunya sumber penghidupan untuk aku, istriku, dan anakku.Namun kenyataannya tak semudah harapan. Keterbatasan modal membuat aku harus menjalani praktik pijat di rumah yang sangat sederhana. Ruang praktik menyatu dengan ruang keluarga, hanya dibatasi oleh sehelai tirai tipis. Kondisi ini sering membuat pasien merasa kurang nyaman dan privasi mereka tak sepenuhnya terjaga. Padahal, kemampuan terapi pijatku cukup dipercaya oleh pasien. Kondisi ini membuat tempat usahaku sulit berkembang alias hanya jalan di tempat.Dalam seminggu, terkadang hanya 1 sampai 2 hari ada pasien. Di hari lain, aku harus menunggu tanpa kepastian. Aku juga kerap mendatangi pasien menggunakan ojek online. Namun saat tak ada satupun pasien datang, tak ada nafkah yang bisa kuberikan untuk keluarga. Bahkan, pernah sampai seminggu penuh aku tidak ada pasien sama sekali. Tentu saja kondisi itu sangat berat untuk mentalku. Hingga akhirnya, orang tuakulah yang membantu kami bertahan untuk makan sehari-hari.Oleh karena itu, aku ingin meningkatkan kualitas tempat usaha pijatku agar menarik lebih banyak pasien lagi. Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk menyewa tempat sederhana yang layak untuk ruang praktik, pengadaaan perlengkapan pijat, hingga kebutuhan dasar pendukung pelayanan pasien.#TemanBaik, Rp100 ribu yang kita punya bisa menjadi harapan bagi Bapak I Made agar bisa hidup mandiri dengan keterbatasannya. Yuk, bantu Bapak I Made untuk memiliki tempat praktik pijat yang layak dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 1.415.000
7 hari lagi
Dari Rp 16.800.000
Donasi