Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Perutnya Nyeri Tak Tertahankan, Ammar Berjuang dari Autoimun
“Seperti terkena stroke! Hidup anakku berubah dalam sekejap, pagi itu tiba-tiba Ia bangun tidur dengan kaki dan tangan membengkak. Sendi-sendinya nyeri tak tertahankan, bahkan Ia sampai tak mampu untuk berjalan.”“‘Ma, sakit Ma, nggak kuat,’ itulah rintihan anakku setiap Ia akan dilarikan ke IGD. Sejak itu, anakku yang sebelumnya selalu aktif dan ceria, lebih banyak diam. Sejak hari itu, tawa dan keceriaannya perlahan menghilang. Anak yang dulu selalu aktif kini lebih banyak diam. Sepak bola yang begitu ia cintai kini hanya bisa ia pandangi. Hatiku terpukul, anakku tak bisa melakukan apapun demi kesalamatan nyawanya.” -Desi Dahlia, Orang tua Ammar-Tak lama setelah pengobatan paru-parunya selesai, dunia kami kembali diuji. Anakku, Muhammad Ammar Rizki (9 tahun), didiagnosis menderita autoimun HSP purpura, penyakit yang menyebabkan peradangan pembuluh darah dan menyerang usus serta ginjalnya.Awalnya, anakku mengalami nyeri perut. Aku berjuang membawanya berobat hingga Ia harus menjalani operasi usus, berharap rasa sakitnya berhenti. Namun harapan itu belum terwujud. Setiap hari, Ammar masih merasakan nyeri yang begitu hebat hingga berkali-kali harus dilarikan ke IGD. Sejak itu, tubuhnya sering dipenuhi lebam-lebam, disertai demam yang datang hampir setiap malam. Meski menahan sakit, anakku sering bilang, “Aku ingin sembuh, biar bisa terus sama ibu dan ayah.” Kalimat sederhana itu menghangatkan hatiku. Di tengah penderitaannya, Ia masih ingin bertahan, masih ingin berjuang untuk hidup.Namun, biaya pengobatan juga menjadi salah satu masalah serius untuk pengobatan anakku. Suamiku bekerja sebagai pengemudi ojek online, berangkat pagi dan pulang larut malam demi anakku bisa terus berobat. Sayangnya, penghasilan harian suami paling banyak hanya Rp80 ribu, itupun sering habis untuk kebutuhan sehari-hari. Pernah suatu hari, dengan menahan malu, aku meminjam uang ke sana kemari karena Ammar harus kembali dilarikan ke IGD. Semakin terpukul lagi karena tidak ada yang bisa meminjamkan dana.Di saat itulah, aku melihat kasih sayang Tuhan. Warga sekitar yang tak tega melihat kondisiku, berinisiatif berkeliling kampung untuk menggalang dana bantuan. Air mataku jatuh menyaksikan kepedulian mereka. Saat itu aku mendapatkan kekuatan, aku harus terus memperjuangkan kesembuhan anak.Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arjuna tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arjuna!
Dana terkumpul
Rp 10.174.000
3 hari lagi
Dari Rp 5.353.000
Donasi
Anak
Terbaring Lemah Tak Berdaya, 7 Penyakit Mengintai Nyawa Anak Buruh Tani
Ada 7 penyakit serius yang mengintai nyawa anakku! Ia menderita jantung bocor, pneumonia, down syndrom, gerd, mikrosefali, bronkiolitis, dan laringomalasia.Biaya pengobatannya sangat besar bagiku yang bekerja hanya sebagai buruh tani yang harus menghidupi istri dan 4 anakku yang lain.Aku lebih banyak melihat Aimanzha Barrackzaugi (7 bln) menangis dan terbaring lemas sepanjang hidupnya. Tubuhnya sangat kurus, kesulitan bernapas akibat sakit paru-paru. Selang medis menempel di hidungnya demi membantunya bertahan hidup.Sejak lahir, masalah kesehatannya tak pernah berhenti. Ia tiba-tiba mengalami dehidrasi bahkan mimisan, tubuhnya juga berwarna kuning dan beberapa bagian tubuhnya berwarna biru.Namun, aku terkejut saat rumah sakit dekat rumahku di Lampung Selatan tidak bisa menangani anakku. Kemudian, anakku dirujuk ke rumah sakit di Bandar Lampung, dan hasil pemeriksaannya mengungkapkan kenyataan yang jauh lebih buruk dari yang kubayangkan. Ketika dokter memberitahuku bahwa anakku harus menjalani pengobatan ke Jakarta, duniaku seolah runtuh. Semua yang kumiliki, harta yang bekerja keras kudapatkan, aku jual demi mengantarkan anakku untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik.Akhirnya anakku sudah bisa menjalani kontrol rutin di Jakarta dan menunggu tindakan dari dokter. Biaya yang ditanggung sangat besar, seperti transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, sewa tempat tinggal dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Aimanzha untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 23.648.503
5 hari lagi
Dari Rp 24.642.000
Donasi
Usaha Bisnis
Kisah I Made, Tunanetra yang Berjuang Hidup Mandiri Menjadi Terapis Pijat!
“Duniaku gelap, sehitam mata yang terpejam selamanya. Ya, sejak lahir aku memang tak bisa melihat. Namun, hidup tak pernah menungguku siap. Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah meski dalam gelap.”“Demi anak dan istri bisa tetap makan, akulah yang turun berjuang. Memulai belajar pijat sejak duduk di bangku SMP dengan terapis, membaca literatur hingga bantuan teknologi, aku memantapkan diri menjadi terapis pijat. Dari keterbatasan itu, inilah aku memulai mimpi…”Halo #TemanBaik, Namaku Made Sumertayasa (36 thn), saat ini aku sedang berjuang membangun usaha jasa pijat kesehatan dan terapi bernama Panti Pijat Amerta Manik Usada. Lokasi usahaku berada di Desa Pejeng, Banjar Pedapdapan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Meski kondisi fisikku terbatas, aku yakin usaha pijat inilah harapanku untuk masa depan. Kelak, aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tak ingin selamanya bergantung atau menyusahkan saudara dan keluargaku kelak.Panti pijat kecilku tak hanya melayani pijat kebugaran, tetapi juga terapi sistem saraf pusat, serta penanganan keluhan seperti keseleo, salah urat, leher kaku, hingga nyeri kronis. Inilah satu-satunya sumber penghidupan untuk aku, istriku, dan anakku.Namun kenyataannya tak semudah harapan. Keterbatasan modal membuat aku harus menjalani praktik pijat di rumah yang sangat sederhana. Ruang praktik menyatu dengan ruang keluarga, hanya dibatasi oleh sehelai tirai tipis. Kondisi ini sering membuat pasien merasa kurang nyaman dan privasi mereka tak sepenuhnya terjaga. Padahal, kemampuan terapi pijatku cukup dipercaya oleh pasien. Kondisi ini membuat tempat usahaku sulit berkembang alias hanya jalan di tempat.Dalam seminggu, terkadang hanya 1 sampai 2 hari ada pasien. Di hari lain, aku harus menunggu tanpa kepastian. Aku juga kerap mendatangi pasien menggunakan ojek online. Namun saat tak ada satupun pasien datang, tak ada nafkah yang bisa kuberikan untuk keluarga. Bahkan, pernah sampai seminggu penuh aku tidak ada pasien sama sekali. Tentu saja kondisi itu sangat berat untuk mentalku. Hingga akhirnya, orang tuakulah yang membantu kami bertahan untuk makan sehari-hari.Oleh karena itu, aku ingin meningkatkan kualitas tempat usaha pijatku agar menarik lebih banyak pasien lagi. Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk menyewa tempat sederhana yang layak untuk ruang praktik, pengadaaan perlengkapan pijat, hingga kebutuhan dasar pendukung pelayanan pasien.#TemanBaik, Rp100 ribu yang kita punya bisa menjadi harapan bagi Bapak I Made agar bisa hidup mandiri dengan keterbatasannya. Yuk, bantu Bapak I Made untuk memiliki tempat praktik pijat yang layak dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 1.405.000
12 hari lagi
Dari Rp 16.800.000
Donasi