Panggilan Mendesak

camp
Anak

Alami TB Meningitis Hingga Fungsi Ginjalnya Terganggu, Sultan Terancam Harus Cuci Darah!

“Nak, yang kuat ya, jangan pernah menyerah melawan sakitmu. Ayah selalu di sini, terus mendampingimu, menggenggam harapan untukmu, apa pun keadaanmu.Ayah juga akan terus mendampingimu, bagaimanapun kondisimu.”“Setiap hari Ayah merindukan suaramu yang dulu memanggil ‘ayah’ dengan penuh ceria, yang kini hanya bisa Ayah dengar kembali dalam ingatan Ayah. Tapi Ayah tidak akan berhenti percaya, akan ada mukjizat yang diberikan Tuhan bagi yang berusaha.”Perkenalkan, aku Uden Efendi, hanya tukang ojek pangkalan di Cisarua yang setiap hari menggantungkan harapan dari upah yang tak menentu. Namun, penghasilanku yang tak seberapa itu kini juga harus mencukupi pengobatan anakku, Sultan Aly Shaheer Arrafif (10 bln).Anakku baru berusia 4 tahun, tapi Ia sudah harus menanggung penyakit yang mengerikan akibat TB meningitis yang menyerang otaknya. Awalnya penyakit ini datang dengan gejala demam, Ia juga lebih sering tertidur. Pihak rumah sakit mengatakan anakku baik-baik saja.Hingga akhirnya kesadaran anakku hilang seiring waktu, tubuhnya terus berkeringat tanpa henti dan Ia mulai sering kejang-kejang. Rasanya duniaku seolah berhenti saking terkejutnya. Aku hanya bisa panik, melarikannya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya karena keterbatasan ruang intensif.Sejak itu, tak ada lagi anakku yang aktif, ceria dan pandai bicara. Kini, pemandanganku hanya anakku yang terbaring lemah, tubuhnya kaku karena sering kejang. Bahkan, untuk sekedar bergerak bahkan memanggilku saja, dia sudah tidak mampu. Napasnya sering sesak, harus menggunakan alat bantu napas oksigen. Makan dan minum pun harus mengandalkan selang NGT yang ditancapkan melalui hidungnya, dia tidak mampu mengunyah.Sudah 10 bulan Ia bertahan dari penyakitnya, kondisinya terus memburuk hingga fungsi ginjalnya terganggu. Anakku mengalami dehidrasi berat hingga kembali harus dirawat secara intensif. Anakku dihadapkan dengan kemungkinan terburuk, yaitu cuci darah. Seolah berdiri di ujung harapan, aku begitu ketakutan kehilangannya. Sementara itu, biaya pengobatan anak membuatku terpuruk. Keluarga kami sangat sederhana, penghasilanku dari narik ojek harus dibagi untuk menafkahi empat anak. Sejak anakku sakit, istriku akhirnya ikut serta mencari nafkah sebagai ibu rumah tangga.Bahkan, satu-satunya tanah yang aku miliki, sudah aku relakan untuk dijual demi anakku bisa terus pengobatan. Sementara itu, aku anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, oksigen, selang NGT, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya, Aku yakin, suatu saat anakku bisa kembali seperti dulu, berlari, tertawa dan bisa merasakan kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sultan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sultan! 
Dana terkumpul Rp 3.038.003
3 hari lagi Dari Rp 32.625.000
Donasi
camp
Anak

Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit

Cobaan semakin berat ketika Ayah Haura memilih pergi meninggalkan keluarga saat usia haura baru 2 bulan, tanpa kabar dan tanpa tanggung jawab. Tinggallah Ibu dari Haura yang harus bertahan sendiri, merawat empat anaknya yang masih kecil sambil merawat Haura yang sakit.Setiap minggu, Ibunya harus bolak-balik puluhan kilometer untuk membawa Haura ke rumah sakit. Tapi seringkali pada akhirnya langkah itu terhenti karena tidak ada biaya. Sementara Ibunya hanya mengandalkan sisa tabungan yang makin menipis karena tidak punya penghasilan… -Syafrini, orang tua Haura-Haura Adzkia Shalfina (21 bln) lahir secara prematur, tubuh mungilnya belum siap lahir ke dunia. Sejak pertama kali membuka mata, Ia sudah harus berjuang di ruang NICU. Di sana, napasnya kerap terhenti seolah Ia kelelahan untuk bertahan.Suara napasnya lirih, tubuhnya lemah, bahkan untuk menyusu pun Ia tidak mampu. Alat medis menjadi penopang hidupnya di hari-hari awal Ia lahir. Setelah pulang ke rumah, perjuangan itu tak juga mereda dan rasa cemas orang tuanya justru semakin menghantui.Kondisi Haura tak menunjukkan perubahan, dokter saat itu mendiagnosa Haura hanya mengalami gizi buruk. Namun kondisinya tetap mengkhawatirkan, dengan hati berdebar dan penuh ketakutan, orang tuanya membawanya ke rumah sakit.Saat itulah, kenyataan pahit satu per satu terungkap. Ada lubang di jantung kecilnya, Ia juga didiagnosa laringomalasia (jaringan pita suara lemah), GERD, hipertiroid, serta kekurangan gizi. Ia harus makan dan minum menggunakan selang NGT yang dimasukkan melalui hidungnya, karena napasnya sesak setiap menyusui.Hidup Haura sejak itu tak pernah lepas dari tabung oksigen untuk bisa terus bernapas. Ia sering muntah, napasnya sering bunyi, mudah diare, bahkan sulit buang air. Ia tidak boleh kelelahan sama sekali, karena beresiko kesehatannya menurun drastis. Tak ada yang bisa menggambarkan perih hati Ibunya menyaksikan Haura sudar menderita sejak lahir, apalagi jika Haura harus masuk rumah sakit. Demi pengobatan anaknya, ibunya rela menjual motor, telepon genggam hingga meminjam uang ke banyak orang. Padahal kebutuhan terus berdatangan, Haura masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan haura tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup haura!    
Dana terkumpul Rp 13.584.021
9 hari lagi Dari Rp 42.462.000
Donasi
camp
Hewan

Dukung Aksi Andreas Nainggolan, Driver Ojol yang Jadi Pahlawan Penyelamat bagi Kucing Terlantar

Di dunia ini, hidup manusia berdampingan dengan habitat kehidupan para kucing. Apabila ada dari mereka yang kelaparan atau menderita luka, tak sedikit pula manusia yang peduli menolong. Itulah yang dilakukan oleh Andreas Nainggolan.Pria asal Magelang, Jawa Tengah yang berprofesi sebagai driver ojek online (ojol) itu sehari-hari hidup dengan merawat kucing-kucing sakit dan terlantar. Dia pun mendirikan shelter rescue sederhana yang diberi nama Shelter Miau Miau Cats Rescue sejak 2017.Saat ini, Andreas merawat 65 kucing di shelternya. Kegiatan yang rutin dilakukan selama ini adalah memberikan pakan, vitamin serta obat-obatan pada kucing yang sedang sakit ringan. Apabila ada kucing yang sakit berat, dia membawanya ke dokter hewan. Semua biaya tersebut dia tanggung sendiri dan ada juga beberapa sumbangan dari para donatur. Sehari-hari, dia juga menerima kucing-kucing terlantar yang dititipkan dari orang lain. Andreas juga bergerak cepat apabila ada panggilan atau pesan yang dikirim kepadanya untuk menyelamatkan kucing terlantar di jalan atau pasar. Namun kendalanya sekarang adalah banyaknya jumlah kucing yang ditampung juga memperbesar biaya operasional yang harus dia keluarkan. Kondisi ekonomi saat ini tidak dalam keadaan baik, sehingga donatur banyak yang mengundurkan diri karena kondisi finansial mereka yang terpuruk.TemanBaik, Andreas Nainggolan butuh bantuan kamu untuk bisa menyelamatkan kucing-kucing yang terlantar di jalan. Yuk kita bantu Andreas agar tetap menjadi pahlawan penyelamat kucing terlantar dengan cara:Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiPilih metode pembayaran, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antar bank (BRI, Mandiri, BCA, BNI). 
Dana terkumpul Rp 10.152.023
5 hari lagi Dari Rp 12.220.000
Donasi

Pilihan Campaign