Panggilan Mendesak

camp
Anak

Clarissa Bertahan dari Masalah Otak, Jantung Bocor dan Mata Katarak!

“Anakku harus merasakan pahitnya ditolak 3 rumah sakit sekaligus dengan alasan kamar IGD penuh! Padahal, saat itu kondisi tubuh anakku kaku, demamnya sangat tinggi hingga matanya mendelik ke atas. Dalam kepanikan,  rumah sakit keempat mau menerima anakku, itupun hanya di kamar rawat inap biasa.”“Namun, kondisi anakku justru semakin memburuk karena Ia belum juga mendapatkan perawatan yang semestinya. Saat itulah duniaku terasa berhenti, apalagi anakku tiba-tiba mengalami henti napas! Perasaan takut semakin menyergap, melihat selang medis memenuhi hampir seluruh wajah anakku. Dokter mendiagnosa anakku mengalami beberapa masalah pada otaknya!” -Wiwit Suliswati, Orang tua Clarissa-Anakku, Clarissa Salsabila, didiagnosa infeksi otak, epilepsi, hingga hidrosefalus (penumpukan cairan berlebih pada otaknya). Demi bertahan hidup, Ia harus menjalani operasi pemasangan selang dari kepala menuju perutnya untuk mengurangi penumpukan cairan yang menekan otaknya.Namun, belum selesai rasa sakit yang harus ditanggungnya, buah hatiku juga harus menerima diagnosa jantung bocor dan katarak pada kedua matanya. Hatiku hancur berkeping-keping karena berita buruk yang terus-menerus menghantam anakku seolah tak diberi ruang untuk bernapas merasa lega. Akibat terlalu banyak menahan rasa sakit, kini anakku tidak bisa melakukan apapun selain berbaring dengan tubuhnya yang kaku. Clarissa harus menjalani fisioterapi secara rutin agar fungsi gerak tubuhnya perlahan bisa kembali, serta operasi pemasangan lensa agar ia dapat melihat dunia dengan lebih jelas.Terkadang ia mengalami demam, batuk, tremor, bahkan kejang-kejang. Setiap kali sakitnya kambuh, aku hanya bisa menggendongnya, mengelus punggungnya, dan berdoa agar rasa sakit itu segera berlalu. Saat menangis, tubuhnya bisa membiru, dan jika kondisinya semakin parah, aku harus segera membawanya ke rumah sakit.Biaya pengobatan Clarissa sangat besar. Tak jarang aku harus meminjam uang ke sana kemari hanya untuk membawanya berobat. Suamiku hanyalah seorang buruh pabrik, dan setiap malam ia masih menjaga warung kopi demi menambah sedikit biaya untuk pengobatan anak kami.Aku sendiri tak bisa bekerja karena harus sepenuhnya merawat Clarissa. Meski begitu, sesekali aku mencoba mengambil pekerjaan mencuci dan menggosok pakaian. Sekecil apa pun penghasilan itu, akan selalu aku usahakan, demi kesembuhan anakkuSaat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat bantu napas dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Clarissa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Clarissa!
Dana terkumpul Rp 25.858.000
3 hari lagi Dari Rp 24.508.000
Donasi
camp
Anak

Riska Ingin Bisa Melangkah, Meski Hidrosefalus dan Epilepsi Menghentikannya

“Meski penyakit membuat kepala anakku terus membesar hingga ia sulit menjaga keseimbangan dan sering oleh, tapi Ia tetap semangat untuk belajar berjalan. Ia tak pernah menyerah dengan kaki yang terus terjatuh setiap Ia mencoba melangkah. Ia tetap bertekad pada keinginannya untuk sembuh dan bisa bersekolah.”“Demi biaya pengobatan anak, aku rela mengetuk pintu demi  pintu rumah warga, memohon pekerjaan sebagai kuli cuci dan gosok pakaian. Upah suamiku sebagai buruh bangunan seringkali jauh dari kata cukup, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, demi anak, aku harus terus bertahan.” -Rima Wahyuni, Orang tua Riska-Separuh tubuh anakku, Riska Shaqueena Al-Bari (5 thn), kaku, tidak dapat bergerak luwes seperti anak-anak pada umumnya. Hatiku selalu dipenuhi ketakutan, ketika tubuhnya mulai kejang, muntah, hingga akhirnya hilang kesadaran. Pikiranku kacau, apakah Ia akan membuka mata kembali atau tidak?Selain itu, beban biaya menambah berat cobaan yang harus aku pikul. Bahkan, aku pernah benar-benar kehabisan uang untuk pulang seusai membawa anak operasi. Di tengah lelah saat itu, kuasa Allah datang lebih hebat dari apapun. Tiba-tiba seorang sopir taksi dengan tulus menawarkan mengantarkan aku dan anakku pulang secara gratis. Tangisku pecah, aku tak menyangka masih ada kebaikan yang menjaga anakku.Penyakit ini sudah lama berada di tubuh anakku, tepatnya sejak usianya 3 tahun. Ia tiba-tiba kejang, aku begitu panik dan langsung menggendongnya ke klinik. Namun, saat itu anakku dirujuk ke rumah sakit dan langsung ditangani di ruang IGD.Di tengah keresahan, ternyata hari itu menjadi salah satu hari paling berat dalam hidupku. Dokter mengatakan anakku didiagnosa hidrosefalus (penumpukan cairan di otak) dan epilepsi (gangguan sistem saraf di otak). Sejak itu, hidup anakku lebih banyak diisi oleh rasa sakit.Anakku harus menjalani dua kali operasi besar pemasangan selang di kepalanya, untuk mengurangi kelebihan cairan di kepalanya. Namun, kondisi anakku tak banyak perubahan yang signifikan sesuai harapan. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan sedikit aktivitas.Namun, aku tetap berupaya membawa anakku setiap minggu dan kontrol obat setiap bulan, dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan. Aku sampai harus tinggal di rumah orang tua agar lebih dekat ke rumah sakit dan bisa mendampingi anakku sepenuhnya.Aku percaya, kesembuhan itu ada, entah melalui tangan medis atau melalui kuasa Allah. Tak pernah putus asa aku menanti anakku suatu hari sembuh dan bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya. Namun, kendala biaya ini seperti menghalangi harapanku.Saat ini, anakku membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Riska  tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Riska!
Dana terkumpul Rp 5.461.000
8 hari lagi Dari Rp 5.316.000
Donasi
camp
Anak

Perjuangan Single Parent Merawat Anaknya yang Menderita Epilepsi

Tengah malam itu aku berlari mengetuk pintu rumah tetangga untuk meminjam kendaraan karena dua anak kembarku tiba-tiba hilang nafas, kejang dan membiru secara bersamaan!Saya berusaha terus bertahan dan tak menjatuhkan air mata melihat kondisi anak saya yang berusia 1 tahun, Jihan Safitri dan Yasmin Safitri. Hati saya tercekat ketika awalnya dokter mencurigai mereka jantung bocor. Namun Tuhan menjawab doa saya, karena setelah pemeriksaan mendalam, jantung anak saya dinyatakan bagus. Namun, dokter mendiagnosa anak saya epilepsi dan anemia. Mereka hanya dianjurkan minum obat kejang dan kontrol rutin ke rumah sakit, namun tubuh mereka sering lemas dan kekurangan gizi dan zat besi. Belum lagi setiap kejang parah, tubuh tak berdaya mereka harus dilarikan ke IGD. Cobaan ini semakin berat saya pikul sendiri, sebagai seorang single parent saya harus menghidupi 5 anak saya dan 2 diantaranya sakit. Setiap bawa anak kontrol saya sering bawah bekal, karena uang hanya pas-pasan untuk ongkos dari Tangerang ke Jakarta. Saya bekerja jualan makanan, tiap jam 2 dini hari saya harus bertarung melawan lelah berjualan kue dan gorengan keliling di pasar sampai jam 7 pagi, berharap sedikit harapan dari tiap langkah yang diambil. Syukurlah, kadang saya juga dapat kerjaan cuci dan gosong pakaian di rumah orang.Sayangnya, perjuangan saya bekerja dari pagi sampai malam tak sederas hasilnya. Sering dagangan sepi, meminjam dana ke kerabat dekat tak jarang saya lakukan karena ongkos ke rumah sakit pas-pasan.. Saat ini anak saya masih membutuhkan biaya untuk transportasi rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Jihan dan Yasmin untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 22.792.505
4 hari lagi Dari Rp 22.098.000
Donasi

Pilihan Campaign