Panggilan Mendesak

camp
Anak

Perjuangan Single Parent Merawat Anaknya yang Menderita Epilepsi

Tengah malam itu aku berlari mengetuk pintu rumah tetangga untuk meminjam kendaraan karena dua anak kembarku tiba-tiba hilang nafas, kejang dan membiru secara bersamaan!Saya berusaha terus bertahan dan tak menjatuhkan air mata melihat kondisi anak saya yang berusia 1 tahun, Jihan Safitri dan Yasmin Safitri. Hati saya tercekat ketika awalnya dokter mencurigai mereka jantung bocor. Namun Tuhan menjawab doa saya, karena setelah pemeriksaan mendalam, jantung anak saya dinyatakan bagus. Namun, dokter mendiagnosa anak saya epilepsi dan anemia. Mereka hanya dianjurkan minum obat kejang dan kontrol rutin ke rumah sakit, namun tubuh mereka sering lemas dan kekurangan gizi dan zat besi. Belum lagi setiap kejang parah, tubuh tak berdaya mereka harus dilarikan ke IGD. Cobaan ini semakin berat saya pikul sendiri, sebagai seorang single parent saya harus menghidupi 5 anak saya dan 2 diantaranya sakit. Setiap bawa anak kontrol saya sering bawah bekal, karena uang hanya pas-pasan untuk ongkos dari Tangerang ke Jakarta. Saya bekerja jualan makanan, tiap jam 2 dini hari saya harus bertarung melawan lelah berjualan kue dan gorengan keliling di pasar sampai jam 7 pagi, berharap sedikit harapan dari tiap langkah yang diambil. Syukurlah, kadang saya juga dapat kerjaan cuci dan gosong pakaian di rumah orang.Sayangnya, perjuangan saya bekerja dari pagi sampai malam tak sederas hasilnya. Sering dagangan sepi, meminjam dana ke kerabat dekat tak jarang saya lakukan karena ongkos ke rumah sakit pas-pasan.. Saat ini anak saya masih membutuhkan biaya untuk transportasi rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Jihan dan Yasmin untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 22.622.505
13 hari lagi Dari Rp 22.098.000
Donasi
camp
Anak

Peradangan Selaput Otak Membuat Zhasqy Tidak Bisa Menangis dan Bicara

“Sejak peradangan selaput otak, anakku jadi sering kejang-kejang hebat hingga kakinya jadi kaku dan bengkok. Dokter mengatakan satu-satunya harapan adalah operasi agar kakinya bisa diselamatkan. Namun bagiku, jangankan biaya operasi, biaya pengobatan rutinnya saja terasa berat.”“Pernah suatu hari, aku benar-benar tak memegang uang sepeser pun, sementara kondisi anakku menurun drastis. Dalam keputusasaan, hanya satu tandan pisang dari kebun samping rumah yang menjadi harapan terakhir. Pisang itu kujual, dan dari hasil itulah aku bisa membawa anakku ke rumah sakit. Aku akan berupaya demi anakku meski harapan hanya setitik.” -Mardia, orang tua Zhasqy-Zhasqy Alluca Ramaprilio (2 thn) kini hanya bisa berbaring tak berdaya. Tidak ada rintihan, tak ada panggilan “Mama” yang keluar dari mulut polosnya, karena Ia tak bisa bicara. Bahkan, suara tangisnya yang seharusnya menjadi tanda kehidupan, justru menjadi harapan bagiku, anakku sama sekali tak pernah menangis. Dokter mendiagnosa anakku mengalami meningitis TB, hidrosefalus dan infeksi paru-paru. Kejang masih sering menyerangnya. Tatapan matanya kosong, karena Ia tak bisa melihat. Demam tinggi dan sesak napas datang silih berganti, hingga aku kembali harus berlari membawanya ke rumah sakit. Semua bermula dari demam tinggi yang menyerang anakku saat usianya 10 bulan. Aku begitu panik dan ketakutan, karena Ia tak kunjung bangun saat aku memanggil namanya berulang kali. Ternyata, dokter mengatakan Ia tak sadarkan diri dan berujung mengalami koma.Hatiku hancur dan hari-hari kulewati dengan gelisah, menanti dokter membawa kabar baik tentang kondisi anakku. Doa tak henti-hentinya kupanjatkan, hingga akhirnya Ia menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Namun, kelegaan itu hanya sekejap, karena sejak saat itulah mimpi buruk anakku benar-benar dimulai.Sudah 2 tahun anakku menghadapi penyakit ini dan Ia sudah menjalani operasi pada kepalanya. Kini, aku harus membawanya dari rumah di Kabupaten Kuantan Singingi ke ke rumah sakit di Pekanbaru, menempuh jarak 5 jam perjalan. Dalam sebulan, Ia harus menghadap dokter sebanyak 5 kali termasuk fisioterapi. Tentunya, biaya transportasinya besar.Demi pengobatan anakku, aku telah menjual sapi peliharaan satu-satunya harta yang kumiliki. Suamiku bekerja membantu tukang bangunan, penghasilannya Rp70 sehari. Terkadang, aku juga membantu mencari tambahan dengan menjadi buruh setrika baju orang. Namun, penghasilan kami sering tak sebanding dengan biaya pengobatan anak. Kini, tak ada lagi yang bisa kujual. Sementara itu, selain biaya perjalanan, anakku masih membutuhkan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, susu, serta kebutuhan medis lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhasqy tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhasqy!
Dana terkumpul Rp 27.839.400
8 hari lagi Dari Rp 27.698.400
Donasi
camp
Anak

Terancam Buta! Bantu Syafira Bisa Melihat

“Walau dunianya gelap karena penyakit yang membuat matanya tak bisa melihat, ada cahaya yang menerangi kami, yaitu senyumannya. Kami menjadi kuat karena senyumannya yang hangat setiap Ia mendengar suara kami.” -Siti Mariam, Orang tua Syafira-Sejak membuka matanya di dunia, Syafira Nur Hidayat (3 thn) harus berjuang. Ia seharusnya masuk inkubator karena lahir secara prematur dengan berat badan 1,5 Kg, tapi terpaksa dibawa pulang lebih cepat karena kendala biaya.Orang tuanya sempat lega karena Syafira tumbuh dengan baik dan normal. Namun, memasuki usia 3 bulan, dunianya redup. Pupil matanya tiba-tiba memutih, dokter menyampaikan hal yang mengiris hati, Syafira kehilangan penglihatannya!Ia didiagnosa ROP stage 5, yaitu saraf matanya sudah putus dan hipotiroid kongenital yang membuat tumbuh kembangnya terlambat. Kenyataan ini memukul keras hati orang tuanya, apalagi saat itu tidak ada biaya untuk tes darah Syafira. Kesembuhan Syafira harus dibayar mahal, orang tuanya sampai menggadaikan motor. Secara rutin, Ia harus diberikan terapi hormon melalui obat seumur hidup dan fisioterapi di poli rehab medik seminggu sekali di RSCM. Di tengah keterbatasan keuangan, sebisa mungkin orang tuanya membawa Syafira berobat ke rumah sakit yang jaraknya jauh. Ayahnya bekerja sebagai pelayan toko mebel dengan gaji Rp50 ribu sehari, lalu mencari tambahan sebagai kenek dan membantu jualan sayur di malam hari. Kini, Syafira masih belum bisa berjalan. Orang tuanya masih menanti hari di mana ia bisa melangkah, meski pelan. Tapi biaya pengobatan, transportasi, susu khusus, dan obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya terus bertambah. Di tengah keterbatasan, mereka terus bertahan.#TemanBaik, mari bantu Syafira untuk melanjutkan pengoabtan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 11.774.000
8 hari lagi Dari Rp 11.724.000
Donasi

Pilihan Campaign