Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Gagal Jantung di Usia 30, Aku Hampir Tak Kembali dari saat melahirkan anakku

“Nyawaku terancam! Kondisiku tak sadarkan diri dan kritis saat akan melahirkan! Semua akibat jantungku tidak stabil dan napasku sesak.”“Akhirnya, dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi caesar pada persalinanku demi menyelamatkanku dan bayiku.”Perkenalkan, aku Jumiyati (31 thn). Hidupku berubah total ketika usiaku memasuki 30 tahun, aku didiagnosa mengalami gagal jantung. Awalnya, aku mengalami bengkak seluruh badan, nyeri dada disertai sesak napas parah yang membuatku nyaris saja pingsan. Saat periksa ke rumah sakit, dokter menemukan bahwa paru-paruku dipenuhi cairan, hingga jantungku tidak bisa bekerja dengan baik. Aku sampai harus dirawat di ICU rumah sakit selama 7 hari. Seketika lututku lemas, rasanya tak percaya di tubuhku ada penyakit mematikan. Sejak itu, aku harus bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Namun, hingga kini aku masih sering mengalami sesak napas dan nyeri dada. Segala aktivitasku terbatas, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat pun sudah tidak sanggup lagi.Hidupku bergantung pada alat bantu napas tabung portabel. Jadi, setiap bulan keluargaku harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan biaya untuk membeli oksigen. Belum lagi, biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat uang tidak dicover BPJS, terapi jantung, dan kebutuhan lainnya. Orang tuaku bekerja sebagai petani, sedangkan suamiku bekerja hanya sebagai kuli bangunan. Penghasilan keluargaku tak menentu, itupun untuk sehari-hari terbatas. Semakin terpukul lagi aku, karena aku memiliki anak-anak yang masih kecil dan membutuhkanku. Di tengah semua keterbatasan ini, aku harus terus berjuang untuk sembuh demi anak-anakku. Begitupula suamiku, yang bekerja lebih keras, bahkan mencari pekerjaan tambahan, hanya agar aku bisa terus melanjutkan pengobatan dan tetap bertahan.Namun, kenyataannya biaya sering menjadi kendala terbesar. Jika aku tidak melanjutkan pengobatan, kondisiku bisa memburuk dan mengancam nyawaku.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jumiyati tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jumiyati!
Dana terkumpul Rp 1.285.000
11 hari lagi Dari Rp 1.300.000
Donasi
camp
Anak

Selain Sakit Jantung, Arjuna Juga Mengalami Lumpuh Akibat Ada Nanah di Otaknya!

“‘Tidak apa-apa Nak, jika kamu sudah terlalu lelah berjuang dan tak ingin lagi berada di pangkuan Ibu. Ibu ikhlas,’ bisikku lirih di telinganya. Dua puluh hari ia terbaring koma, dan aku tak lagi sanggup menahan perih karena anakku menderita.”“Ada gumpalan nanah di dalam jaringan otak anakku! Tiga bulan penuh ia harus dirawat inap di rumah sakit. Seluruh tabunganku habis untuk pengobatannya, hingga aku dan anakku harus terusir dari kontrakan. Di saat nyawa anakku dipertaruhkan, hidupku seakan di ujung jurang.” -Vani Susanti, Orang tua Arjuna-Selain otaknya terinfeksi virus, anakku Arjuna Sutarno Putra (7 thn) juga mengalami kelainan jantung bawaan. Penghasilan suamiku yang hanya berasal dari berdagang pisang sering kali tak cukup untuk menutup biaya pengobatan Arjuna. Setiap hari kami berjuang dengan keterbatasan.Saat ini, kondisi anakku berbeda dari anak-anak seusianya. Ia belum mampu berjalan karena ada stroke di bagian kanan tubuhnya, dan berat badannya sulit naik. Sesak napas kerap datang tanpa aba-aba, membuatku harus memberikan uap hingga tiga kali sehari agar anakku bisa bernapas sedikit lebih lega.Mimpi buruk anakku bermula ketika Ia berusia 1 tahun. Aku melihat kukunya membiru. Awalnya aku mengira Ia hanya kedinginan. Namun aku curiga, kian hari kukunya semakin menggelap. Saat aku bawa ke dokter, barulah ketahuan Ia punya penyakit jantung.Selama 6 tahun sakit, anakku belum pernah menjalani operasi. Ia lebih sering keluar-masuk rumah sakit akibat abses di otaknya. Untuk penyakit jantungnya, ia hanya bergantung pada antibiotik. Jika sakitnya kambuh, Ia akan memegang kepalanya untuk menunjukkan Ia kesakitan. Meski hidupnya dipenuhi penderitaan, tapi anakku semangat untuk sembuh. Ia anak yang aktif dan pantang menyerah. Dengan napas terengah-engah, Ia tetap berusaha belajar berjalan meski tubuhnya tak mampu mengimbangi keinginannya. Ia belum bisa bicara, jadi aku tak tahu apa yang Ia rasakan selama ini. Anakku akan menjalani operasi kateterisasi jantung karena karena kondisi abses otaknya mulai membaik. Namun, biaya pengobatannya sangat berat. Aku sudah menggadaikan motor demi menyewa ambulans agar anakku bisa dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Rumah pun telah tergadai, barang berharga dijual, dan utang kepada teman-teman menjadi jalan terakhir agar Arjuna tetap bisa berobat selama ini. Saat ini anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, nebulizer dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arjuna tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arjuna!
Dana terkumpul Rp 11.304.998
11 hari lagi Dari Rp 11.380.000
Donasi
camp
Anak

Aku Sampai Jadi Pengamen Demi Anakku Operasi Jantung di Jakarta

“Tak ada pilihan lagi, aku terpaksa mengamen di Pasar Tanah Abang demi sebuah harapan! Bermodal uang Rp720 ribu, aku nekat membawa anakku berobat ke Jakarta. Namun, 3 minggu berlalu tanpa kepastian, sementara uang yang kupunya semakin menipis, dan rasa takut kian mencekik diriku.”“Seolah ujian tanpa akhir, tiba-tiba dokter membawa kabar pahit. Anakku tidak bisa tindakan dioperasi karena tubuhnya terlalu lemah! Detak jantungnya hanya 14% dan napasnya tinggal 20%. Harapanku hancur, aku hanya mampu menggendong anakku sambil menangis, membawanya pulang dalam kondisi sakit parah.” -Irma Juliani, Orang tua Gamal-Sudah 16 tahun lamanya anakku, Gamal Azka Mudza (16 thn), berjuang melawan jantung bocor. Sejak kecil sampai sekarang, anakku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau duduk diam di kursi. Ia hidup, tapi tidak pernah sekalipun melihat dan mencicipi dunia di luar rumah.Tubuhnya sangat mudah lelah, bahkan tak jarang Ia tiba-tiba jatuh pingsan. Hampir semua hari-hari dilaluinya dengan berdamai dengan rasa sakit dan napas tersengal. Dalam sebulan, mungkin hanya dua atau tiga hari saja ia tampak sedikit lebih baik. Saat kondisinya memburuk, aku hanya bisa memberinya bantuan oksigen dan memijat punggungnya, mendengar rintihannya sambil menahan air mata. Namun di tengah penyakit mematikan yang mengurung hidupnya, anakku justru memiliki hati paling kuat. Saat aku dan suamiku tertekan secara emosi melihat kondisinya, anakku yang menenangkan kami. Suaranya yang lirih sering berkata tegar, “Sabar Pih, Gamal sudah biasa begini.” Kalimat itu menghantam hatiku sangat keras. Bayangkan saja, usianya baru 2 tahun saat vonis jantung bocor itu datang. Tapi keterbatasan biaya membuatku tak mampu membawanya menjalani operasi. Akhirnya, anakku terpaksa bertahan dengan pengobatan alternatif saja. Sayangnya, kondisinya tak kunjung membaik dan justru semakin parah.Setelah anakku memiliki BPJS, barulah aku memberanikan diri untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi kondisinya semakin mengkhawatirkan, aku sampai menjual motor dan harta berharga lainnya untuk membawa anakku dari Bandung ke Jakarta.Aku hanyalah pegawai pabrik, penghasilannya seadanya untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berharap anakku bisa operasi dan sembuh, tapi biaya yang dikeluarkan sangat besar. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gamal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gamal!
Dana terkumpul Rp 5.002.500
8 hari lagi Dari Rp 4.950.000
Donasi

Pilihan Campaign