Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Demi Sembuh dari Tumor Payudara Stadium 3, Aku Terpaksa Menitipkan Anakku Ke Pondok Yatim

“Akibat keterbatasan ekonomi, dua anakku yang masih bailta harus ikut merasakan pahitnya keadaan ini. Aku terpaksa menitipkan mereka di pondok yatim dan dhuafa agar mereka bisa dirawat tanpa biaya. Mereka seharusnya mendapatkan pelukan dan kasih sayangku, tapi malah harus terpisah dari orang tuanya.”“Aku didiagnosis menderita kanker payudara stadium 3B! Penyakit ini berkembang begitu ganas hingga kini aku terancam kehilangan payudaraku. Setiap hari aku hanya bisa berharap pada sebuah keajaiban, berharap penyakit ini hilang begitu saja. Aku sudah tidak tahu lagi harus mencari biaya dari mana untuk bisa bertahan dan terus berjuang”Perkenalkan, namaku Kamsah (35 thn), saat ini aku sedang berjuang sembuh demi bisa kembali berkumpul bersama anak-anakku yang sangat ku rindukan. Meski pengobatan kemoterapi membuat seluruh tubuhku sakit dan seluruh rambutku rontok, tapi aku ikhlas menjalaninya. Penyakit ini bermula saat aku berusia 33 tahun. Awalnya aku mengalami batuk dan sesak napas. Aku kira hanya sakit biasa, tapi tiba-tiba ada benjolan di payudara kiriku yang membuatku merasa khawatir. Saat aku periksa ke dokter, kenyataan seakan menghantamku. Ternyata ada tumor ganas bersarang di payudaraku dan kista di ovariumku!Sejak itu, perjuanganku dimulai. Seketika aku ketakutan, sedih, dan duniaku terasa gelap. Tumor ini menyebar dengan cepat, sehingga aku langsung menjalani operasi biopsi payudara. Selain itu, aku juga operasi pengangkatan ovarium kanan dan kiri.Kini, sudah hampir dua tahun aku berjuang melawan penyakit ini. Tubuhku sudah tak lagi sekuat dulu, aku jadi mudah sekali kelelahan. Aku sudah tidak bisa lagi mencuci, mengepel, mengangkat barang karena tubuhku yang rentan.Dokter akhirnya memutuskan aku harus operasi pengangkatan payudara demi menyelamatkan nyawaku. Namun, perjuanganku tak hanya melawan penyakit, tapi juga harus bertahan dalam keterbatasan ekonomi.Aku sudah menjual kendaraan, barang elektronik hingga perabotan rumah untuk pengobatanku selama ini. Bahkan, aku terpaksa menyewakan tempat tinggalku hingga aku terpaksa tinggal di rumah bedeng. Suamiku juga terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena harus fokus mendampingiku berobat.Pernah suatu waktu, kami sampai kehabisan ongkos untuk pulang dari rumah sakit hingga harus bermalam di masjid rumah sakit. Meski perjalanan ini sangat berat, di dalam hatiku masih tersimpan  harapan suatu hari nanti aku bisa sembuh atau setidaknya mencapai remisi dari kanker ini. Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kamsah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kamsah!
Dana terkumpul Rp 3.852.001
11 hari lagi Dari Rp 12.750.000
Donasi
camp
Anak

Perut Musyaffa Terus Membesar Akibat Digerogoti Tumor!

“Senyum indah itu masih setia menghiasi wajah anakku, Ia seolah berusaha menyembunyikan rasa sakit luar biasa yang bersarang di perutnya. Tubuh kecilnya begitu kuat di tengah perutnya yang kian membesar akibat tumor.  Sementara muntah yang tak kunjung berhenti menguras seluruh tenaganya hingga tubuhnya lemah.”“Aku sendiri berjuang mati-matian, siang dan malam tak kenal waktu sebagai kuli angkut pabrik konveksi. Tapi perjuanganku masih jauh dari kata cukup untuk mengumpulkan biaya untuk pengobatan penyakit yang mengintai nyawa anakku. Namun, harapan sekecil apapun itu akan aku upayakan.” -Saiful Bahri, Orang tua Musyaffa-Dimulai saat usianya 1 bulan, Musyaffa Aryan Al Hafiz (13 bln) tiba-tiba sering muntah setiap kali minum susu hingga perutnya perlahan membesar. Aku mencoba menenangkan diri, mungkin hanya kembung biasa. Tapi aku tetap membawa anakku ke rumah sakit karena rasa cemas dalam diriku yang tak mau pergi.Ternyata dokter menduga hal yang sama tentang kondisi anakku, sehingga tidak ada penanganan serius saat itu. Namun, seiring waktu, kekhawatiranku berubah menjadi ketukan ketik melihat perut anakku terus membesar dengan ukuran tak wajar. Akhirnya, aku membawa anakku ke rumah sakit yang lebih besar. Hasil pemeriksaan sungguh mengerikan, ada tumor di perut anakku. Ya Tuhan! Ternyata beberapa waktu lalu ada benda asing di dalam tubuh anakku dan aku tak tahu. Seketika aku menangis merasa bersalah, membayangkan selama ini Ia merasakan sakit yang tak mampu Ia ungkapkan. Organ hati anakku mengalami pembengkakan dan ususnya mengalami penebalan. Dokter memutuskan anakku harus menjalani operasi pengangkatan tumor, sekaligus operasi empedunya yang sobek. Tak bisa ku bayangkan betapa kesakitannya tubuh kecil anakku yang harus merasakan meja operasi berkali-kali.Meski sudah menjalani tindakan, tapi anakku masih sering demam, tubuhnya terus terasa nyeri. Ia juga sering dehidrasi dan pertumbuhannya terhambat. Kini, ia masih harus menjalani operasi lanjutan untuk menutup organ empedunya yang bocor. Jalan panjang itu masih terbentang di depan anakku, sementara kendala biaya terus menghantuiku. Istriku sendiri berusaha mencari pinjaman sana-sini untuk menambah pengobatan anakku yang membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Musyaffa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Musyaffa!
Dana terkumpul Rp 25.770.000
11 hari lagi Dari Rp 25.437.000
Donasi
camp
Anak

Tidak Bisa Berlari, Anak Tukang Bawang Keliling Berjuang dari Sakit Jantung

“‘Bapak…kenapa Gendhis enggak bisa lari kencang seperti teman-teman?’ Tanyanya dengan napas tersengal setelah berjalan sedikit beberapa langkah saja. Pertanyaan polos itu terasa seperti menancap langsung di hatiku. Saat itu aku sadar, anak kecilku mulai mengerti bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain seusianya.”“Setiap hari,aku sering memergoki istriku diam-diam menyeka air matanya sambil menatap Gendhis. Namun dibalik semua rasa sakit itu, anakku selalu semangat untuk menjemput jantung sehatnya.  Ia senang bertemu dokter, meski tahu jarum suntik akan kembali menusuk tubuhnya. Melihat keberaniannya, aku optimis mendukung kesembuhannya meski harus berhadapan dengan keterbatasan keuangan.” -Hartono, Orang tua Meyka-Meyka Gendhis Ramadhani (5 thn) kini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bukan untuk berlari atau bermain, tapi untuk dengan melawan penyakit jantung.  Padahal dulu, ia lahir dan tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Nun ketika usianya menginjak 4 tahun, kehidupan anakku berubah menyakitkan.Tiba-tiba Ia mengalami demam yang tak kunjung sembuh. Perasaan khawatir merasukiku ketika seorang bidan mengatakan detak jantung anakku tidak berirama. Aku benar-bener tak mengerti apa maksudnya? Tapi sebagai orang tua aku tau ada yang tidak beres pada anakku.Anakku dirujuk ke di rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan. Di sanalah duniaku runtuh, anakku didiagnosa kelainan jantung! Lalu, dengan hati yang penuh harap, aku membawanya berpindah rumah sakit dari Blora ke Semarang demi mencari pengobatan terbaik.Setelah menjalani kateterisasi jantung pertamanya, anakku dirujuk ke rumah sakit Jakarta. Harapan itu ada, tapi bersamaan dengan kenyataan pahit tentang kesulitan biaya yang harus aku hadapi. aku hanyalah pedagang bawang merah keliling, penghasilanku tak menentu. Akhirnya, demi kesembuhan anakku, aku menjual motor satu-satunya, menjual perhiasan bahkan meminjam dana ke bank. Selama di Jakarta, kami menumpang di rumah singgah agar bisa menghemat biaya hidup di perantauan.Kini kondisi Gendhis masih membuat hatiku sering terluka. Ia cepat sekali lelah, sering sesak napas, bahkan tubuh kecilnya terkadang membiru. Ada hari-hari di mana aku memilih menahan lapar agar sedikit uang yang tersisa bisa dipakai untuk kebutuhan anakku. Bahkan untuk membeli vitamin yang ia butuhkan pun kadang aku tak mampu.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Meyka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Meyka!
Dana terkumpul Rp 3.654.002
11 hari lagi Dari Rp 29.378.861
Donasi

Pilihan Campaign