Panggilan Mendesak

camp
Anak

Aku Hanya Pedagang Sayur yang Berjuang Demi Anak Sakit Jantung

“Meski penghasilanku hanya Rp50 ribu per-hari, tapi dari hasil jualan sayurku lah yang menjadi satu-satunya harapan keluargaku bisa makan. Tapi semua berubah saat anakku jatuh sakit, semua aku tinggalkan demi membawa anakku ke Jakarta.”“Itu pun kami sempat terancam tak bisa pulang ke kampung halaman di Lampung, karena kehabisan ongkos. Dering telepon berubah menjadi suara penuh harap sekaligus ketakutan. Kami hanya bisa berdoa, semoga ada saudara yang menjawab dan sudi meminjamkan sedikit uang.” -Heri Iswanto, Orang tua Danish-Alhamdulillah! Tak henti aku bersyukur saat ada keluarga yang bersedia meminjamkan uang, hingga akhirnya kami bisa pulang ke kampung. Pikiran dan hatiku seperti bercabang saat itu, karena selama membawa berobat Danish Ramadhan (1 thn), ada dua anakku yang lain terpaksa kutinggalkan di rumah.Namun, perasaan lega seperti hanya sepintas di hidupku. Setibanya di rumah, aku kembali harus berkeliling menjajakan sayur. Tak ada lagi istri yang membantuku berdagang, Ia harus sepenuhnya merawat Danish yang sakit jantung. Danish memang anakku yang paling spesial, Ia lahir prematur di sebuah klinik kecil di desaku. Hening sekali ketika Ia hadir di dunia, tidak ada tangisan. Dokter langsung meminta agar anakku dibawa ke rumah sakit,  itulah pertama kali kecemasan kami dimulai.Penyakit jantung ini membuat tubuh anakku membiru, Ia sering batuk dan flu. Tapi yang membuatku sangat terpukul adalah menyaksikannya sesak napas. Ia tampak sangat menderita, tapi aku hanya bisa diam sambil menggendongnya. Perkembangannya juga terhambat, tak seperti anak pada umumnya. Danish sudah menjalani operasi jantung pertamanya, tapi itu tak serta merta membuatnya seketika sembuh. Masih ada beberapa kali pertarungan antara hidup dan mati di meja operasi. Namun, tantangan keuangan membuat situasi semakin berat.Aku pernah menjual satu-satunya sapi kami demi membawanya ke Jakarta untuk berobat. Tapi sekarang, aku benar-benar buntu. Bagaimana bisa membawanya kembali ke Jakarta untuk operasi lanjutan? Biaya hidup di sana sangat tinggi. Selain ongkos, kami juga harus menyiapkan susu, pampers, dan kebutuhan harian lainnya untuk membawanya berobat.#TemanBaik, mari bantu Danish untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 14.741.000
5 hari lagi Dari Rp 14.500.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Bantu Warga Dusun Pelah, NTB, Dapatkan Akses Air Bersih Setelah 50 Tahun Hidup dalam Kekeringan

Bayangkan berjalan kaki sejauh 6 kilometer setiap hari hanya untuk mendapatkan beberapa jerigen air. Bayangkan harus memilih antara mandi atau memasak karena air yang ada tak cukup untuk keduanya. Inilah kenyataan pahit yang dihadapi oleh 75 keluarga di Dusun Pelah, Kecamatan Mareje Timur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.Selama lebih dari 50 tahun, warga di Dusun Pelah hidup dalam kekeringan. Tak ada sumur, tak ada aliran air bersih, dan tak ada sumber air yang mudah dijangkau. Satu-satunya sumber air terdekat berada sejauh 5–6 km, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama hampir satu jam. Kadang, mereka hanya bisa berharap ada truk tangki datang membawa sumbangan air bersih.Mayoritas warga di sini adalah petani. Tapi bagaimana mungkin bercocok tanam jika air pun tidak ada? Kekeringan ini bukan hanya membuat tanah mereka tandus, tapi juga membuat kehidupan sehari-hari terasa begitu berat. Mandi, mencuci, bahkan hanya sekadar memasak, semuanya harus dipikirkan matang-matang karena air sangat terbatas.Lebih dari setengah abad mereka bertahan dalam kekurangan. Saat musim hujan tiba pun, air tetap sulit didapatkan karena tak ada tempat penyimpanan atau aliran air yang layak. Mereka pernah mencoba menggali sumur sendiri, tapi gagal karena alat dan kemampuan yang terbatas.Kini, mereka butuh bantuan kita. Satu sumur bor bisa menjadi jawaban atas puluhan tahun penderitaan ini. Satu sumur bor bisa membawa harapan baru bagi anak-anak, orang tua, dan seluruh warga Dusun Pelah.Mari bantu wujudkan sumur bor untuk Dusun Pelah.Dengan berdonasi hari ini, kamu ikut mengalirkan kehidupan. Kamu hadir sebagai harapan.Klik tombol donasi sekarang. Karena air adalah hak semua manusia. Karena mereka tidak seharusnya berjalan jauh hanya untuk seteguk kehidupan.
Dana terkumpul Rp 44.248.022
6 hari lagi Dari Rp 212.070.000
Donasi
camp
Anak

Tolong Umar Pulih! Kejang & Koma Mengancam Hidupnya

Di awal November 2024, Umar Hanan Wibowo (5 tahun) mengalami kejang pertama kali hingga mulutnya mengeluarkan busa. Saat dilarikan ke IGD, kejangnya terus berulang, hingga akhirnya Umar koma selama satu minggu dan harus dirawat di ruang PICU.Umar yang tak sadarkan diri dirujuk ke RSUD di Jakarta Pusat. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan menemukan adanya gangguan serius pada otaknya.Umar menjalani perawatan intensif selama 16 hari, sempat pulang selama dua hari, namun kondisinya kembali memburuk. Dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat, Umar dilarikan kembali ke IGD dalam keadaan tidak sadarkan diri.Hingga kini, Umar masih harus menjalani pengobatan untuk infeksi otak yang dideritanya. Pengobatan ini tidak boleh terhenti, jika tidak, kondisinya dapat semakin memburuk. Bahkan, bisa mengancam nyawa Umar. Namun, biaya pengobatan yang tidak ditanggung jaminan kesehatan menjadi beban berat bagi keluarganya.Ayah Umar, Ari Wibowo, bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan 675 ribu rupiah per minggu, yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Keluarga Umar telah berusaha semaksimal mungkin untuk pengobatannya. #TemanBaik untuk bersama-sama membantu Umar melanjutkan pengobatannya. Caranya klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 10.974.000
1 hari lagi Dari Rp 10.539.000
Donasi

Pilihan Campaign