Panggilan Mendesak

camp
Anak

Perut Membesar dan Kaki Menyusut, Nizam Tak Bisa Berjalan Akibat Berbagai Penyakit

“‘Aku kuat dan semangat sembuh, Ma,’ ucap anakku dengan senyum kecil yang berusaha tegar. Kalimat itu menghangatkan hatiku sekaligus membuat pilu. Di usia yang seharusnya diisi tawa dan permainan, Ia justru harus belajar tentang sakit dan rasa lelah karena berjuang mempertahankan hidup.”“Di sela Ia meyakinkanku bahwa Ia baik-baik saja, anakku masih terus menunjukkan tanda sebaliknya. Ia mengalami batuk hebat, jantungnya sering berdegup terlalu kencang, perutnya membesar sementara kakinya semakin mengecil hingga Ia tak lagi mampu berjalan. Tak ada luka yang lebih dalam daripada melihat anak sendiri menahan sakit.” -Supriandi, Orang tua Nizam-TBC, gizi buruk, dan gangguan organ hati silih berganti terus menghantam tubuh anakku, Nizam Alhanan (2 thn), yang rapuh. Baru saja merasakan udara dunia,  anakku sudah menerima cobaan berat. Ia lahir dengan terlilit tali pusar. Meski saat itu kondisinya dinyatakan baik-baik saja, sebagai orang tua aku tetap menyimpan rasa cemas.Waktu berlalu, dan Nizam tumbuh serta berkembang seperti anak-anak lainnya. Namun, ketenangan itu perlahan runtuh ketika usianya menginjak 1 tahun 6 bulan. Demam tinggi dan diare berulang terus menyerangnya tanpa henti. Hasil pemeriksaan menyatakan Nizam mengidap penyakit paru-paru (TBC) dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Dengan harapan besar, aku patuh menjalani setiap anjuran dokter.Namun harapan itu kembali runtuh. Pengobatan yang dijalani tak menunjukkan perubahan, justru kondisi anakku semakin melemah hingga dua kali harus keluar masuk rumah sakit. Akhirnya, Nizam dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan di sanalah semua penyakitnya terungkap.Kini, setiap tangisan Nizam terasa seperti luka yang menggores hatiku. Tangisannya seolah menjadi bahasa pengaduan atas rasa sakit yang harus Ia tanggung sendiri. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa memeluknya, memberikan obat dan air putih hangat, sambil berdoa semoga rasa sakit itu sedikit mereda.Anakku masih harus terus menjalani pengobatan. Namun, biaya yang dibutuhkan jauh di luar kemampuanku. Suamiku hanyalah seorang pegawai honorer, dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Sementara pengobatan Nizam memerlukan biaya besar, bahkan sekadar biaya transportasi dari Desa Tanah Merah, Sumatera Utara, menuju Kota Medan pun menjadi beban berat bagi kami. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, vitamin, dan kebutuhan penunjang lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nizam tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nizam!
Dana terkumpul Rp 26.476.500
6 hari lagi Dari Rp 25.950.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Dukung Flying Doctor untuk Menjangkau Kesehatan Masyarakat di Pedalaman

Sebagian wilayah pedalaman Indonesia masih mengalami tantangan besar terhadap akses layanan kesehatan. Banyak masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil sulit untuk mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai. Flying Doctor atau Dokter Terbang merupakan suatu inisiatif yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat kepada masyarakat di daerah terpencil yang susah terjangkau. Beberapa tempat yang menjadi daerah prioritas program Dokter Terbang yaitu: 1. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Oktober 2024 2. Luwu Utara, Sulawesi Selatan, November 2024 3. Rote Ndao, NTT, November 2024 4. Kepulauan Aru, Maluku, Desember 2024Dari keempat wilayah tersebut dengan berbagai isu kesehatan di wilayah pedalaman Indoensia, doctorSHARE berdedikasi untuk memberikan akses kesehatan yang efisien danlengkap kepada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terisolasi di Indonesia melalui program Flying Doctor.Tim Dokter Terbang kami terlibat langsung dalam memberikan bantuan medis darurat, melakukan kampanye kesehatan, dan menyediakan pelayanan kesehatan bagi 500 pasien untuk satu lokasi yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional.Dukungan dan perhatian sahabat dapat membantu program kami untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis : Peralatan medis modern dan dapat diandalkan untuk memberikan diagnosis dan perawatan yang tepat kepada pasien. Serta memastikan bahwa kami memiliki persediaan obat-obatan yang cukup. 2. Pendidikan dan Pelatihan : Pelayanan medis 500 pasien, 10 opersi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional termasuk transportasi udara, logistik medis, dan administrasi lapangan. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memastikan kelancaran operasi di lapangan, sehingga kami dapat merespons dengan cepat dan efisien dalam setiap situasi darurat#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini
Dana terkumpul Rp 10.560.003
2 hari lagi Dari Rp 1.522.950.000
Donasi
camp
Anak

Seorang Ibu Berjuang Sendirian Demi Anak yang Didiagnosis Beragam Penyakit

“Sejak lahir, anakku tak pernah lepas dari deretan penyakit yang mengintai tubuhnya. Batu empedu, peradangan hebat pada dinding lambung, gangguan tenggorokan, TB klinis, radang di rongga hidung dan sinus, asma, hingga gangguan saraf, semua harus ditanggung di usia yang seharusnya dipenuhi bermain dan tertawa.”“Di tengah perjuangan melawan penyakit yang tak kunjung usai, anakku juga harus kehilangan sosok ayah akibat perceraian. Kini aku berdiri sendirian, memikul semua beban pengobatan dan kehidupan. Aku bekerja sebagai buruh gudang di pelabuhan, menempel pita cukai rokok. Langkahku terseok, tapi aku tak boleh menyerah demi anakku.” -Tanty Oktabalia, orang tua Andaru-Andaru Yasa Alsaki (5 thn) sudah langsung mendapat perawatan karena demam dan tubuhnya menguning begitu Ia lahir. Hari Ibu mana yang tak hancur menyaksikan bayinya terbaring lemah sejak hari pertama?Cobaan itu belum berhenti, saat usianya baru 3 bulan, anakku mengalami BAB berdarah.  Ia sempat membaik setelah minum obat, membuatku sempat lega. Namun kelegaan itu kembali runtuh ketika di usia 1 tahun, Ia terserang infeksi berat hingga leukositnya melonjak drastis.Sejak saat itu, infeksi terus datang berulang, seolah tubuh kecilnya tak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Tak lama kemudian, anakku di diagnosa fimosis (kulit ujung penisnya menutup). Di usia yang masih 18 bulan, anakku harus menjalani operasi sunat. Tubuhku gemetar sambil menangis, berusaha kuat melihat anakku yang menderita. Tak lama setelah operasi itu, kondisi Andaru justru memburuk. Ia tak bisa BAB, perutnya mengeras, tubuhnya kembali menguning, dan muntah hebat datang tanpa henti.Dalam kepanikan dan ketakutan, anakku dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Di sanalah Ia didiagnosa mengalami batu empedu, dunia rasanya runtuh!  Selama 9 bulan Andaru harus menjalani terapi obat untuk menghancurkan batu empedunya. Setiap hari penuh doa dan kecemasan, tapi syukurlah Tuhan masih memberikan keajaiban. Anakku  dinyatakan sembuh dan tak perlu menjalani operasi. Aku menangis lega, mengira badai telah berlalu. Namun ternyata, penderitaan anakku belum selesai.Setelah itu, Andaru kembali mengalami diare hebat dan didiagnosis radang usus. Obat demi obat tak menunjukkan perubahan. Pemeriksaan lanjutan kembali dilakukan, dan diagnosa pun berubah menjadi peradangan dinding lambung. Rasanya hatiku bagai ditampar kenyataan berkali-kali, kabar buruk tak pernah berhenti mengiringi.Kini, hampir setiap bulan Andaru harus keluar-masuk rumah sakit karena kondisinya bisa tiba-tiba menurun drastis.  Napasnya sering sesak, bergantung pada alat bantu oksigen dan obat-obatan. Aku harus tetap kuat demi anakku, karena setiap napasnya adalah tanggung jawabku.Aku selalu diliputi ketakutan setiap kali Andaru berkata dengan suara lemah,“Ma, aku sesak napas, aku mual mau muntah.” Kalimat sederhana itu bisa berarti kami harus kembali berlari ke rumah sakit. Sementara uang di tanganku tak selalu ada. Bahkan untuk berobat pun, aku kerap harus meminjam uang dari teman.Saat ini, Andaru masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat bantu pernapasan, dan kebutuhan medis lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Andaru tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Andaru!
Dana terkumpul Rp 13.043.000
14 hari lagi Dari Rp 13.012.000
Donasi

Pilihan Campaign