Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Operasi Tertunda Akibat Kejang Tak Berhenti, Asshafa Berjuang dari Jantung Bocor
“Ya Allah, kalau Engkau berkenan, pindahkan saja seluruh rasa sakit anakku itu kepadaku. Biarlah aku yang menanggung, aku tidak tega melihatnya menderita. Jika Engkau masih mengizinkan umurnya panjang, sembuhkanlah ia sepenuhnya. Tapi jika Ia sakit terus, aku akan belajar ikhlas untuk Ia kembali ke sisi-Mu ya Allah.’ Doa itu kupanjatkan dengan tangis yang gemetar.”“Setiap hari aku melatih kesabaran dan menerima dengan lapang dada kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya. Ketika sedang merasa lelah, aku sadar anakku pasti jauh lebih lelah karena kesakitan. Ada kekuatan dalam diriku yang sering muncul ketika melihat perjuangan anakku. Aku tak boleh menyerah untuk harapan hidupnya yang lebih baik.” -Nur Fitriyani, orang tua Asshafa-Duniaku runtuh saat tahu tangisan anakku ada jeritan kesakitan yang tak terucap. Aku beri nama anakku, Asshafa Putri Agnuvina. Ia lahir begitu cantik, mungil dan sehat. Tidak ada firasat buruk apapun, aku memeluknya dengan penuh syukur dan membayangkan hari indah bersamanya.Namun, saat usianya 40 hari, tangisannya berubah menjadi sangat kencang dan berlangsung selama berjam-jam. Aku sangat kebingungan dan panik, apalagi saat itu bibirnya membiru, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdetak sangat kencang dan setiap menyusu sering tersedak hingga henti napas sesaat.Aku tetap terus berusaha menenangkan diri, mungkin itu fase biasa yang dialami bayi. Seiring waktu, kondisinya tak kunjung membaik dan akhirnya aku memutuskan membawanya ke dokter. Saat itulah, duniaku mendadak gelap, dokter mengatakan anakku sakit jantung bocor.Ketakutanku diperparah karena ada dua lubang besar di jantungnya dan Ia harus dioperasi. Aku dan suami menangis sejadi-jadinya, tubuhku sampai lemas dan tak sanggup berdiri. Tak pernah ku sangka, tangisan panjangnya selaka ini berasal dari penyakit mematikan.Aku dan suami juga sempat bingung saat itu, karena kondisi ekonomi keluarga juga serba kekurangan. Namun, aku nekat berangkat dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta meski tidak punya bekal uang sama sekali. Namun, belum selesai anakku menjalani pengobatan, tiba-tiba Ia mengalami kejang saat usia 9 bulan. Tubuhnya kaku, matanya berbalik ke atas, wajahnya pucat seperti orang kehabisan napas. Hatiku perih, tak sanggup menyaksikan kondisi anakku.Dokter mengatakan anakku mengalami epilepsi (gangguan sistem saraf otak). Sejak itu, hidupku berada di antara ruang tunggu dan ruang rawat inap. Saat ini, kondisi anakku seperti bayi yang baru lahir, Ia belum bisa duduk, berdiri dan bahkan belum bisa merespon. Ia juga masih sering kejang.Anakku sudah sempat akan menjalani operasi, tapi saat hari yang seharusnya menjadi harapan kesembuhan itu, Ia justru mengalami kejang hebat. Akhirnya operasi pada anakku terpaksa ditunda dan Ia harus kembali menunggu jadwal tindakan berikutnya.Pengobatan anakku masih panjang. Aku sudah menjual handphone, mesin jahit dan barang berharga lainnya untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku bekerja dari pagi sampai pagi sebagai penjahit, tapi penghasilannya sering tak menentu. Aku juga berupaya menjual jasa dengan mencuci pakaian tetangga.Aku juga berutang karena karena ingin terus membawa anakku berobat. Bahkan pernah diminta pergi dari rumah orang tua karena pinjaman yang belum mampu ku bayar membuat penagih datang ke sana. Sementara anakku saat ini masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Asshafa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Asshafa!
Dana terkumpul
Rp 10.900.000
7 hari lagi
Dari Rp 10.900.000
Donasi
Anak
Ada 3 Lubang di Jantungnya! Anak Tukang Ojol Harus Operasi Bedah di Jakarta
“Dokter bilang terdapat 3 lubang di jantung anakku! Air mataku tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan di atas motor, sambil menggendong anakku untuk pindah rumah sakit. Sementara suamiku mengendarai motor dengan pandangan kosong, sama linglung dan hancurnya.”“Kepalaku penuh ketakutan, bagaimana jika tubuh kecil anakku tak sanggup bertahan? Aku tak pernah siap kehilangannya. Di tengah kecemasan itu, aku juga dihantam biaya pengobatannya yang besar. Suamiku berbulan-bulan tak dapat upah di tempat kerja sebelumnya, karena mengantar anak berobat. Ia terpaksa banting setir menjadi pengemudi ojek online, yang penghasilannya pun tak menentu.” -Reni Misnawati, Orang tua Reynand-Akibat penyakit, kini tubuh anakku, Reynand Margogo Sinurat (3 thn), semakin hari semakin kurus, hingga tulang rusuknya kelihatan sangat jelas dari balik kulitnya. Ia tidak bisa tidur dengan tenang, karena sesak napasnya akan semakin menyiksa setiap malam hari hingga membuat bagian dadanya cekung.Setiap menangis, wajah anakku akan pucat dan membiru. Tak jarang Ia sampai muntah hebat. Jika kambuh, Ia bisa batuk-batuk sampai tubuhnya lemas dan dilarikan ke IGD rumah sakit. Tak seperti anak-anak seusianya, Ia hanya bisa minum susu untuk makan, itupun susu khusus yang harganya sangat mahal.Aku dan suami sering kewalahan, karena dalam sebulan anakku bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk susunya. Bahkan pernah, untuk sekadar makan sehari-hari, aku harus membongkar celengan kaleng dan membeli beras kiloan dari uang logam yang tersisa.Sejak lahir, Reynand selalu menangis jika tak digendong. Aku tak bisa meninggalkannya, tak bisa keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Meski begitu, aku terus berusaha. Dari rumah, aku mencoba berjualan produk orang lain secara online, berharap ada sedikit tambahan untuk bertahan.Semua emas dan barang berharga yang kami miliki sudah kujual demi pengobatan anakku. Saat benar-benar buntu, aku hanya bisa menelepon orang tua dan rekan-rekan, memohon pinjaman. Aku keliling kota Pekanbaru, mencari bantuan ke sana kemari, demi satu harapan, dan anakku bisa terus hidup.Kini Reynand dirujuk untuk menjalani operasi bedah jantung di Jakarta. Aku semakin tak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Biaya transportasi dari Pekanbaru ke Jakarta saja sudah sangat besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta biaya hidup selama kami harus berjuang di tanah perantauan.Sebagai orang tua, aku hanya ingin satu hal, melihat anakku bernapas tanpa rasa sakit, dan hidup seperti anak-anak lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reynand tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reynand!
Dana terkumpul
Rp 23.670.554
9 hari lagi
Dari Rp 23.619.555
Donasi
Kesehatan
Nuh Alami Penyakit Langka Sampai Kehilangan Penglihatannya
“Tak pernah terbangkan bagiku, anakku mengidap penyakit langka yang hanya terjadi pada 3 anak di Indonesia di tahun ini! Semua terungkap setelah saat menakutkan itu, ketika aku hampir kehilangannya yang mengalami henti napas.”Dokter mengirimkan sampel darah anakku ke Jerman dan Hongkong untuk diteliti, ternyata anakku mengalami mutasi genetik Maple Syrup Urine Disease (MSUD). Ia terpaksa minum air dan gula, karena aku tak sanggup membeli susu khusus yang harganya sangat mahal. Sementara semua susu biasa adalah racun bagi anakku!” -Arisha Trisna, Orang tua Nuh-Seminggu setelah lahir, Nuh Tsabit Qies Sinulingga (2 thn) mendadak sering memejamkan matanya dan menolak minum susu. Aku terus berusaha meminumkannya karena berat badannya turun drastis, tapi justru membuatnya tersedak.Dokter mengatakan anakku mengalami dehidrasi dan infeksi paru-paru. Ia harus menggunakan alat medis karena sempat henti napas secara tiba-tiba. Dua minggu berlalu di ruang perawatan, anakku masih tetap tak membuka matanya.Tapi ketika dicubit, Ia tetap merespon meski lambat, tanda Ia masih berjuang.Sebulan kemudian, hasil tes keluar. Air mataku langsung jatuh. Di urin anakku ditemukan penumpukan zat beracun yang bisa merusak otak, menyebabkan pembengkakan, kejang, bahkan koma dan kematian. Aku serasa kehilangan napas. Dokter mengatakan, jika kondisinya membaik, Nuh perlu menjalani transplantasi hati.Biaya pengobatan yang ada saja sudah begitu berat, lalu bagaimana selanjutnya? Bahkan anakku sampai dipulangkan dari rumah sakit karena kami tak kehabisan uang. Suamiku hanya bekerja sebagai staf administrasi honorer di pemerintahan dengan penghasilan terbatas. Namun, demi keselamatannya, aku menjual semua harta yang kami punya dan menggalang dana bersama teman-teman. Dari situlah kami bisa membawa Nuh berobat ke Malaysia, tempat yang katanya memiliki fasilitas lebih baik untuk penyakitnya.Kini, kondisi anakku hanya bisa berbaring ke kanan dan ke kiri. Terkadang, Ia mengalami kejang hingga tubuhnya kaku, lupa menelan dan kehilangan penglihatannya. Meski begitu, aku tetap yakin suatu hari nanti anakku bisa tersenyum dan tumbuh sehat seperti anak-anak lain.Aku percaya, selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha dan bertawakal. Saat ini, anakku membutuhkan biaya untuk membeli susu khusus, transportasi ke rumah sakit, obat dan vitamin yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nuh tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nuh!
Dana terkumpul
Rp 8.775.001
8 hari lagi
Dari Rp 62.128.000
Donasi