Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Penyempitan Saluran Napasnya menutup Nyaris 99%, Azzurah Tetap bertahan dari Sakit Jantung
“Momen saat anakku berhadapan dengan hidup dan mati itu tak akan pernah ku lupakan, jantung kecilnya sempat berhenti berdetak! Di saat duniaku rasanya hancur, tiba-tiba keajaiban Tuhan datang, jantungnya kembali berdetak. Saat itu aku yakin anakku kuat dan masih ingin bertahan hingga Ia dinyatakan sembuh.” -Fekrelian Rante, Orang tua Azzurah-Sejak usianya baru menginjak 28 hari, anakku, Azzurah Marisyah Sayu Latif (6 bln), sudah harus menghadapi beratnya ujian kehidupan. Batuk, sesak napas, dan tubuh membirunya sudah menjadi pemandangan yang menghantui hari-hariku yang penuh kecemasan.Awalnya anakku sempat mendapat perawatan di rumah sakit karena nafasnya yang berat. Namun, kian hari semakin menurun hingga Ia tak sadarkan diri. Saat dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, ternyata Ia didiagnosa pneumonia dan kelainan jantung bawaan. Sejak itu, anakku harus berpindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya rumah sakit, hingga akhirnya Ia dirujuk pengobatan ke Jakarta. Rasa putus asa itu semakin besar karena anakku harus tetap menggunakan oksigen dan didampingi perawat khusus untuk membawanya pengobatan dari Kalimantan ke Jakarta. Namun, saat itu kerabat yang tidak tega melihat kondisi anakku, memberikan bantuan dana agar anakku masih bisa terus punya harapan untuk hidup. Aku juga berupaya menjual emas, telepon genggam, hingga membatasi makan sehari-hari demi pengobatan anakku.Syukurlah, anakku bisa menjalani pengobatan di Jakarta. Tapi siapa sangka, dokter mengatakan anakku juga mengalami penyempitan saluran napas yang membuat setiap tarikan napasnya terasa berat. Bahkan, ada penyempitan yang hampir menutup saluran hingga 99 persen! Dokter akhirnya melakukan operasi kecil pada anakku. Hingga saat ini, kondisi anakku masih bergantung pada oksigen untuk bernapas. Dadanya sampai tertarik ke dalam tiap Ia berusaha bernapas dan tubuhnya masih membiru. Aku masih hidup dalam ketakutan akan kehilangannya.Dibalik perjuangan itu, anakku masih gadis kecil yang ceria. Ia masih tersenyum tiap dia masih tersenyum tiap diajak bermain, seolah tak ingin menunjukkan betapa berat sakit yang Ia rasakan. Aku yakin, setiap doa pasti menemukan jalannya dan aku harus terus berjuang.Anakku masih harus menjalani operasi bedah toraks dan kontrol rutin ke rumah sakit. Selain oksigen, aku juga harus mempersiapkan alat suction hingga pemantau saturasi untuk mendukung perawatannya selama di rumah singgah, tempat tinggal sementara di Jakarta.Selain itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Azzurah tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Azzurah!
Dana terkumpul
Rp 2.158.000
6 hari lagi
Dari Rp 15.366.000
Donasi
Anak
Alami Kelainan Kelamin, Devanka Belum Bisa Dinyatakan Laki-laki atau Perempuan!
“Anakku didiagnosa kelainan hormon yang menyebabkan alat kelaminnya tidak jelas! Akibatnya, Ia belum bisa dinyatakan laki-laki maupun perempuan. Tubuhnya lemah, kekurangan zat besi, dinyatakan stunting karena tumbuh kembangnya tak sejalan dengan usianya.”“Bagai dihantam bertubi-tubi, hancur sekali hatiku! Setiap hari aku diliputi kecemasan, tentang kesehatannya, tentang kebahagiaannya, tentang bagaimana ia akan menjalani hidupnya kelak. Aku hanya ingin ia tumbuh dengan layak dan tersenyum tanpa beban, tapi jalan yang harus Ia lalui terasa begitu berat.” -Rinda Ardianti, Orang tua Devanka-Anakku, Devanka Rizki (23 bln), lahir lebih cepat sebelum waktunya dan tubuhnya begitu rapuh dengan berat badan 1,4 Kg. Moment kehadiran anak yang seharusnya ku sambut dengan bahagia, seketika bercampur dengan kecemasan. Apalagi dokter menyampaikan Ia mengalami ambigu genitalia, kelainan alat kelamin. Tidak ada dekapan hangat rumah di hari-hari pertama kehidupannya, melainkan ruang NICU yang menjadi tempat istirahatnya selama 11 hari. Setiap detik waktuku rasanya diisi dengan ketakutan dan harapan, karena berkali-kali kondisi anakku menurun. Hingga akhirnya kondisi anakku perlahan membaik dan diizinkan pulang. Namun, perjalanan belum selesai, anakku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk penanganan lebih lanjut.Anakku menjalani 3 kali operasi pada alat kelaminnya. Namun, hingga kini anakku masih berada dalam ketidakpastian apakah Ia perempuan atau laki-laki. Tubuhnya terus bertahan dan berjuang untuk sembuh, tapi masa depannya seolah masih tertutup kabut. Operasi lanjutan masih menanti anakku ke depannya, tapi biaya pengobatannya bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku mulai menjual perhiasan dan emas dari pernikahanku karena kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.Suamiku bekerja sebagai pengemudi ojek online, berat subuh dan pulang larut malam. Itupun penghasilannya tak menentu, kerja kerasnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Terkadang, suamiku rela tidak makan, asal kebutuhan anak kami terpenuhi.Bahkan, aku pernah terpaksa menghentikan pembelian susu medis untuk anakku karena benar-benar tidak ada uang lagi. Akhirnya kondisi kesehatan menurun, begitu pula dengan berat badannya. Rasa bersalah menghantamku, karena tidak bisa memberikan yang terbaik.Hingga saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, tes laboratorium, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Devanka tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Devanka!
Dana terkumpul
Rp 1.345.000
12 hari lagi
Dari Rp 16.190.000
Donasi
Anak
Ada Lubang 10 mm di Jantung Mungil Khayril
“Siapa sangka, kini hati kami hancur, karena harus melihat Khayril berjuang antara hidup dan mati, ada lubang sebesar 10 mm di jantung mungilnya!”“8 tahun aku dan istri menanti dengan sabar dan penuh harap, hingga akhirnya Tuhan titipkan Khayril sebagai anugerah terindah dalam hidup kami. Namun, kebahagiaan kami berubah menjadi duka dan ketakutan tanpa henti, tak sanggup membayangkan bisa kehilangannya kapan saja.”Aku Jayadi, seorang pengemudi ojek online sekaligus Ayah dari Muhammad Khayril Nafil (10 bln). Sejak lahir, hidup anak aku tak pernah tenang. Ia mengalami demam tinggi dan sesak napas yang ternyata adalah tanda dari penyakit jantung. Langit rasanya runtuh saat mengetahui anak sakit serius. Aku juga bingung, anakku butuh biaya pengobatan yang besar, tapi penghasilanku tak menentu. Setiap hari aku selalu mengandalkan makan siang gratis yang dibagikan di jalanan, agar aku bisa membelikan makan untuk anak dan istriku.Akhirnya aku meminjam dana ke saudara, meski hanya seadanya, tapi aku nekat membawa anakku ke Jakarta dari Cirebon. Namun, pengobatannya sangat panjang, bahkan keuangan sudah menipis selama kami di Jakarta.Sementara anakku kondisinya masih sangat lemah, bahkan sekedar untuk menyusu saja bisa sangat kelelahan. Dada kirinya membengkak, Ia belum bisa duduk tegak maupun merangkak seperti anak-anak seusianya. Aku selalu panik melihat Ia merintih akibat napasnya yang tersengal, tak jarang aku juga membawa anakku ke rumah sakit agar Ia bisa menggunakan alat bantu pernapasan. Tak sanggup membayangkan sewaktu-waktu bisa kehilangannya. Anakku harus menjalani operasi bedah jantung agar kebocoran jantungnya tak semakin besar. Anakku membutuhkan ongkos untuk kembali ke Jakarta untuk kontrol rutin menjelang operasinya, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Khayril tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Khayril!
Dana terkumpul
Rp 15.276.004
5 hari lagi
Dari Rp 28.246.004
Donasi