Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Ditabrak Saat Pulang Kerja, Yontrinus Harus Operasi Bedah Tulang!

“Adikku ditabrak saat mengendarai motor sepulang kerja! Kejadian itu mengubah hidupnya dalam sekejap. Tulang kaki kanan dan jari kelingkingnya patah, memaksanya menjalani serangkaian operasi bedah tulang. Kini, yang paling menakutkan bukan hanya rasa sakit, tapi ancaman kehilangan kakinya untuk selamanya.”“Saat ini, adikku mengalami dilema dan stres karena takut kehilangan kakinya karena tak mampu membiayai pengobatannya. Baginya, kaki itu bukan sekadar anggota tubuh, tapi harapan untuk kembali berdiri, berjalan, dan mencari nafkah seperti dulu. Sementara aku, dengan segala keterbatasan, hanya mampu berusaha semampuku, menahan sesak di dada karena tak bisa berbuat lebih untuknya.” -Narto Yabu, Kakak dari Yontrinus-Adikku, Yontrinas Umbu Kapanding (27 thn), saat ini masih terbaring tak berdaya di kamar rumah sakit. Ia sudah menjalani dua kali operasi pada kakinya. Ia masih belum bisa melakukan aktivitas apapun, kakinya masih sangat sakit untuk digerakkan.Terkadang, rasa nyeri yang sangat tajam pada kakinya kambuh. Ia hanya bisa menahan sendiri sambil meneguk obat, lalu mencoba tidur, berharap sakit itu mereda ketika Ia bangun. Hal yang membuat adikku semakin terpukul, Ia diperkirakan tidak bisa bekerja hingga 1-2 tahun. Sementara Ia juga harus membiayai hidupnya dan pengobatannya, tidak bisa selamanya mengandalkan bantuan dari orang yang ada. Tabungan yang Ia kumpulkan dari keringat sebagai tukang aluminium untuk pembuatan lemari, jendela, dan pintu, kini habis tak tersisa. Sedangkan aku sebagai walinya, lebih banyak membantu mencari pinjaman sana-sini, bahkan pernah tidak tidur dua malam untuk mengurus keperluannya.Aku juga berupaya mencari pekerjaan apa pun agar adikku bisa melanjutkan pengobatannya. Saat ini, Yontrinus masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Yontrinus tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Yontrinus! 
Dana terkumpul Rp 2.220.000
10 hari lagi Dari Rp 12.450.000
Donasi
camp
Anak

Alami Pembengkakan Hati, Ikhsan Tidak Punya Biaya untuk Operasi Lanjutan

“Selama 4 tahun berjuang dari penyakitnya, anakku sudah 12 kali keluar-masuk rumah sakit dan 2 kali menjalani operasi. Begitu banyak rasa sakit dan air mata yang dilaluinya. Namun, penyakit ini seolah tak memberinya jeda untuk sejenak merasa sembuh, karena sekarang perutnya kembali membuncit.”“Aku terpaksa mengubur semua rasa sedihku dalam-dalam setiap kali berada di depannya. Dokter mengatakan anakku tidak boleh banyak pikiran dan stres, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Di hadapan anakku, aku harus tegar dan menjadi sumber kekuatan, meski sesungguhnya aku juga rapuh.” -Mardiana, orang tua Ikhsan-Meski tubuhnya sangat lemah, tapi anakku, Ikhsan Firdaus NST (10 thn), selalu semangat untuk kembali ke kehidupannya yang sehat seperti sebelumnya. Ia selalu mengatakan, “Mak, nanti kalau aku sembuh, aku mau ikut olahraga di sekolah. Aku rindu lari-larian, Mak, rindu renang di sungai.” Ia memang anak yang sangat aktif sebelum sakit.Namun, kehidupannya menjadi kelam ketika Ia memasuki usia 7 tahun. Mata dan seluruh tubuhnya perlahan berwarna kuning. Perutnya juga membuncit dan mengeras secara tidak normal. Aku kira pengobatan di puskesmas saja sudah cukup, tapi ternyata perjalanannya untuk sembuh penuh dengan air mata. Dokter mengatakan organ hati anakku mengalami pembengkakan sehingga perutnya ikut membesar. Ada cairan menumpuk di perutnya akibat organ hatinya bermasalah. Duniaku rasanya runtuh, anakku yang masih kecil harus menanggung beban yang mengerikan mulai detik itu juga.Ia harus menjalani operasi sedot cairan pada organ hatinya. Hari-harinya kini diisi dengan demam yang tak kunjung reda. Tubuhnya lemas, mudah lelah, sering mencret dan kehilangan tenaga. Aku hanya bisa memandangnya sambil menangis, berharap rasa sakit itu pindah kepadaku. Dokter mengatakan perutnya yang kembali membesar harus segera dioperasi lagi. Namun sampai sekarang aku belum bisa membawa anakku berangkat, karena tak ada biaya. Sekedar kontrol ke rumah sakit saja, aku harus menempuh 9 jam perjalanan naik bus dari rumah di kawasan Mandailing Natal ke Padang.Aku sampai menjual kebun hingga meminjam uang pada keluarga demi kesembuhan anakku selama ini. Sementara pekerjaanku hanyalah buruh cuci dan gosok pakaian panggilan, penghasilanku tak menentu. Terkadang aku juga menjual jasa cuci baju keluarga pasien di rumah sakit tempat anakku dirawat hingga jasa titip membeli sesuatu dibayar seikhlasnya. Aku terus berjuang meski pengobatan anakku seperti beban yang terasa mustahil.  Selain ongkos ke rumah sakit, anakku masih membutuhkan biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS, rawat inap, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ikhsan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ikhsan!
Dana terkumpul Rp 1.385.000
2 hari lagi Dari Rp 7.940.000
Donasi
camp
Kesehatan

Buruh Las Menjadi Tak Berdaya Akibat Melawan Epilepsi Akut Selama 3 Tahun

Aku Rapiah, sedangkan Jaja adalah adikku yang sedang menjalani kehidupan yang berat selama 3 tahun terakhir. Sebelumnya Ia sehat dan menjalani hari-hari seperti biasanya, hingga suatu hari Ia mengalami kejang-kejang kecil. Aku terkejut dan mulai curiga bahwa kejadian itu merupakan pertanda besar.Saat aku membawanya berobat, adikku hanya diberikan obat. Aku kira setelah itu adikku akan sembuh, tapi harapanku mulai memudar ketika jaja mengalami kejang berulang yang semakin sering dan semakin hebat. Setelah dibawa ke rumah sakit, Jaja didiagnosa epilepsi akut. Sejak itu, kejang-kejang menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan, di saat-saat tertentu Jaja terlihat komat-kamit sendiri, seolah sedang mengungkapkan rasa sakitnya yang tak tertahankan.Di usia 41 tahun, tubuhnya semakin melemah. Jaja yang dulu dikenal sebagai buruh las keliling yang giat bekerja, perlahan kehilangan kemampuannya untuk berdiri, berjalan, bahkan mengurus dirinya sendiri.Jaja sering terjatuh setiap Ia mencoba untuk berdiri, tangannya sering tremor, hingga suaranya semakin jarang terdengar. Sekedar untuk makan pun, Ia harus dibantu. Bahkan, untuk sekedar buang air, Ia lakukan di tempat tidur.Di sela-sela kondisinya yang lemah, Jaja sering mengungkapkan harapannya ingin sembuh, ingin kembali bekerja dan ingin menikah. Keinginananya sederhana, tapi betul-betul mengiris hatiku. Aku harus menempuh jarak tujuh kilometer setiap akan membawa Jaja ke rumah sakit. Bagi sebagian orang, itu terdengar cukup dekat, tapi bagiku itu perjalanan yang berat. Pekerjaanku hanyalah tukang cuci gosok, biaya transportasi saja sudah menjadi beban yang tak ringan.Terkadang, aku harus berhutang ke tetangga untuk memenuhi biaya pengobatannya. Jaja saat ini masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, membeli kursi roda, susu, pampers dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jaja tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jaja!   
Dana terkumpul Rp 665.001
12 hari lagi Dari Rp 6.320.000
Donasi

Pilihan Campaign