Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Derita Kelainan Jantung, Kondisi Anak Petani Kopi Ini Tak Stabil dan Sering Drop
Galang (2 tahun) merupakan anak petani kopi yang sudah sejak lahir berjuang sembuh dari penyakit kelainan jantung bawaan.Seperti penderita lainnya, Galang jadi mudah lelah dan pertumbuhannya pun terhambat. Galang sempat dilarikan ke RSUD Dr. H. Abdul Moeloek di Bandar Lampung karena kondisinya tersebut.Meskipun sejak lahir sudah menderita kelainan jantung, namun Galang masih dalam perawatan dan pengobatan. Saat ini kondisi saturasi oksigennya sering turun dan tidak stabil di RS Harapan Kita.Anak petani kopi ini akan mengalami dehidrasi berat serta drop apabila tidak segera ditangani. Berbagai upaya dilakukan orang tua demi bisa menyelamatkan Galang. Walaupun dengan biaya seadanya untuk tinggal di Jakarta.TemanBaik, Galang terbaring lemah di RS Harapan Kita. Ia akan menjalani operasi BCPS. Orang tua berharap kesembuhan Galang agar mereka bisa segera pulang ke daerah mengingat kebutuhan mereka sangat banyak selama berada di Jakarta.Maukah TemanBaik membantu mereka? Ada biaya kos, kebutuhan operasional dan obat-obatan di luar BPJS yang harus mereka penuhi.Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul
Rp 16.864.000
6 hari lagi
Dari Rp 36.000.000
Donasi
Pendidikan
Anak Penjual Dimsum Berprestasi, Kini Terancam Putus Sekolah!
“Audrey pernah juara III lomba mewarnai saat TK! Ia sangat mendambakan masa depannya menjadi pelukis. Selain seni, anakku juga pandai dalam mata pelajaran lainnya di sekolah. Bahkan, Ia selalu sedih jika mendapatkan nilai 8, karena Ia langganan mendapat nilai 100 atau A+.”“Namun, kini anakku terancam putus sekolah karena sudah menunggak 5 bulan. Aku hanyalah pedagang dimsum pinggir jalan yang bahkan sering rugi dibandingkan untung… ” -Sari, Orang tua Audrey-Aku bahkan terpaksa memindahkan anakku, Audrey Abigail Deshapsari (8 thn), dari kelas nasional ke kelas reguler agar biaya sekolahnya lebih rendah. Aku tau, diam-diam hal itu mematahkan hati anakku yang telah bekerja keras menjadi yang terbaik di sekolah.Saat ini, Audrey duduk di bangku kelas 2 SD Dharma Putra Advent, Bekasi. Biaya sekolahnya sangat besar, aku dan suami tidak mampu membayarnya. Segala upaya sudah aku coba agar dapat penghasilan lebih, tapi tak kunjung membuahkan hasil.Sebelum berjualan dimsum, aku dan suami sempat bekerja freelance memasarkan properti. Sayangnya, tidak berjalan mulus. Aku dan suami pun mencoba bisnis dengan membeli lahan dengan iming-iming setoran lahan parkir, tapi kami ditipu. Padahal, kami beli lahan itu dari hasil menjual tanah orang tua.Kami juga sempat mencoba usaha membuka bengkel, tapi lagi-lagi tak terealisasi karena teman kerja untuk membangun usaha akhirnya mengundurkan diri. Suami juga mencoba menjadi tukang parkir hingga jasa mengantar jemput anak sekolah, tapi hasilnya tak seberapa.Jadilah aku dan suami berakhir dengan usaha dimsum. Tiga tahun mengeluarkan biaya untuk mencoba mengiklankan dagangan, tapi tak kunjung laku, Bahkan, dagangannya juga lebih sering nombok. Modal membuat dimsum Rp200 ribu, tapi hasil penjualan hanya dapat Rp100 ribu.Bahkan, transportasi anak ke sekolah saja kami kesulitan biaya untuk menyewa kendaraan. Sedangkan naik ojek bisa habis Rp80 ribu. Saking buntunya, suami pernah selama nyaris 2 bulan meminjam motor tetangga untuk antar dan jemput anak sekolah.Puji Tuhan, pihak sekolah masih memberikan kelonggaran walau anakku menunggak uang sekolah. Namun, raport anakku belum bisa diambil karena belum bayar uang sekolah. Aku berharap anakku bisa melanjutkan sekolah, sekalipun ekonomi kami terseok-seok.Aku yakin anakku kelak bisa menjadi orang sukses, karena Ia sangat cerdas, baik, dan penurut. Aku ingin anakku bisa menjadi orang yang lebih beruntung dibandingkan orang tuanya, makanya aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikannya. #TemanBaik, yuk bantu Audrey untuk melanjutkan sekolah dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 3.072.000
3 hari lagi
Dari Rp 3.860.000
Donasi
Anak
Anak Tukang Cuci Berjuang Sembuh dari Bibir Sumbing dan Sindrom 13!
“Anakku didiagnosa sindrom 13 patau! Sebuah kelainan langka yang menyebabkan membuatnya lahir dengan banyak keterbatasan, dari bibir sumbing hingga gangguan penglihatan. Rasanya duniaku runtuh begitu mendengar kondisinya.”“Setiap hari aku menatapnya terbaring di ranjang rumah sakit, tubuh mungilnya dipenuhi selang dan alat medis. Aku ingin kuat, tapi air mata tak pernah benar-benar kering. Demi terus berjuang untuknya, aku bahkan terpaksa meminjam uang ke rentenir. Aku hanya ingin anakku ada kesempatan untuk hidup.” -Suharti, Orang tua Zaini-Anakku, Muhammad Zaini (18 bln), langsung masuk ICU begitu lahir. Berat badannya sangat rendah dan bibirnya memang sudah sumbing. Perasaanku kacau sekali saat itu! Bayangkan saja, dua minggu anakku harus di ruangan untuk pasien yang mengalami kritis.Aku kira anakku sembuh setelah diizinkan pulang dari rumah sakit, tapi setelah itu ternyata tiba-tiba Ia mengalami sesak napas, demam tinggi hingga kejang-kejang. Setelah kembali dilarikan ke rumah sakit, barulah anakku ketahuan ada kelainan sindrom.Lagi-lagi aku bagai tertampar oleh kenyataan! Apalagi sejak itu anakku jadi sering mengalami sesak napas hingga harus bergantung pada alat oksigen. Pernah Ia sampai 20 hari di PICU rumah sakit karena kesulitan bernapas, aku sampai berhutang kemana-mana untuk biayanya.Saat ini anakku sudah menjalani 2 kali operasi bibir sumbingnya. Melihat perubahan pada bibirnya yang semakin membaik, rasanya hatiku menjadi hangat karena bahagia. Perlahan, anakku mulai terlihat seperti anak-anak lainnya. Namun, Ia masih membutuhkan selang NGT untuk makan dan minumnya. Ia juga belum bisa melakukan apapun, selain berbaring di tempat tidur. Aku tidak akan menyerah demi kesembuhannya, aku lihat sendiri perubahan anakku lebih baik dan tidak ingin menyia-nyiakan perjuanganya.Anakku harus menjalani operasi lanjutan pada bibirnya, tapi lagi-lagi biaya yang besar menjadi kendala. Aku bekerja sebagai tukang cuci dan gosok, sedangkan suamiku bekerja sebagai kuli bangunan. Penghasilan kami sangat terbatas, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.Sementara anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT rutin dan kebutuhan lainnya.
Dana terkumpul
Rp 6.760.500
15 hari lagi
Dari Rp 10.421.000
Donasi