Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kemanusiaan
Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan Terus Berlayar
Sebagai bagian dari misi kemanusiaan doctorSHARE, kami dengan bangga menghadirkan program Rumah Sakit Apung untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan di Indonesia). Program ini dirancang khusus untuk memberikan akses medis yang memadai kepada komunitas-komunitas yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional. Dengan isu kesehatan yang beragam dan tingkat kesulitan akses ke fasilitas kesehatan yang tinggi, maka doctorSHARE melalui Program Rumah Sakit Apung membuat alternatif solusi yang inovatif dan terjangkau dalam rangka menghadirkan layanan kesehatan yang merata di wilayah rentan. Beberapa wilayah tersebut yang menjadi tujuan program layanan kesehatan RSA dr Lie Dharmawan II yaitu: 1. Kepulauan Manui, Morowali, Sulawesi Tengah 2. Kepulauan Sinjai, Sulawesi Selatan 3. Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi TenggaraDari beberapa tempat di atas merupakan wilayah kepulauan prioritas kami untuk mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dikarenakan beberapa isu kerentanan yang layak untuk mendapatkan bantuan. Bantuan dan perhatian anda akan sangat berdampak bagi 1.000 pasien wilayah tersebut melalu operasi RSA dr. Lie Darmawan II untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis dan Fasilitas : Pemeliharaan dan perbaharuan peralatan medis, termasuk peralatan diagnostik, alat bedah, dan perlengkapan medis lainnya.2. Tenaga Medis dan Pelatihan : Pelayanan medis 1000 pasien, 10 operasi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional seperti transportasi laut, logistik medis, dan administrasi harian untuk memastikan Rumah Sakit Apung dapat beroperasi dengan efisien dan responsif terhadap kebutuhan mendesak komunitas dilayani#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini
Dana terkumpul
Rp 49.680.087
3 hari lagi
Dari Rp 362.936.000
Donasi
Anak
Saat Aku Masih Berjuang Melawan Sakit, Takdir Menguji Anakku dengan Jantung Bocor
“Ujian hidupku seolah menggores luka yang masih menganga! Saat aku sedang berjuang melawan sakit jantung, ternyata anakku didiagnosa jantung bocor dan hipertensi paru. Hatiku hancur dan pikiranku kusut, tubuhku yang rapuh dan terancam ini tetap harus kuat menopang anakku yang kondisinya jauh lebih parah.”“Belum sempat menarik napas, keterbatasan biaya menambah panjang daftar penderitaan kami. Dalam waktu yang hampir bersamaan, aku dan anakku sama-sama harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Di titik itulah aku benar-benar tersungkur. Tapi sebagai seorang ibu, aku tak punya pilihan selain bangkit dan bertahan.” -Eli Suryani, Orang tua Ilham-“Nanti setelah disuntik, Ilham sehat ya, Bu?” Itulah kalimat sederhana yang sering dikatakan anakku, Ilham Ramadhani (4 thn), untuk menguatkan dirinya. Ia berharap semua rasa sakit yang Ia rasakan ditebus dengan bayaran kesembuhan.Anakku lahir secara prematur, di usia kandungan 35 minggu. Di usia 14 bulan, anakku didiagnosa mengalami paru-paru kotor dan kekurangan kalsium. Sejak itu, kehidupannya sudah diuji dan Ia harus perawatan rutin ke rumah sakit.Seiring waktu, kondisi anakku membaik dan Ia tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Namun, menginjak usia 3 tahun, anakku jadi sering mengeluh kepalanya pusing dan Ia mudah lelah. Hatiku mulai gelisah, rasanya janggal anak sekecil itu sering sakit kepala.Saat aku membawanya untuk diperiksa, anakku didiagnosa jantung bocor. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Rasa bersalah langsung menyergap pikiranku, apakah sakit jantung yang ku derita ini menjadi sebab anakku harus menanggung sakit yang sama?Tanpa pikir panjang, aku menguras tabungan dan meminta bantuan biaya dari kerabat dekat agar bisa membawa anakku berobat dari Lampung ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, tapi kondisi masih sering mudah lelah dan sesak napas.Perjuangannya untuk sembuh masih panjang, Ia harus bolak-balik Lampung dan Jakarta untuk kontrol rutin. Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan cukup besar, sementara suamiku hanyalah petani yang penghasilannya tak menentu. Saat malam, suamiku narik ojek untuk tambahan biaya. Anakku masih akan membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, transportasi ke rumah sakit, tempat tinggal selama di Jakarta, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ilham tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ilham!
Dana terkumpul
Rp 11.618.500
9 hari lagi
Dari Rp 11.445.000
Donasi
Kesehatan
Leher Nida Menonjol Akibat Tumor Ganas, Menoleh pun Tak Bisa!
“Sembilan tahun aku hidup dengan tumor ganas di leherku! Masa remajaku yang seharusnya indah dan penuh keceriaan, harus kulewati dengan rasa sakit. Ada hariku hanya bisa menunduk, cukup minder karena kondisiku berbeda, leherku bengkak sebelah.”“Dokter bilang aku harus kemoterapi dan radioterapi. Namun, Ibuku yang bekerja hanya sebagai penyapu jalan, tampak lemas ketika mendengar pengobatan cukup besar. Sementara itu, nyawaku bisa terancam jika aku tak pengobatan.”Perkenalkan, Aku Nida Alya Nur (24 thn). Penyakit ini mulai menghantui hidupku sejak aku masih 17 tahun. Awalnya hanya nyeri dan pegal di sekujur tubuh yang aku dianggap biasa. Namun lama-kelamaan rasa sakit itu makin menjadi hingga leherku terasa seperti tertusuk.Orang tuaku langsung membawaku ke rumah sakit karena aku terus menangis kesakitan. Setelah pemeriksaan, aku didiagnosa tumor ganas! Ibuku nyaris pingsan mendengar kabar itu. Aku berasal dari keluarga sederhana, untuk memenuhi biaya pengobatanku, rasanya jauh sekali dari kata mungkin. Sejak itu, hari-hariku dipenuhi obat-obatan dan perjalanan bolak-balik ke rumah sakit. Selebihnya, aku lebih sering terbaring di kamar karena tubuhku sangat lemah. Seluruh badanku masih terasa sakit, terutama bagian leher. Bahkan berjalan agak jauh saja membuatku sesak napas.Aku harus segera menjalani operasi. Sedangkan untuk ke rumah sakit saja aku butuh biaya besar, karena menempuh perjalanan dari Subang, Jawa Barat, ke Jakarta. Belum lagi, untuk obat-obatan yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Ibuku berusaha sekuat tenaga. Ia mencari pekerjaan tambahan, berdagang kecil-kecilan kebutuhan sehari-hari dari pagi hingga malam. Tapi hasilnya tetap belum mampu menutupi seluruh biaya pengobatanku, hanya cukup untuk kebutuhan harian kami.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nida tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nida!
Dana terkumpul
Rp 7.270.005
3 hari lagi
Dari Rp 10.950.000
Donasi