Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Perjuangan Bocah Penghafal Al-Qur’an untuk Sembuh dari Sakit Jantung
“‘Ibu harus memilih, operasi dilanjutkan dengan risiko usia anak hanya bertahan 6 hari, atau dihentikan dengan harapan ia bisa hidup hingga 30 tahun?’ Ucap dokter sambil memperlihatkan video kondisi anakku di meja operasi. Hatiku hancur, dengan penuh air mata, aku memilih kesempatan hidup untuknya.”“Hingga akhirnya aku diizinkan menjenguk anakku, hatiku pedih sekali. Lehernya dilubangi, dada dan mulutnya ditancapkan selang-selang besar, tangan hingga kakinya diikat. Aku terus menguatkan hati demi harapan agar anakku bisa tetap terus dan kelak bisa terus mewujudkan impiannya menghafal Al-Qur’an.” -Susi Susanti, Orang tua Andra-Anakku Andra Rais Alhanan (18 bln) adalah kebanggaanku. Di usianya yang masih dini, Ia sudah mulai jadi penghafal Al-Qur’an. Di sela-sela waktu Ia minum obat jantungnya, suara indahnya yang melantunkan ayat suci menjadi penguat hatiku untuk terus berjuang demi pengobatannya. Di tengah rasa sakit yang dialaminya, anakku bahkan masih terus mengingat ayat dari Allah. Ia meringis sambil mengatakan, “Andra nggak apa-apa Bu, nanti juga sembuh karena Andra sudah baca surat Alfatihah dan ayat kursi 11 kali.” Ditelannya semua rasa sakit itu demi menenangkan orang tuanya.Namun, saat Ia harus masuk ruang operasi, aku mendengar Ia menangis. Dengan hati gemetar, aku bertanya pada suster, berharap itu bukan suara anakku. Tapi ternyata itu Andra. Tapi tak ada yang bisa aku perbuat, karena tidak diizinkan masuk untuk sekedar memeluknya, karena Ia berada di ruang steril.Penyakit jantung itu mulai mengintai anakku sejak usianya 2 tahun. Ia tiba-tiba kehilangan nafsu makan dan tubuhnya lemah. Hingga akhirnya dokter menemukan ada kebocoran jantung pada anakku. Hanya obat yang menjadi satu-satunya harapan agar kebocoran jantungnya menutup sendiri.Namun, kenyataan berkata lain. Kondisi anakku terus memburuk, jantungnya membengkak dan napasnya sesak. Aku begitu ketakutan, karena seiring waktu badannya membiru, Ia sering menangis dan keringat dingin. Setiap detik rasanya harapanku sempat hilang.Anakku sudah menjalani operasi bedah jantung. Kondisinya sekarang tidak bisa beraktivitas seperti anak lainnya. Ia masih kesulitan bernapas, bahkan rambut di kepalanya juga ikut bergerak setiap Ia berupaya mencari udara. Setiap malam, aku akan menangis ketakutan melihat keadaannya, dihantui rasa kehilangan.Perjalanan pengobatan anakku masih sangat panjang, tapi keadaan ekonomi kami semakin terpuruk. Suamiku hanya bekerja sebagai petugas keamanan dengan penghasilan yang pas-pasan. Aku bahkan sempat berhutang ke bank dengan menjaminkan tempat usaha milik saudara, hanya demi menyelamatkan nyawa anakku.Sampai hari ini, aku masih terus berjuang karena anakku masih membutuhkan biaya untuk membeli obat yang tidak dicover BPJS, transportasi ke rumah sakit, membeli vitamin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Andra tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Andra!
Dana terkumpul
Rp 985.000
12 hari lagi
Dari Rp 9.150.000
Donasi
Anak
Setelah Vaksin, Anakku Ketahuan Alami Cerebral Palsy
“Aku pernah berada di titik terendah sebagai seorang Ibu, ku terpaksa menghentikan pengobatan anakku selama 6 bulan! Itu semua karena aku benar-benar tidak ada biaya. Sementara tubuh anakku semakin hari semakin kaku akibat kejang parah.”“Penghasilanku pas-pasan. Aku hanyalah tukang cuci, gosok dan beres-beres rumah orang. Itu pun tidak selalu ada panggilan. Kadang ada, kadang tidak. Meski aku harus mati-matian mencari pekerjaan demi pengobatannya, aku tidak pernah lelah demi kesembuhan anakku.” -Nur Koerunisa, Orang tua Rafaizan-Muhamad Rafaizan Maulana Sidik (5 thn), anakku yang seharusnya tumbuh ceria, kini harus berjuang melawan kerasnya takdir. Padahal, anakku tumbuh sehat dan ceria, setiap hari tawanya menghiasi rumah. Namun, hidupnya berubah saat penyakit gangguan otak itu datang saat usianya 2 tahun. Awalnya anakku menjalani vaksin polio, tapi pulangnya Ia mengalami kejang hebat disertai demam. Aku begitu terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter saat itu mengatakan Rafaizan mengalami cerebral palsy dan epilepsi. Sejak itu, hidup anakku berubah kelam. Sudah lebih dari 2 tahun aku berjuang demi anakku, Bolak-balik rumah sakit menjadi rutinitas. Mulai dari pemeriksaan EEG, MRI, hingga terapi fisioterapi yang harus dijalani 8 kali dalam sebulan.Namun, tak banyak perubahan. Otot-ototnya kaku hebat akibat kejang setiap hari, berat badannya terus menurun. Ia hanya bisa menangis, menahan sakit yang tak mampu diungkapkan. Hatiku hancur melihat anakku tak berdaya. Di sisi lain, aku kesulitan memenuhi pengobatannya. Dalam sebulan, penghasilanku bahkan tak cukup memenuhi semua kebutuhan pengobatan anakku. Banyak obat yang tidak ditanggung BPJS, belum lagi kebutuhan susu khusus dan popok yang harus selalu tersedia.Aku sudah berupaya menjual apa yang kami miliki karena kesembuhan anakku adalah segalanya. Hatiku sering bertanya, apakah suatu saat anakku bisa sembuh dan kembali tertawa? Apakah Ia bisa bermain seperti anak-anak lainnya? Bisa berlari, berjalan, dan merasakan masa bahagianya menjadi anak-anak?Selain obat-obatan, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, vitamin, dan kebutuhan lainnya yang sulit aku penuhi.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafaizan tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafaizan!
Dana terkumpul
Rp 4.745.000
5 hari lagi
Dari Rp 4.635.000
Donasi
Kesehatan
Derita 9 Tahun Penyakit Prostat, Tangis Bapak Ngatiyo Tak Tertahan Tiap Kencing Darah
“Bapakku sempat pesimis, dengan suara lirih dan putusasa Ia mengatakan ingin mati saja! Ia tidak sanggup menahan sakit yang terus menghantuinya, Ia juga sedih karena menjadi beban bagi anaknya sendiri. Bayangkan saja, 9 tahun lamanya bapakku bertahan dengan penyakit prostat di tubuhnya.”“Setiap kali kambuh, bapakku akan menjerit kesakitan dan menangis pecah menggema di rumah. Saking menderitanya, kencingnya sampai mengeluarkan darah. Sudah 9 kali bapakku harus pasang-copot selang kencing, itulah bukti perjuangannya untuk bertahan setiap harinya.” -Sri Kusnia, anak dari Bapak Ngatiyo-Bapakku, Ngatiyo Muklis (67 thn), kini hanya terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Tubuh yang dulu kuat mencari nafkah, kini tak lagi mampu menahan rasa sakit yang terus menghantui setiap harinya.Semua bermula pada 2017 silam, bapak selalu mengalami nyeri hebat setiap buang air kecil. Bahkan, terkadang kencingnya bercampur darah. Hingga suatu hari, bapak sama sekali tidak bisa buang air kecil. Aku pun membawanya ke puskesmas karena sangat khawatir.Saat itu, petugas kesehatan memasangi bapak selang kencing selama 2 minggu sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar.Dokter mengatakan bapakku terkena prostat, sehingga membuat saluran kencingnya tersumbat. Seiring waktu, penyakit bapakku semakin parah. Hal yang paling mengerikan adalah kencingnya tak hanya keluar darah, tapi juga nanah. Rasa sakit yang Ia rasakan semakin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, dokter memutuskan agar bapakku dioperasi karena sudah di tahap infeksi. Sebenarnya bapak sempat menolak, karena takut operasi tersebut lenyakitkan dari apa yang selama ini Ia rasakan. Namun, demi harapan sembuh, Bapak tetap memberanikan diri. Sayangnya, setelah operasi, kondisi bapak justru semakin menurun.Sepulang ke rumah usai operasi, bapak merasa kesakitan luar biasa. Ia kehilangan nafsu makan dan muntah-muntah. Bahkan, untuk bangun dan duduk pun, bapak sudah tidak sanggup. Bapak harus kontrol rutin lebih lanjut, tapi kondisi ekonomi keluarga kami juga terpuruk.Saat masih sehat, bapak bekerja sebagai tukang parkir. Sejak sakit, bapak tidak bisa bekerja lagi dan ibu juga tidak punya penghasilan. Aku pun berinisiatif membawa bapak dan ibu tinggal bersamaku. Aku tidak tega melihat bapak sampai tidak bisa tidur tenang karena kesakitan.Tapi kondisi ekonomiku juga sangat kurang, suamiku hanya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan, yang harus mencukupi kebutuhan kami dan tiga anak. Dalam keadaan terdesak, aku bahkan menjual kendaraan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, hanya agar bapak bisa tetap berobat. Perjuangan bapak belum berakhir, Ia bapa masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit yang jaraknya jauh, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, vitamin, dan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bapak Ngatiyo tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bapak Ngatiyo!
Dana terkumpul
Rp 2.442.001
5 hari lagi
Dari Rp 18.110.000
Donasi