Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Saat Aku Masih Berjuang Melawan Sakit, Takdir Menguji Anakku dengan Jantung Bocor
“Ujian hidupku seolah menggores luka yang masih menganga! Saat aku sedang berjuang melawan sakit jantung, ternyata anakku didiagnosa jantung bocor dan hipertensi paru. Hatiku hancur dan pikiranku kusut, tubuhku yang rapuh dan terancam ini tetap harus kuat menopang anakku yang kondisinya jauh lebih parah.”“Belum sempat menarik napas, keterbatasan biaya menambah panjang daftar penderitaan kami. Dalam waktu yang hampir bersamaan, aku dan anakku sama-sama harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Di titik itulah aku benar-benar tersungkur. Tapi sebagai seorang ibu, aku tak punya pilihan selain bangkit dan bertahan.” -Eli Suryani, Orang tua Ilham-“Nanti setelah disuntik, Ilham sehat ya, Bu?” Itulah kalimat sederhana yang sering dikatakan anakku, Ilham Ramadhani (4 thn), untuk menguatkan dirinya. Ia berharap semua rasa sakit yang Ia rasakan ditebus dengan bayaran kesembuhan.Anakku lahir secara prematur, di usia kandungan 35 minggu. Di usia 14 bulan, anakku didiagnosa mengalami paru-paru kotor dan kekurangan kalsium. Sejak itu, kehidupannya sudah diuji dan Ia harus perawatan rutin ke rumah sakit.Seiring waktu, kondisi anakku membaik dan Ia tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Namun, menginjak usia 3 tahun, anakku jadi sering mengeluh kepalanya pusing dan Ia mudah lelah. Hatiku mulai gelisah, rasanya janggal anak sekecil itu sering sakit kepala.Saat aku membawanya untuk diperiksa, anakku didiagnosa jantung bocor. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Rasa bersalah langsung menyergap pikiranku, apakah sakit jantung yang ku derita ini menjadi sebab anakku harus menanggung sakit yang sama?Tanpa pikir panjang, aku menguras tabungan dan meminta bantuan biaya dari kerabat dekat agar bisa membawa anakku berobat dari Lampung ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, tapi kondisi masih sering mudah lelah dan sesak napas.Perjuangannya untuk sembuh masih panjang, Ia harus bolak-balik Lampung dan Jakarta untuk kontrol rutin. Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan cukup besar, sementara suamiku hanyalah petani yang penghasilannya tak menentu. Saat malam, suamiku narik ojek untuk tambahan biaya. Anakku masih akan membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, transportasi ke rumah sakit, tempat tinggal selama di Jakarta, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ilham tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ilham!
Dana terkumpul
Rp 11.618.500
6 hari lagi
Dari Rp 11.445.000
Donasi
Kesehatan
Minum Air Hujan Jadi Penopang Hidup Pengurus Gereja yang Mengidap Kanker Prostat
“Ya Tuhan, suamiku yang lemah karena kanker prostat terpaksa minum air hujan! Di tempat kami, air bersih sangat minim dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Aku hanya bisa memandang dompet kosong di tanganku, menangis dalam diam, menyaksikan tubuh suamiku terkulai tak berdaya di atas kasur tipis.”“Kain seadanya terpaksa aku gunakan sebagai pengganti popok yang tak mampu kubelikan untuk suamiku. Tubuhnya kian menyusut, tinggal tulang yang terbungkus kulit. Ia hanya bisa meringkuk, menahan nyeri yang tak ada habisnya. Berobat ke rumah sakit hanyalah mimpi yang terlalu jauh, obat warung murah menjadi satu-satunya harapan pereda nyerinya…” -Modesta Malo, Istri Pak Yohanes-“Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh, selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah yang kupuji.” (Yeremia 17:14). Doa itu tanpa henti dipanjatkan suamiku, Yohanes Bulu Poety (62 thn), Ia menanti keajaiban terjadi di tengah penderitaannya.Dahulu, suamiku adalah sosok yang aktif melayani gereja dan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Namun semua itu harus terhenti ketika nyeri hebat mulai menyerang pinggangnya. Awalnya, suamiku mengira Ia mengalami usus buntu. Tapi kenyataan lebih buruk dari mimpi buruk manapun.Kanker ganas menyerang saluran kencingnya. Risiko kelumpuhan terus mengancam. Dokter menyarankan kemoterapi dan operasi pengangkatan sel kanker, dengan biaya puluhan juta rupiah. Kami mencoba memohon ke pihak rumah sakit agar suamiku bisa berobat tanpa biaya, tapi hasilnya sia-sia.Sudah 4 Tahun suamiku berjuang melawan kanker ganas ini. Berkali-kali ia berteriak histeris menahan nyeri di pinggangnya. Persendian lututnya pun sering terasa seperti diremuk, hingga kakinya tak lagi bisa digerakkan.Lahan hingga peternakan sudah dijual demi pengobatan suamiku. Bolak-balik dari Sumba, NTT ke Denpasar, Bali menguras segalanya. kini, tak ada lagi harta tersisa, bahkan untuk sekedar kontrol rutin jarang dilakukan. Kini, akulah yang menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Setiap subuh aku pergi ke ladang memanen sayuran. Siangnya, aku menyiapkan makanan dan mengganti popok kain suamiku. Setelah itu, aku berkeliling menjual hasil ladang, berharap cukup untuk makan hari ini.Aku harus bertahan menghadapi terik matahari, hujan deras, rasa lapar, dan haus, demi sesuap nasi. Syukurlah, Tuhan masih menghadirkan orang-orang baik. Tetangga kerap mengantarkan makanan dan sesekali membantu merawat suamiku.Saat ini, suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, air mineral, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Yohanes tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Yohanes!
Dana terkumpul
Rp 4.091.002
10 hari lagi
Dari Rp 13.809.000
Donasi
Kesehatan
Ma, Aku Ingin Bisa Berjalan dan Sekolah Lagi
Kondisi kaki Kiki ( 12 tahun ) sejak lahir memang sudah berbeda, tidak seperti anak normal lainnya. Bisa dibilang itu awal mula ia mengidap Osteogenesis imperfecta. Penyakit genetik langka yang ditandai dengan tulang rapuh dan lemah, sehingga menyebabkan mudah patah.Sempat dilakukan penambahan urat di kedua kakinya di RSUD Arifin Achmad supaya kondisi kaki bisa lurus. Walaupun sempat bisa berjalan sampai usianya 2 tahun, namun kondisinya kembali memburuk setelah ia terjatuh dan kakinya mengalami patah tulang. Sudah dilakukan belasan operasi di RS Eka Hospital dan RSCM Jakarta, namun belum ada perubahan maksimal untuk Kiki. Ia harus terus menjalani pengobatan untuk menghindari kerapuhan tulang yang nantinya dapat membuatnya tak bisa berjalan.Akibat osteogenesis imperfecta yang dideritanya, Kiki kini tak bisa sekolah, hanya bisa berobat dan minum obat serta susu tulang dengan rutin.Orang tua berharap ada keajaiban untuk Kiki bisa sembuh. Karena dokter mengatakan alat yang dibutuhkan untuk kaki Kiki hanya bisa dipesan dari luar negeri dengan biaya yang sangat mahal. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan pas-pasan. Perjalanan Kiki masih panjang. Ia ingin bisa berjalan dan meraih cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur'an.Yang bisa kita bantu saat ini ialah memenuhi kebutuhan obat yang tidak ditanggung BPJS serta kebutuhan lainnya selama masa pengobatan Kiki. TemanBaik, jangan biarkan tulangnya rapuh, bangkitkan semangatnya dengan bantuanmu.Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul
Rp 13.111.587
9 hari lagi
Dari Rp 70.355.000
Donasi