Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Tuhan, Anakku Harus Kehilangan Matanya di Usia 2 Tahun Akibat Kanker Ganas
“Anakku dinyatakan kanker mata ganas dan harus operasi pengangkatan bola mata! Suamiku sampai terjatuh dari lantai dua karena tak sanggup menerima kenyataan pahit itu. Perasaan hancur kami sebagai orang tua, melihat anak harus menanggung penderitaan sebesar ini.”“Setelah operasi, anakku juga harus menggunakan bola mata palsu. Tapi karena kondisi ekonomi yang terbatas, aku hanya bisa menyewa bola mata palsu yang harus diganti tiap 3 bulan sekali untuk anakku. Itupun aku sampai nunggak kontrakan 3 bulan dan menjual motor, hanya agar anakku bisa tetap memakai bola mata palsu” -Erningsih, Orang tua Arshaka-Awal tahun 2025 lalu, aku melihat bintik putih muncul di bola mata sebelah kiri Arshaka Adnan Shaquille (2 thn). Dokter di puskesmas bilang itu bukanlah hal serius, jadi aku mencoba tenang. Namun, dua bulan berlalu, bintik putih itu semakin melebar dan firasatku mulai tak enak.Saat hasil pemeriksaan keluar, hatiku bagai dihantam benda keras. Dokter mengatakan anakku mengalami kanker stadium 3. Satu-satunya cara agar kanker itu tak terus menyebar adalah operasi pengangkatan bola mata. Tuhan, aku tak rela! Aku menangis sejadi-jadinya, memeluk anakku yang belum mengerti apapun. Aku bahkan sempat menolak melanjutkan pengobatannya, karena tidak sanggup membayangkan anakku kehilangan penglihatannya.Namun kenyataan jauh lebih kejam, kondisi Arshaka menurun drastis! Matanya membengkak, tubuhnya demam, sesak napas, dan matanya sudah tak lagi bisa merespon maupun melihat. Seketika aku merasa gagal sebagai seorang Ibu, apalagi anakku terus menangis.Akhirnya, dengan hati yang hancur, aku merelakan operasi pengangkatan bola mata kiri anakku karena takut kehilangan nyawanya. Tapi perjuangan belum berhenti, Ia harus terus menjalani kemoterapi karena kanker sudah menyebar pada satu saraf di belakang matanya.Kini, setiap sesi kemoterapi membuat tubuh kecilnya lemah, mual, dan muntah. Luka bekas operasi masih sering nyeri, bahkan ia tak boleh kelelahan. Tapi syukurlah, anakku selalu berjuang untuk hidupnya, seringkali Ia mengangkat tangannya dan berdoa dengan keras untuk kesembuhannya. Di sisi lain, kami terus berjuang di tengah kesulitan ekonomi. Suamiku hanya seorang kuli bangunan, penghasilannya tak menentu. Sering kali kami tak mampu membeli obat atau membayar ongkos ke rumah sakit.Keterbatasan biaya ini selalu menjadi jurang yang tak ada habisnya meski kami sudah habis-habisan. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arshaka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arshaka!
Dana terkumpul
Rp 7.864.006
2 hari lagi
Dari Rp 10.161.000
Donasi
Pendidikan
Hidup dengan Ayahnya yang Sakit-sakitan, Antonius Terancam Putus Sekolah!
“Sekolah terus, Nak, jangan pikirkan Bapak, suatu hari nanti hidupmu akan lebih baik.” Antonius Harefa (14 thn) terancam putus sekolah! Sejak ibunya meninggal, Ia hanya hidup berdua dengan ayahnya yang kini sakit-sakitan. Setiap hati Ayahnya harus membuat pilihan menyakitkan, antara membeli obat, atau membiayai uang sekolah Antonius yang lama menunggak.Tentu, beban hidup itu pernah sesekali mematahkan hati dan semangat Antonius. Bayangkan saja, Ia berangkat sekolah dengan seragam robek dan sepatu bolong. Belum lagi, Ia sangat malu karena tunggakan sekolahnya semakin menumpuk. Namun ia tetap datang, meski hatinya selalu dihantui rasa takut dipanggil pihak sekolah. Saat ini Antonius duduk di bangku kelas 3 SMP Swasta Rido Balaekha Cemerlang, Nias Selatan, Sumatera Utara. Setiap hari, berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk sampai ke sekolah. Bahkan, saat hujan deras pun, Ia terjang dengan sandal jepitnya yang sudah tipis, demi tidak menyia-nyiakan hari sekolahnya. Segala keterbatasannya tidak pernah membuat Antonius berhenti mencetak prestasi. Ia pernah juara 1 lomba solo vocal dan menjadi juara 2 membaca puisi. Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang jujur, rajin, dan selalu membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.Sejak kecil, Antonius memang suka mengajari orang lain. Ia selalu mengingat pesan almarhum ibunya yang bermimpi melihat putranya menjadi seorang guru suatu hari nanti. Setiap kali ia membantu temannya memahami pelajaran, semangat itu seperti kembali hidup.Namun, kondisi penyakit Ayahnya semakin parah hingga tak bisa lagi bekerja. Dulu, ayahnya membanting tulang sebagai pencetak batu bata dan mencari tambahan dengan mengumpulkan biji pinang dari kebun untuk dijual. Kini, Ayahnya hanya mengandalkan uluran tangan tetangga untuk sekedar bertahan hidup. Sedangkan uang sekolah Antonius terus menumpuk, Ia juga butuh membeli peralatan untuk menunjangnya sekolah.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Antonius untuk melanjutkan sekolah dan mengejar cita-citanya menjadi guru. Yuk, Klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk membantu Antonius!
Dana terkumpul
Rp 1.137.000
14 hari lagi
Dari Rp 7.000.000
Donasi
Kemanusiaan
Secangkir Kasih untuk Anak-Anak Istimewa Rumah Ceria Down Syndrome
Di balik setiap senyum anak dengan Down Syndrome, ada dunia yang penuh warna, dunia yang mengajarkan kita tentang ketulusan, kesabaran, dan cinta tanpa syarat.Anak-anak di Rumah Ceria Down Syndrome by POTADS, tumbuh dengan semangat yang luar biasa. Mereka mungkin belajar dengan cara yang berbeda, tetapi mereka mencintai dengan sepenuh hati, berusaha dengan seluruh jiwa, dan selalu membawa kehangatan bagi siapa pun yang ada di sekitarnya.Di setiap langkah kecil mereka, ada perjuangan besar demi bisa mandiri, diterima, dan dipercaya. Oleh karena itu, melalui program Pelatihan Barista dan Pengadaan Mesin Kopi, GKI Pondok Indah bersama jemaat ingin menjadi bagian dari perjalanan itu. GKI Pondok Indah ingin membuka pintu kesempatan agar anak-anak istimewa ini dapat belajar meracik kopi, menyalurkan kreativitas mereka, dan menemukan rasa percaya diri dari setiap cangkir yang mereka hasilkan.Bayangkan, wajah mereka yang akan berseri saat berhasil membuat secangkir kopi pertama. Tangan kecil mereka yang bekerja dengan penuh semangat, mata mereka yang berbinar karena merasa mampu. Di sanalah kasih bekerja nyata, bukan sekadar memberi, tetapi memberdayakan.GKI Pondok Indah ingin membantu mewujudkan ruang belajar yang penuh cinta dan penerimaan, tempat di mana anak-anak Down Syndrome bisa tumbuh, berlatih, dan menemukan kebahagiaan dalam karya mereka sendiri.Mari bersama menghadirkan secangkir kasih yang menghangatkan hati. Di setiap tetes kopi yang mereka seduh, tersimpan cinta, harapan, dan doa dari anak-anak istimewa yang berani bermimpi di dunia yang kadang lupa memberi mereka ruang.#TemanBaik, Rp100 ribu yang kita berikan adalah bagian dari cerita indah ini. Dimana setiap anak istimewa bisa berdiri tegak dan berkata, “Aku bisa.” Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 22.436.000
9 hari lagi
Dari Rp 35.000.000
Donasi