Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
7 Tahun Aina Berjuang Sembuh Bertahan dari Kelainan Usus Besar
“4 jam perjalanan ku tempuh sambil menggendong anakku di atas sepeda motor ke rumah sakit. Hujan deras membuat perjalanan semakin terasa berat. Begitulah hari-hari yang penuh kepahitan karena penyakit yang perlahan menggerogoti pencernaannya.”“Sampai hari ini, ia masih menahan perih yang luar biasa dari luka bekas operasinya. Setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan. Ia semakin sulit beraktivitas, bahkan sekolah yang begitu ia rindukan pun harus tertunda.” -Indarsih, Orang tua Aina-Aina Ramadhani (7 thn), merupakan anak pertamaku yang menderita kelainan usus besar (hisprung). Masalah pencernaannya ini sudah terlihat sejak usia 6 bulan, Ia mengalami Buang Air Besar secara terus-menerus tanpa henti. Tentu hal itu membuatku curiga, ada sesuatu yang tak wajar.Saat aku membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan anakku mengalami masalah usus besar. Selain itu, anakku harus menjalani operasi jika tidak mau nyawanya terancam. Aku terdiam seketika dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku takut kehilangan anakku!Di luar ruang operasi, aku menunggu anakku sambil memanjatkan doa untuk keselamatan. Hingga akhirnya dokter menyatakan operasinya berjalan lancar, saat itulah aku bisa lega luar biasa. Namun, hatiku hancur ketika menyaksikan perut anakku harus dilubangi sebagai jalan BAB-nya.Setiap hari, aku harus mengganti kantong stoma yang di tempelkan di perutnya yang berlubang sebagai tempat pembuangan airnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, Aina selalu menunjukkan semangat yang membuatku belajar arti dari sebuah kesabaran dan ketabahan.“Mama, aku pengen cepat sembuh, biar bisa ngaji dan sekolah lagi,” itulah kalimat yang selalu diucapkannya dengan senyum penuh harap. Rasanya aku terpukul sekali, karena aku tidak ada yang bisa ku lakukan agar Ia bisa sembuh saat itu juga. Saat ini, Aina masih harus menjalani operasi tahap kedua, yaitu penutupan stoma. Kondisinya kemungkinan pulih dalam 3-4 bulan ke depan. Sementara biaya pengobatannya yang panjang cukup besar. Suamiku hanya pedagang bakso keliling, penghasilan yang kami dapat terkadang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan, demi pengobatan Aina, kami harus berhutang ke sana kemari. Aina saat ini membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aina tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aina!
Dana terkumpul
Rp 5.570.000
4 hari lagi
Dari Rp 5.394.000
Donasi
Anak
Lambungnya Terancam Bolong! Anak Tukang Ojek Berjuang dari Berbagai Penyakit
“Dokter mengatakan lambung anakku terancam bolong jika pengobatannya terhenti! Cairan asam lambung yang terus meningkat, dikhawatirkan menetes ke usus dan menggerogoti tubuh kecilnya. Jika itu terjadi, Ia juga bisa kehilangan nyawanya.”“Aku terpaku, tak mampu berkata apa pun melihat kondisi anakku yang memprihatinkan. Tubuhnya lemas dan kurus, sampai tulangnya kian menonjol dari balik kulitnya. Sementara aku kesulitan biaya untuk melanjutkan pengobatannya…” -Dian Rustami, Orang tua Salman-Muhammad Salman Alfarizi (10 bln) tidak tumbuh seperti anak-anak lain ketika usianya menginjak 6 bulan. Saat kusuapkan makanan, Ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya. Awalnya, aku hanya mengira Ia sedang tumbuh gigi. Namun setelah bertemu dokter, kenyataan pahit justru menamparku.Ada benjolan di belakang telinga anakku! Setelah diperiksa lebih lanjut, anakku dinyatakan positif TB Paru. Sejak itu, kondisi anakku semakin drop dan sering keluar masuk rumah sakit. Bahkan, Ia nyaris kehilangan nyawanya akibat sesak napas hebat.Seiring berjalannya waktu, penyakit anakku justru bertambah. Anakku divonis gizi buruk karena tubuhnya yang lemah selalu disertai demam, muntah, dan dehidrasi. Ia harus makan dan minum melalui selang NGT yang dimasukkan dari hidungnya, karena setiap makanan yang masuk selalu Ia tolak.Cobaan tak berhenti di situ, setelah dipasang NGT, muntahnya justru semakin parah. Aku sempat memberinya susu alergi, berharap ada perubahan. Tapi anakku tetap tersiksa oleh muntah yang tak kunjung reda.Setelah kembali periksa ke rumah sakit, anakku membawa diagnosa baru, yaitu gerd akut, kelainan lubang kencing (hipospadia), hingga amandel. Tuhan, masih pantaskah tubuh sekecil itu menanggung beban sebanyak ini? Ia terlihat begitu kelelahan, Ia masih menanti mukjizat-Mu. Tidur anakku tak pernah tenang sampai matanya sayu. Ia sering terbangun karena muntah atau perut yang bergejolak. Dalam sebulan, Ia bisa 12 kali periksa ke dokter. Namun, Ia masih menunjukkan semangatnya untuk terus hidup melalui senyuman mungilnya.Anakku harus menjalani operasi, namun biaya menjadi kendala besarku. Motor, emas, dan barang berharga lainnya sudah habis dijual untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku hanyalah pengemudi ojek online. Meski Ia sudah bekerja dari gelap pagi ketemu gelap malam, penghasilannya tetap tak menutupi biaya pengobatan anakku.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi bolak-balik ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu khusus, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Salman tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Salman!
Dana terkumpul
Rp 27.650.501
2 hari lagi
Dari Rp 27.350.000
Donasi
Kemanusiaan
Warga Panik! Gunung Semeru Meletus Hingga Berstatus Siaga
“Gunung Semeru kembali meletus! Kali ini, ledakannya sangat menggelegar, hingga awan panas menggumpal tinggi dan menyebar cepat hingga sejauh 8,5 Km.”“Warga yang awalnya hanya memandang dari jauh, tiba-tiba diliputi kepanikan ketika abu pekat bergerak mendekat menelan langit. Warga berlarian dan menjerit histeris, memanggil anggota keluarga yang terpisah agar menyelamatkan diri. Kepanikan masal itu membuat situasi semakin mencekam.”Letusan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini terjadi pada Rabu (19/11/2025) pukul 16.00 WIB. Dalam sekejap, kedamaian para saudara kita yang tinggal di sekitar lereng gunung lenyap.Para ahli dari MAGMA Indonesia juga merekam dugaan awan panas guguran yang terus berlangsung, bahkan setelah erupsi awal. Kini, gunung yang berada di Jawa Timur ini telah berubah status, dari Level II (Waspada) naik menjadi Level III (Siaga).Peringatan keras dikeluarkan, yaitu masyarakat dilarang beraktivitas dan mendekati area dalam radius 2,5 kilometer dari puncak. Hal itu karena risiko batu pijar dapat meluncur kapan pun dan bisa mengancam nyawa.Selain itu, warga diminta ekstra waspada terhadap potensi awan panas, aliran lava, dan lahar yang dapat mengalir melalui sungai-sungai berhulu Semeru. Di mana sungai-sungai tersebut diantaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungainya.Begitulah teror yang dirasakan sejuta nafas di lereng Semeru. Rumah-rumah mereka tertutup debu, napas menjadi sesak, dan ketakutan membayang di mata anak-anak. Suara sirine peringatan menggema di udara, dan banyak yang langsung naik ke tempat yang lebih aman.Situasi ini bukan lagi sekadar bencana alam. Ini adalah krisis kemanusiaan yang terjadi di depan mata kita. Di tengah kepanikan itu, kita bisa memberikan mereka harapan dan bantuan berupa sembako, obat-obatan, masker debu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membuat para warga di sekitar Gunung Semeru tidak merasa sendiri. Mari beri mereka harapan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 3.032.000
4 hari lagi
Dari Rp 250.000.000
Donasi