Panggilan Mendesak

camp
Anak

Sel Kanker di Tubuhnya Sempat Mencapai 87%! Kenzie Masih Terus Bertahan

“Sel kanker di tubuh anakku sempat mencapai 87%! Tubuhnya sampai lemas tak berdaya, Ia menangis menahan nyeri, hingga harus menerima transfusi 3 kantong darah merah dan 2 kantong trombosit demi bertahan hidup. Di usianya yang harusnya bebas tertawa dan bermain, anakku justru harus bolak-balik menjalani kemoterapi.”“Perjalanan anakku menuju sembuh masih panjang, tapi aku kesulitan biaya untuk pengobatannya membludak dan kemampuanku terbatas. Sementara itu, sel kanker bisa menyebar hingga ke kepalanya jika pengobatan terhenti. Aku takut kehilangan kesempatan menyelamatkan anakku akibat kendala biaya.” -Viyadhita, Orang tua Kenzie-Anakku, Muhammad Kenzie Arsenio (2 thn), sudah menjalani 10 kali kemoterapi. Pengobatan itu membawa dampak yang begitu berat untuk tubuh kecilnya. Seluruh badannya terasa sakit, lemas tak berdaya, wajahnya pucat, disertai batuk dan flu.Padahal tubuhnya harus selalu dalam kondisi stabil agar bisa melanjutkan kemoterapi. Semua bermula dari demam biasa, hingga bibirnya pecah-pecah sampai berdarah. Dokter sempat menduga anakku terkena DBD dan merujuk kami ke rumah sakit yang lebih besar. Namun siapa sangka, gejala yang terlihat sepele itu berubah menjadi kabar paling menghancurkan dalam hidupku, anakku divonis menderita kanker darah.Rasa kecewaku tak terbendung, tubuhku langsung lunglai mendengar anakku diserang penyakit ganas. Tapi aku juga harus kuat, karena harus berjuang mendampingi anakku pengobatan. Saat ini, kondisi anakku sering menurun drastis, demam, hingga tidak bisa jalan karena persendiannya sering linu. Emosinya pun berubah, ia sering marah-marah, mungkin karena tubuh kecilnya terlalu lelah menahan sakit.Demi menjaga kesehatannya, anakku harus minum susu khusus dan mengkonsumsi makanan bergizi. Namun kebutuhan sederhana itu pun sering kali sulit kami penuhi. Suamiku hanya bekerja sebagai pemasang dekorasi pernikahan, dengan penghasilan yang tak menentu karena pekerjaan tidak selalu adaBahkan, aku butuh biaya yang cukup besar untuk sekedar membawa anakku kontrol rutin karena jarak yang jauh, dari Sukabumi, Jawa Barat ke Bandung. Belum lagi,obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kenzie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kenzie! 
Dana terkumpul Rp 15.940.001
3 hari lagi Dari Rp 15.900.000
Donasi
camp
Kesehatan

Buruh Las Menjadi Tak Berdaya Akibat Melawan Epilepsi Akut Selama 3 Tahun

Aku Rapiah, sedangkan Jaja adalah adikku yang sedang menjalani kehidupan yang berat selama 3 tahun terakhir. Sebelumnya Ia sehat dan menjalani hari-hari seperti biasanya, hingga suatu hari Ia mengalami kejang-kejang kecil. Aku terkejut dan mulai curiga bahwa kejadian itu merupakan pertanda besar.Saat aku membawanya berobat, adikku hanya diberikan obat. Aku kira setelah itu adikku akan sembuh, tapi harapanku mulai memudar ketika jaja mengalami kejang berulang yang semakin sering dan semakin hebat. Setelah dibawa ke rumah sakit, Jaja didiagnosa epilepsi akut. Sejak itu, kejang-kejang menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan, di saat-saat tertentu Jaja terlihat komat-kamit sendiri, seolah sedang mengungkapkan rasa sakitnya yang tak tertahankan.Di usia 41 tahun, tubuhnya semakin melemah. Jaja yang dulu dikenal sebagai buruh las keliling yang giat bekerja, perlahan kehilangan kemampuannya untuk berdiri, berjalan, bahkan mengurus dirinya sendiri.Jaja sering terjatuh setiap Ia mencoba untuk berdiri, tangannya sering tremor, hingga suaranya semakin jarang terdengar. Sekedar untuk makan pun, Ia harus dibantu. Bahkan, untuk sekedar buang air, Ia lakukan di tempat tidur.Di sela-sela kondisinya yang lemah, Jaja sering mengungkapkan harapannya ingin sembuh, ingin kembali bekerja dan ingin menikah. Keinginananya sederhana, tapi betul-betul mengiris hatiku. Aku harus menempuh jarak tujuh kilometer setiap akan membawa Jaja ke rumah sakit. Bagi sebagian orang, itu terdengar cukup dekat, tapi bagiku itu perjalanan yang berat. Pekerjaanku hanyalah tukang cuci gosok, biaya transportasi saja sudah menjadi beban yang tak ringan.Terkadang, aku harus berhutang ke tetangga untuk memenuhi biaya pengobatannya. Jaja saat ini masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, membeli kursi roda, susu, pampers dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jaja tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jaja!   
Dana terkumpul Rp 665.001
13 hari lagi Dari Rp 6.320.000
Donasi
camp
Kesehatan

Berawal dari Kecelakaan Motor Biasa, Ternyata Jadi Penyebab Aku Kanker Otak Stadium 3!

“Aku mengalami kecelakaan tunggal hingga jatuh dari motor! Awalnya semua terlihat sepele dan baik-baik saja, tapi ternyata hal itu berujung fatal dan menjadi ujian panjang dalam hidupku. Sejak itu, aku mulai sering sakit kepala hebat, penglihatan memburam dan tubuhku lemas.”“Akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke dokter, ternyata aku mengalami kanker otak bahkan sudah stadium 3! Saat itu, aku merasa duniaku runtuh. Apalagi, penyakit ini beresiko menyebar ke bagian tubuhku yang lain, bisa sampai mengancam nyawaku.”Aku Suhedi (34 thn), sejak didiagnosa penyakit mengerikan, kondisi kesehatanku terus menurun. Aku mendadak mengalami kejang-kejang, daya ingatku menurun, hingga kesulitan berbicara dengan jelas. Aktivitas sederhana yang biasanya mudah dilakukan, kini menjadi hal yang mustahil. Aku tak lagi bisa mencari nafkah, berkendara, bahkan sekedar untuk berdiri maupun berjalan lama pun aku tak sanggup.Proses pengobatanku juga tidak mudah, aku sudah menjalani operasi biopsi, operasi pengangkatan sel kanker. Tak cukup sampai disitu, aku juga harus menjalani 33 kali radiasi dan 12 kali kemoterapi. Bekas jahitan besar di kepalaku itu menjadi penanda perjuangan besarku. Aku harus menempuh perjalanan jauh dari Banten ke rumah sakit di Jakarta tiap kali berobat. Tak ada kata menyerah demi kesembuhanku. Aku ingin sekali bisa hidup sehat seperti dulu, bisa bekerja untuk keluarga dan hidup tanpa rasa sakit.Namun, banyak juga pengorbanan besar yang tak terlihat dari keluarga demi menyelamatkanku. Keluarga sampai menjual tanah sawah, motor, barang-barang elektronik, bahkan meminjam uang sana-sini untuk pengobatanku selama ini. Pengobatanku masih panjang, keluargaku sudah kebingungan membiayaiku berobat. Sementara istriku hanya pedagang sayur di pasar, setiap hari Ia terus berdoa bahkan untuk sekedar makan sehari-hari. Sementara itu, aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Suhedi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Suhedi! 
Dana terkumpul Rp 595.000
12 hari lagi Dari Rp 5.620.000
Donasi

Pilihan Campaign