Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Terjatuh dan Pingsan Sendirian di Rumah, Pak Edison Berjuang Melawan TB Paru

“Cobaan ini terasa begitu berat. Baru sembilan bulan lalu, aku kehilangan istriku tercinta yang wafat setelah berjuang panjang melawan kanker rahim.  Disaat aku masih berusaha bangkit dari kehilangan itu, aku justru didiagnosa sakit paru-paru.”“Ketika sakitku kambuh, aku bisa terkapar hingga tak sadarkan diri. Ironisnya,  tanpa ada seorang pun yang tahu, aku hanya tergeletak sendiri di rumah menahan sesak napas.  Jarak rumah ke rumah sakit mencapai 50 km, sementara aku tak lagi memiliki biaya dan kekuatan fisik untuk berobat.”Perkenalkan, aku Edison Purba (60 thn). Penyakit yang menyerang pernapasanku ini mulai muncul ketika usiaku 53 tahun. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkan keluhan sesak napas yang sering datang. Toh, aku masih bisa beraktivitas seperti biasa. Namun seiring waktu, sesak napasku semakin parah. Setiap malam, rasanya seperti ada yang mengganjal di dadaku setiap kali menarik napas. Melihat kondisiku yang terus memburuk, almarhumah istriku saat itu tidak tega dan langsung membawaku ke rumah sakit. Disanalah dokter mendiagnosaku mengalami TB Paru.Seminggu aku dirawat di rumah sakit, akhirnya aku menjalani operasi bikroskopy untuk melihat kondisi paru-paruku. Tapi sampai sekarang, kondisiku masih lemah, napasku berat, dan aku tetap memerlukan perawatan. Aku tidak lagi mampu bekerja seperti dulu.Alat bantu oksigen kini menjadi sahabat yang selalu menempel di hidung dan mulutku. Hanya dengan itu aku bisa bernapas.  Hidupku serba terbatas, bahkan motor butut peninggal almarhumah istriku, satu-satunya kenangan yang masih ada, terpaksa kujual untuk biaya berobat. Selama ini, untuk kebutuhan sehari-hari, aku hanya bergantung pada bantuan anak dan tetangga yang iba melihat keadaanku. Warga sekitar sering mengantarkan makanan dan minuman saat aku tak mampu apa-apa selain berbaring pasrah di rumah.Aku benar-benar kebingungan untuk biaya pengobatanku. Saat ini aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Edison tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Edison!
Dana terkumpul Rp 2.994.001
4 hari lagi Dari Rp 3.287.000
Donasi
camp
Anak

Tolong Umar Pulih! Kejang & Koma Mengancam Hidupnya

Di awal November 2024, Umar Hanan Wibowo (5 tahun) mengalami kejang pertama kali hingga mulutnya mengeluarkan busa. Saat dilarikan ke IGD, kejangnya terus berulang, hingga akhirnya Umar koma selama satu minggu dan harus dirawat di ruang PICU.Umar yang tak sadarkan diri dirujuk ke RSUD di Jakarta Pusat. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan menemukan adanya gangguan serius pada otaknya.Umar menjalani perawatan intensif selama 16 hari, sempat pulang selama dua hari, namun kondisinya kembali memburuk. Dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat, Umar dilarikan kembali ke IGD dalam keadaan tidak sadarkan diri.Hingga kini, Umar masih harus menjalani pengobatan untuk infeksi otak yang dideritanya. Pengobatan ini tidak boleh terhenti, jika tidak, kondisinya dapat semakin memburuk. Bahkan, bisa mengancam nyawa Umar. Namun, biaya pengobatan yang tidak ditanggung jaminan kesehatan menjadi beban berat bagi keluarganya.Ayah Umar, Ari Wibowo, bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan 675 ribu rupiah per minggu, yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Keluarga Umar telah berusaha semaksimal mungkin untuk pengobatannya. #TemanBaik untuk bersama-sama membantu Umar melanjutkan pengobatannya. Caranya klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 5.592.010
10 hari lagi Dari Rp 10.539.000
Donasi
camp
Anak

Bantu Anak Buruh Tukang Jahit Sembuh dari Kelainan Jantung Bawaan

Kami menjual tanah warisan orang tua untuk membiayai perjalanan pengobatan Gama ke Jakarta. Meski hasil penjualan tidak seberapa, semangat untuk membawa Gama mendapatkan perawatan tetap membara. Ini anakku, Gama (2th). Kami tinggal di Pegaden Tengah, Kel. Pegaden Tengah, Kec. Wonopringgo - Pekalongan. Gamma lahir dari keluarga sederhana yang mengandalkan penghasilan ayahnya sebagai buruh tukang jahit pakaian. Sehari-hari, ayahnya berjuang dengan upah harian Rp 60 ribu rupiah, mencukupi untuk kebutuhan makan keluarga. Walaupun kondisi ekonomi kami terbilang sulit, namun kehadiran Gama merupakan anugerah terindah. Kehadirannya menjadi sinar dalam keluarga kami. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika Gama mengalami masalah kesehatan serius.Gama lahir sehat di RSUD Kraton Pekalongan. Sayangnya, pada usia 5 bulan ia mulai mengalami sesak nafas, demam, dan batuk-batuk. Pertumbuhannya pun terhenti secara drastis. Ini semua karena kelainan jantung bawaan diagnosis VSD yang dideritanya. Ini kabar yang sangat menyedihkan untuk kami. Mendengar kabar ini, kebingungan menghampiri kami. Dana yang diperlukan mencapai 100 juta lebih. Sumber penghasilan kami hanya dari suamiku yang bekerja keras sebagai buruh jahit. Sementara kami tetap harus memenuhi rujukan dokter ke RS Harapan Kita Jakarta supaya anakku mendapatkan penanganan yang lebih baik. Kebutuhan hidup dan biaya di Jakarta sungguh besar, tapi kami hanya bisa berharap akan ada keajaiban dan rezeki dari arah mana saja yang terus memacu kami untuk melangkah menjemput kesembuhan anak kami, Gama.#TemanBaik, usaha demi usaha sudah kami lakukan walaupun hasilnya belum seberapa. Untuk itu kami membutuhkan uluran tangan supaya bisa mencukupi kebutuhan anak kami selama masa pengobatan di Jakarta. Bagi yang ingin membantu, bisa klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul Rp 11.365.009
5 hari lagi Dari Rp 100.000.000
Donasi

Pilihan Campaign