Panggilan Mendesak

camp
Anak

Tumor Ganas Menggerogoti Perut Nadia, Perutnya Terus Membengkak!

“Penyakit langka membuat perut anakku, Nadia Syafira (1 thn), terus membengkak! Awalnya kukira hanya kembung biasa, tapi kian hari perutnya semakin membesar dan menakutkan.”“Nadia mulai kehilangan selera makan, hingga tiba-tiba aku mendapati ada benjolan di sisi kiri perutnya. Saat aku bawa periksa ke rumah sakit, dokter mengatakan ada tumor ganas yang berasal dari sel benih menggerogoti perut anakku! Hatiku hancur hancur berkeping-keping.” -Sri Ayu, Orang tua Nadia-Belum selesai hatiku terguncang menerima vonis penyakit anakku, dokter menyampaikan Nadia harus secepatnya dioperasi. Namun, operasi tersebut hanya bisa dilakukan di rumah sakit luar kota. Aku membisu, aku harus cari biaya kemana?Suamiku baru saja habis masa kontrak kerjanya, kami tidak ada pemasukan uang sepeserpun. Ada rasa nyeri menembus hatiku, kenapa ujian hidupku terlalu berat begini? Tapi menyerah juga aku tidak sanggup, karena aku tidak mau kehilangan putriku tercinta.Aku pun menjual emas yang aku punya, dan nekat membawa anakku pengobatan ke luar kota. Namun, perjalanan itu seperti ujian yang tak kunjung selesai. Dua hari berturut-turut aku datang ke rumah sakit, mengantri berjam-jam, tapi hanya diberitahu bahwa dokternya tak datang.Setelah itu, ketika aku mengambil antrian operasi, ternyata jadwalnya harus menunggu hingga 2 bulan. Hatiku terasa seperti dihantam, Ibu mana yang tidak sakit hatinya, menyaksikan perut anaknya terus menonjol oleh tumor sambil menunggu? Akhirnya aku mencari cara agar anakku dirujuk ke rumah sakit lain. Syukurlah, perjuanganku menunjukkan titik terang. Setelah pindah rumah sakit, Nadia langsung dijadwalkan operasi! Saat ini anakku sedang dalam masa pemulihan. Perlahan senyumnya kembali, ia mulai cerewet dan ceria lagi. Namun, terkadang Ia bisa tiba-tiba murung dan menangis, mungkin karena sakit yang masih datang sesekali. Ia juga sudah mulai bisa berjalan, walau kadang-kadang terjatuh.Namun, kelegaanku itu belum sepenuhnya. Dokter mengatakan sisa tumor anakku masih ada, sehingga pengobatannya masih panjang. Sementara itu, aku terkendala biaya untuk melanjutkan pengobatannya, apalagi tiap bulan harus konsultasi ke rumah sakit di luar kota.Selain transportasi, anakku juga membutuhkan biaya obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya. Suamiku berupaya siang dan malam mengerjakan apapun ikut keluarga. Namun, upahnya juga tidak seberapa, itu pun pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nadia tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nadia!
Dana terkumpul Rp 4.472.501
15 hari lagi Dari Rp 8.268.000
Donasi
camp
Keagamaan

Atap Mushola Al Hidayah Hancur, Hujan Membasahi Tempat Sujud Kami

“Setiap kali hujan turun, hati para jamaah yang beribadah ikut diliputi rasa cemas. Bukan hanya karena derasnya hujan, tapi juga karena genteng mushola yang retak dan bisa runtuh kapan saja. Belum lagi air yang masuk melalui celah atap dan pintu mushola yang sejajar dengan jalanan, membuat lantai mushola akan tergenang!”“Namun, di tengah kekhawatiran itu, para jemaah tetap datang untuk beribadah. Mereka tetap menggelar sajadah di tempat yang lembab dan basah. Bukan karena tak peduli, tapi karena mereka benar-benar tak memiliki biaya untuk memperbaiki rumah Allah itu.”Sejak tahun 2017, Mushola Al Hidayah berdiri sederhana di Desa Teluk Jaya, Pakis Jaya, Karawang. Bangunannya lahir dari hasil swadaya masyarakat dan sumbangan orang-orang di jalanan, karena besar sekali kerinduan warga untuk memiliki tempat mereka bisa bersujud bersama.Kini, sekitar 50 jamaah masih setia beribadah di mushola kecil itu. Di sinilah mereka menunaikan salat berjamaah, mengikuti majelis ta’lim mingguan, membagikan zakat fitrah, hingga menyembelih hewan kurban setiap Idul Adha.Namun, bertahun-tahun berdiri, bangunan mushola juga termakan usia. Atap rapuh dan kayu penopangnya keropos, sementara warga sekitar yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani kesulitan mengumpulkan biaya untuk merenovasi.Saat cuaca panas, suasana mushola terasa gerah dan pengap. Tapi ketika hujan turun, keadaannya jauh lebih memprihatinkan. Air mengalir dari celah genteng dan nyiprat masuk ke dalam mushola. Pengurus bahkan harus menutup bagian samping mushola dengan terpal seadanya, agar jamaah masih bisa beribadah tanpa basah kuyup.Meski begitu, semangat dan keikhlasan tak pernah padam. Karmin Abdurohim (42 tahun), sang pengurus mushola, setiap hari tetap menyapu, mengepel, dan menyemprotkan pewangi agar mushola tetap nyaman. Ia tak ingin para jamaah enggan datang hanya karena kondisi bangunan yang memprihatinkan.Bersama warga, Karmin berusaha keras mengumpulkan dana. Mereka menabung sedikit demi sedikit, mencari donasi di pinggir jalan, bahkan mengirim proposal ke kantor dan media sosial, namun hasilnya belum membuahkan harapan.Tak jarang, Karmin harus mengeluarkan uang pribadinya dari hasil berdagang dan mengajar di PAUD, sekadar untuk membayar token listrik, memperbaiki lampu, mesin air, atau pengeras suara. Semua dilakukan demi satu hal, agar rumah Allah ini tetap hidup dan menjadi tempat sujud yang hangat bagi semua jamaahnya.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Jemaah Mushola Al Hidayah bisa tetap beribadah dengan tenang. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk alurkan tanganmu!
Dana terkumpul Rp 4.420.000
8 hari lagi Dari Rp 51.250.000
Donasi
camp
Anak

Tuhan, Anakku Harus Kehilangan Matanya di Usia 2 Tahun Akibat Kanker Ganas

“Anakku dinyatakan kanker mata ganas dan harus operasi pengangkatan bola mata! Suamiku sampai terjatuh dari lantai dua karena tak sanggup menerima kenyataan pahit itu. Perasaan hancur kami sebagai orang tua, melihat anak harus menanggung penderitaan sebesar ini.”“Setelah operasi, anakku juga harus menggunakan bola mata palsu. Tapi karena kondisi ekonomi yang terbatas, aku hanya bisa menyewa bola mata palsu yang harus diganti tiap 3 bulan sekali untuk anakku. Itupun aku sampai nunggak kontrakan 3 bulan dan menjual motor, hanya agar anakku bisa tetap memakai bola mata palsu” -Erningsih, Orang tua Arshaka-Awal tahun 2025 lalu, aku melihat bintik putih muncul di bola mata sebelah kiri Arshaka Adnan Shaquille (2 thn). Dokter di puskesmas bilang itu bukanlah hal serius, jadi aku mencoba tenang. Namun, dua bulan berlalu, bintik putih itu semakin melebar dan firasatku mulai tak enak.Saat hasil pemeriksaan keluar, hatiku bagai dihantam benda keras. Dokter mengatakan anakku mengalami kanker stadium 3. Satu-satunya cara agar kanker itu tak terus menyebar adalah operasi pengangkatan bola mata. Tuhan, aku tak rela! Aku menangis sejadi-jadinya, memeluk anakku yang belum mengerti apapun. Aku bahkan sempat menolak melanjutkan pengobatannya, karena tidak sanggup membayangkan anakku kehilangan penglihatannya.Namun kenyataan jauh lebih kejam, kondisi Arshaka menurun drastis! Matanya membengkak, tubuhnya demam, sesak napas, dan matanya sudah tak lagi bisa merespon maupun melihat. Seketika aku merasa gagal sebagai seorang Ibu, apalagi anakku terus menangis.Akhirnya, dengan hati yang hancur, aku merelakan operasi pengangkatan bola mata kiri anakku karena takut kehilangan nyawanya. Tapi perjuangan belum berhenti, Ia harus terus menjalani kemoterapi karena kanker sudah menyebar pada satu saraf di belakang matanya.Kini, setiap sesi kemoterapi membuat tubuh kecilnya lemah, mual, dan muntah. Luka bekas operasi masih sering nyeri, bahkan ia tak boleh kelelahan. Tapi syukurlah, anakku selalu berjuang untuk hidupnya, seringkali Ia mengangkat tangannya dan berdoa dengan keras untuk kesembuhannya. Di sisi lain, kami terus berjuang di tengah kesulitan ekonomi. Suamiku hanya seorang kuli bangunan, penghasilannya tak menentu. Sering kali kami tak mampu membeli obat atau membayar ongkos ke rumah sakit.Keterbatasan biaya ini selalu menjadi jurang yang tak ada habisnya meski kami sudah habis-habisan. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arshaka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arshaka!
Dana terkumpul Rp 7.864.006
3 hari lagi Dari Rp 10.161.000
Donasi

Pilihan Campaign