Panggilan Mendesak

camp
Kemanusiaan

Gerakan Berbagi Makan Siang Gratis untuk Kaum Duafa

#Berbagitakkanrugi merupakan aktivitas atau gerakan membagikan makan siang gratis kepada orang-orang yang membutuhkan yang diadakan saat akhir pekan. Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak tahun 2022. Tujuan utama gerakan ini adalah kami ingin mengajak teman semua untuk sama-sama bergerak membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Kami tidak ingin menjadi organisasi ataupun komunitas.Kami berencana membuat kegiatan ini menjadi kegiatan rutin setiap seminggu sekali di sekitaran Kota Pekanbaru. Maka dari itu, karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang baik, kami ingin mengajak Teman-temanBaik untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.   Selain itu, kami juga berencana untuk tetap melakukan kegiatan #Berbagitakkanrugi di bulan Ramadhan dengan membagikan makan gratis untuk saudara-saudara kita berbuka puasa. Kami senang apabila TemanBaik ikut mendukung gerakan ini. Dana yang terkumpul akan dibelikan bahan-bahan makanan yang nantinya akan diolah menjadi makan sehat dan bergizi. Bantuan untuk gerakan #Berbagitakkanrugi dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang 
Dana terkumpul Rp 10.905.050
13 hari lagi Dari Rp 20.400.000
Donasi
camp
Anak

Perutnya Sampai Dilubangi, Radikta Berjuang dari Tumor Ovarium Stadium 3

“Anakku mengalami tumor ovarium stadium 3 di usianya yang baru menginjak 5 tahun! Sejak itu, tiada hari yang aku lalui tanpa air mata. Hatiku hancur, melihat tubuh kecilnya yang dulu ceria, kini terbaring lemah menahan sakit. Makan dan minum pun kini harus bergantung pada selang NGT yang ditancapkan ke hidungnya.”“Tak hanya itu, untuk buang air besar pun ia harus melalui lubang di perutnya yang dipasangi kantong kolostomi. Setiap detik yang ia jalani terasa seperti pertarungan melawan rasa sakit. Tubuh kecilnya belum mampu melakukan banyak hal, sehingga hampir sepanjang waktu Ia hanya bisa berada dalam pelukanku.” -Tarilah, Orang tua Radikta-Semua terjadi begitu mendadak! Tiba-tiba anakku, Radikta Aprilia Najwa (5 thn), mengalami sembelit. Aku juga menemukan benjolan di bagian kiri perut bawahnya. Aku yang cemas pada hal janggal itu langsung membawanya ke puskesmas.Saat itu dokter menduga ada fases (kotoran) yang mengendap di perut anakku, lalu Ia diberi obat. Hari demi hari aku menunggu dengan penuh harap agar kondisinya membaik. Namun kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan. Ia masih kesulitan BAB. Akhirnya dokter merujuk anakku periksa ke rumah sakit besar.Hasil pemeriksaan membuat hatiku seperti teriris. Ada bakteri di paru-paru anakku, fungsi ginjalnya juga tidak bekerja dengan baik, dan yang paling membuatku terpukul, anakku didiagnosa tumor ovarium. Ia pun harus dirujuk dari Cirebon ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.Sejak saat itu, anakku harus menjalani serangkaian operasi besar. Tumor di tubuhnya diangkat, lalu dibuatkan lubang di perutnya sebagai jalur untuk buang air, dan dipasang selang dari ginjal yang keluar melalui tubuhnya. Tak tega rasanya melihat tubuh kecilnya harus menanggung begitu banyak luka operasi.Kini anakku sedang menjalani kemoterapi. Tubuhnya semakin lemah, ia sering muntah, kehilangan nafsu makan, dan masih kesulitan BAB. Meski begitu, di tengah rasa sakitnya Ia sering berkata ingin segera sembuh agar bisa kembali sekolah dan bermain bersama teman-temannya seperti anak-anak lain.Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa terus berharap dan berdoa untuk kesembuhannya. Namun di sisi lain, aku juga harus menghadapi kenyataan pahit tentang biaya pengobatan. Suamiku hanyalah seorang buruh proyek dengan penghasilan sekitar Rp75 ribu. Demi terus mengobati anakku, aku sudah meminjam uang ke sana-sini bahkan menjual barang-barang yang ada di rumah. Sementara itu, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi bolak-balik ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta berbagai kebutuhan lainnya selama menjalani pengobatan. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Radikta  tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Radikta!
Dana terkumpul Rp 4.579.000
14 hari lagi Dari Rp 44.430.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Sembako untuk Para Difabel di Pelosok Nusa Tenggara Timur!

“Saat melakukan kunjungan pada difabel yang mengalami cerebral palsy dan hidrosefalus, yang aku dapatkan malah kepedihan hati. Aku menyaksikan difabel itu tidur tak berdaya di atas kain tipis, Ia hanya diberikan air gula karena keluarganya tak sanggup membelikan susu.”“Seketika dadaku terasa sesak, air mataku seketika jatuh. Betapa pilunya melihat kenyataan tak ada beras yang tersisa, dan tak ada lauk untuk dimakan. Keluarganya yang lumpuh tak mampu mencari nafkah, hanya bisa berharap belas kasihan tetangga untuk makan. Itulah awal mula aku terketuk untuk menolong para keluarga difabel.”Perkenalkan, aku Nona Mas’ad (34 thn), seorang perawat di sebuah puskesmas kecil di Watu Alo Desa Ndehes, Kecamatan Wae ri’i, Kabupaten Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur. Sejak 2021 lalu, aku membantu para difabel yang hidup dalam keterbatasan. Aku mencoba datang dari rumah satu ke rumah lainnya, mendata semua difabel serta mencatat kebutuhan mereka. Banyak dari difabel tersebut tidak memiliki KTP. Akhirnya aku membantu mereka mengurus KTP dan KK, agar setidaknya mereka bisa mendapatkan BPJS gratis dan memiliki harapan untuk berobat.Selain itu, ternyata banyak dari mereka yang tinggal di rumah tak layak huni dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga mereka rata-rata bekerja di kebun milik orang lain, dengan penghasilan tak menentu.Bahkan, aku pernah menemukan difabel yang tidak bisa berjalan,  tinggal bersama seorang anak berusia 10 tahun. Anak itu seharusnya berada di bangku sekolah, tapi memilih berhenti demi merawat ibunya. Mereka pernah tidak makan selama dua hari. Tak ada beras, hanya jagung yang dipetik dari halaman rumah, itu pun jika ada.Hati ini rasanya tak sanggup hanya melihat. Aku mulai mengumpulkan sumbangan dari teman-teman terdekat. Meski terkadang setiap orang hanya bisa memberikan Rp5 ribu, tapi bantuan itu tetap berarti untuk menyelamatkan seseorang dari lapar hari itu.Namun, dana yang terbatas ternyata juga pernah menjadi masalah serius. anyak dari mereka yang akhirnya tidak bisa berobat karena tidak ada biaya. Aku pernah mengantarkan seorang difabel pulang berobat dengan kursi roda yang kuikat di belakang motorku. Pernah juga ada pasien difabel sekaligus hidrosefalus yang harus menjalani operasi di luar kota. Harapannya begitu besar, tapi kenyataan berkata lain. Biaya transportasi yang dibutuhkan terlalu tinggi, sementara dana yang kukumpulkan tak pernah cukup. Akhirnya, pasien tersebut hanya bisa menangis setiap malam, rasanya aku gagal menjadi relawan. Aku pernah menggunakan gajiku untuk membantu mereka, tapi bantuanku sering tidak cukup untuk beberapa difabel. Aku hanya berharap bantuanku untuk memberikan sembako pada para difabel bisa terus berjalan, agar mereka terus punya alasan untuk bertahan hidup.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan para difabel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup para difabel!
Dana terkumpul Rp 10.065.005
12 hari lagi Dari Rp 22.365.000
Donasi

Pilihan Campaign