Panggilan Mendesak

camp
Anak

Cita-Cita Sekolah yang Terhenti, Rafael Berjuang dari Sakit Jantung dan Abses Otak

“Menginjak usia 6 tahun, anakku menunjukkan tekadnya untuk bersekolah. Ada rasa takut dalam hatiku, khawatir tubuhnya yang rapuh tak sanggup mengikuti aktivitas sekolah. Namun aku tetap mengizinkannya, karena aku ingin Ia merasakan kebahagiaan sederhana, pergi sekolah seperti anak-anak seusianya.”“Meski dengan keterbatasan bicara, anakku tetap aktif dan ceria. Setiap hati aku mengawasinya di sekolah. Semua berjalan lancar, hingga masuk bulan ke-3, akhirnya kesehatan anakku menurun drastis. Tak ada lagi tawanya di kelas, kini hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan berjuang di kamar rumah sakit.” -Herika Priani, Orang tua Rafael-Keceriaan anakku seketika hilang! Tiba-tiba tubuh anakku, Rafael Austin Edgard (8 thn) mendadak lemas dan tak berdaya. Dokter di desaku, di kawasan Kalimantan Barat, tak mampu menangani anakku. Tubuhku gemetar ketakutan, aku tak mau kehilangan anakku!Di tengah kepanikan itu, dokter merujuk anakku untuk berobat ke Jakarta. Tapi aku harus bagaimana? Aku tak punya cukup biaya. Sambil menangis, aku membawa anakku pulang dengan berat hati. Warga desa yang iba, akhirnya gotong royong mengumpulkan dana agar anakku bisa berangkat ke Jakarta. Sejak lahir, Rafael memang telah diuji dengan sakit. Ia mengalami infeksi tali pusar. Saat usianya menginjak 2 tahun, ia mulai sering sesak napas dan didiagnosis infeksi paru-paru. Kondisinya terus memburuk, hingga pemerintah desa membantu mengurus BPJS agar anakku bisa dirawat di rumah sakit. Saat itulah, penyakit jantung itu terungkap!Aku menyaksikan anakku terbaring dipasangi oksigen tinggi. Penyedotan darah juga dilakukan, karena ditemukan darah kotor dan kental di tubuh anakku. Namun, setelah berobat ke Jakarta, ternyata dokter menemukan anakku mengalami infeksi otak (abses serebri).Hatiku hancur melihat keadaannya. Di usia yang seharusnya ia belajar, bermain, dan tertawa bersama teman-temannya, Rafael justru harus menghabiskan hari-harinya di ranjang rumah sakit, berjuang melawan penyakit yang begitu berat.Pantas saja, anakku sering pusing hebat, bahkan pada kondisi tertentu membuat tubuhnya lumpuh. Anakku harus menjalani operasi kepala dan dirawat selama dua bulan penuh. Syukurlah, setelah tindakan, anakku sudah tak lagi mengalami pusing. Saat ini, anakku masih menunggu jadwal operasi jantung di Jakarta. Namun lagi-lagi, biaya menjadi tembok besar di hadapan kami. Suamiku hanya bekerja menjaga kebun milik orang lain, penghasilannya tak seberapa, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun sering kali tak cukup.Kini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafael tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafael!
Dana terkumpul Rp 8.895.500
4 hari lagi Dari Rp 8.862.000
Donasi
camp
Anak

Perut Membesar dan Kaki Menyusut, Nizam Tak Bisa Berjalan Akibat Berbagai Penyakit

“‘Aku kuat dan semangat sembuh, Ma,’ ucap anakku dengan senyum kecil yang berusaha tegar. Kalimat itu menghangatkan hatiku sekaligus membuat pilu. Di usia yang seharusnya diisi tawa dan permainan, Ia justru harus belajar tentang sakit dan rasa lelah karena berjuang mempertahankan hidup.”“Di sela Ia meyakinkanku bahwa Ia baik-baik saja, anakku masih terus menunjukkan tanda sebaliknya. Ia mengalami batuk hebat, jantungnya sering berdegup terlalu kencang, perutnya membesar sementara kakinya semakin mengecil hingga Ia tak lagi mampu berjalan. Tak ada luka yang lebih dalam daripada melihat anak sendiri menahan sakit.” -Supriandi, Orang tua Nizam-TBC, gizi buruk, dan gangguan organ hati silih berganti terus menghantam tubuh anakku, Nizam Alhanan (2 thn), yang rapuh. Baru saja merasakan udara dunia,  anakku sudah menerima cobaan berat. Ia lahir dengan terlilit tali pusar. Meski saat itu kondisinya dinyatakan baik-baik saja, sebagai orang tua aku tetap menyimpan rasa cemas.Waktu berlalu, dan Nizam tumbuh serta berkembang seperti anak-anak lainnya. Namun, ketenangan itu perlahan runtuh ketika usianya menginjak 1 tahun 6 bulan. Demam tinggi dan diare berulang terus menyerangnya tanpa henti. Hasil pemeriksaan menyatakan Nizam mengidap penyakit paru-paru (TBC) dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Dengan harapan besar, aku patuh menjalani setiap anjuran dokter.Namun harapan itu kembali runtuh. Pengobatan yang dijalani tak menunjukkan perubahan, justru kondisi anakku semakin melemah hingga dua kali harus keluar masuk rumah sakit. Akhirnya, Nizam dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan di sanalah semua penyakitnya terungkap.Kini, setiap tangisan Nizam terasa seperti luka yang menggores hatiku. Tangisannya seolah menjadi bahasa pengaduan atas rasa sakit yang harus Ia tanggung sendiri. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa memeluknya, memberikan obat dan air putih hangat, sambil berdoa semoga rasa sakit itu sedikit mereda.Anakku masih harus terus menjalani pengobatan. Namun, biaya yang dibutuhkan jauh di luar kemampuanku. Suamiku hanyalah seorang pegawai honorer, dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Sementara pengobatan Nizam memerlukan biaya besar, bahkan sekadar biaya transportasi dari Desa Tanah Merah, Sumatera Utara, menuju Kota Medan pun menjadi beban berat bagi kami. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, vitamin, dan kebutuhan penunjang lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nizam tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nizam!
Dana terkumpul Rp 26.476.500
8 hari lagi Dari Rp 25.950.000
Donasi
camp
Anak

Saat Aku Masih Berjuang Melawan Sakit, Takdir Menguji Anakku dengan Jantung Bocor

“Ujian hidupku seolah menggores luka yang masih menganga! Saat aku sedang berjuang melawan sakit jantung, ternyata anakku didiagnosa jantung bocor dan hipertensi paru. Hatiku hancur dan pikiranku kusut, tubuhku yang rapuh dan terancam ini tetap harus kuat menopang anakku yang kondisinya jauh lebih parah.”“Belum sempat menarik napas, keterbatasan biaya menambah panjang daftar penderitaan kami. Dalam waktu yang hampir bersamaan, aku dan anakku sama-sama harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Di titik itulah aku benar-benar tersungkur. Tapi sebagai seorang ibu, aku tak punya pilihan selain bangkit dan bertahan.” -Eli Suryani, Orang tua Ilham-“Nanti setelah disuntik, Ilham sehat ya, Bu?” Itulah kalimat sederhana yang sering dikatakan anakku, Ilham Ramadhani (4 thn), untuk menguatkan dirinya. Ia berharap semua rasa sakit yang Ia rasakan ditebus dengan bayaran kesembuhan.Anakku lahir secara prematur, di usia kandungan 35 minggu. Di usia 14 bulan, anakku didiagnosa mengalami paru-paru kotor dan kekurangan kalsium. Sejak itu, kehidupannya sudah diuji dan Ia harus perawatan rutin ke rumah sakit.Seiring waktu, kondisi anakku membaik dan Ia tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Namun, menginjak usia 3 tahun, anakku jadi sering mengeluh kepalanya pusing dan Ia mudah lelah. Hatiku mulai gelisah, rasanya janggal anak sekecil itu sering sakit kepala.Saat aku membawanya untuk diperiksa, anakku didiagnosa jantung bocor. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Rasa bersalah langsung menyergap pikiranku, apakah sakit jantung yang ku derita ini menjadi sebab anakku harus menanggung sakit yang sama?Tanpa pikir panjang, aku menguras tabungan dan meminta bantuan biaya dari kerabat dekat agar bisa membawa anakku berobat dari Lampung ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, tapi kondisi masih sering mudah lelah dan sesak napas.Perjuangannya untuk sembuh masih panjang, Ia harus bolak-balik Lampung dan Jakarta untuk kontrol rutin. Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan cukup besar, sementara suamiku hanyalah petani yang penghasilannya tak menentu. Saat malam, suamiku narik ojek untuk tambahan biaya. Anakku masih akan membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, transportasi ke rumah sakit, tempat tinggal selama di Jakarta, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ilham tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ilham!
Dana terkumpul Rp 11.618.500
10 hari lagi Dari Rp 11.445.000
Donasi

Pilihan Campaign