Panggilan Mendesak

camp
Anak

Senyum Getir Fayzel di Tengah Kerusakan Organ Hatinya yang Terus Memburuk

“Saat dokter mengatakan anakku mengalami gangguan organ hati serius, momen itu menjadi titik yang menghancurkanku. Lututku lemas, dadaku sesak menahan tangis. Di hadapanku terbaring tubuh anakku yang begitu rapuh, membuatku terus bertanya, mampukah Ia bertahan dari penyakit yang mengancam nyawanya setiap detik?”“Sejak itu, suamiku terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena fokus mendampingi anak berobat. Setiap bulan, anakku harus dibawa kontrol rutin dari Lampung ke Jakarta. hanyalah guru honorer dengan penghasilan yang tak seberapa, itupun aku sering cuti demi anak. Kondisi ini membuat keluarga kami kesulitan ekonomi. bahkan kebutuhan sehari-hari kini sering bergantung bantuan keluarga.” -Asri Bunga, Orang tua Fayzel-Fayzel Ghava Kareem (9 bln) mulai menunjukkan gejala sakitnya saat usianya baru 1 minggu. Tubuhnya tiba-tiba tampak berwarna kuning. Awalnya aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin ini hanya kuning biasa pada bayi. Namun, kian hari warna kuning itu tak memudar, justru makin pekat dan mengkhawatirkan.  Hingga akhirnya dokter mengatakan ada yang tidak biasa. Aku masih ingat betul bagaimana paniknya aku saat mendengar kenyataan pahit yang terjadi pada anakku. Ternyata, anak yang baru saja ku peluk dengan rasa syukur, harus menghadapi kelainan metabolik-genetik yang menyerang fungsi hatinya.Penyakit itu menyebabkan organ hati anakku membesar dan mengeras hingga membuat perutnya membengkak. Kulit hingga matanya kuning, tubuhnya mengalami anemia, trombositnya rendah, pertumbuhannya terganggu, bahkan beresiko pendarahan. Saat ini, anakku tidak bisa beraktivitas seperti bayi seusianya. Ia mudah lelah, napsu makannya sering menurun dan perkembangan motoriknya terhambat. Dalam kondisi tertentu, anakku bisa beresiko untuk menjalani transplantasi hati jika kerusakannya semakin parah.Namun dibalik tubuhnya yang lemah, Fayzel adalah anak yang luar biasa kuat. Tangisnya tak pernah lama meski Ia sakit setiap waktu. Ia tetap tersenyum setiap kali diperiksa dokter, seolah ingin menguatkanku bahwa ia belum menyerah. Senyum kecil itulah yang menjadi sumber kekuatanku. Aku percaya, Tuhan masih menyimpan harapan untuknya.Kini Fayzel masih dalam pemantauan intensif. Perjuangannya belum selesai. Namun di tengah ikhtiar untuk menyelamatkan anakku, aku dihadapkan pada kenyataan biaya yang tak sedikit. Untuk kontrol saja, kami harus menyeberang pulau dengan biaya transportasi yang besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, serta kebutuhan hariannya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fayzel tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fayzel!
Dana terkumpul Rp 2.339.000
10 hari lagi Dari Rp 19.970.000
Donasi
camp
Anak

Nyawanya Terancam! Dareen Harus Segera Operasi Jantung ke Jakarta

“Belum sembuh rasa traumaku karena kehilangan nyawa anakku, tapi kini aku harus menghadapi ketakutan yang sama. Bayi yang baru saja aku lahirkan mengalami mengalami penyakit yang sama seperti kakaknya yang telah lebih dulu berpulang akibat kelainan jantung bawaan.”“Teringat lagi aku perjuangan dulu,  saat aku harus tidur 14 hari di ruang tunggu rumah sakit karena tak punya cukup uang untuk sewa tempat tinggal. Kini kondisinya sama, aku harus tergesa meminjam uang sana-sini untuk membeli tabung oksigen untuk anakku yang sesak napas. Hatiku terus berdoa, semoga Tuhan kali ini memberi akhir yang berbeda.” -Vera Anggraini, Ibunda Dareen-Sejak lahir, sesak napas sudah menyerang anakku, Muhammad Dareen Arrayyan Taysir (21 hari). Awalnya dokter bilang ada masalah pada paru-paru anakku, sehingga anakku harus menginap di dalam inkubator rumah sakit. Aku bahkan belum sempat menyentuh wajah mungilnya, tapi anak yang baru kudengar tangisnya ini hanya bisa ku pandang dari luar kotak kaca dengan selang di hidungnya untuk bisa bernapas. Aku hanya bisa berdiri menatapnya dan terus berdoa agar Tuhan memberi keajaiban untuknya.Namun, harapanku berubah menjadi pahit ketika dokter mendapati jantung anakku terdengar bising. Ia juga harus menjalani transfusi darah karena protein dalam sel darah merahnya menurun. Bahkan, anakku harus pindah ke rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan lanjutan. Hingga akhirnya diagnosa kelainan jantung itu datang pada anakku, rasanya bagai disambar petir! Tubuhku gemetar, air mataku tak terbendung. Ingatan tentang anakku yang telah tiada dulu kembali berputar di kepala, membuat dadaku sesak. Tapi kali ini, aku tak boleh menyerah demi Dareen.Dokter bilang Dareen harus segera dioperasi di Jakarta. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tak punya cukup uang untuk biaya keberangkatan dari Pekanbaru, apalagi biaya selama di sana. Semua tabungan selama ini sudah habis untuk pengobatan anakku sebelumnya yang telah berpulang.Kini, aku bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan anakku yang bergantung dengan 3 tabung oksigen sehari dan selang NGT sebagai jalur makannya. Suamiku bekerja sebagai buruh bongkar barang, penghasilannya terbatas dan juga digunakan untuk menghidupi 6 anggota keluarga.Itupun suamiku tak bisa bekerja karena juga harus ikut mendampingi anak kami yang kami pengobatan. Sementara anakku membutuhkan biaya untuk berangkat ke Jakarta, membeli obat dan alat medis yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dareen tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dareen!
Dana terkumpul Rp 35.051.023
1 hari lagi Dari Rp 34.957.000
Donasi
camp
Anak

Perjuangan dari Papua ke Jakarta, Elisius Jalani 4 Kali Operasi demi Sembuh dari Kelainan Usus

“Aku nekat! Bermodalkan utang di bank, aku membawa anakku berobat dari pelosok Papua ke Jakarta dengan hati cemas dan penuh harap. Namun belum juga pengobatannya selesai, uang yang kubawa sudah habis tak tersisa dan anakku malah pingsan hingga 2 kali. Aku ketakutan luar biasa menyaksikan tubuhnya tak berdaya.”“Di tengah kebingungan itu, aku juga luntang-lantung di perantauan, tidak ada uang untuk sewa tempat tinggal. Namun, di titik paling gelap itu, Seorang yang baru kukenal di rumah sakit, dengan tulus menawarkan tempat tinggal selama anakku dirawat inap. Kebaikan itu bagai pelukan hangat dari Tuhan. Saat itulah aku percaya, akan selalu ada tangan baik yang Tuhan kirimkan.” -Ika Setianingrum, orang tua Elisius-Di usianya yang baru 1 tahun, anaku, Elisius Daniel Saputra Mbaubedari (1 thn)  sudah melewati 4 kali operasi! Ia didiagnosa hirschsprung disease, yaitu kelainan bawaan sejak lahir yang membuat usus besarnya tidak memiliki saraf.Di hari pertama kelahirannya, ia tak kunjung BAB dan malah muntah. Hati seorang ibu mana yang tidak panik? Dengan penuh kecemasan aku membawanya ke dokter. Benar saja, semuanya berubah serius. Di usia yang baru 4 hari, Ia sudah harus menjalani operasi pertamanya. Anakku dirujuk ke Jakarta untuk operasi lanjutannya. Namun cobaan tak berhenti di situ. Tak lama setelah operasi, perutnya kembung, ia mencret tanpa henti, ususnya membengkak. Dokter menyarankan terapi dan obat, tetapi tak ada perubahan berarti. Bahkan dokter sampai terbang ke Singapura untuk berdiskusi dengan tim medis di sana demi mencari jalan terbaik untuk anakku. Hasilnya ditemukan penyempitan di atas anusnya, dan harus menjalani operasi ulang. Setelah itu, Ia bukannya membaik, tapi malah mengalami dehidrasi, demam tinggi, campak, bahkan infeksi bakteri yang menyebabkan kista di ketiaknya.Dokter memutuskan anakku menggunakan selang NGT melalui hidungnya untuk makan dan minum agar menghindari infeksi. Ia BAB bukan melalui anus, tapi melalui perut sebelah kanannya yang dilubangi dan dibungkus kantong stoma. Setiap kali membersihkannya, aku berusaha tersenyum, meski air mata sering jatuh tanpa bisa kutahan.Namun, meski sudah sakit sejak lahir, tapi anakku jarang sekali merengek seperti anak sakit pada umumnya. Ia hanya merintih pelan saat rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Berat badannya yang tetap baik, meski dengan segala keterbatasan pencernaannya, seperti menjadi tanda bahwa ia ingin sembuh, ia ingin hidup.Perjuangan kami belum selesai, operasi lanjutan masih menunggu. Suamiku kini bekerja lebih keras, dari pagi hingga malam menarik ojek, meninggalkan anak kami yang lain sendirian di rumah demi biaya pengobatan adiknya. Aku sudah mencoba menghubungi berbagai yayasan, berharap ada bantuan, tetapi belum ada jawaban.Sekedar makan sehari-hari pun, aku masih dibantu oleh orang baik yang aku temui di rumah sakit. Beberapa pasien juga membantu menebus obat anakku. Sementara itu, perjalanan sembuh anakku masih panjang. Ia masih terus membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Elisius tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Elisius!
Dana terkumpul Rp 12.762.000
12 hari lagi Dari Rp 12.762.000
Donasi

Pilihan Campaign