Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Penyakit Limfangioma Membuat Benjolan di Leher Anakku Kian Membesar!
“Setiap hari akui menatap benjolan di tubuh anakku dengan hati yang dipenuhi rasa cemas yang tak pernah benar-benar hilang. Dalam diam, kami hanya bisa berdoa, semoga penyakit itu tidak semakin mengganas dan semoga tidak semakin menyakitkan bagi anakku.”“Setiap kali benjolan itu terlihat menegang dan kemerahan, anak kami akan menangis tanpa henti. Ia belum bisa berbicara, tapi tangis pilunya seperti isyarat bahwa dia sedang merasa sangat tidak nyaman. Rasanya tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat anak sendiri menderita.” -Yuliana, Orang tua Siti Shofiyatul-Siti Shofiyatul Akhfa, bayi perempuanku tercinta yang kelahirannya dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa batas bagiku dan suami. Belum lama aku menikmati perasaan memeluk tubuh anakku dengan sayang, aku sudah dihadapkan dengan kenyataan yang begitu menyakitkan.Aku menemukan ada benjolan di bagian lehernya. Awalnya aku mengira hanya bengkak biasa, tapi kian hari bengkak tersebut semakin besar dan membuatku ketakutan. Aku pun langsung membawa anakku ke dokter, tapi hasil pemeriksaannya membuat duniaku runtuh. Anakku didiagnosa limfangioma, yaitu kelainan pembuluh getah bening yang menyebabkan terbentuknya benjolan berisi cairan di tubuh. Anak yang baru kusambut dengan penuh cinta, harus langsung berjuang melawan penyakit. Namun, belum pulih aku dari kesedihan, aku malah dihadapkan pada cobaan baru. Anakku harus berjuang hanya untuk bernapas. Infeksi paru-paru (pneumonia) membuat napasnya sesak, Ia harus tebaring di ruang NICU dengan alat bantu napas yang menutupi sebagian wajahnya.Aku hanya bisa menangis menatapnya, menangis dan memohon kepada Tuhan agar anakku dikuatkan. Doaku dijabah, anakku akhirnya bisa melewati masa kritisnya. Namun, mimpi buruk anakku belum berakhir, karena benjolan di tubuhnya masih ada dan menjadi ancaman besar jika tidak ditangani. Hari-hariku kini diisi dengan bolak-balik rumah sakit, segala pengobatan untuk anak aku jalani tanpa henti. Namun, dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, setiap langkah terasa sangat berat. Aku selalu gelisah, karena tidak tahu bagaimana membiayai pengobatannya?Suamiku hanya bekerja sebagai penjual sapu, perabot dan mainan anak, penghasilannya tak menentu. Sementara anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sitil tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Siti!
Dana terkumpul
Rp 1.738.002
10 hari lagi
Dari Rp 9.717.000
Donasi
Anak
Mendorong Gerobak Demi Harapan, Pedagang Jajanan Ini Tak Ingin Kehilangan Anaknya Lagi
“Setiap hari aku mendorong gerobak es dan jajanan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya berharap ada pembeli. Meski penghasilanku jauh dari kata pas-pasan, tapi itu bisa menjadi harapan untuk anakku bertahan dari penyakit jantung yang mengintai nyawanya.”“Aku sudah pernah kehilangan putriku akibat penyakit serupa. Kali ini, aku kembali ingin berjuang agar tak lagi kehilangan anakku. Aku yakin Tuhan tidak tidur. Segala usahaku sekecil apapun, akan ada jalan keluar yang tidak disangka-sangka.” -Jasher Arafat, Orang tua Ruzain-Belum kering bekas luka di hatiku, lagi-lagi aku harus menghadapi kenyataan pahit. Semua bermula ketika anakku, Muhammad Ruzain Abdul Haiy Guntoro (10 bln), mengalami sesak napas. Kondisi ini seperti tak asing karena pernah terjadi pada anakku yang lain yang telah tiada.Aku langsung membawa Ruzain ke rumah sakit dan disitulah duniaku rasanya diterjang badai. Anakku didiagnosa penyakit jantung bawaan dan pneumonia (infeksi paru-paru). Sejak itu, hari-hariku kembali dipenuhi dengan kekhawatiran. Anakku berubah, kuku jarinya mulai membiru. Setiap Ia minum susu, benakku dihantui kecemasan, takut napasnya tiba-tiba sesak dan membuatnya tersiksa. Jika itu terjadi, aku hanya bisa mendekapnya erat, memberikan ketenangan sambil menahan tangis.Sebelumnya anakku tampak ceria, justru lebih banyak diam. Aku harus membawanya bolak-balik ke rumah sakit di Padang dengan menempuh jarak 170 km dari Payakumbuh. Namun, kini anakku dirujuk untuk melanjutkan pengobatan di Jakarta. Namun, biaya menjadi kendala terbesar anakku. Sekedar untuk membawa anak ke rumah sakit saja, tak jarang aku dibantu oleh saudaraku. Bahkan, susunya saja sering tak terpenuhi. Beruntung saat itu pihak puskesmas yang mengetahui kondisi keluargaku memberikan susu gratis.Akhirnya aku menjual freezer dan boks es yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga selama ini. Aku juga mengambil pekerjaan sebagai kurir antar makanan, bekerja dari pagi sampai malam agar mendapatkan biaya untuk anakku memiliki harapan hidup.Pengobatannya panjang, anakku belum dioperasi. Saat ini anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ruzain tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ruzain!
Dana terkumpul
Rp 2.978.000
11 hari lagi
Dari Rp 16.240.000
Donasi
Kesehatan
25 Tahun Menjadi Tukang Cuci Baju, Tulang Nenek Rusmiati Jadi Melengkung!
Pinggulnya yang dulu begitu kuat duduk berjam-jam mencuci tumpukan baju orang demi sesuap nasi, kini tak lagi berdaya. Tulang pinggulnya tak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri akibat mengalami bengkok. Bayangkan saja, 25 tahun Nenek Rusmiati bekerja sebagai tukang cuci baju.Hari-harinya sekarang lebih banyak terbaring sambil meringis kesakitan. Ia kesulitan membiayai pengobatannya karena tak lagi bisa mencari nafkah. Kondisi ekonomi keluarga pun sangat memprihatinkan, sang anak hanya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Itupun terbatas untuk kebutuhan sehari-hari.Nenek Rusmiati (66 thn) hanya punya satu harapan sederhana di masa tuanya, Ia ingin bisa duduk menemani cucu pertamanya yang masih balita bermain. Tawa kecil sang cucu adalah satu-satunya obat yang membuatnya tersenyum dan bertahan hingga hari ini.Namum, sejak menjelang hari raya idul fitri 2026, harapan itu mulai pupus. Tiba-tiba Nenek Rusmiati mengalami nyeri pada pinggangnya yang kian waktu semakin tak tertahankan. Saat dibawa ke dokter, Ia hanya diberikan obat. Tapi obat pun tak mampu meredakan rasa sakit itu hingga dibawa ke rumah sakit.Ternyata, sakit tersebut berasal dari tulang belakangnya yang rusak. Tak butuh waktu lama, penyakit itu merenggut kemampuannya untuk berdiri dan berjalan. Kini, untuk sekadar duduk pun, Nenek Rusmiati harus bersandar di kursi.Setiap hari, Nenek Rusmiati bergantung pada bantuan orang untuk beraktivitas, bahkan untuk sekedar berjalan ke kamar mandi. Saat harus kontrol ke rumah sakit, ia hanya bisa digendong, karena kursi roda pun belum ia miliki.Jangankan membeli kursi roda, untuk transportasi ke rumah sakit saja keluarganya sulit membiayai. Sang anak berjuang siang dan malam, mengambil perkerjaan tambahan dengan menjadi pengemudi ojek online. Namun, penghasilannya tetap tak menentu dan bahkan pas-pasan untuk makan.Sementara itu, kebutuhan pengobatan terus berjalan. Obat yang tak ditanggung BPJS, susu untuk menguatkan tulangnya, dan berbagai kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nenek Rusmiati tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nenek Rusmiati!
Dana terkumpul
Rp 1.637.007
15 hari lagi
Dari Rp 8.550.000
Donasi