Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Napasnya Tersengal Tiap Dorong Gerobak, Pejual Es Berjuang dari Sakit Jantung dan Batu empedu
“Napasku tersengal-sengal, kesulitan mendorong gerobak es yang menjadi penopang hidupku. Langkahku sering terhenti di tengah jalan dan tanganku refleks memegang dada yang nyeri, berharap penyakit jantungku tidak membuatku pingsan tiba-tiba. Semua perjuangan ini agar aku bisa terus berobat dan menghidupi 3 anakku.”“Namun, hidup terus mengujiku. Aku tiba-tiba didiagnosa sakit batu empedu dan motor satu-satunya yang menjadi sumber penghasilan keluarga kami hilang dicuri. Suamiku kini kehilangan cara untuk mencari nafkah. Akhirnya, aku terpaksa menolak operasi, bukan karena tak ingin sembuh, tapi tidak ada biaya...”Namaku Marpuah (34 thn). Entah bagaimana menggambarkan betapa letihnya tubuhku menahan sakit, sementara aku tetap harus berdiri dan berjalan demi bertahan hidup. Mau tak mau aku terus menyusuri jalanan mendorong gerobak es, menembus panas dan hujan. Pembeli kadang sepi, aku hanya bisa pulang dengan tangan hampa. Suamiku tak tinggal diam, Ia berupaya meminjam motor saudara untuk ngojek, itupun kalau motornya tidak dipakai. Penghasilanku dan suami tak pernah pasti. Jangankan untuk berobat, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja susah.Awalnya, aku sendiri tak pernah tahu bahwa ada penyakit jantung bawaan dalam tubuhku. Hingga suatu hari, tiba-tiba dadaku terasa panas dan napasku sesak. Saat aku ke rumah sakit, barulah kenyataan pahit itu terungkap. Dokter langsung menyarankan agar aku operasi jantung.Sebenarnya aku takut, sangat takut. Tapi setiap kali aku menatap wajah anak-anakku, aku tahu aku harus bertahan. Aku ingin tetap hidup untuk mereka. Berbekal keberanian yang tersisa, aku akhirnya menjalani operasi dan kini harus rutin kontrol untuk memastikan kondisiku tetap stabil.Namun, cobaan belum juga berhenti. Tak lama setelah itu, rasa sakit hebat kembali datang, kali ini bukan di dada, tapi di perut. Setelah diperiksa, aku didiagnosis menderita batu empedu. Sejak saat itu, aku harus mengkonsumsi obat rutin untuk menghancurkannya.Nyeri di bagian bawah pinggang terasa terus-menerus, membuatku semakin sulit bergerak, apalagi bekerja. Sku kehilangan kemampuan untuk beraktivitas dan mencari nafkah seperti dulu. Modal jualan es pun habis, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.Tak ada pemasukan, tak ada pegangan. Aku pernah berada di titik di mana hanya ada satu butir telur ceplok di dapur dan itu harus kubagi untuk kami berempat, untuk anak-anakku. Tetangga tak mau meminjamkan uang, mungkin takut aku tak mampu mengembalikannya.Saat ini, aku masih berjuang dan masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Marpuah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Marpuah!
Dana terkumpul
Rp 1.915.003
1 hari lagi
Dari Rp 3.872.000
Donasi
Kesehatan
Awalnya Hanya Bersin Berdarah, Ternyata Pak Antoni Didiagnosa Tumor Nasofaring!
“Akhirnya, aku memberanikan diri menulis pesan ini, demi harapan kesembuhan belahan jiwaku. Suamiku adalah sosok yang kuat, menjadi sandaranku, namun saat ini beliau sedang menghadapi penyakit yang begitu kejam.”“Dokter mendiagnosa suamiku menderita tumor nasofaring, yaitu kanker ganas di rongga hidungnya. Akibatnya, suamiku mengalami nyeri hebat yang menjalar ke area wajahnya, kesulitan bernapas, mimisan tiba-tiba, hingga penurunan berat badan secara drastis.” -Suparti, Istri dari Antoni-Suamiku, Antoni Marsudi, harus menjalani ujian yang berat di usianya ke-44 tahun. Tak pernah terpikirkan olehku, sakit yang awalnya terlihat sepele itu ternyata membawa petaka bagi keluargaku. Bermula dari suamiku yang mengalami pusing, telinga berdengung, dan bersin disertai darah dari hidung.Saat itu, aku dan suami berpikir itu hanya alergi biasa. Saat berobat ke puskesmas, suamiku hanya diberikan obat dan mengira Ia akan segera sembuh. Namun, harapan itu memudar ketika suamiku kembali bersin-bersin dan justru semakin banyak darah yang keluar. Akhirnya aku membawa suamiku ke rumah sakit, dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ada cairan pada sinusnya (bagian hidung). Aku cukup kaget karena ternyata suamiku harus dioperasi. Namun, cobaan sebenarnya ternyata bukan itu, ditemukan ada tumor nasofaring pada suamiku.Rasanya bagai disambar petir di siang bolong, aku tak pernah berpikir suamiku mengalami penyakit semengerikan itu. Suamiku harus melalui 3 kali operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Sejak itu, kondisi suamiku juga semakin menurun.Tubuh suamiku kian hari kian lemah, sering pusing, mual, sesak napas dan bahkan kejang. Sekedar untuk bernapas saja, terkadang harus dibantu dengan alat oksigen. Ia yang dulu kuat bekerja, kini hanya bisa terbaring dan bergantung sepenuhnya padaku. Kami sudah tidak ada sumber dana lagi karena suami tak lagi bisa mencari nafkah. Tabungan habis terkuras karena pengobatannya sangat panjang. Aku sendiri selalu berupaya mencari jalan keluar agar suami bisa berobat, meski harus pinjam uang sana-sini.Saat ini, Suamiku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat medis dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Antoni tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Antoni!
Dana terkumpul
Rp 1.865.000
15 hari lagi
Dari Rp 22.330.000
Donasi
Kemanusiaan
Hidup Sebatang Kara, Bantu Edy Sembuh dari Penyakit Saraf di Kaki
TemanBaik, perkenalkan saya Rustandi Eddy (63 tahun). Saat ini saya hidup sebatang kara dan tengah berjuang sembuh dari penyakit saraf kaki berat. Penyakit ini berawal pada tahun 2019, di mana saat itu saya sedang berada di bengkel dan selesai makan sate. Namun ketika hendak berdiri saya tidak bisa, kedua kaki saya terasa sakit sekali. Setelah diperiksakan, dokter mengatakan tensi saya 200. Sudah 2 kali berobat namun tidak juga ada perubahan, bahkan saya sudah gonta ganti dokter untuk mengobati penyakit saya ini, tapi saya tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya saya diberi surat pengantar untuk tes Elektroensefalogram (EEG) ke RSHS Bandung. Setelah diperiksa, menurut EEG saya didiagnosis pengidap penyakit saraf kaki berat. “Sudah minum herbal dan berobat terapi serta berobat kampung. Kalau tidak makan obat, sakitnya luar biasa bahkan tidak ada ngantuk walau 7 hari 7 malam,” ucap EdySaya membutuhkan bantuan Temanbaik untuk berobat, karena saya hidup sebatang kara, tidak memiliki anak dan juga istri. saya juga tidak berpenghasilan lagi karena tidak bisa jalan.Biaya untuk berobat selama ini hasil dari menjual harta benda yang ada di rumah dan sumbangan dari keluarga serta orang-orang baik. Jika tidak ada bantuan yang dikirim saya tidak makan. TemanBaik, maukah bantu saya sembuh dari penyakit saraf kaki berat ini? Saya ingin bisa bekerja lagi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari saya. bantuan dari TemanBaik nantinya akan saya gunakan untuk berobat, menebus obat resep dokter dan makan.Bantuan dari TemanBaik dapat disalurkan dengan cara: Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiPilih metode pembayaran, kalau ingin lebih praktis kamu bisa berdonasi dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay, atau kamu juga bisa berdonasi dengan cara transfer antar bank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul
Rp 30.831.989
10 hari lagi
Dari Rp 35.000.000
Donasi