Panggilan Mendesak

camp
Pendidikan

Anak Penjual Dimsum Berprestasi, Kini Terancam Putus Sekolah!

“Audrey pernah juara III lomba mewarnai saat TK! Ia sangat mendambakan masa depannya menjadi pelukis. Selain seni, anakku juga pandai dalam mata pelajaran lainnya di sekolah. Bahkan, Ia selalu sedih jika mendapatkan nilai 8, karena Ia langganan mendapat nilai 100 atau A+.”“Namun, kini anakku terancam putus sekolah karena sudah menunggak 5 bulan. Aku hanyalah pedagang dimsum pinggir jalan yang bahkan sering rugi dibandingkan untung… ” -Sari, Orang tua Audrey-Aku bahkan terpaksa memindahkan anakku, Audrey Abigail Deshapsari (8 thn), dari kelas nasional ke kelas reguler agar biaya sekolahnya lebih rendah. Aku tau, diam-diam hal itu mematahkan hati anakku yang telah bekerja keras menjadi yang terbaik di sekolah.Saat ini, Audrey duduk di bangku kelas 2 SD Dharma Putra Advent, Bekasi. Biaya sekolahnya sangat besar, aku dan suami tidak mampu membayarnya. Segala upaya sudah aku coba agar dapat penghasilan lebih, tapi tak kunjung membuahkan hasil.Sebelum berjualan dimsum, aku dan suami sempat bekerja freelance memasarkan properti. Sayangnya, tidak berjalan mulus. Aku dan suami pun mencoba bisnis dengan membeli lahan dengan iming-iming setoran lahan parkir, tapi kami ditipu. Padahal, kami beli lahan itu dari hasil menjual tanah orang tua.Kami juga sempat mencoba usaha membuka bengkel, tapi lagi-lagi tak terealisasi karena teman kerja untuk membangun usaha akhirnya mengundurkan diri. Suami juga mencoba menjadi tukang parkir hingga jasa mengantar jemput anak sekolah,  tapi hasilnya tak seberapa.Jadilah aku dan suami berakhir dengan usaha dimsum. Tiga tahun mengeluarkan biaya untuk  mencoba mengiklankan dagangan, tapi tak kunjung laku, Bahkan, dagangannya juga lebih sering nombok. Modal membuat dimsum Rp200 ribu, tapi hasil penjualan hanya dapat Rp100 ribu.Bahkan, transportasi anak ke sekolah saja kami kesulitan biaya untuk menyewa kendaraan. Sedangkan naik ojek bisa habis Rp80 ribu. Saking buntunya, suami pernah selama nyaris 2 bulan meminjam motor tetangga untuk antar dan jemput anak sekolah.Puji Tuhan, pihak sekolah masih memberikan kelonggaran walau anakku menunggak uang sekolah. Namun, raport anakku belum bisa diambil karena belum bayar uang sekolah. Aku berharap anakku bisa melanjutkan sekolah, sekalipun ekonomi kami terseok-seok.Aku yakin anakku kelak bisa menjadi orang sukses, karena Ia sangat cerdas, baik, dan penurut. Aku ingin anakku bisa menjadi orang yang lebih beruntung dibandingkan orang tuanya, makanya aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikannya. #TemanBaik, yuk bantu Audrey untuk melanjutkan sekolah dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul Rp 2.047.000
11 hari lagi Dari Rp 3.860.000
Donasi
camp
Kemanusiaan

Ketika Lapar Jadi Doa, Mari Berbagi Harapan Bagi Masyarakat Prasejahtera

“Di luar sana, ada ibu yang menahan lapar agar anaknya bisa makan, ada kakek yang tiap hari bekerja di bawah terik matahari meski tubuh sudah renta, ada ayah yang menunduk lelah di pinggir jalan, menggenggam sisa tenaga demi mencari nafkah.”Bagi sebagian orang, sesuap nasi bukan sekedar makanan, tetapi harapan. Kita sering lupa bahwa dibalik tawa dan kesibukan kita, ada masyarakat prasejahtera yang diam-diam berjuang di dalam kesunyian hanya demi selembar uang seribu. Masyarakat prasejahtera ini hidup di antara dinding-dinding rapuh, di lantai tanah yang dingin, dengan perut kosong yang tak selalu terisi setiap hari. Mereka tidak meminta banyak, hanya ingin hidup dengan layak, makan tanpa harus mengorbankan tidur, dan tersenyum tanpa harus menahan rasa lapar.Banyak dari mereka yang berdoa setiap malam bukan untuk kemewahan, tapi untuk sesuap nasi. Dan di situlah arti kemanusiaan sesungguhnya, ketika kita berhenti sejenak, melihat ke sekeliling, dan sadar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.Satu uluran tangan mungkin tak bisa mengubah dunia, tapi bisa mengubah dunia seseorang. Satu donasi kecil dari #TemanBaik bisa menjadi makanan bagi keluarga yang kelaparan, yang sakit tapi tak mampu berobat.Memberi bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar hati kita peduli. Karena nilai terbesar dari kemanusiaan adalah saat kita mampu merasakan perih orang lain, lalu memilih untuk berbuat sesuatu. Oleh karena itu, BenihBaik.com dan Indosat ingin mengajak #TemanBaik semua untuk menjadi alasan seseorang kembali tersenyum dan kembali percaya bahwa kebaikan belum hilang dari dunia ini.#TemanBaik, dunia ini tidak akan berubah dengan belas kasihan semata, tapi dengan tindakan nyata dari mereka yang hatinya tergerak. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk berbagi kebahagiaan bagi keluarga prasejahtera!
Dana terkumpul Rp 6.224.009
4 hari lagi Dari Rp 150.000.000
Donasi
camp
Anak

Tubuhnya Kaku! Heni Berjuang dari Perkembangannya yang Terhambat

“Saya sudah membawa anak saya ke empat tukang urut berbeda, akibat lehernya tak bisa tegak! Putus asa hampir menyeret saya, sampai akhirnya saya nekat, dengan tabungan yang menipis, saya beranikan membawanya ke rumah sakit. "“Ternyata anak saya didiagnosa motorik delay, yaitu keterlambatan dalam bergerak. Ya Tuhan, hancur sekali hati saya, Seandainya saya lebih cepat membawanya ke dokter, mungkin kondisinya bisa lebih baik. Namun, sebagai ibu tunggal dengan kemampuan terbatas, koini saya hanya harus berjuang lebih kerasa lagi demi kesembuhannya.” -Yurniawati, Orang tua Heni-Kejanggalan yang terjadi pada anak saya, Heni Amaira Ashavin (4 thn), dimulai saat usianya 4 bulan. Ia tak seperti anak-anak seusianya, lehernya belum bisa ditegakkan dan lemah sekali akibat perkembangan motoriknya yang terhambat.Saat itu dokter hanya memberikan Henni vitamin otak, karena usianya saat itu belum bisa menjalani terapi. Namun, saat usia anak Heni sudah 1 tahun dan aku kembali membawanya berobat, dokter justru mencurigai ada penyakit lain di tubuh anak Heni.Ternyata ada flek di paru-paru Heni! Dokter menyatakan hal ini menjadi salah satu faktor tumbuh kembangnya terhambat. Akhirnya Heni harus mengkonsumsi obat Tb Paru selama 6 bulan dan merekomendasikannya untuk fisioterapi. Namun, Heni justru berkali-kali terancam tak bisa melanjutkan fisioterapinya! Saya keterbatasan biaya, dan hanya sanggup beberapa bulan saja membawanya terapi. Tapi bukan berarti saya menyerah, saya terus berupaya untuk kesembuhannya.Saya mengambil pekerjaan sebagai apa saja, menjadi buruh setrika di toko laundry. Tapi penghasilannya hanya cukup untuk membeli pampers dan susu Heni. Itupun Heni tidak bisa ditinggal-tinggal, saya pun coba pekerjaan lain dengan menjualkan bubur hanya di pagi hari. Namun penghasilannya tak cukup bahkan untuk membeli susu.Aku akhirnya nekat meminjam uang untuk buka usaha laundry kecil-kecilan di rumah. Alhamdulillah, saya mulai membawa Heni terapi lagi. Perjuangan seolah tak sia-sia, anak saya menunjukkan perkembangan! Ia sudah bisa menegakkan kepala hingga belajar tengkurap.Saat ini Heni lebih banyak tiduran, kaki dan tangannya seperti bengkok dan kaku. Sayangnya, kondisi keuangan yang terbatas terus menghantui. Saya juga harus membayar cicilan pinjaman uang, sehingga kelanjutan  pengobatan Heni kembali terancam. Heni membutuhkan ongkos untuk bolak-balik rumah sakit, vitamin yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Heni tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Heni!
Dana terkumpul Rp 3.150.001
3 hari lagi Dari Rp 3.150.000
Donasi

Pilihan Campaign