Panggilan Mendesak

camp
Anak

Pirlo Butuh Cuci Darah untuk Bertahan Hidup

Di balik senyum kecilnya anak umur 5 tahun ini, ternyata didiagnosa dokter menderita gagal ginjal kronis stadium 5. Kedua ginjalnya tak mampu lagi berfungsi secara maksimal. Akibat penyakit yang dideritanya, dalam seminggu Pirlo harus 2x ke rumah sakit untuk menjalani cuci darah. Selang infus dan tajamnya jarum suntik renggut masa kecilnya.Sejak tahun 2021, Pirlo harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanya bisa bertahan hidup dari cuci darah.Semua bermula ketika ia mengalami muntah darah dan infeksi saluran kencingnya selama 3 bulan lamanya. Setelah dibawa ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, rupanya Pirlo menderita gangguan ginjal hingga cairan sudah menyebar ke organ pencernaan lainnya.Kata dokter, tak ada jalan lain selain cuci darah secara rutin di rumah sakit agar kesehatannya tidak terus memburuk.Di tengah perjuangannya bisa sembuh dari penyakit kronis ini, Pirlo ditemani Bu Ida sang ibunda tercinta dengan harapan bisa berjuang bersama. Mendoakan dan meyakinkan Pirlo bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Namun, itu saja tak cukup, biaya pengobatan dan kontrol rutin di rumah sakit membutuhkan biaya yang tak sedikit karena jarak rumah Pirlo ke rumah sakit sekitar 5 jam dan memerlukan biaya ongkos transportasi sekitar 500 RB.Sementara, ayah Pirlo yang hanya bekerja sebagai petugas keamanan dengan upah 1.700.000 perbulan tak sanggup untuk memenuhi biaya pengobatan itu pun sudah di potong dengan pinjaman2 untuk berobat Pirlo jadi perbulan cuma menerima 500 rb. Belum lagi, dia juga harus memenuhi kebutuhan harian 3 anak lainnya. Lalu, bagaimana Pirlo mendapatkan biaya pengobatan? Padahal, Pirlo sangat membutuhkan dan hanya bisa bertahan dari cuci darah.Jika pengobatan dan cuci darah Pirlo sampai terlewat nyawanya bisa terancam.#TemanBaik, Bu Ida saat ini membutuhkan bantuanmu untuk obati ginjal anaknya yang sakit. Mari kita sama-sama ulurkan tangan untuk biaya pengobatan Pirlo dengan cara:1. Klik “Donasi Sekarang”2. Isi nominal donasi3. Pilih metode pembayaran Lebih praktis dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul Rp 24.116.548
11 hari lagi Dari Rp 50.000.000
Donasi
camp
Anak

Berawal dari Tertendang Temannya, Anro Ketahuan Alami Kanker Darah!

“Berawal dari sebuah insiden kecil saat bermain bola, tertendang oleh temannya, tak ada yang menyangka hidup Anro akan berubah selamanya! Rasa nyeri yang semula kami anggap hanya cedera biasa, ternyata terus menyiksa tanpa henti meski sudah kami bawa ke tukang urut.”“Anro tak mampu lagi berdiri, apalagi berjalan. Setelah diperiksa di rumah sakit, satu penyakit mengerikan dan mematikan terungkap. Ia didiagnosa Leukemia limfoblastik Akut (LLA)!” -Margaretha Shelly Natalya, Keluarga Anro-Penyakit itu datang begitu cepat, membuat kondisi Anro Gratius Bona Franciskus Manalu (13 tahun) menurun drastis. Penyakit yang dikenal dengan kanker darah ini menyebabkan Anro mudah kelelahan, demam, memar, pendarahan, nyeri pada tulang, hingga pembengkakan. Kini, hari-hari Anro tak lagi dipenuhi dengan keceriaan. Ia terpaksa kehilangan pendidikannya dan masa bermain dengan teman-temannya. Hidupnya lebih banyak diisi dengan rasa nyeri dan bolak-balik rumah sakit.Rambutnya rontok habis setelah menjalani kemoterapi di rumah sakit. Namun, dibalik wajah pucatnya itu, senyum hangatnya masih setia muncul, seolah ingin mengatakan bahwa Ia belum menyerah di tengah jarum suntik menusuk tubuhnya.Di sisi lain, ayah dan ibunya terus berjuang sekuat tenaga menghadapi beratnya biaya pengobatan Anro. Ayahnya hanya bekerja sebagai tukang tambal ban, penghasilan pas-pasan itu juga harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari menghidupi istri dan 3 anaknya. Tentu saja, setiap hari kendala biaya selalu terjadi. Biaya pengobatan Anro selama ini lebih banyak meminjam dana ke tetangga, bahkan orang tuanya sering menahan lapar demi bisa menghemat biaya.Biaya transportasinya saja bisa mahal sekali, karena Anro harus menempuh perjalanan jauh dari Bogor ke rumah sakit di Jakarta bisa tiga kali seminggu. Belum lagi untuk obat yang tidak dicover BPJS, susu, vitamin, da kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Anro tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Anro!
Dana terkumpul Rp 11.219.000
3 hari lagi Dari Rp 19.970.000
Donasi
camp
Keagamaan

Atap Mushola Al Hidayah Hancur, Hujan Membasahi Tempat Sujud Kami

“Setiap kali hujan turun, hati para jamaah yang beribadah ikut diliputi rasa cemas. Bukan hanya karena derasnya hujan, tapi juga karena genteng mushola yang retak dan bisa runtuh kapan saja. Belum lagi air yang masuk melalui celah atap dan pintu mushola yang sejajar dengan jalanan, membuat lantai mushola akan tergenang!”“Namun, di tengah kekhawatiran itu, para jemaah tetap datang untuk beribadah. Mereka tetap menggelar sajadah di tempat yang lembab dan basah. Bukan karena tak peduli, tapi karena mereka benar-benar tak memiliki biaya untuk memperbaiki rumah Allah itu.”Sejak tahun 2017, Mushola Al Hidayah berdiri sederhana di Desa Teluk Jaya, Pakis Jaya, Karawang. Bangunannya lahir dari hasil swadaya masyarakat dan sumbangan orang-orang di jalanan, karena besar sekali kerinduan warga untuk memiliki tempat mereka bisa bersujud bersama.Kini, sekitar 50 jamaah masih setia beribadah di mushola kecil itu. Di sinilah mereka menunaikan salat berjamaah, mengikuti majelis ta’lim mingguan, membagikan zakat fitrah, hingga menyembelih hewan kurban setiap Idul Adha.Namun, bertahun-tahun berdiri, bangunan mushola juga termakan usia. Atap rapuh dan kayu penopangnya keropos, sementara warga sekitar yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani kesulitan mengumpulkan biaya untuk merenovasi.Saat cuaca panas, suasana mushola terasa gerah dan pengap. Tapi ketika hujan turun, keadaannya jauh lebih memprihatinkan. Air mengalir dari celah genteng dan nyiprat masuk ke dalam mushola. Pengurus bahkan harus menutup bagian samping mushola dengan terpal seadanya, agar jamaah masih bisa beribadah tanpa basah kuyup.Meski begitu, semangat dan keikhlasan tak pernah padam. Karmin Abdurohim (42 tahun), sang pengurus mushola, setiap hari tetap menyapu, mengepel, dan menyemprotkan pewangi agar mushola tetap nyaman. Ia tak ingin para jamaah enggan datang hanya karena kondisi bangunan yang memprihatinkan.Bersama warga, Karmin berusaha keras mengumpulkan dana. Mereka menabung sedikit demi sedikit, mencari donasi di pinggir jalan, bahkan mengirim proposal ke kantor dan media sosial, namun hasilnya belum membuahkan harapan.Tak jarang, Karmin harus mengeluarkan uang pribadinya dari hasil berdagang dan mengajar di PAUD, sekadar untuk membayar token listrik, memperbaiki lampu, mesin air, atau pengeras suara. Semua dilakukan demi satu hal, agar rumah Allah ini tetap hidup dan menjadi tempat sujud yang hangat bagi semua jamaahnya.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Jemaah Mushola Al Hidayah bisa tetap beribadah dengan tenang. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk alurkan tanganmu!
Dana terkumpul Rp 4.420.000
2 hari lagi Dari Rp 51.250.000
Donasi

Pilihan Campaign