Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Kesehatan
Tumor Ganas Terus Menggerogoti Dagu Diyana Hingga Ia Pendarahan!
“Gumpalan darah terus mengalir dari tumor ganas di dagu Diyana! Bantal yang Ia tiduri sampai kuyup berubah merah. Tapi Ia hanya terbaring diam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Namun, air matanya diam-diam mengalir dalam keheningan, akibat rasa sakit yang begitu hebat. ”“Di titik terendah itu, Diyana kesulitan biaya untuk pengobatan. Bahkan pernah, saat penyakitnya kambuh hingga membuatnya tak sadarkan diri, keluarganya harus berlari mencari pinjaman uang terlebih dahulu untuk membawanya ke rumah sakit. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, betapa sedih keluarganya karena keadaan itu.”Benjolan itu muncul di dagu Diyana (31 thn) dengan ukuran yang kecil. Semula terlihat biasa saja dan samar, jadi diabaikan begitu saja. Siapa sangka, ternyata benjolan tersebut perlahan membesar dan mulai menakutkan. Tubuh Diyana juga terasa berbeda, Ia jadi mudah lelah dan sakit.Setelah bertemu dokter, fakta pahit terkuak. Ternyata bengkak tersebut berasal dari tumor yang sudah mengganas. Dunia Diyana terasa runtuh seketika. Tindakan operasi sudah diupayakan untuk mengangkat penyakit tersebut, tapi harapan pupus ketika benjolan itu tumbuh lagi.Akhirnya operasi kedua kembali dilakukan. Namun, belum sempat Diyana bernapas lega dan merasakan kesembuhan, penyakit itu kembali menggerogoti tubuhnya untuk ketiga kalinya. Ia seakan tak diberi ampun, sampai akhirnya Ia harus dirujuk melanjutkan pengobatan dari Lampung ke Jakarta.Bayangkan, sudah 9 tahun Diyana harus bertahan dari penyakit ini. Tidak ada sedetikpun yang dilaluinya tanpa rasa sakit dan air mata. Kondisinya malah semakin lemah, tidak bisa bekerja lagi dan tidak stabil. Ia harus terus menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup.Tiap kali kambuh, Ia akan merasa nyeri hebat di bagian bengkak tumornya dan sampai harus dilarikan ke IGD rumah sakit. Di tengah segala penderitaan yang tak berjeda itu, Diyana selalu semangat untuk sembuh. Ia masih ingin hidup lebih lama, bersama suaminya, menemani anak-anaknya tumbuh besar. Namun, biaya pengobatan yang sangat besar sangat membebani. Suaminya hanyalah buruh tani dengan penghasilan terbatas. Keluarganya sudah menjual segala barang-barang berharga untuk pengobatan Diyana selama ini. Bahkan, keluarga nekat meminjam sana-sini hingga tengah malam dengan harapan tinggi, tapi justru jarang sekali ada yang menolong.Pengobatan Diyana masih panjang, Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers, vitamin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Diyana tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Diyana!
Dana terkumpul
Rp 1.855.001
8 hari lagi
Dari Rp 5.000.000
Donasi
Anak
Penyakit Jantung Kompleks Mengintai Nyawa Daviandra
“Kami rela mengubur semua mimpi-mimpi kami, sekarang tujuan kami hanya berjuang keras agar anak bisa pengobatan. Hidup kami hanya berputar pada perjuangan, bahkan kami harus menumpang tinggal di rumah kakak untuk bisa menghemat tidak bayar kontrakan.”“Namun, sudah 8 bulan lamanya, kami tidak bisa membawa anak ke Jakarta untuk kontrol rutin karena tidak ada biaya. Suamiku yang bekerja sebagai petani, penghasilannya tak menentu, kadang semua yang ditanam gagal panen karena cuaca buruk.” -Yanti Ristia, Orang tua Daviandra-Tiga jam perjalanan menggunakan motor kutempuh dengan kekhawatiran, demi membawa anakku, Daviandra Elvano Triyan (2 thn), periksa ke rumah sakit. Semua bermula ketika petugas posyandu curiga melihat bibir anakku yang membiru saat menangis.Diagnosa sakit jantung kompleks harus diterima anakku bagai petir yang menyambar. Anakku juga harus dirujuk pengobatan ke Jakarta, taka pernah kubayangkan sebelumnya. Bingung sekali, tapi saat itu aku bertekad untuk kesembuhan anakku bagaimanapun caranya.Berbekal meminjam dana, aku membawa anakku dari Lampung ke Jakarta. Syukurlah, Ia sudah menjalani operasi dan pulih dengan cepat. Kondisinya saat ini membaik, meski sesak napas jika kelelahan dan belum bisa jalan untuk anak seusianya. Anakku harus terus kontrol rutin di rumah sakit Jakarta dan rumah sakit daerah menjelang operasi lanjutan, namun biaya yang terus mengalir membuatku merasa hampir putus asa. Di sisi lain, aku takut, karena dokter mengatakan anakku mungkin tidak akan bertahan lama jika pengobatannya terhenti.Sementara untuk kontrol ke rumah sakit daerah saja kami harus menghabiskan biaya Rp500 ribu karena jaraknya yang jauh, apalagi untuk kontrol rutin ke Jakarta. Belum lagi, untuk membeli obat yang tidak dicover BPJS yang harganya ratusan ribu dan kebutuhan lainnya. Aku telah berusaha dengan segala cara, berjualan online demi mencari tambahan biaya, namun pendapatannya masih jauh dari cukup. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana untuk memberikan yang terbaik bagi kesehatannya.#TemanBaik, mari bantu Daviandra untuk melanjutkan pengobatannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 12.863.000
13 hari lagi
Dari Rp 18.323.000
Donasi
Pendidikan
Menjadi Penghafal Al-Qur’an, Wibatsu Ingin Mengubah Masa Depannya
“Wibatsu memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur’an. Baginya, prestasi bukan sekedar kewajiban, tapi juga jalan untuk mengubah masa depannya. Baginya, setiap ayat yang dihafal adalah bekal, agar kelak ia bisa membantunya untuk mandiri dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.”“Sejak kecil, Ia tumbuh dalam keterbatasan. Orang tuanya bekerja tanpa lelah mengantarkan galon isi ulang dan berjualan di sekolah demi menyambung hidup. Penghasilan yang tak menentu membuat langkah Wibatsu untuk mengenyam pendidikan terasa berat…”Wibatsu Hamam Dafauzan (19 thn), saat ini sedang duduk dibangku kelas 3 sekolah MAN 3 Bantul Yogyakarta. Selain itu, Ia juga menjalani hari-harinya di Pondok Pesantren Al-Muna 1, tempat ia menapaki jalan sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. Baginya, ayat demi ayat ia jaga dalam hati, menjadi cahaya yang menuntunnya di tengah gelapnya keterbatasan. Cita-citanya sederhana, Ia ingin menjadi seorang ustadz. Ia ingin membagikan ilmu yang Ia pelajari selama ini, agar menjadi penerang bagi orang lain. Wibatsu sadar, langkahnya untuk menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Bahkan mungkin terasa hampir mustahil. Namun, Ia memilih untuk tidak menyerah. Ia ingin tetap melanjutkan pendidikan, bahkan jika Ia harus sambil bekerja.Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia selalu mengingat nasihat dari orang tuanya, bahwa Tuhan selalu memberikan jalan bagi mereka yang berusaha. Ia ingin sukses, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengangkat derajat orang tuanya. Apa yang dijalani Wibatsu adalah tentang keteguhan. Tentang seorang anak yang tetap melangkah meski jalannya terjal. Tentang kerja keras dan doa orang tua yang tak pernah putus dari orang tua yang berharap anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.Kini, di persimpangan antara mimpi dan kenyataan, Wibatsu masih terus berjuang. Ia masih membutuhkan biaya untuk uang sekolah, biaya pesantren, transportasi ke sekolah dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Wibatsu tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Wibatsu!
Dana terkumpul
Rp 175.000
1 hari lagi
Dari Rp 2.763.760
Donasi